Showing posts with label Gramedia. Show all posts
Showing posts with label Gramedia. Show all posts

Monday, December 8, 2014

dystopian worlds

dystopia 

• n : state in which the condition of life is extremely bad as from deprivation or oppression or terror [ant: {utopia}]

Berkunjung ke dunia-dunia distopian agaknya menjadikan dunia nyata terasa indah, yah, lebih indah :) Segala kegilaan dan keabsurdan rasanya jadi lebih tertahankan. Lebay banget yah :D

1984-nya George Orwell yang dibuat tahun 1949, menggambarkan dunia pada tahun 1984, lihat lebih lengkap di sini. Buku ini membuat saya bergidik, mengerikan sekali dunia tempat Winston hidup. Setiap gerak-gerik diawasi dan diatur sedemikian rupa. Tidak hanya perilaku, bahkan ideologi, alam pikiran, tempat paling pribadi pun tidak luput dari pengawasan polisi pikiran. Sereeem.. 
Novel ini adalah satu diantara segelintir buku 'agak serius' yang saya baca, diterjemahkan oleh Landung Simatupang. Familiar yah namanya? Artis! Terjemahannya bagus deh, berasa sangat nyastra.

Berbeda dengan 1984 yang sangat penuh muatan politis, trilogi Hunger Games-nya Suzanne Collins terasa lebih mudah dicerna, barangkali karena target pembacanya remaja. Dunianya Katniss Aberdeen tidak bersetting waktu tertentu, hampir mirip sih dengan trilogi Divergent-nya Veronica Roth.
Tema dan tokoh utama yang sama-sama remaja muda mau ngga mau membuat saya agak membandingkan kedua seri ini. 
Inti ceritanya pun ngga jauh beda sih, dari sisi politik, salah satunya adalah pemaparan tentang sistem pemerintahan. Suatu sistem agaknya tidak akan pernah benar-benar sempurna, akan ada suatu pihak yang merasakan ketidakadilan dan diskriminasi yang di satu titik akan memaksa adanya perubahan, revolusi, pemberontakan, apa pun sebutannya. Pemerintahan digulingkan, terjadi kekosongan kekuasaan, kemunculan pemerintahan baru yang diharapkan lebih baik dan lebih adil, kemudian disadari, tirani dan ketidakadilan itu ternyata hanya berganti rupa, ibarat parasetamol yang berganti merek dari sanmol ke obat generik atau merek lain. Isinya tetap parasetamol (maaf perumpamaannya ga mutu yah :D).
Tapi, ada yang beda juga sih, misalnya, serial Divergent agak lebih jelas rasa 'remaja'nya, dan porsi cinta-cintaannya agak lebih banyak. Trus, konflik pribadi Katniss rasanya lebih berbobot ketimbang konfliknya Tris.
Secara kesan, secara pribadi, saya lebih suka Hunger Games. Divergent agak-agak antiklimaks, karena konfliknya terasa muter-muter, dan agak bikin sebel sih, tapi keren, karena berlapis-lapis kaya bawang. Satu hal terungkap, ternyata ada lagi fakta tersembunyi berikutnya, terus ada lagi, dan di akhir, penyelesaiannya kurang memuaskan buat saya. Terlalu sederhana. Sudah.. klimaksnya kurang heboh.

The Giver-nya Lois Lowry, meskipun pendek, jauh terasa lebih berkesan. Dunia sang tokoh yang bernama Jonas ini adalah dunia yang sempurna, kebayang ngga sih, terlalu sempurna hingga terasa mengerikan. Jonas ini anak laki-laki yang menjadi Dua Belas, suatu saat dimana dia terpilih mengemban peran spesifik di Komunitasnya. 
Secara pribadi, novel ini memberikan pandangan lain tentang dunia dewasa, kejujuran, kebenaran, bagaimana kadang-kadang manusia melakukan pilihan-pilihan mengerikan dan egois, kemudian melakukan rasionalisasi atas pilihan-pilihan tersebut. Hal lain yang saya suka dari novel ini adalah kebaikan penulisnya untuk membebaskan pembaca menafsirkan, menyimpulkan akhir cerita Jonas. Really love this book!! [trus, ngomong-ngomong filmnya tayang kapan yah? ;D]

Sunday, December 7, 2014

quote: Little Women

Aku ingin putri-putriku menjadi wanita-wanita yang cantik, berhasil, dan baik; dikagumi, dicintai, dan dihormati. Aku ingin mereka mendapat masa muda yang ceria, kemudian menikah dengan baik-baik dan bijaksana, menjalani hidup yang berguna dan menyenangkan, dengan sesedikit mungkin kekhawatiran dan kesedihan yang merupakan cobaan untuk mereka, cobaan yang dinilai pantas oleh Tuhan. Dicintai dan dipilih oleh seorang pria yang layak adalah hal terbaik dan terindah yang bisa didapat seorang wanita. Dengan sepenuh hati aku berdoa dan berharap putri-putriku akan mendapat pengalaman luar biasa itu. Adalah wajar untuk memikirkannya, wajar untuk mengharapkan dan menantikannya, serta bijaksana untuk menyiapkan diri menyambutnya. Jadi, saat tiba waktunya nanti, kau akan siap menghadapi tugas-tugasmu, serta layak mendapatkan kebahagiaan itu. Anak-anakku sayang, aku memang punya ambisi untuk kalian, tetapi aku tidak memimpikan kalian menjadi gadis yang memesona di pesta-pesta, atau menikah dengan pria kaya hanya karena ia berharta, atau tinggal di rumah mewah yang tidak seperti rumah karena rumah itu tidak dihangatkan dengan cinta. Uang memang diperlukan, dan berharga, -dan, jika digunakan dengan benar, uang adalah sesuatu yang mulia. Tetapi, aku tidak akan pernah menginginkan kalian melihat uang sebagai hal yang pertama, atau satu-satunya tujuan, untuk diperjuangkan. Aku lebih suka melihat kalian menjadi istri seorang pria miskin, asalkan kalian bahagia, dicintai, dan merasa nyaman, ketimbang menjadi ratu-ratu di atas singgasana, tanpa kehormatan diri dan kedamaian.
Lebih baik menjadi perawan tua yang bahagia, ketimbang istri yang menderita, atau gadis-gadis yang tidak menjaga kehormatannya dan berkeliaran mencari-cari suami. Kemiskinan tidak akan membuat kekasih yang tulus menjauh. 
Pasrahkan hal-hal ini kepada waktu, buatlah rumah ini menjadi rumah yang membuatmu bahagia, agar kau kelak pantas berada di rumahmu sendiri, jika itu ditawarkan kepadamu, dan tetap nyaman berada di sini jika tidak. Ingatlah satu hal, anak-anakku, seorang ibu selalu siap menjadi tempat kalian menceritakan apa pun, seorang ayah menjadi sahabat, dan kami berdua percaya dan berharap bahwa putri-putri kami, menikah ataupun tidak, akan menjadi kebanggaan dan sumber kenyamanan hidup kami.

-Louisa May Alcott-

Catatan: barangkali ini bisa mewakili cita-cita dan harapan setiap orang tua, termasuk bapak dan ibu saya. [meskipun barangkali beberapa hal seperti pesta-pesta agak tidak sesuai dengan konteks, tapi ya intinya tetap relevan sih], simpen ah, siapa tau, barangkali di masa depan nasihat ini bisa saya pake :D

Monday, April 21, 2014

unfinished business

daftar tunggu..
Bahaya menginjakkan kaki ke toko buku ketika tidak berniat mencari sesuatu yang spesifik adalah tergoda melirik-lirik, melihat-lihat agak lama, trus mulai deh meraba dan menyentuh, pegang-pegang gitu.. mikir-mikir.. dan tau-tau udah ngantri di kasir.

Padahal masih ada beberapa judul yang ngantri juga sebenernya.. tapi kan beli buku tuh investasi yaa???!! Iya dooong!!

Sunday, July 1, 2012

hati-hati: buku penyebab lakrimasi


Letters to Sam ditulis oleh Daniel Gottlieb, penerbit Gagas Media, penerjemah Windy Ariestanty. Buku ini berisi kumpulan surat Daniel Gottlieb yang ditujukan untuk cucu satu-satunya, Sam. Hal yang istimewa adalah Sam ini didiagnosis autis, dan Daniel Gottlieb adalah seorang kakek yang mengalami kelumpuhan. Surat-surat dalam buku ini isinya bercerita tentang kebijakan-kebijakan hidup, nasihat, dan pengalaman hidup yang dapat dijadikan pelajaran untuk semua individu, ngga hanya buat Sam saja.

The Boy in the Striped Pyjamas ditulis oleh John Boyne, penerbit Gramedia Pustaka Utama, penerjemah Rosemary Kesauli. Cerita dalam buku ini sederhana, alurnya sebenarnya agak mudah ditebak, tapi justru itu daya tariknya. Diceritakan dari sudut pandang seorang anak bernama Bruno dengan setting masa Perang Dunia Dua. Berikut catatan di sampul belakangnya:

Kalau Anda membaca buku ini, Anda akan mengikuti perjalanan seorang anak lelaki umur sembilan tahun bernama Bruno (Meski buku ini bukanlah buku untuk anak kecil). Dan cepat atau lambat, Anda akan tiba di sebuah pagar, bersama Bruno.
Pagar seperti ini ada di seluruh dunia. Semoga Anda tidak pernah terpaksa dihadapkan pada pagar ini dalam hidup Anda.

Ways to Live Forever ditulis oleh Sally Nicholls, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, penerjemah Tanti Lesmana. Buku ini dibuat sebagai buku harian Sam, yang berisi daftar-daftar, cerita-cerita, foto-foto, berbagai pertanyaan dan fakta yang dikumpulkannya selama minggu-minggu terakhir kehidupannya. Sam ini adalah anak lelaki berusia sebelas tahun yang mengidap leukimia. Sam menyukai fakta-fakta, penasaran dengan berbagai macam hal, diantaranya kematian. Dengan penyakit yang dideritanya, pemikiran tentang kematian menjadi suatu hal yang sangat dekat dengan dirinya. Kematian sesungguhnya adalah satu fakta kehidupan yang tak terelakkan.

Apa persamaan ketiga buku ini? Menurut saya, buku-buku ini sebaiknya ngga dibaca para perempuan saat lagi PMS (pre-menstruation syndrome, bukan penyakit menular seksual, bukan juga peggy melati sukma :p), ntar bisa mengakibatkan lakrimasi. Tau kan lakrimasi? Suatu keadaan dimana kelenjar lakrimaris menghasilkan sekresinya. Kebayang?!

Published with Blogger-droid v2.0.4

Thursday, April 26, 2012

kiat bepergian paulo coelho

Menjelang bepergian, mari kita simak kiat-kiat yang diberikan Paulo Coelho di buku Seperti Sungai yang Mengalir itu. Lihat di halaman 177-180. Begini kata beliau..

1. Hindari museum-museum, dengan alasan melihat-lihat masa kini tentu saja jauh lebih menarik daripada masa lalu. Mengunjungi museum membutuhkan waktu dan objektivitas, kita mesti sudah tau apa yang diharapkan untuk dilihat, sebab kalau tidak, pada akhirnya kita tidak akan mendapatkan pengalaman yang berkesan. 
Intinya mungkin kunjungannya tidak akan membekas. Ditambah lagi, kalo kata saya sih, sepertinya jika berkunjung di museum di Indonesia, rasanya ngga terlalu menarik - berdasarkan kunjungan ke beberapa museum - atau mungkin ini adalah efek karena saya tidak tahu harus mengharapkan apa yang akan dilihat di museum, atau mungkin karena saya hanya berkunjung secara singkat dan membawa penilaian subjektif.

2. Duduklah di bar-bar yang merupakan tempat paling tepat untuk mengamati kehidupan. Maksudnya bar, yaitu tempat-tempat orang-orang lokal untuk minum, ngobrol, atau sekadar berkumpul. Filosofinya, kita tidak bisa menilai keindahan suatu jalan hanya dengan memandanginya dari luar pintu gerbang.
Kalo di negara kita, bar ini sinonim dengan warung kopi kali ya.

3. Bersikap terbuka. Pemandu tur terbaik adalah penduduk setempat yang tahu segalanya tentang daerah itu, dan merasa bangga pada tempat tinggalnya, tetapi tidak bekerja untuk agen perjalanan mana pun. Keluarlah ke jalan, pilih orang yang ingin Anda ajak bicara, dan tanyakan sesuatu padanya. Kalau tidak berhasil, coba tanya orang lain - katanya dijamin di penghujung hari, kita pasti sudah menemukan teman mengobrol yang menyenangkan.
Cobain? Sepertinya agak susah ya, bukan mustahil sih, yang penting berani. Di masa kini dengan maraknya berbagai modus kejahatan, saya jadi inget pengalaman dulu, waktu ada orang asing yang mendekat, saya sudah waspada siapa tau orang itu mau menghipnotis. Eh, ternyata cuma tanya alamat. Paranoid! Trus, dengan kecenderungan setiap orang sudah pada punya ponsel - yang smart ataupun standar, sepertinya orang-orang cenderung lebih peduli dengan teman di ujung sana, ketimbang orang yang jelas-jelas hadir secara fisik di sekitar mereka. Kalo asik sendiri begitu, bisa ditanyain ngga ya?! Apakah orang-orang ramah masih ada di luar sana?   

4. Cobalah bepergian seorang diri, atau kalau Anda sudah menikah, pergi bersama pasangan Anda. Memang akan lebih berat, sebab tidak ada orang yang mengurusi Anda, tetapi dengan cara ini Anda bisa benar-benar meninggalkan negeri Anda sendiri. Bepergian bersama sekelompok orang berarti berkunjung ke negeri asing tetapi tetap berbicara dalam bahasa kita sendiri, mengikuti arahan apa pun yang diberikan pemimpin rombongan, dan lebih menaruh perhatian pada percakapan antara sesama anggota rombongan daripada tempat-tempat yang Anda kunjungi.
Nah, yang ini mengena banget. Saya belum bisa mengamalkan nih. Terlalu banyak kecemasan - yang mungkin sebenarnya jika dipikir secara rasional, sama sekali tidak beralasan - takut nyasar, mati gaya, dsb. Jadi, selamat ya buat yang sudah bepergian seorang diri. Hebat banget!! Siriiik!! Mau nyobain!!

5. Jangan membanding-bandingkan. Jangan membandingkan apa pun - harga-harga, standar-standar kebersihan, kualitas hidup, sarana transportasi, apa pun! Anda bepergian bukan untuk membuktikan bahwa Anda memiliki kehidupan yang lebih baik dari orang-orang lainnya. Tujuan Anda bepergian adalah untuk melihat bagaimana orang-orang lain menjalani hidup mereka, apa yang bisa mereka ajarkan kepada Anda, bagaimana mereka menangani realitas serta hal-hal yang luar biasa.
Dan tentu saja tujuan bepergian bukan sekadar untuk mengambil foto diri berlatar berbagai objek yang kita kunjungi - dan ujung-ujungnya itu foto dipajang sebagai foto profil di situs jejaring sosial :D (dituliskan dengan gaya belagu dan sok tau ;p)

6. Pahamilah bahwa setiap orang bisa memahami Anda. Walaupun Anda tidak bisa bahasa setempat, jangan takut. Saya pernah berada di tempat-tempat yang tidak memungkinkan saya berkomunikasi dengan kata-kata sama sekali, dan saya menemukan dukungan, bimbingan, saran yang berguna, bahkan teman-teman wanita. Beberapa orang merasa takut bepergian seorang diri, mereka pikir mereka akan langsung tersesat begitu ke luar jalan. Yang penting, jangan lupa membawa kartu nama hotel di saku Anda dan-kalau sampai tidak ada cara lain lagi-Anda tinggal menyetop taksi dan menunjukkan kartu itu kepada sopirnya.
Iya sih, komunikasi kan tidak mesti melalui kata-kata saja. Bahasa tubuh dan ekspresi wajah sepertinya lebih universal (selain bahasa cinta? ;p). Tapi bawa kartu nama hotel dan menunjukkan ke sopir taksi juga belum tentu menjadi akhir yang bahagia, bisa aja sopirnya bukan orang baik-baik-anggota komplotan kejahatan terhadap turis, mungkin? atau seperti yang dialami teman saya, sopir taksinya tidak mengantarkan hingga ke tempat tujuan, atau malah dibawa muter-muter dulu, siapa tau kan? Yah, berpikir positif saja lah ya.. dan berdoa.. :)

7. Jangan berbelanja terlalu banyak. Belanjakan uang Anda untuk hal-hal yang tidak perlu Anda bawa-bawa: tiket-tiket untuk menonton drama yang bagus, restoran-restoran, perjalanan-perjalanan. Zaman sekarang, dengan ekonomi global serta Internet, Anda bisa membeli apa saja yang Anda inginkan tanpa perlu membayar biaya kelebihan bagasi.
Sangat setuju deh kalo yang ini. Jadi, jangan memberatkan teman atau saudara yang bepergian dengan meminta mereka membawakan buah tangan, cukup doakan saja perjalanannya menyenangkan dan berkesan! Atau ikut saja sekalian ;p

8. Jangan mencoba melihat seluruh dunia dalam sebulan. Jauh lebih baik kalau Anda tinggal di satu kota selama empat atau lima hari, daripada mengunjungi lima kota dalam seminggu. Sebuah kota bisa diibaratkan seorang wanita yang sulit didekati. Anda memerlukan waktu untuk menarik perhatiannya, sampai dia bersedia mengungkapkan dirinya sepenuhnya.
Ini juga lagi-lagi mengena, kadang-kadang karena hanya bisa bepergian dalam waktu yang terbatas, saya terlalu terfokus pada jumlah objek yang bisa dikunjungi. Btw, analoginya menarik ya?! Analogi lain, ibarat kuliah di jurusan farmasi-setidaknya di masa saya kuliah bertahun-tahun yang lalu-belajar sedikit tentang ilmu kedokteran, sedikit tentang anatomi, sedikit tentang penyakit, sedikit tentang biologi, sedikit tentang kimia, sedikit tentang teknologi, sedikit tentang kinetika obat, sedikit tentang analisis, dsb., dalam waktu yang singkat, dan akhirnya cuma tau sedikit-sedikit tentang banyak hal, ibaratnya hanya mengenali lapisan terluar dari satu siung bawang, tanpa tau lapisan-lapisan terdalamnya. Tapi yah, sesuai kata salah satu dosen kalkulus, kuliah itu intinya mengajarkan cara belajar, bukan ngasi bahan pelajarannya (kira-kira gitu deh, kata beliau-mungkin perkataan ini dilatarbelakangi rasa frustrasi beliau mengajarkan kalkulus berulang-ulang pada para mahasiswa yang tetap memasang muka bingung setelah sekian kali pengulangan penjelasan) ;p

9. Perjalanan adalah petualangan. Henry Miller pernah berkata bahwa jauh lebih penting untuk menemukan gereja yang belum pernah didengar siapa pun ketimbang pergi ke Roma dan merasa wajib mengunjungi Kapel Sistine bersama dua ratus ribu turis lainnya yang berbicara dengan suara berisik di telinga Anda. Pergilah ke Kapel Sistine, tetapi jelajahi jalanan-jalanannya, gang-gang kecilnya, nikmati kebebasan dalam mencari sesuatu-entah apa, Anda tidak tau pasti, pokoknya sesuatu yang, kalau Anda temukan, pasti akan mengubah hidup Anda.
Siapa Henry Miller? Beliau ini salah satu penulis favorit Paulo Coelho, lihat saja info tentang beliau di wiki.

Akhirnya, selamat bepergian dan mari kita amalkan kiat-kiat di atas. Bon voyage! 


Friday, February 10, 2012

Kisah Pi

Judul asli buku yang ditulis Yann Martel ini adalah Life of Pi, versi bahasa Indonesia-nya diterjemahkan oleh Tanti Lesmana dan diterbitkan oleh Gramedia di bulan November 2004, salah satu cetakannya saya jadikan hak milik tanggal 11 Desember 2004 (keterangan terakhir sebenernya fakta yang ngga penting ;p). Alasan saya beli buku ini karena saya suka melihat gambar sampulnya - perahu putih berisi seorang manusia yang meringkuk  di ujung perahu dan seekor harimau besar di ujung lainnya, berlatar laut biru dengan ikan berbagai ukuran dan penyu. Alasan lainnya, tulisan di sampul belakangnya yang berbunyi begini:

Pada tanggal 21 Juni 1977, kapal barang Tsimtsum berlayar dari Madras menuju Canada. Pada tanggal 2 Juli, kapal itu tenggelam di Samudra Pasifik. Hanya satu sekoci berhasil diturunkan, membawa seekor hyena, seekor zebra yang kakinya patah, seekor orang-utan betina, seekor harimau Royal Bengal seberat 225 kg, dan Pi - anak lelaki India berusia 16 tahun. Selama lebih dari tujuh bulan sekoci itu terombang-ambing di Samudra Pasifik yang biru dan ganas. Di Samudra inilah sebagian Kisah Pi berlangsung. Kisah yang luar biasa, penuh keajaiban, dan seperti ucapan salah satu tokoh di dalamnya, kisah ini akan membuat orang percaya pada Tuhan. 

Buku ini terdiri dari tiga bagian yang didasarkan pada lokasi kejadiannya. Bagian satu - Toronto dan Pondicherry, bagian kedua - Samudra Pasifik, dan bagian ketiga - Rumah Sakit Benito Juárez, Tomatlán, Meksiko. Rasanya mesti baca lagi nih buat lebih menghayati makna ceritanya :D

Waa.. baru liat ternyata udah ada versi filmnya juga!!! Tapi baru akan rilis akhir taun ini!! Liat aja di sini! :) 

Tuesday, December 27, 2011

The Alchemist - edisi geje ;p

Berikut ini adalah bagian dari The Alchemist yang sepertinya relevan dengan saya (terutama saat ini) :p, saya beli buku ini pada 6 Oktober 2007 atas rekomendasi salah satu teman yang terpercaya (selera bukunya OK, jadi kalo dia bilang bagus, biasanya bukunya memang bagus, atau bisa jadi, kadang-kadang otak saya yang terbatas ini tidak bisa menangkap esensi dari ke-bagus-an buku itu). Buku ini diterjemahkan oleh Tanti Lesmana, copy yang saya punya adalah buku cetakan keempat. 

Penggalan ini ada di bagian dua, halaman 70-72

Pedagang itu terdiam sesaat. Kemudian katanya, "Nabi telah menurunkan Quran pada kami, dan menyatakan lima kewajiban yang mesti kami penuhi dalam hidup kami. Yang paling penting adalah hanya percaya pada satu Tuhan. Lain-lainnya adalah sembahyang lima kali sehari, berpuasa selama Ramadhan, dan bermurah hati pada orang-orang miskin."

Lalu dia berhenti bicara. Matanya basah oleh air mata ketika dia bicara tentang Sang Nabi. Dia orang yang saleh, dan meski sifatnya tidak sabaran, dia ingin menjalani hidupnya sesuai dengan hukum-hukum Islam.  

"Apa kewajiban yang kelima?" tanya si anak.

"Dua hari yang lalu, kaubilang aku tidak pernah punya impian untuk berkelana," sahut si pedagang. "Kewajiban yang kelima bagi setiap orang Muslim adalah menunaikan ibadah haji. Kami diwajibkan mengunjungi kota suci Mekkah, setidaknya satu kali selama hidup.

"Mekkah jauh lebih jauh daripada Piramida-Piramida itu. Waktu masih muda, aku bercita-cita mengumpulkan uang untuk membuka toko. Kupikir suatu hari nanti aku akan kaya, dan bisa pergi ke Mekkah. Aku mulai berhasil mengumpulkan uang, tapi aku merasa tidak tenang menitipkan toko ini pada orang lain; kristal-kristal itu gampang sekali pecah. Sementara itu, banyak orang melewati tokoku sepanjang waktu, mereka menuju Mekkah. Beberapa dari mereka adalah peziarah-peziarah kaya yang bepergian dalam rombongan karavan dengan pelayan-pelayan dan unta-unta, tapi sebagian besar peziarah ini adalah orang-orang yang lebih miskin daripada aku.

"Semua orang yang pergi ke sana merasa bahagia telah melakukannya. Mereka menaruh lambang-lambang perjalanan ziarah mereka di pintu-pintu rumah mereka. Salah seorang di antaranya, tukang sepatu yang hidup dari memperbaiki sepatu-sepatu bot, berkata dia berkelana hampir setahun melintasi padang pasir, tapi dia jauh lebih capek ketika harus berjalan kaki di jalanan-jalanan Tangier untuk membeli kulit."

"Kalau begitu, mengapa Anda tidak pergi ke Mekkah saja sekarang?" tanya si anak.

"Sebab justru impian hendak pergi ke Mekkah-lah yang membuatku bertahan hidup. Impian itulah yang membantuku menjalani hari-hariku yang selalu sama ini, kristal-kristal bisu di rak-rak itu, serta makan siang dan makan malam di kedai jelek yang itu-itu juga. Aku takut kalau impianku menjadi kenyataan, aku jadi tidak punya alasan lagi untuk hidup.

"Kau punya impian tentang domba-dombamu dan Piramida-Piramida itu, tapi kau berbeda dari aku, sebab kau berniat mewujudkan impianmu. Aku cuma ingin bermimpi tentang Mekkah. Sudah ribuan kali aku membayangkan diriku melintasi padang pasir, tiba di Ka'bah, mengelilinginya tujuh kali sebelum menyentuhnya. Sudah kubayangkan orang-orang yang ada di sampingku, di depanku, dan percakapan-percakapan serta doa-doa yang akan kami panjatkan bersama-sama. Tapi aku takut semuanya mengecewakan, jadi aku memilih mengangan-angankannya saja."

Relevansinya sama saya?? Saya masih bingung, apakah saya ini si pedagang atau Santiago, si anak gembala. Saat mimpi itu rasanya sudah begitu dekat, saya takut... takut semuanya mengecewakan, bagaimana jika saat mimpi mewujud, ternyata bukan itu yang saya inginkan.. Tapi.. bagaimana saya tau? Bagaimana jika ternyata saat mimpi menjadi kenyataan adalah saat yang membuat saya merasa bahagia?!