Showing posts with label curcol. Show all posts
Showing posts with label curcol. Show all posts

Friday, January 11, 2019

Reaktivasi: mudah-mudahan! :P

Hola!! Sudah hampir tiga tahun sejak catatan terakhir.. duh, males menahun ya.. kombinasi antara ga ada ide, ga mau menyempatkan waktu, dst..

Sudah agak lama sih kepikiran kembali meracau, tapi ya kok sering (sok) sibuk. Ada beberapa bahan yang rasanya butuh dituliskan.. kita lihat sejauh mana kemauan saya berbicara ;p

Teraktual, setelah sekian lama (kadang-kadang) menghadapi pertanyaan-pertanyaan klise yang dilontarkan secara tidak terduga, rasanya sudah lumayan terbiasa untuk tidak menjawab ketus dan mencukupkan diri dengan memasang tampang lempeng, dengan agak berharap semoga sang penanya mawas diri dan menyesal, atau setidaknya merasa tak enak karena sudah ngeselin dan menginvasi privasi orang lain. Tapi yah, kadang masih suka terperangah juga dengan sikap orang yang ternyata merasa wajar saja mengurusi privasi orang lain. Damn!!

Eh, ditanya apa memangnya? Itu loh.. kenapa belum menikah? Pertanyaan ngeselin karena saya juga ngga tau kenapa.. bukankah jodoh, rezeki, maut, adalah rahasia Allah?! 

Trus salahnya malah dijawab agak nyolot, haha.. karena ngga siap.. biasanya kan pertanyaan semacam itu munculnya saat acara-acara sosial seperti nikahan, silaturahmi pasca-lebaran, dan sejenisnya, bukan sesaat sebelum latihan aikido.. huh.. 

Sebelnya.. saya tuh suka berlarut-larut memikirkan skenario lain yang mestinya terjadi kalau saja saya lebih tenang dan mampu berpikir cepat. Dalam hal ini, mungkin semacam rasionalisasi.. 

Respon atas pertanyaan mengapa belum menikah, adalah: Kenapa harus menikah? (Ini respon yang muncul otomatis di kejadian tadi pagi, trus dijawab penanya: 'kan kata ustad juga sendiri itu lebih dekat dengan setan', yang mana membuat saya tambah sebal, tapi akhirnya saya diemin aja.. males!)

Dipikir lebih lanjut, saya ngga tau.. saya ngga bisa jawab, sampai saat ini.. meskipun saya ngga sabaran, dalam hal semacam ini, saya ngga mau sembarangan.. kok kayaknya dangkal ya kalau keputusan sebesar ini hanya dilatarbelakangi pilihan lazim yang dilakukan oleh orang-orang pada umumnya.. 

Mestinya, kalau saya bisa berdamai dengan kondisi saya, mengapa orang lain mesti repot.. 
Doakan saja ya, diam-diam lebih baik..

ps. Berikutnya pengin ngebahas sinetron Pintu Berkah, Kisah Nyata, Azab, Dobel Azab yang tayang Indosiar

Sunday, February 2, 2014

hari ini: drama

Hari ini rasanya cukup banyak yang dilakukan, setidaknya ngga hanya diisi tidur siang ;p

Dimulai dari bangun dan mandi subuh di kampung, tidur-tidur ayam di perjalanan ke Bandung, jam tujuh pagi udah sarapan berat (biasanya masih males-malesan di kamar ;p), jam sembilan udah siap buat keringetan (dan tujuannya tercapai: kuyup :D)!

Dalam misi menyelesaikan hutang (maksudnya, mengembalikan barang pinjaman), tak disangka mendapati pengalaman buruk. Jadi, ceritanya di angkot tadi, saya jadi target aksi komplotan copet, alhamdulillah tidak sampai menjadi korban. Bersyukur sekali tadi saya agak waspada. Setelah insiden itu, perasaannya jadi campur-campur, antara lega dan bersyukur (karena ga sampe jadi korban itu tadi), sebel, marah, kesal, dan sedikit trauma, berdampak pada paranoid dan sikap curiga sama orang lain.

Ketemu temen, ngobrol ini-itu, nonton film komedi yang sayangnya ngga begitu lucu, sampe saya sempet ketiduran beberapa menit..

Thursday, October 17, 2013

catatan seriusan: training (lagi)

Hampir seharian tadi ikut training lagi, Iumayan..tambah wawasan, atau setidaknya perbaikan gizi :D
Topik kali ini adalah proses konjugasi Hib dan toksoid Tetanus. Mengingat saya ngga terlibat langsung dengan segala prosesnya, bahkan mereview dokumennya pun belum pernah, jadinya agak-agak roaming gitu deh.. pembicaranya ada dua, yang bapak-bapak udah agak senior, saya suka dengan ekspresi wajahnya yang ramah, kerutan di sudut matanya tampak mengundang untuk tersenyum (maaf, OOT ;p). Beliau ini suaranya terdengar agak kecil, trus megang mikrofonnya agak jauh, ditambah bahasa Inggrisnya agak sulit saya tangkap, sehingga di sesi pertama, ditambah ketiadaan handout materi, saya cuma berusaha buat menangkap kata-kata beliau-usaha yang sangat berat mengingat kelopak mata juga ikut-ikutan menambah beban :)
Padahal, yang diomongin sama bapak ini masih intro loh, materi dasar yang memberi penjelasan latar belakang, tentang apa dan mengapa.
Disclaimer: Ini adalah interpretasi bebas versi saya, jadi ya maaf kalo ada beberapa hal yang kurang tepat. Bagaimanapun, kesempurnaan hanyalah milik Allah, dan ketidaksempurnaan adalah milik Bunda Dorce (yang konon sekarang lebih sibuk di Amerika ;p)
Alkisah..beberapa jenis bakteri di luar sana (dalam hal ini, maksudnya bakteri patogen - bakteri yang dapat menyebabkan penyakit) mengembangkan kemampuan untuk melindungi diri (sebagai usaha untuk memenuhi tujuan hidupnya, yaitu bereproduksi) dari sistem kekebalan manusia (sistem imun). Cerita sedikit, sistem imun mengenali mikroorganisme patogen (iya, mikroorganisme, karena yang patogen ngga cuma bakteri) diantaranya lewat protein spesifik pada permukaan mikroorganisme tersebut. Nah, beberapa bakteri canggih bisa menciptakan semacam selubung (barrier) pada permukaannya supaya proteinnya tidak bisa dikenali sistem imun. Selubung ini berupa struktur polisakarida.
Polisakarida memiliki imunogenisitas yang rendah (artinya: tidak atau kurang merangsang sistem imun, artinya: imunisasi dengan polisakarida akan menjadi tidak atau kurang efektif). Trus, gimana caranya biar sistem imun bisa mengenali bakteri ini? Caranya ya dengan mengkonjugasikan (atau menggabungkan) dengan suatu protein (ingat! Protein memiliki imunogenisitas yang tinggi).
Intinya, polisakarida + protein → konjugat polisakarida-protein (berikatan secara kimia).
Pembicara kedua, perempuan. Pembicaraan beliau ini lebih mudah saya tangkap, bahasa Inggrisnya tampak lebih bersahabat. Kok bisa gitu yah? Beliau menjelaskan lebih spesifik tentang reaksi dan tahapan kritisnya, parameter kritis yang perlu diperhatikan, dan metode analisis yang digunakan.
Secara singkat, proses konjugasi ini terdiri atas tiga tahap. Polisakarida dan protein harus dimodifikasi sedemikian rupa supaya bisa bereaksi membentuk konjugat. Pertama, oksidasi polisakarida. Polimer ini dibuat lebih pendek menjadi oligosakarida. Prinsipnya adalah pemotongan rantai panjang menjadi rantai yang agak pendek atau tidak terlalu panjang. Tujuannya, memperkecil berat molekul dan mengubah gugus karboksilat pada ujung rantai supaya bisa bereaksi dengan protein yang akan dikonjugasikan.
Kedua, aktivasi protein (dalam kasus ini, toksoid Tetanus). Lupa reaksinya bagaimana, intinya sih sama, mengaktivasi gugus tertentu pada protein supaya bisa bereaksi dengan oligosakarida yang sudah dioksidasi di tahap pertama.
Oh ya, di sini juga disebut-sebut pH isoelektrik sebagai salah satu hal kritis yang harus diperhatikan. Masih inget? Saya sih udah lupa, tapi tadi dikasi tau lagi. pH isoelektrik adalah suatu nilai pH di mana suatu protein tidak bermuatan (positif atau negatif), alias netral. Pada pH ini, si protein memiliki kelarutan yang paling rendah.
Ketiga, proses konjugasi itu sendiri. Pada dasarnya, hasil tahap pertama dan tahap kedua dicampurkan, dan dengan difusi, kedua reaktan tersebut akan saling mendekat, kemudian berikatan membentuk konjugat.
Demikianlah..ternyata belajar lagi menyenangkan juga ya..pertanda akan kuliah lagi gitu yah?! :D Dulu saya agak males ngebayangin kuliah lagi di bidang yang sekarang, tapi kayanya asik juga kalo ada kesempatan! :)
Very well..udah mau Jumat aja nih. Selamat malam! ^_^

Published with Blogger-droid v2.0.10