Showing posts with label 5 cm. Show all posts
Showing posts with label 5 cm. Show all posts

Tuesday, December 25, 2012

girls's days out

Keponakan-keponakan saya lagi pada liburan. Salah satunya (keponakan 2), ngebet pengin nonton Habibie-Ainun. Maka, kemaren sore kami berempat pergi ke bioskop dengan niat nonton film tersebut. Eh, nyampe sana, udah penuh banget (komplikasi musim libur dan persaingan yang lebih heboh, karena yang pengin nonton ga cuma anak muda, banyak juga pasangan ayah-ibu bahkan kakek-nenek yang meramaikan kompetisi), jadwal yang masih kosong cuma jam setengah sembilan, terlalu malam.. Tapi berhubung udah telanjur pergi, sayang banget klo ngga lanjut nonton, akhirnya ganti judul film deh, maunya The Hobbit (saya udah liat, tapi keponakan saya kan belum) - untungnya, atau sialnya, film ini juga laris.. Maka, pilihan berikutnya jadi liat '5cm.' deh, pilihan keponakan 1, dapet duduk di barisan paling depan.
Filmnya? Gitu deh..beberapa bagian bikin keponakan saya ngakak nyaris tak terkendali. Kayanya film ini cukup berhasil memvisualisasikan novelnya. Castingnya agak ganggu kalo buat saya, pemainnya kinclong-kinclong :p Pemeran Riani, aktingnya agak datar, ekspresinya agak monoton klo menurut saya.
Hal lain yang lebih ganggu adalah tergerainya rambut para perempuan waktu mendaki. Gatel deh, kenapa sih ngga diikat, kan gerah dan ribet. Trus, mereka pake celana jeans, padahal bahan jeans justru bakal dingin banget kalo pas malem. Apa lagi ya? Oh, bawaan para perempuan ini dikit banget, padahal meskipun cuma bawa perlengkapan pribadi, kayanya tetep aja tas mereka mestinya ngga sekecil itu.
Hal kritis lainnya yang bikin saya geregetan, keliatannya mereka ngga bawa cukup air minum, apalagi pas pendakian ke puncak, mereka ngga bawa minum sama sekali.. Iya sih semua carrier ditinggal di tenda, tapi kan normalnya, tetep bawa air minum (yang bisa dibawa dalam daypack). Air minum kan penting banget, terutama mendaki begitu, ditambah cuaca dingin, tubuh kita bisa dehidrasi..
Komentar terakhir, kelebayan bukunya berhasil tampil di adegan akhir saat mereka upacara bendera di puncak.
Semua ketidakpasan yang saya rasa di atas dikompensasi dengan gambar-gambar menakjubkan sejak dari pemandangan lembah menuju Ranupani, Ranukumbolo yang magis, tanjakan cinta, Oro-oro Ombo, hingga pemandangan beraraknya awan dilihat dari puncak. Lumayan membangkitkan kenangan lama ;p (ngomong-ngomong, hari ini 3 tahun yang lalu, saya lagi di kereta Kahuripan, dalam perjalanan menuju puncak tertinggi Jawa, kaya di film..jadi berasa dirayakan :D)
Nah, overall, filmnya lumayan menghibur kok, tapi ngga bikin saya mikir atau gimana juga sih..

Apa kabar sama Habibie-Ainun yang pengin ditonton sama keponakan 2? Yah, karena kami orang-orang istiqomah, tadi siang kami balik lagi dong.. Kali ini menjelang tengah hari kami sudah di lokasi. Eh, bioskopnya udah buka, antriannya udah lumayan, Alhamdulillah, kami berhasil dapet tiket untuk pertunjukkan kedua, kali ini di barisan kedua dari belakang. Hore!! Prestasi banget ya?! :)
Filmnya? Menurut saya sih, lebih bagus dari film yang sehari sebelumnya kami liat (meski sebenernya ngga bisa dibandingin juga sih, genre-nya aja udah beda). Mungkin karena ceritanya berdasarkan kisah nyata, dan mungkin karena aktor utamanya (Reza Rahadian) memerankan B.J. Habibie dengan cukup niat (dia lumayan berhasil menirukan gaya bicara dan cara berjalan sang tokoh), sehingga filmnya jadi terasa lebih sungguh-sungguh. Meskipun ada juga beberapa hal kecil yang ganggu, yang justru karena kecil, bikin saya geregetan, misalnya jas dokter yang digunakan salah satu aktris tampak terlalu besar, trus sisipan iklan produk minuman dan snack yang lumayan ganggu, inovatif sih..tapi tampak tidak pada tempatnya klo kata saya.
Karena udah tau ceritanya, keponakan saya udah siap dengan perbekalan tisu, jadi pas adegan sedih, dia bisa leluasa nangis bombay. Iya sih nangis, tapi campur ketawa-ketawa karena diketawain sang adik (keponakan 3), yang sebenernya juga lagi nangis pas ngetawain itu.

Akhirnya, semua senang kayanya.. Sekarang udah pada terkapar, puas karena misi nonton berhasil :)

Published with Blogger-droid v2.0.9

Friday, January 27, 2012

5 cm, menurutku ;p

Baca juga deh itu '5 cm', setelah banyak orang menghebohkan dan merekomendasikannya. Kebiasaan saya, semakin heboh orang-orang, semakin males saya ikutan heboh. Alhasil, setelah lama, barulah saya baca buku itu. 

Kesan orang-orang yang cerita, katanya siy mereka merasa terinspirasi atau apa lah, keren pokoknya. Baca testimoni di back covernya juga tampak dahsyat efeknya, sang pembaca mendadak nangis setelah baca buku ini. Well, kesan saya? Yah, ini siy subjektif, tapi kata saya siy bukunya biasa aja ah, ga seheboh itu, ga tau juga siy, mungkin karena banyak yang bilang bagus atau bagus banget, saya jadi over-ekspektasi. 

Substansinya bagus, keren deh, terutama referensi-referensi yang diselipkan di dalamnya, keliatan banget penulisnya punya wawasan musik, filsafat, dsb. Tapi… Tanpa mengurangi rasa hormat dan apresiasi kepada penulis yang pasti udah kerja keras untuk nulis buku ini, menurut saya, kok penyampaiannya vulgar banget, berasa banget gitu pesannya, sepertinya pembaca tidak diberikan ruang untuk menginterpretasikan pesan-pesan yang ingin disampaikan penulis. Yah, saya merasa tidak ada kenikmatan proses pemahaman yang terbangun saat saya membaca. Well, sekali lagi, itu siy kesan pribadi saya. Lagipula, itu buku yang saya beli udah cetakan ke sepuluh, so, what do I know anyway, right? 

Soal perjalanan mendaki Gunung Semeru (btw, saya lebih suka menyebutnya Semeru, soalnya namanya kan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, bukan Taman Nasional Bromo Tengger Mahameru, hehe ;p), berhubung saya pernah ke sana, meskipun baru sekali, jadi yah, lumayan masih inget lah pengalamannya, saya juga merasa penggambarannya agak berlebihan. Bukan soal pemandangannya, klo soal itu siy emang ga ada kata-kata yang bisa mengungkapkan sebaik penglihatan sendiri, tapi lebih ke perjalanan mereka yang saya pikir lebay, klo buat saya siy.