Showing posts with label caper. Show all posts
Showing posts with label caper. Show all posts

Thursday, December 31, 2015

2015: where have I been


Sebelum tahun berganti, review dulu perjalanan-perjalanan di 2015 ini.
Tak terasa ya, seperti baru kemarin saya ikut perjalanan ke Bali lewat jalur darat itu.. Awal 2015 ini, pas tahun baru saya lagi tidur dan kepanasan di penginapan, mendengar hujan besar yang seperti ditumpahkan dari langit. Tampaknya, selain diawali hujan, tahun ini juga akan diakhiri hujan. 
Bulan Februari diisi dengan perjalanan ke Tanjung Layar, Sawarna, Banten bareng sama Matabumi. Makan ikan bakar yang enak sekali, selain menikmati pemandangan Karang Hawu dari Bukit Habibie (cmiiw, nama pantainya mungkin salah ;p)
Maret, ngetrip sama teman-teman dari kantor lama ke Solo dan sekitarnya, ke Grojogan Sewu (lagi), tapi kali ini makan sate ayam dan kelinci, mampir juga ke Kraton Solo.
April kayanya ga ada perjalanan ke luar kota, cuma kongkow manis kayanya.
Awal bulan Mei, mampir ke Gunung Prau, Dieng. Ramee... Semenjak kejayaan media sosial, tampaknya kesunyian gunung menjadi suatu kelangkaan. Oh, akibat perjalanan ini, salah satu Tupperware saya kelunturan pewarna dari sosis (penting yah). Pertengahan menjelang akhir bulan, ada trip berbudget serius ke Hong Kong dan Macau, ala-ala jalan-jalan cantik, melihat kota dari puncak bukit Victoria, trus ketemu tokoh-tokoh dunia di Madame Tussaud's Museum, selain mengunjungi museum 3D yang kalah keren banget sama museum 3D di Jogja (zonk ini mah), dan tentunya nyobain wahana-wahana di Disneyland. Oh, sama naik cable car yang lumayan wow ke Lantau Island (cmiiw lagi), yang sebetulnya akan sangat seru buat dijelajahi kalo punya banyak waktu.. Ada patung Giant Buddha, tapi cuma liat dari kejauhan -_-.
Bulan Juni jalannya cukup ke Batu, Malang, pertama kali paragliding di Gunung Banyak. Asik, bikin ketagihan :D Setelahnya, ke Anakkrakatau, Lampung. Pertama kali nyebrang ke Sumatra pake kapal feri. Trus nyebrang lagi dari Kalianda, Lampung, ke pulau-pulau sekitar Anakkrakatau, dan ke Anakkrakatau-nya. Menguji stamina!
Juli lebaran ya.. Sempet ikut trip ke Pantai Jayanti di Cidaun, Cianjur Selatan, lanjut ke Rancabuaya, Garut Selatan. Perjalanan via Rancabali, Patenggang, dst. Pemandangannya wow deh, menyenangkan, kecuali bagian ramenya.
Agustus ada kemping cantik di Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi dalam rangka 5 tahun Matabumi. Di akhir bulan, balik lagi ke Bali buat rafting di sungai Ayung dan ikut day cruise ke Lembongan.
Nah, di bulan September, ada trip of the year, berbudget besar, termasuk konsekuensi menunggak jatah cuti, ke Alor, Nusa Tenggara Timur, buat hiking ke Gunung Sirung di Pulau Pantar. Gunung ini 'hanya' +800-an mdpl, dideskripsikan sebagai Gunung dengan jalur yang ringan, pas buat pemula. Mungkin ngga salah sih, kontur tanahnya mirip dengan kawah Tangkuban Parahu atau Papandayan, tapi vegetasinya ngga begitu rimbun, dan cuacanya tentu saja beda sekali. Panaaas!! Perjalanan Alor ini juga kali pertama saya bepergian sendirian pake pesawat, pesawatnya juga istimewa, dari Kupang ke Alor menggunakan pesawat baling-baling yang guncangannya tak terlupakan.
Oktober, selain nimbrung jalan-jalan ala lansia ke Lembang, ada trip wisata dari kantor ke Pangandaran. Kayanya ini pertama kali saya ke Pangandaran sejak dari SMP.
November kok ngga ada acara ya? Bulan ini masa-masa kritis tagihan kerjaan, karena biasanya di bulan ini tenggat kontrak dengan pemerintah. Bulan ini rasanya agak sering uring-uringan semprot sana-sini ke orang-orang yang kurang beruntung (astaghfirullah aja pokoknya ;p)
Desember, ada hiking ke Gunung Lembu di Purwakarta, dan diakhiri dengan perjalanan ke Jogja, wisata lengkap ke Gunung, sungai, Pantai, museum, Taman Sari, bahkan paragliding lagi di Paris (Parangtritis), sensasinya beda dengan yang di Batu, di sini pemandangannya Pantai, laut dan tebing, durasinya lebih lama, tapi sayang ngga ada sertifikat yang bisa dipake buat pamer :D
Overall, this year was awesome!! Alhamdulillah..

Sunday, January 4, 2015

at the glance: Bali Overland [kalo bisa diklaim demikian ;p]

Jikalau tujuan dari suatu perjalanan adalah pengalaman baru, maka perjalanan saya yang teranyar dapat dikatakan berhasil. Dengan sekian banyak catatan kaki melebihi catatan induknya :D

Sementara cuma bisa berbagi beberapa kilasan visual yang berhasil terekam.

Pasca-sunrise di Pelabuhan Ketapang [mohon maafkan penggunaan bahasa yang tidak benar ini ;p]
Pemandangan ujung Timur Pulau Jawa: jika melihat peta [mungkin] itu yang paling depan adalah Gunung Raung, di belakangnya Gunung Agrapura, di belakangnya lagi barangkali Gunung Bromo, cmiiw
Last day on 2014: Madness at Krishna! and, sadly, i volunteered to be part of it
Ruang gerak saya selama perjalanan 7 hari [dan mau tak mau saya jadi kepikiran penjara jongkok di Lawang Sewu itu], kini menyisakan gangguan kesehatan akibat peredaran darah kurang lancar, cuaca ekstrim, pola makan tidak benar, sanitasi buruk, dan yang terutama, barangkali karena ketidakpuasan secara mental.

Friday, December 26, 2014

Caper: Kulinertrek Cirebon (bagian 1)

Sakau jalan-jalan itu biasanya terjadi ketika melihat akhir pekan agak panjang dan ngga punya rencana pergi sama sekali atau karena satu dan lain hal, ngga bisa pergi. *bahasa berantakan barangkali bisa mewakili betapa berantakannya pikiran saya ;p

Dua minggu lalu, saya pergi ke Cirebon. Sendiri. Lagi :D Niatnya mau uji nyali lagi, kayak di Solo. Tapi, sama kayak di Solo juga, saya curang lagi. Di Solo, sempet ditemenin sama keponakan yang lagi kuliah di sana. Di Cirebon, dianter-anter sama temen kuliah.

Seperti perjalanan-rencana-sendiri lainnya, persiapannya singkat, pemesanan tiket dan akomodasi dilakukan beberapa hari sebelumnya, karena masih yakin-ngga-yakin mau pergi atau ngga. Trus, ke-geje-an saya diperparah dengan ke-geje-an beberapa orang temen yang katanya pengin ikutan.

Mengapa Cirebon? Karena.. (1) pengin naik kereta, tapi lagi males naik kereta berdurasi lama, maka dipilihlah kota ini, durasi perjalanan dengan kereta butuh sekitar 4 jam saja, cukup lah, ngga terlalu lama, dan ngga terlalu singkat; (2) pengin wisata kuliner, konon makanan khas kota ini enyak-enyak :D; (3) kotanya ngga terlalu besar, jadi ngga butuh waktu lama buat keliling, durasi akhir pekan normal rasanya cukup buat menjelajah.

Jadi.. transportasinya pake kereta (tentu saja ;p), naik Ciremai Ekspres eksekutif, lebih karena ingin memanjakan diri dan kemungkinan diajakin ngobrol diharapkan lebih kecil. Berangkat jam 05.30, bikin senewen, karena saat itu trend bangun tidur saya lagi mendekati jam-jam mepet kesiangan. Pulangnya juga pake kereta yang sama, jam 14.55, tapi terlambat dateng, jadi saya juga terlambat berangkat. Meninggalkan Cirebon jam lima kurang dan sampe Bandung sekitar jam setengah sepuluh. Agak sebel sih, tapi jadi sempet motret-motret stasiunnya dengan lebih santai.

Penginapan: di Amaris Hotel, sekitar 3-5 menit jalan kaki dari Stasiun. Dipilih karena lagi-lagi manja :D karena udah kebayang di Cirebon akan kepanasan, kali ini agak rewel dengan menetapkan kamar AC. Padahal cuma semalam ya.. tapi kan.. tapi kan.. 

Misi utama: nyobain semua kuliner khas yang bisa dicobain. Karena niat awalnya mau uji nyali, kecurangan menghubungi teman kuliah (sebut saja P) baru dilakukan malam sebelum berangkat, kepikirnya sih cuma mau ketemuan sebentar aja, ngga minta dipandu selama di sana. Tapi, ya dasar temen saya orang baik, biar pun kemudian dia bilang, 'apa saya mabok, mau berkunjung kok ngasi taunya mendadak', saya dapet kemewahan lain berupa pemandu full dari stasiun ke stasiun, sejak datang sampe pulang lagi. Jadi, misi sampingan jalan kaki menelusuri trotoar Cirebon pun kandas :D dan ngga apa-apa banget, soalnya meski musim hujan, di sana tetep aja panash!!

Hari pertama: nyobain nasi lengko di Jalan Gunungsari, dimakan bareng sate kambing. Karena kalap, menu yang ini kelewat difoto, hehe. 
Dari sini, trus ke Museum Linggarjati, di Kabupaten Kuningan, trus kehujanan, trus sepatu saya basah, untungnya bawa sendal sih, jadi jalan-jalan malem dan seterusnya dilakukan dengan bersandal. *penting yaa cerita sandal ;p
Gedung Perundingan Linggarjati
Pulang dari Linggarjati, balik ke hotel, mengeringkan diri dan mandi, sementara P balik ke rumahnya dulu, dan jemput saya buat makan malam setelah maghrib. Rencananya, saya mau memanfaatkan waktu buat jalan kaki ke Balai kota dan Masjid Agung, tapi ngga jadi, berakhir dengan tidur sebentar dan nonton film bagus di TV kabel.
Makan malam dengan Mi Koclok di Lawanggada, porsinya nanggung banget, ngga bikin kenyang, jadi ada alesan deh buat meneruskan makan empal gentong Krucuk di Jalan Slamet Riyadi (meski porsi nasinya jadi setengah saja, biar tetap nikmat). Sebelumnya (atau setelahnya ya?) sempet mampir dulu ke gedung BAT (British American Tobacco), daerah depan gedung ini agaknya jadi pusat keramaian malam minggu di Cirebon, tapi pas saya ke sana ngga begitu rame sih, mungkin karena hujan. Gedungnya bertahun 1924. Kondisinya masih bagus dan masih digunakan. Pengin banget masuk liat-liat, mudah-mudahan pengelolanya terpikir untuk menjadikan gedung ini sebagai objek atraksi wisata kota Cirebon. Pasti seru deh.
Mi Koclok
Empal Gentong (pilih daging saja, tanpa jeroan)

Beberapa gambar gedung BAT, pascahujan dan sebelum hujan turun lagi..



Dan ternyata cerita hari pertama saja agak bikin pegal ya.. dan terlalu panjang, tapi sayang kalo mau disunting, kan udah capek ngetik..

Hari kedua bersambung yaa.. kalo agak niat mungkin akan panjang lagi, dengan sedikit penjelasan sok tau soal itu-ini.

Sampai nanti!! ^_^

Sunday, October 26, 2014

Tjiandjoer - Soekaboemi - Buitenzorg

Edisi at the glance dulu yaah..

Buklet dan materi sejarah kereta api - seri kartu pos dari PT KAI (kebetulan menjawab pertanyaan kuis) - suasana gerbong eksekutif KA Siliwangi - Stasiun Sukabumi - Stasiun Cianjur
Beberapa bagian dari Stasiun Bogor, salah satu stasiun kereta api cagar budaya, ada tangga putar dari kayu yang terlihat menakjubkan
Hujan perdana di tahun 1436 H, dalam perjalanan pulang
Perjalanan kali ini diselenggarakan pada 25 Oktober 2014 oleh Bandung Heritage, dengan dukungan PT KAI, sampe-sampe perjalanan kami didampingi oleh dua orang personil dari Unit Konservasi, Perawatan dan Desain Arsitektur PT KAI.

Sunday, August 10, 2014

terima kasih sudah mampir, kaka!! :D

Agak menyenangkan ya ketika membuka lagi kumpulan ceracauan ini dan menemukan tambahan tayangan laman. Kemungkinan besar sih kebanyakan ngga sengaja nyasar kayanya yah. Makasih sudah nyasar ke sini yaa! :D

Akhir-akhir ini kepikiran pengin nulis, nulis ini, nulis itu, cerita ini, cerita itu, dan ternyata berakhir dalam pikiran saja.. dan bahan tulisan yang ngga seberapa banyak itu pun beterbangan deh.. Maka kita tinjau saja apa-apa yang terjadi sejak awal bulan lalu..

Bulan puasa kemarin terasa berlalu begitu cepat, sayangnya bukan karena terlalu nikmat menjalankan ibadah, tapi gara-gara kesibukan perauditan yang bertubi-tubi itu [dan naasnya si audit itu masih harus bersambung minggu ini, doakan semoga saya ngga terdampak langsung ya! mudah-mudahan pekerjaan saya ngga terusik! aamiin!!]. Kemudian tau-tau libur lebaran.

Lebaran saya kali ini agak beda sama lebaran sebelumnya. Setelah bertahun-tahun ngga pernah foto-foto pas lebaran, tahun ini ada lumayan banyak foto pas lebaran, kaya dulu pas saya kecil, waktu orang tua saya baru punya kamera. Ada beberapa foto bersama, banyaknya sih foto keponakan-keponakan, terutama yang kecil. 

Di hari ketiga Lebaran, sempet ikut arus dengan jalan-jalan ke objek wisata. Biasanya, kami cuma mengomentari orang-orang yang rela bermacet-macet, tapi kali ini, kami ikutan bermacet-macet. Berangkat dari rumah sekitar jam delapan pagi, berbekal nasi timbel dan lauk, kami menuju area tujuan wisata paling populer di Bandung Selatan. Melewati Kawah Putih, Ranca Upas, Cimanggu, Ciwalini, trus ke Rancabali, Situ Patenggang, teruuuus lagi melewati Cibuni, tembus ke Cidaun, Cianjur, sampe akhirnya nyampe ke Pantai Jayanti sekitar jam dua siang.

Di pantai.. rameeeee!!! cuma jalan-jalan di pesisir sebentar, lebih banyak menonton orang ketimbang melihat pemandangan, trus pulang lagi deh.. Terjebak kemacetan mulai di Rancabali sejak sekitar jam enam sore, dan akhirnya sampe rumah jam setengah sebelas malam. Capek, tapi lebih banyak serunya. Alhamdulillah!

Sialnya (atau syukurnya ya?! :D), sama dengan efek jalan-jalan lainnya, perjalanan ini hanya memicu kerinduan pada perjalanan lainnya. hmpfh...

ps. ada banyak foto-foto pemandangan sepanjang jalan yang menyegarkan sih, tapi dibagi kapan-kapan lagi aja deh ya.. ^_^v

Tuesday, July 8, 2014

Caper Rinjani (bagian pertama)

Bepergian ke daerah WITA seakan-akan melakukan perjalanan ke masa depan. Saat tiba di tujuan, tau-tau kita kehilangan waktu satu jam. Ke manakah satu jam itu terbang? ;p
Berangkat dari Bandung menjelang tengah hari, satu jam empat puluh menit kemudian, kami mendarat di Denpasar, masuk ke bandara, celingak-celinguk melihat tanda atau semacamnya buat memberi petunjuk buat penumpang transit. Seorang petugas akhirnya datang dan mengarahkan kami ke pintu keluar, menunggu bus yang akan mengantarkan ke pesawat menuju Praya.

Cerita aja, kedua temen jalan saya pada punya Garuda Frequent Flyer, gaya ya? ;p Kalo saya sih jarang pergi-pergi pake pesawat, apalagi Garuda. Baru tau juga kebijakan makan, entah di maskapai penerbangan lain sama juga atau ngga. Durasi menentukan jenis makanan yang akan kita dapet, ngga tau persis hitung-hitungannya gimana, kemarin Bandung-Denpasar = makan berat dan minum, Denpasar-Praya = Fruitea, Praya-Juanda = Juanda-Bandung = kotak cemilan roti, kue, dan AMDK 120 mL.

Mengikuti tips jalan-jalan yang pernah saya baca, kan katanya pejalan-jalan yang baik pantang membanding-bandingkan apa pun antara tempat jalan-jalan dan daerah asalnya atau dengan tempat mana pun yang pernah dikunjungi. Nah, sekalinya inget dan niat untuk menerima pengalaman apa pun dengan senang hati, langsung deh diuji. Nyampe di Praya sore-sore menjelang Maghrib, setelah bertemu sopir dan mobil rental yang akan membawa kami ke Sembalun, kami langsung cari tempat sholat. Agak jauh dari bandara, tapi masih di dalam kawasan, terlihat bangunan masjid yang cukup besar, jadi kami ke sana.
Masjidnya besar, mungkin masih belum selesai, agak kumuh karena keberadaan para pedagang. Sedihnya.. orang-orang ini, yang menghabiskan banyak waktu di area masjid, tampaknya - saya duga - memanfaatkan fasilitas masjid tanpa memelihara kenyamanan dan kebersihannya. Ngga usah buat pengunjung lah, setidaknya buat mereka sendiri, yang sehari-hari ada di sana. Waktu mau numpang pipis, saya menemukan toiletnya jorok banget, airnya menggenang di lantai, trus di klosetnya, ada sisa-sisa mukus yang melekat, jadi agak mual-mual ;p Keluar dari toilet, saat hendak wudhu, terkaget dengan pemandangan ibu-ibu yang lagi jongkok di tempat wudhu, lagi bilas habis pipis. Saya baru liat loh, pantesan aja suka ada tulisan peringatan buat ngga pipis di tempat wudhu, ternyata praktiknya beneran ada..
Selesai sholat, langsung deh dianterin ke Sembalun. Kalo di peta, Praya ini lokasinya agak di Selatan barat daya (antara Selatan dan Barat Daya), sementara Sembalun ada di utara timur laut (antara Utara dan Timur Laut), kayanya ngga begitu jauh. Tapi, ternyata rutenya mesti muter ke pesisir Lombok Barat, lewat Senggigi, jauuuh, dan berkelok-kelok, kaya di Cadas Pangeran atau di Toba, sampe-sampe kedua temen saya agak mual dan terpaksa mengeluarkan minyak aromaterapi dan minum jamu orang pintar :D Saya? Agak pusing sih, curiga sedikit masuk angin juga, tapi ngga sampe butuh bantuan eksternal apa-apa.


Rute perjalanan Praya - Sembalun (dari Google Maps)
Sekitar jam sebelas malam, akhirnya kami sampe di rumah calon porter kami, sebut saja Mas U, di desa Sembalun. Di rumahnya, istri Mas U (sebut saja Ny. U) sudah menyiapkan makan malam buat kami, menunya nasi dengan lauk goreng ikan tongkol, goreng tempe, dan sayur nangka pedas. Semakin lengkap dengan minum kopi tubruk panas. Setelah kalap makan, piring-piring dibereskan, dan ngobrol sebentar soal rencana pendakian dan logistik, tanpa menyikat gigi, cuci muka, apalagi ganti baju, kami pun akhirnya tidur. Petualangan hari itu sudah selesai.

Subuh keesokan harinya, bangun tidur, mau sholat subuh, tapi takut keluar rumah buat ke WC pas masih agak gelap, soalnya di pekarangan rumah ada banyak anjing hilir-mudik. Akhirnya sholatnya pas udah agak terang ;p Kamar mandi di rumah Mas U ada di belakang rumah, topless (alias tanpa atap), tinggi dindingnya sekitar satu meter, keliatannya sih masih dalam proses pembuatan. Pagi ini juga jadi kesempatan terakhir ketemu WC yang representatif selama setidaknya empat hari berikutnya. Jadi.. Puas-puasin dulu deh unloading muatan pencernaan :) tapi ngga mandi, soalnya airnya terbatas, mesti ngambil dari sumur, dan ngga nyaman juga mandi di alam terbuka, apalagi ada anjing-anjing berkeliaran.

Menu makan malam dan sarapan 
Habis sarapan, Ny. U belanja logistik buat bekal kami, mencakup beras, daging ayam, sayur-sayuran semacam kol, kentang dan buncis, trus ada pasta, telur, tahu, tempe, dan bumbu-bumbu masak standar. Sementara itu, R berangkat ke pos ???? untuk mengurus perizinan. Tau ngga berapa biayanya? Cukup dua ribu lima ratus rupiah saja, saudara-saudara! Murah banget! Miris juga sih, gimana bisa ada dana yang cukup buat pemeliharaan Taman Nasional ini.. :(

Setelah logistik terkumpul, semuanya dikemas di keranjang yang akan dibawa oleh Mas U dan keponakannya.

Beres-beres logistik
Logistik siap angkut
Sekitar jam setengah sembilan, perjalanan pun dimulai..

Pemandangan mewah dari halaman rumah Mas U


Thursday, May 22, 2014

petualangan rasa ;D

Seingat saya, ini kali pertama saya makan sup ikan. Prestasi tersendiri ketika sup ikan perdana itu bukan sembarang sup ikan, tapi konon terlezat seantero Batam. Keren ya? Bahkan, yang lebih keren lagi, makannya ngga pake bayar, karena ditraktir :D Makin lengkap deh kenikmatannya :)

Tersebutlah Rumah Makan Yong Kee yang terletak di Kompleks Nagoya City Center. Penampakannya berupa bangunan dua lantai, kalo ga salah sebelahan dengan toko mas. Ini adalah rumah makan masakan Cina. Menu andalannya yang paling terkenal adalah Sup Ikan, bahannya dari ikan tenggiri.

Kemarin saya ditawari sup ikan atau sup ikan-udang (campur), trus saya pilih opsi kedua. Ternyata, isinya ngga cuma ikan dan udang, tapi ada cumi juga, selain potongan tomat dan sawi. Iih.. itu cumi ada tentakelnya.. keliatan tuh si bulatan-bulatan penghisapnya.. agak segan buat makan cuminya, tapi kalo ngga dimakan sayang, soalnya potongan cumi di mangkok saya lumayan banyak. Dilema.. tapi akhirnya nyobain juga makan cumi basah, ih kaya karet, ngunyahnya cepet-cepet, takut mual.. alhamdulillah berhasil, cuma tersisa satu potong cumi yang ngga dimakan, karena nasinya, ikan, udang, dan potongan sayurnya udah habis.

Harga: satu porsi sup ikan dijual 35 ribu, sedangkan sup campur harganya 37 ribu (apa sebaliknya ya? Ya gitu lah, maklum kalo dibayarin ngga begitu ngeh sama harga ^_^v). Porsinya emang lumayan sih, mangkoknya besar, tapi porsi nasinya ngga terlalu banyak. Kuah supnya bening, rasanya segar tapi agak tawar, jadi pas banget ditambahin kecap-asin-dengan-rawit-potong yang disediakan. Enaaaak!!! Enak bangeeet!! Kayanya bakal lebih enak kalo makannya sup ikan aja, tanpa tambahan udang dan cumi. Slurp..jadi salivasi lagi deh.. ;P

Ini dia penampakannya.. menggugah selera ya?! :)

Wednesday, May 7, 2014

going Solo: memijak bumi menjunjung langit!

Legfie di Balai Soedjatmoko - Gramedia
into the light..
Pengalaman pertama bepergian soliter..
Deg-degan, banyak blundernya ;p tapi menyenangkan juga sih.. yang pasti, butuh komitmen tinggi, karena cuma bisa mengandalkan diri sendiri.. 

Setelah dijalani ternyata ngga terlalu semencemaskan dan semenakutkan seperti yang dibayangkan, biasa aja sih, meski mungkin butuh waktu buat terbiasa dan menjawab pertanyaan ketika bertemu orang lain: kenapa sendiri aja?? :D

Museum Radya Pustaka dan beberapa koleksinya
Masuk sini cuma bayar sepuluh ribu: masing-masing lima ribu buat tiket masuk dan tiket kamera
Menyimak perjalanan panjang sehelai kain batik di Museum Batik Danar Hadi
Tiket masuknya dua puluh lima ribu, sangat sepadan dengan pengalamannya, begitu masuk, kita ditemani seorang pemandu yang bercerita sejarah batik sejak abad 18-an, filosofi yang terkandung dalam motif batik, dan metode pembuatannya, sambil menyaksikan langsung koleksi setiap jenis batik, motif batik desain noni Belanda, batik Cina, batik Keraton, dst., ditutup dengan kunjungan ke area produksi. Di area museum tidak boleh memotret, kalo di area produksi diperbolehkan.
Jadi turis beneran: keliling kota selama dua jam (hanya) dengan dua puluh ribu rupiah
Indeed.. Life is beautiful!! :D 
*terlepas adanya tragedi sebagaimana digambarkan secara tidak jelas di postingan yang kemarin -_-"

Monday, May 5, 2014

Rinjani: ransum

Menu ransum di Rinjani sungguh mewah. Bagaimana tidak, dari Bandung kami berbekal buah jeruk, apel, dan anggur, juga makanan-mudah-masak semacam sarden kalengan. Sementara sebagian besar logistik lainnya dibeli di Sembalun: beras, telur, daging ayam, tepung terigu, pisang, kentang, ikan teri asin, tahu, tempe, buncis, wortel, minyak goreng, cabe rawit, dst.

Bekal dari Bandung (bagian saya saja)
Menu hari pertama
makan siang: mi rebus-telur rebus-sayuran, makan sore menjelang malam: nasi goreng dan ayam, tempe, tahu goreng dan telur ceplok
Menu hari kedua
makan pagi: (ceritanya) pancake pisang, makan siang: mi goreng-ayam, telur, tempe goreng-telur ceplok, makan malam: telur dan sayur kuah kari
Menu hari ketiga
makan pagi: pancake (lagi), makan siang: nasi-sarden-telur dadar, makan sore: kentang goreng sebagai appetizer (sambil nunggu bapaknya masak ;p), nasi dan teri goreng, telur, tempe dan tahu goreng, dan tumis labu pedas dilengkapi mi goreng-dengan-sedikit kuah :D
Menu-menu ini dimasak sama porter kami. Masakan bapaknya enak deh, atau selera kami yang mudah terpuaskan :D Yang jelas sih, dengan menu yang relatif komplit dan waktu makan yang teratur, kayanya saya justru merasa lebih ternutrisi selama naik gunung..
Gara-gara menu ini, kami jadi agak susah move on setelah berada di peradaban. Setelah turun gunung, secara ngga sadar (atau sadar ya?!), kami masih juga memilih menu yang mirip dengan menu di atas.. dan masih aja masakan bapak porter yang lebih enak! :D

Tuesday, December 31, 2013

wara-wiri 2013

Tahun ini ada beberapa perjalanan.. jalan bareng Ibu, keponakan, temen jalan, temen kuliah, dan teman-teman lainnya..

Akhir Januari, trip kilat sama ibu ke Jogja. Menyenangkan, tapi agak kurang nyaman dengan cuaca panas, kasian ibu saya, gatel-gatel karena keringetan dan capek karena jalan kaki. Sebenernya ibu saya seneng jalan, tapi karena usianya udah ngga muda lagi, belakangan ada efek ikutan berupa pegel-pegel. Ditambah lagi agak ribet milih makanan, secara ibu saya termasuk omnivora ekstraselektif - ngga makan daging ayam (dari dulu kayanya pernah trauma entah kenapa), jarang makan daging sapi (karena kadang-kadang kalo beli jadi, dagingnya suka masih alot), milih-milih jenis sayur (karena alasan usia ;p). Oh iya, tapi ibu saya mau juga nyobain makan gudeg setelah diprovokasi sama mas-mas di penginapan. Suatu sore, ngobrol sama orang penginapan, ditanyain udah ke mana aja, nyoba makanan apa aja. Trus, si mas-nya bilang, 'Coba makan gudeg, Bu. Kan nanti pas cerita ke temen-temen, masa ke Jogja ngga makan gudeg.' Dan keesokan harinya, ibu saya inisiatif sarapannya pake gudeg, meski pun cuma setengah porsi, ngga habis karena buat beliau, rasanya terlalu manis :)
Prambanan
Bulan Februari, main ke Pacitan.. Gua Tabuhan, Gua Gong, Pantai Srau, Museum Karst dengan perasaan campur-aduk; gamang, sedih, kecewa, marah, menyesal, bingung, sebel, dsb.
(masih ngutang catatan perjalanannya.. dan keburu lupa, hmpfh..) 
Diorama 1:1 di Museum Karst
Bulan Maret, masih dengan sisa-sisa perasaan ngga jelas bulan sebelumnya, berangkat ke Batu, Malang. Ngga terlalu banyak menjelajah (dan sedikit menyesal), karena cuacanya nyaman banget buat leyeh-leyeh males-malesan.. Ditambah, kayanya kurang persiapan, jadi waktu jalannya kurang efektif. Paling terkesan dengan alun-alun Batu yang jadi pusat rekreasi masyarakat.
Main air di Alun-Alun Batu
Bulan April, rafting lagi di Cicatih.. 
Main air di Sungai
Bulan Mei ke Bukittinggi.. (ini juga lagi-lagi ketinggalan catatannya..) Pertama kali nyobain sate padang (yang warna sausnya kuning), dan kayanya sesuai bayangan, saya kurang suka dengan konsistensi kuahnya dan aroma rempahnya yang terlalu kuat.. Bukan ngga enak, tapi bukan selera saya ;p 
Jam Gadang
Istana Basa Pagaruyung - kerumunan itu karena lagi ada syuting RAN (Rekreasi Aziz Nunung)
Bulan Juni dan Juli ngga kemana-mana rasanya.. Akhir bulan Agustus balik lagi ke Jogja, akhir September ke Bandungan lewat Semarang.. Oktober insaf, siap-siap buat Perjalanan bulan November, klimaks tahun ini.. Rinjani dan Segara Anak, Lombok.
Pura-pura menggalau (padahal iya ;p) di tepi Segara Anak
Bulan Desember ditutup dengan minitrip ke Bogor..
Gunung Salak - dilihat dari penginapan di pusat kota
Istana Bogor
Alhamdulillah.. masih diberi waktu, usia, kesempatan bepergian.. semoga masih akan ada perjalanan-perjalanan berikutnya.. Aamiin..

Tuesday, December 3, 2013

Rinjani: prolog

Perjalanan itu bermula ketika mengintip rencana seorang teman. Sebenernya sih saya gengsian, tapi untuk yang satu ini ngga bisa gengsi, jadilah saya menghubungi dia minta diajakin. Ternyata dia lupa ngajakin saya, padahal udah dari kapan taun berikrar buat ngajak-ngajak kalo mau berangkat.
Rencana awal akan ada setengah lusin manusia yang berangkat, komposisinya imbang antara laki-laki dan perempuan. Sekitar sebulan sebelum hari-H, tiga diantaranya mengundurkan diri, gara-gara ga dapet cuti dan ga dapet izin. Alhasil, tinggal saya dan dua orang laki-laki yang istiqomah (selanjutnya yang dua ini kita sebut masing-masing sebagai A dan R) :D
Setelah memastikan disetujui cuti, saya langsung pesan tiket pesawat, PP. Cerita sedikit, sebetulnya, seperti banyak jalan menuju Roma, ada banyak opsi menuju Lombok, diantaranya bisa pake pesawat (langsung atau pun transit), pake kereta nyambung pesawat atau kereta nyambung feri nyambung bus, dst. Nah, berhubung waktu libur yang saya punya ngga begitu banyak, dan mempertimbangkan rute lain yang sepertinya lebih makan waktu dan energi, ditambah info kalo si R udah beli tiket pesawat, jadilah saya juga beli tiket pesawat dengan jadwal pergi dan pulang sama dengan dia, biar ngga ribet.
Setelah tiket, berikutnya adalah perlengkapan. Pengalaman ke Semeru dulu sebenernya terhitung nekat, kayanya dulu saya ngga begitu repot dengan persiapan (mungkin karena berangkatnya mendadak juga sih ;p). Sekarang, karena waktu persiapannya agak lama dan ternyata saya akan menjadi satu-satunya perempuan, jadi kali ini sebisa mungkin saya memastikan perlengkapan pribadi saya cukup.
Secara berurutan saya membeli sleeping bag (yang murah [di kemudian hari diketahui ternyata tidak cukup murah] tapi ternyata cukup makan tempat ;p) dan matras. Trus kepikiran juga buat punya carrier bag, eh tapi pas ke toko, kok pilihannya banyak banget, trus ukurannya besar-besar (ea ealaaah), harganya macem-macem.. terlalu banyak pilihan!! Saya bingung.. dan akhirnya memutuskan buat minjem aja, biar irit.
Berikutnya..seminggu menjelang keberangkatan akhirnya saya memutuskan buat beli tenda, cari yang paling ringan. Ada yang namanya Superlight2 dari Consina, beratnya hanya 2,2kg, buat satu orang, tapi ternyata modelnya single wall (alias single frame), kata temen saya sih ribet masangnya. Di Kawani Jalan Otten, si mas ganteng penjaga toko bilang, dengan harga yang sama dengan si Superlight2 ini, ada juga tenda Consina buat berdua, double frame, namanya Summertime, tapi lagi ngga ada stok (malangnya nasibku..). Sebelumnya sempet ngintip tenda-tenda yang dijual di Ace Hardware, sepertinya buatan China, saya ragu..mau liat dulu, males juga kalo mesti balik lagi ke Kawani atau Eiger misalkan ternyata bendanya kurang meyakinkan. Jadilah..pas istirahat kantor berangkat ke Eiger Cihampelas, mendapat tenda Replacement 2, tadinya mau beli yang Transformer atau Storm, tapi lagi ngga ada. Si Replacement ini kapasitasnya buat dua orang, tapi ternyata lumayan besar, bisa buat bertiga, beratnya 3,7kg.
Sebelum belanja tenda, sempet juga cari celana panjang ringan. Trus berikutnya melengkapi perlengkapan dengan fly sheet dan headlamp.

Soal sepatu..waktu ke Semeru saya pake Tomkins, satu-satunya sepatu olahraga yang saya punya waktu itu, sebenernya bukan buat trekking. Sekarang, saya masih ngga punya sepatu trekking, selain ternyata harganya lumayan mahal, umumnya ngga ada juga yang seukuran kaki saya. Jadilah, si Octoflex yang beraksi. Cari-cari referensi soal sepatu trekking ternyata ribet juga ya kalo mau diseriusi, banyak pertimbangan seperti dari bahan dan jenis solnya. Kalo buat saya sih, selain solnya yang bergerigi dan antislip, sepatunya juga mesti ringan, biar ngga pegel.

setibanya di Praya, Bandara Internasional Lombok
bersambung... *barangkali, mudah-mudahan ;p

Published with Blogger-droid v2.0.10

Monday, November 18, 2013

memantai..

Memantai setelah menggunung itu ternyata menyenangkan juga ya, meskipun tetap saja saya masih bingung kalo di pantai itu enaknya ngapain sih?!
Main kejar-kejaran ombak? Main pasir? Berenang-renang? Lebih jauh lagi, snorkeling? Ke tempat yang agak dalem, diving?
Atau cukup duduk manis dan menggalau? :p

Published with Blogger-droid v2.0.10

Sunday, November 17, 2013

rinjani: at the glance


Entah pengaruh cuaca dingin atau kurang oksigen atau sindrom pascaliburpanjang atau memang sudah dari sananya males, agak sulit buat memulai cerita Perjalanan (dengan kapital) minggu lalu.
Jadi.. sementara ini cukup beberapa foto berikut ini yang berkisah..
Published with Blogger-droid v2.0.10

Tuesday, October 1, 2013

dari Bandung ke Bandungan bersama Camera360!

Perjalanan kedua tanpa rombongan dan [terpaksa] menjadi dominan..
Penemuan terbaru saya adalah aplikasi editor foto bernama camera360 di ponsel :D Alhasil, si kamera saku-nya agak-agak dianggurin.. maafkan aku ya, kamera.. 

Berikut ini beberapa foto yang berhasil dibuat, ada yang asli dan hasil filtering camera360, ada yang jadi tampak LOMO, ada yang jadi seperti di buku-buku sejarah, ada yang menyaring warna tertentu, bahkan ada juga filter yang membuat kulit muka terlihat lebih mulus, tapi yang ini ngga usah diliat ya ;p
Monumen Palagan Ambarawa


Ada yang tau ini siapa? Ini Letkol Gatot Subroto.. [saya: ooooh.. ;p]

Bagian Depan Museum





Paguyuban Reog Turangga Arum - salah satu peserta lomba reog antarkecamatan yang diselenggarakan di Museum KA dalam rangka HUT PT KAI
Trek Pejalan Kaki di Gedong Songo sudah dilengkapi dengan DNS - kata keponakan saya ;p [disabled-navigation system buat para tunanetra, keren ya?!]
Candi Gedong I - satu dari lima candi Gedong Songo yang masih utuh