Showing posts with label Semeru. Show all posts
Showing posts with label Semeru. Show all posts

Monday, January 16, 2012

Caper Semeru - edisi nostalgia (bagian 4, tamat)


Sebelumnya... lihat di bagian 3

Tidak banyak yang bisa kami lakukan di puncak saat badai, tapi kami juga ngga mau cepet-cepet turun, mengingat usaha kami yang lumayan panjang untuk sampai di situ dan kalo buat saya, saya masih cape dan rasanya ngga kebayang apa masih sanggup untuk menjaga konsentrasi di perjalanan turun, apalagi dalam kondisi hujan. Jadi, kami hanya duduk berkumpul dan berusaha saling menghangatkan, entah menunggu hujan reda atau apa, ngga jelas. Sampai akhirnya seorang Ranger datang dan menyuruh kami semua untuk turun - akhirnya ada juga yang punya akal sehat ;p Mas-mas Ranger yang baik ini mengatakan bahwa tetap bertahan di puncak saat badai sangat berbahaya, kami bisa mati karena hipotermia (kayanya salah satu penyebab kami ngga turun adalah hilangnya akal sehat kala itu, bisa jadi gara-gara hipotermia ;p). Alhasil, sekitar jam setengah enam, kami memulai perjalanan turun.

Saatnya pulang..
Saat mendaki atau hiking atau sekedar jalan kaki, setelah mencapai tujuan – bisa berupa puncak, air terjun, kawah, dsb. – biasanya semangat saya untuk melanjutkan perjalanan agak berkurang – mungkin karena kelelahan juga sih – yang ada di pikiran adalah keinginan untuk segera pulang, sampe rumah, istirahat, memulihkan diri, hibernasi. Tapi perjalanan turun puncak Semeru ini beda, ngga kalah seru dengan perjalanan naik, malah justru lebih menyenangkan. Untuk turun, kita bisa meluncur – sliding, kaya main perosotan zaman TK, seru-seruan sekaligus menghemat waktu dan energi. Tapi tetep mesti hati-hati, perhatikan rute luncuran, pastikan jarak dengan orang di depan kita ngga terlalu deket, trus peringatkan orang-orang yang ada di depan kalo ada batuan (utamanya yang besar) yang ikut meluncur, supaya mereka bisa menghindar, trus harus rela juga sepatunya kemasukan pasir dan sol sepatu menipis (nasib kalo pake sepatu-bukan-standar-mendaki-gunung kaya saya ;p) Kesenangan turun ini rasanya seperti imbalan yang diberikan atas kegigihan kami tadi malam untuk terus mendaki :)

Saat turun, kami berpapasan dengan beberapa rombongan yang baru akan naik. Melihat banyaknya orang yang naik dan turun, kami tidak merasa sedang berada di gunung, kami ingat suasana pasar, rame!! Saya lupa persisnya kapan, hujan sudah berhenti, langit kembali terang, jadi kami bisa melihat pemandangan dari lereng Semeru.. puncak gunung lain, kepadatan kota di kejauhan, awan yang berarak (sejajar dengan posisi kami, ada juga yang posisinya lebih rendah ;p). Cuaca cerah ini juga menyodorkan pemandangan rute pendakian tadi malam dengan lebih jelas; celah yang cukup dalam hanya beberapa langkah dari trek yang kami tempuh, jurang menganga yang mengapit jalan setapak yang dibatasi tali, membuat saya berpikir betapa beruntungnya kami melakukan pendakian saat malam, rute-rute berbahaya yang harus dilewati jadi ngga keliatan, kalo saya tau dari awal rutenya akan seperti itu, belum tentu saya akan sanggup untuk tetap melangkah (agak) ringan untuk terus mendaki (terbukti kalo tidak tau itu terkadang justru lebih baik ;p)


Pemandangan dalam perjalanan turun

Oh ya, ada yang lupa, pendakian dilakukan malam tidak hanya demi melihat matahari terbit, tapi waktu untuk berada di puncak memang dibatasi, tidak diperbolehkan untuk berada di puncak pada siang hari, maksimal jam sepuluh atau sebelas pagi kita harus sudah meninggalkan puncak. Siang hari, biasanya berhembus gas beracun (alias Wedhus Gembel) dari kawah Jonggring Saloko.

Perjalanan kembali ke Kalimati relatif lebih singkat dari perjalanan pergi, sekitar jam delapan atau setegah sembilan kami sudah kembali ke tenda, istirahat sebentar (lupa sarapan lagi atau ngga), berkemas, dan segera meninggalkan Kalimati menuju Ranukumbolo. Perjalanan sejak dari Kalimati saya tempuh dengan menggunakan sandal gunung, soalnya sepatu-bukan-standar-mendaki-gunung-nya udah ngga nyaman buat dipake, kemasukan terlalu banyak pasir, sampe-sampe warnanya berubah jadi abu tua (dari warna semula putih), sudah dibersihkan, tapi susah, soalnya pasirnya halus.

Personil lengkap ^_^
 
Oro-Oro Ombo
Tiba di Ranukumbolo sore hari, para pria mendirikan tenda, kami memasak ransum yang masih tersisa, seingat saya kali ini kami agak bermewah-mewah. Awalnya, kami berhemat makanan karena khawatir ngga cukup. Sekarang, karena sudah mau pulang, kami berusaha sebisa mungkin untuk mengurangi beban di ransel, jadi porsi makan diperbanyak, daripada mesti berat bawa pulang lagi bahan makanan :)

Di sini, teman saya yang termuda udah mulai homesick, inget mamanya terus, dia bilang kapok naik gunung, katanya selanjutnya dia mau ke pantai aja, dia hanya mau ke gunung kalo ada akses angkotnya (kayak ke Tangkuban Parahu atau Galunggung ;p) – yang tentu saja cuma bualan sesaat.. :) Naik gunung itu kayak makan keripik setan atau main sudoku atau latian aikido (ga bisa mengibaratkan kayak candu – soalnya ngga pernah nyandu ;p), bikin ketagihan.. meskipun capek, ribet, cedera macem-macem, kulit terbakar, pada akhirnya, kita akan selalu kembali.. :D (belum tentu ke gunung yang sama sih – maksudnya, kembali naik gunung lagi ;p) 

Bermalam lagi di Ranukumbolo, keesokan harinya kami kembali merapikan tenda dan berkemas, saatnya menuju Ranupani!!! Saat ini, agak sedih juga sih, soalnya tripnya udah mau selesai, keasyikan bertualang akan berakhir, waktunya kembali ke dunia nyata – dalam artian kembali ke rutinitas. Tapi, kalo dipikir lagi, keasyikan petualangan seperti ini justru karena waktunya yang singkat, kalo terlalu lama, jadi ngga asyik lagi karena kegiatan ini nantinya akan berubah menjadi rutinitas.

Di sini, efek samping juga mulai terasa, kulit muka mulai terasa perih, bibir mulai pecah-pecah (meskipun bawa pelembap wajah dan bibir, saya ngga menyempatkan untuk menggunakannya dari awal, jadi ya gitu deh, kulitnya jadi korban ;p).

Berhubung tiga diantara kami masih akan melanjutkan petualangan ke Pulau Sempu, sementara empat lainnya akan langsung kembali ke Bandung, di sini juga kami menyelesaikan utang-piutang, menentukan siapa bayar berapa, dsb., kemudian membuat semacam ‘acara penutup’, mencantumkan tanda tangan masing-masing dan satu puisi (dari teman yang homesick itu ;p) di bendera Palestina yang dibawa teman saya (ngga tau maksudnya dia apa dengan membawa bendera itu ;p)

Seperti sebelumnya, perjalanan pulang ngga begitu terasa, tau-tau kami sudah sampai Ranupani.. (yah, ngga juga sih, tapi yang jelas perjalanannya terasa lebih mudah, meskipun sudah lelah, tapi terbantu dengan beban yang sudah agak berkurang). Siang hari, di tengah hujan yang cukup deras, kami tiba di pos Ranupani. Kami bersyukur baru bertemu hujan saat itu, ngga kebayang deh kalo ketemu hujan sejak kami baru akan mendaki. Selesai bersih-bersih, mandi, ganti baju, isi ulang baterai ponsel, bertukar nomor telpon, dsb., kami meneruskan perjalanan menuju Tumpang menggunakan Land Rover. Pemandangan yang kami lalui menuju Tumpang juga menakjubkan (sebelumnya ngga keliatan, soalnya waktu pergi kita berangkat malam kan?!), jalan yang kami lalui berada di antara dua lembah, di kejauhan (yang ngga begitu jauh – pohon di hutan terlihat cukup jelas, gerumbulnya tampak seperti brokoli) terlihat gunung-gunung (yang kami tidak tau namanya apa ;p), pohon-pohon apelnya juga terlihat jelas, ngga samar-samar seperti sebelumnya. Sekitar Maghrib, kami sampai di Tumpang, berpisah jalan dengan kelompok Sempu, lantas naik angkot menuju kota (kalo saya ngga salah, ke area sekitar kampus Universitas Brawijaya). Tujuan kami adalah rumah yang akan menampung kami malam itu. Rumah ini sebenarnya semacam asrama (terpisah antara laki-laki dan perempuan) untuk mahasiswa dan mahasiswi yang mendapatkan beasiswa dari suatu lembaga (Republika, klo ga salah).

Setelah bertemu dengan mahasiswa Unbraw temennya temen saya itu (yang lumayan lucu – tampangnya, bukan tingkahnya ;p), diantar ke rumah tujuan, nyimpen barang dan beramah-tamah sebentar dengan penghuni asrama, kami pergi makan malam di lesehan pinggir jalan deket gang, menunya nasi ayam goreng dilengkapi tahu-tempe-lalap-sambal. Kenyang makan, kami kembali ke asrama dan langsung tidur dengan pulasnya.

Keesokan harinya, setelah mengucapkan terima kasih, kami berpamitan dan segera menuju stasiun kereta. Untuk ke Bandung, saat itu, kami harus naik kereta dulu ke Kediri, maka Kediri-lah tujuan kami berikutnya. Kereta ekonomi Malang-Kediri tiketnya enam ribu, penumpangnya padat, banyak pedagang asongan yang pintar sekali membaca situasi, di siang hari yang panas, banyak penjual minuman dingin dan cemilan, ada juga yang jualan sabuk, buku menggambar dan mewarnai, buku resep, atlas, dsb., trus ada juga grup pengamen yang membawa instrumen berupa biola, perkusi, dan bass berdiri. Hebooh!!!

Menjelang tengah hari, kami tiba di Kediri. Kereta menuju Bandung berangkat sekitar jam dua atau jam tiga siang, maka setelah kami membeli tiket, kami memutuskan untuk mengisi waktu menunggu dengan sedikit menjelajah Kediri. Kesan saya tentang Kediri: panas!!! (bisa jadi diperparah dengan pakaian saya waktu itu – kaos dan celana training ;p, yang kalo dipikir sekarang, aneh banget ya keliling-keliling di kota panas siang hari dengan celana training?!). Awalnya kami bertanya pada bapak pengemudi becak soal tempat yang kira-kira bisa kami kunjungi, beliau mengarahkan kami untuk melihat mall – maka kami memutuskan buat cari makan siang saja dan kemudian cari mesjid buat sholat sekalian tidur.

Menu makan siang saya waktu itu adalah nasi soto ayam dan susu soda gembira, tempatnya di toko serba ada, pemiliknya keturunan Cina, di dinding toko banyak gambar-gambar masakan Cina yang sepertinya berkhasiat obat, mengingatkan saya dengan film seri Korea Jewel in the Palace. Nasi soto-nya enak, tapi kayanya itu karena saya lagi laper, susu sodanya juga segar :) Selepas makan, kami beranjak ke mesjid (lupa nama mesjidnya), bangunannya lumayan besar, cukup bersih dan terawat. Di samping mesjid ada area pemakaman, sepertinya ada tokoh yang cukup berpengaruh dimakamkan di sini (kyai atau imam atau sejenisnya), soalnya ada rambu-rambu soal peziarah dsb. di gerbangnya. Hal yang paling memuaskan dari mesjid ini adalah kebersihan kamar mandinya, di sini saya sempat berlama-lama di kamar mandi (berkat susu soda gembira!!), kompensasi waktu di kamar mandi yang tidak saya dapatkan selama di Semeru ;p

Pada waktunya, kami berangkat dari Kediri menuju Bandung, berhubung lelah, kami lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur. Setelah sekian jam kaki ini terjuntai-juntai, sandal saya terasa seperti mengecil, ternyata kaki saya bengkak – retensi cairan! Kereta kami tiba di Kiaracondong pagi keesokan harinya, hari pertama di tahun 2010. Turun kereta, keluar stasiun, kami saling berpamitan dan menuju ke rumah masing-masing.

Dalam perjalanan ke rumah, di angkutan kota, saya merasa penumpang lain memandangi saya, saya pikir mungkin karena saya keliatan kucel setelah perjalanan seharian, jadi saya sok cuek aja. Tiba di rumah, naik ke kamar, saat bercermin saya dikagetkan dengan kulit muka saya yang terbakar, warnanya belang, mengelupas di sana-sini, terutama di area hidung dan pipi di bawah mata, mengerikan!! Pantesan aja orang-orang ngeliatin!! Tidak hanya wajah, warna kulit punggung tangan saya juga menua, oleh-oleh perjalanan ini butuh berminggu-minggu untuk kembali seperti semula. Walaupun begitu, tetap saja saya tidak sabar menanti hingga pendakian berikutnya.. kemana yaaa???!!! Doakan semoga tahun ini bisa ke Rinjani!! Amiin!! :D

ps1. tips untuk mempercepat pengelupasan kulit wajah yang terbakar: ambil tomat yang matang, belah sesuai kehendak hati (dan tangan ;p). Gosokkan potongan tomat pada area yang terbakar, kemudian bilas dengan air – wajahnya loh yang dibilas, bukan tomatnya ;p (pps. rasanya emang perih, tapi beneran membantu kok :D)

ps2. selalu ingat prinsip utama dalam bertualang ke alam: tidak membunuh apapun kecuali waktu, tidak mengambil apapun kecuali foto, dan tidak meninggalkan apapun kecuali jejak. Ingat untuk selalu menjaga kebersihan yaa, apalagi di gunung, bawa kembali sampah-sampah anorganik untuk dibuang sepantasnya.. 

-end, at last ;p-

Saturday, January 7, 2012

Caper Semeru - edisi nostalgia (bagian 3)

Menyambung Caper Semeru - edisi nostalgia bagian 1 dan bagian 2...

Berjalan di tengah padang luas, diantara bukit-bukit, kesunyian alam terasa memabukkan. Kami lebih banyak berjalan dalam diam, merasakan kesunyian sekaligus menghemat energi. Setelah rute naik-turun hari sebelumnya, saya rasa perjalan menuju Kalimati ini relatif lebih ringan (entah karena sudah terbiasa ;p), lebih banyak trek datar yang cukup panjang, menyenangkan!! Kali ini juga kami tidak terlalu sering mengambil jeda, setidaknya seingat saya begitu ;p

Istirahat - sekalian berfoto dulu ;p
Setengah kilometer menuju Kalimati
Pemandangan menuju Kalimati berganti-ganti dari padang ilalang, ke hutan pinus yang semakin jarang begitu kami mendekati Kalimati. Tanah yang dipijak mulai berganti dengan pasir halus berwarna hitam, vegetasi didominasi semak-semak yang dari kejauhan tampak seperti bulatan-bulatan sempurna. Setelah sekitar lima jam, kami tiba di semacam padang luas, di ujung seberang tampak pondokan dan tenda-tenda diantara pepohonan. Kami beristirahat sejenak, mendirikan tenda, kemudian beranjak untuk mengisi persediaan air (kalo ga salah nama tempatnya Sumbermani). Perjalanan mencari mata air membawa kami ke semacam bekas aliran sungai (sepertinya jalur ini adalah bekas aliran lava), di suatu titik kami menemukan dinding sungai yang menampakkan lapisan-lapisan tanah yang sangat jelas.

Kalimati - pos terakhir sebelum pendakian ke puncak

Persediaan air kami tidak terlalu banyak (soalnya berat kalo harus bawa air banyak), sejak dari Ranukumbolo kami sudah menggunakan air danau untuk minum dan masak. Di Sumbermani ini, sumber air sangat jarang, air yang ada alirannya sangat kecil, jadi kami harus bersabar mengantri menunggu giliran, kemudian bersabar menunggu air memenuhi botol air yang kami bawa. Air di Ranukumbolo dan Sumbermani sama-sama jernih dan dingin, buat minum awalnya kami masak dulu, tapi karena ngga praktis, akhirnya kami meminumnya langsung, tanpa dimasak. Karena dingin, paling enak kalo airnya ditambahi serbuk minuman rasa buah, dijamin rasanya sama seperti kalo kita minum air rasa buah dari kulkas. Segar!!

Mengisi persediaan air - latar belakang: Lapisan pasir dan abu 
Oh ya, di Kalimati ini suasananya lumayan mencekam (buat saya), hampir sepanjang waktu kami dapat mendengar suara gemuruh angin yang sangat keras, saya merasa diperingatkan betapa kecil, tidak berarti, dan tidak berdayanya kami semua. Betapa dahsyatnya kekuatan alam.

Sore hari, selesai mendirikan tenda, teman-teman saya sempat bersantai dengan bermain kartu. Selepas makan malam, kami segera tidur. Kami bangun sekitar jam sebelas malam dan bersiap untuk memulai pendakian yang sesungguhnya. Barang-barang tidak kami bawa, semua ditinggal di tenda, kami hanya membawa air minum dan makanan secukupnya.

Istirahat sore sambil main kartu :)

Sesi 3: Kalimati – Puncak Semeru - Kalimati 


Perjalanan diawali dengan menuruni lembah, kemudian mendaki dinding bukit, karena sering dilewati, tanah di rute ini menjadi padat dan licin. Tanjakan-tanjakan kali ini lumayan curam kemiringannya, sehingga seringkali saya merasa kalau otot paha saya sungguh mengalami peregangan yang sangat maksimal. Jalan setapak di sini benar-benar setapak, butuh konsentrasi penuh di setiap langkah, salah menjejak mungkin dapat berakibat fatal - saya berusaha untuk tidak memikirkannya. Suhu udara yang dingin membantu seluruh indera tetap waspada. 

Di suatu titik, kami melewati semacam tugu peringatan, diatasnya tergeletak sepasang sepatu converse yang sudah agak lapuk dimakan cuaca, saya lupa bunyi persis tulisannya, intinya menerangkan kalau sepatu itu adalah milik pendaki yang meninggal dunia (atau hilang) di lokasi tersebut. Melihat itu, saya jadi sedikit meremang, tapi sekali lagi, saya berusaha untuk tidak memikirkannya, saya berkonsentrasi untuk melewati setiap trek yang semakin lama semakin menantang.

Terdapat trek-trek yang sebenarnya cukup berbahaya (kalo saya pikir sekarang, kok kelompok kami ini sepertinya nekat sekali ;p), ada trek seperti pematang yang hanya ditandai dan dibatasi dengan tali rafia, disertai peringatan agar jangan sekali-kali menjadikan tali itu sebagai pegangan (dalam artian, sebagai tumpuan), di beberapa bagian kadang-kadang treknya, selain sempit, juga menanjak atau menurun. Kalau saya ingat lagi, mengerikan juga, ditambah dengan kenyataan kami ini sebenarnya tidak begitu siap secara perlengkapan - tidak ada satu pun dari kami yang membawa tali, nekat kan?!

Mendaki menuju Arcopodo
Sekitar tengah malam, sampai di Arcopodo (batas vegetasi terakhir), kami memulai pendakian Semeru yang sesungguhnya. Udara malam yang dingin dan mulai menipis mulai membuat saya mengantuk. Lereng gunung makin curam begitu kami semakin mendekati puncak, saya jadi lebih sering beristirahat, saya tertelungkup di atas pasir yang dingin, rasanya sungguh nikmat. Saat itu sedang musim hujan, pasirnya jadi lebih berat dan tidak begitu longgar, sehingga lumayan membantu memudahkan kami untuk mendaki, tapi tetap saja, saat dipijak, pasir itu terburai dan kami pun meluncur turun kembali. Saat kami melangkah maju tiga langkah, maka kami mundur lagi dua langkah. Malam itu langit cerah, saat kita memandang ke bawah, kita dapat melihat cahaya lampu kota yang menakjubkan, sepertinya saya bisa saja duduk di sana berjam-jam menikmati pemandangan. Tapi, semakin sering kita berhenti, pendakian akan semakin terasa melelahkan. Makanya, sedapat mungkin saya terus melangkah, berusaha menetapkan tujuan sementara, melangkah terus sampai batu besar di depan, kemudian mendaki lagi sampai ke balik batu besar lainnya. Semakin lama, berjalan normal menjadi semakin sulit akibat kombinasi pasir pijakan yang labil dan lereng yang curam. Akhirnya, saat melangkah semakin sulit, saya menggunakan lutut dan kedua lengan untuk bertumpu, perlahan merangkak naik. Saat itu, terngiang perkataan seorang ustadzah yang kami temui dalam perjalan dari Yogya menuju Kediri, setelah mendengar tujuan perjalanan kami, beliau berkomentar - kurang lebih, begini: 'Yah, seperti perjalanan menuju surga, perjalanan mendaki gunung itu pasti tidak mudah, penuh perjuangan, tidak seperti perjalanan menuju neraka.' Maka, untuk menyemangati diri kami sendiri, kami mengulang perkataan ustadzah tersebut, 'Ini adalah perjalanan menuju surga!!'

Dan akhirnya, setelah sekitar enam jam, jam lima pagi kami sampai di surga, eh, puncak! Akhirnya, tidak ada lagi pasir di depan kaki saya yang harus saya lewati. Saat melewati batu besar yang terakhir, rasanya masih tidak percaya kalo ini adalah puncak Semeru, sebidang tanah berbatu yang cukup luas, seperti permukaan bulan yang digambarkan di film-film :)

Belum lama kami di puncak, cuaca mulai mendung, lenyap sudah kesempatan melihat matahari terbit dari puncak Semeru. Kemudian hujan pun turun, disertai angin kencang, dengan kata lain, badai. Kami menggelar ponco sebagai alas dan ponco lain digunakan sebagai atap pelindung dari hujan. Kami berjejalan berusaha menghangatkan diri karena udara dan air hujan yang dingin mulai terasa menusuk, tau kan rasanya kedinginan saat mencelupkan tangan ke dalam air es? Pertama-tama terasa kebas, kemudian perih seperti tertusuk-tusuk puluhan jarum. Sambil hujan badai begitu, kami membuka bekal roti isi meses cokelat yang kami bawa, sedapat mungkin menggigit potongan roti diantara gigilan dan gemeretuk gigi ;p

Sesaat setelah sampai di Puncak - disambut badai!!

bersambung lagi.. next: perjalanan turun yang seru!! :D
  

Monday, January 2, 2012

Caper Semeru - edisi nostalgia (bagian 2)


Perjalanan pun dimulai! Sebelumnya, saya kasih gambaran, seperti yang bisa dilihat pada foto terakhir di bagian 1, rute pendakian Semeru sebenernya jaraknya 'cuma' 17,9 km dari Ranupani, kami membaginya menjadi tiga sesi, Ranupani-Ranukumbolo (10 km), Ranukumbolo-Kalimati (4,9 km), dan Kalimati-Semeru (3 km).

Sesi 1: Ranupani - Ranukumbolo

Awalnya kami melalui jalan beraspal, kemudian di suatu titik, kami berbelok dan beralih ke jalan setapak. Di sini, gapura di kedua jalan membuat kami bimbang, gapura jalan aspal bertuliskan ‘Selamat jalan’, sementara tulisan gapura di jalan setapak adalah ‘Selamat mendaki’ :D 

Gapura Selamat Mendaki
Meskipun kami lebih memilih berjalan daripada mendaki, tapi Semeru yang kami tuju rutenya lewat jalan mendaki, maka setelah berfoto di depan gapura, kami mulai mendaki. Jalan setapak yang kami lewati berada di pinggiran bukit, sementara pemandangan di bawahnya masih berupa tanah pertanian penduduk Ranupani, kemudian berganti dengan pemandangan bukit-bukit (yang sudah dan akan kami lewati). Rute pendakian di jalan setapak ini cukup manusiawi, tidak jauh berbeda dengan rute pendakian di gunung yang ada di Bandung, sesekali kami menemui tanjakan atau turunan, seperti di hutan pada umumnya. 

Begini nih rutenya..
Beberapa kali kami beristirahat dan membuka ransum yang dibawa, kadang-kadang berpapasan dengan rombongan lain yang turun gunung, atau tersalip oleh rombongan lain. Buat saya, pertemuan dengan rombongan lain cukup berkesan, soalnya entah bagaimana, rasanya seperti bertemu teman lama (mungkin karena merasa satu misi dan senasib dan mungkin pada dasarnya, karena kita ini makhluk sosial), entahlah. Lebih senang lagi kalo bertemu sesama perempuan, bukannya jarang, tapi memang mayoritas pendaki adalah laki-laki.

Beberapa percakapan yang terjadi, diantaranya..
Rombongan Lain (RL): Dari mana, mas/mbak?
Rombongan Kami (RK): Dari Bandung (meskipun kenyataannya kelompok kami ini campur-campur, beda asal kota – Bandung, Jakarta, beda almamater – ITB, Unpad, Unpar; tapi ribet kalo dijelasin ;p)
RL: Oh, kirain dari keluarga baik-baik :)

Atau.. kalo papasan dengan rombongan yang pulang..
RK: Habis dari puncak, mas?
RL: Iyaa… (dengan muka sumringah dan bangga penuh suka cita – dramatisasi ;p)
RK: Dari mana mas?
RL: Dari Surabaya/Jogja/Malang/ Jakarta/Makasar/ITS/UGM/Pancasila

Menurut peta rute, Ranupani – Ranubkumbolo itu bisa ditempuh dalam waktu tiga jam, mestinya.. kenyataannya, kami baru sampai ke Ranukumbolo setelah sekitar lima jam, itu sudah termasuk sekian kali istirahat di banyak titik, di pos-pos yang disediakan atau dimanapun. Hal yang lumayan lucu adalah penunjuk arah di jalan yang memuat keterangan berapa jauh jarak yang masih harus ditempuh untuk sampai di Waturejeng, misalnya tertulis: WATUREJENG 1 KM, atau WATUREJENG 500 m, tapi kami tidak pernah menemukan penunjuk lokasi WATUREJENG-nya sendiri. 

Akhirnya.... sekitar jam satu atau setengah dua, kami pun melihat pemandangan Ranukumbolo yang dari tadi kami tunggu-tunggu, karena itu berarti perjalanan kami untuk hari ini sudah selesai.

Ranukumbolo!!!!
Di tepi danau yang mulai diselimuti kabut ini, kami mulai mempersiapkan makan siang dan tenda untuk bermalam. Bersama kami, ada juga rombongan lain yang bermalam di sini, jadinya rame, berasa lagi jambore. Pemandangan di sini sudah mulai menakjubkan, bukit-bukit yang tampak mulus dari jauh membuat kita serasa berada di dunia Teletubbies atau di Middleearth, air danaunya juga sangat jernih (air di danau ini sepertinya hanya berasal dari air hujan, saya ngga tau di dalamnya ada ikan atau tidak, kelihatannya sih ngga ada). Sore hari, kabut yang tadi mulai turun semakin menebal, udara juga cukup dingin. Selepas makan, sholat, dsb., kami langsung tidur untuk memulihkan tenaga dan mempersiapkan diri untuk perjalanan keesokan harinya.
Ranukumbolo di sore hari
Besoknya, kami sempat menikmati pemandangan matahari terbit di belakang bukit di hadapan kami, tepat di seberang danau. Rasanya sungguh magis. Pagi-pagi kami mulai menyiapkan sarapan, para laki-laki membereskan tenda, dan kami pun segera memulai perjalanan sesi kedua.
Matahari terbit

Sesi 2: Ranukumbolo - Kalimati

Berhubung kelompok kami ini termasuk kelompok santai, perjalanan dimulai sekitar jam sembilan pagi dari Ranukumbolo. Untuk menuju Kalimati, kami melewati area dengan nama yang unik; Oro-Oro Ombo, Cemoro Kandang, Jambangan, dan Sumbermani. 

Perjalanan dari Ranukumbolo melewati tanjakan yang dinamakan tanjakan cinta (katanya kalo mendaki tanjakan ini tanpa berhenti, doanya akan terkabul - penjelasan logisnya, mendaki tanjakan ini butuh konsistensi dan tekad, kalo kita berhasil ya berarti kita punya cukup kemauan dan terbukti mampu untuk mewujudkan kemauan kita), di balik tanjakan ini terhampar padang luas yang menakjubkan, ada dua rute yang bisa dipilih, menyusuri pinggir bukit atau turun ke tengah padang - kami memilih rute ke dua.

Padang di balik Tanjakan Cinta - kalo ga salah inilah Oro-Oro Ombo

Monday, December 19, 2011

Caper Semeru – edisi nostalgia (bagian 1)


Menjelang akhir tahun 2009, di saat sedang amat sangat bukan kepalang bosan dengan rutinitas pekerjaan yang monoton dan nyaris menjerumuskan saya menjadi pekerja magabut (makan gaji buta) absolut, saya mengukir sejarah dalam hidup, dengan menginjakkan kaki (disertai anggota tubuh lainnya tentu saja ;p) di tanah tertinggi Pulau Jawa, Semeru, 3.676 mdpl. Sebagai informasi, saat itu di kaki Semeru sedang heboh banjir lahar dingin dan cuaca buruk, sehingga diberitakan bahwa Semeru ditutup dari segala kegiatan pendakian.

Malam tanggal 23 Desember, saya berjodoh bertemu online dengan seorang teman yang akhir-akhir itu sedang semangat merencanakan perjalanan ke sana. Saya tanya soal rencananya itu – yang ternyata tetep jalan, biarpun katanya tujuan perjalanannya jadi cukup sampe Ranu Kumbolo. Sejak sebelumnya, saya udah pengin banget ikut, jadi waktu dia ngajakin, tanpa ragu saya bilang hayu, meskipun ngga punya cukup persiapan, pengalaman, dan peralatan, mengingat perginya tinggal dua hari lagi.

Setelah positif ikut, saya sempet ngintip-ngintip di web soal pendakian ke Semeru. Agak serem juga waktu baca keterangan soal beberapa orang yang berpulang di sana. Tapi, saya ditenangkan dengan keterangan lain yang menyatakan kalo kematian ini merupakan risiko yang dapat dihindari selama kita melakukan pendakian secara aman dan mengikuti jalur pendakian yang sudah ada.

Jumat malam, saya dan lima teman, kami berenam (empat laki-laki, dua perempuan) berangkat menuju Malang menggunakan kereta api ekonomi dari Stasiun Kiaracondong. Sebelumnya, kumpul dulu di Mesjid Salman, sekalian briefing seperlunya. Bada Maghrib, kami meluncur di tengah hujan deras menuju Stasiun Kiaracondong. Berhubung belum pernah naik kereta api ekonomi, apalagi yang tujuan Jawa, pengalaman berdesakan dan rebutan tempat duduk jadi petualangan tersendiri. Seruuu!!! Kalo mau tau perjalanan sudah sampe mana, kita bisa tau dari bahasa dan logat bapak-ibu-mas-mbak yang berjualan. Trus, mesti banyak berhenti, soalnya kelas ekonomi pasti harus mengalah dengan kereta kelas bisnis dan eksekutif, Indonesia banget lah pokoknya :p Makanya, perjalanan kereta lumayan lama, tengah malam kami baru sampai di Tasik, di sini saya terbangun dengan aroma mie rebus pake telur yang dimakan oleh bapak-bapak yang duduk di depan saya. Pagi, kami tiba di Yogya, berhenti sebentar di stasiun Lempuyangan, bukan di Stasiun Tugu, di sini kami sarapan nasi pecel yang asli murah banget, trus di Kediri (klo ga salah inget) ganti kereta jurusan Malang, dan sekitar jam 4 sore, tibalah kami di Malang. Dari stasiun, kami naik angkot ke Tumpang, lupa jaraknya seberapa jauh, yang jelas, waktu itu saya berpikir lumayan murah juga tarif angkot di Malang, dibanding tarif angkot di Bandung. Di sini ada satu teman lain yang bergabung, jadilah kami bertujuh menuju Tumpang.

Saat tiba di Malang
Kami tiba di Tumpang sekitar Maghrib atau Isya, belanja-belanja lagi bahan makanan, sholat, trus nungguin temen yang sedang tawar-menawar tarif mobil Land Rover yang akan mengangkut kita ke Ranupani, basecamp untuk naik ke Semeru. Sambil nunggu, kami makan martabak telor yang dibeli temen saya, katanya dalam rangka merayakan ulang tahun saya. Hehe, ketauan deh ;p Saat mencari tempat untuk sholat, kami tiba di depan suatu bangunan mesjid yang cukup megah, tapi lampunya mati dan gerbangnya terkunci. Di sini saya baru tau kalo mesjid ternyata dikunci juga ya?! Soalnya kan kalo di film atau sinetron, musafir yang kemalaman di jalan biasanya tidur di mesjid, wah, naifnya diriku.. Akhirnya, kami sholat di mushola kantor kelurahan yang ada di sebelah mesjid itu, untunglah musholanya ngga dikunci juga :) Di sini (Tumpang, maksudnya), kami juga bertemu dengan rombongan mahasiswa dari UPI yang baru turun gunung, senangnya!! Apalagi diantara mereka terselip dua orang perempuan yang berukuran sama dengan saya dan mendengar cerita mereka yang sukses sampai puncak. Saya pikir, kalo mereka bisa, saya juga pasti bisa dong!! Oh, btw, saat itu saya baru tau bagaimana senangnya ketemu dengan orang sedaerah di daerah lain, soalnya pergi ke daerah lain adalah pengalaman yang baru buat saya :) (ngerti ngga?! Kok bahasanya tampak ribet ya?!)

Usai berkemas ulang (temen saya yang berkemas, soalnya carrier bag-nya paling besar, dan secara sepihak, kami mengangkat dia sebagai penanggung logistik – betul, penanggung, bukan penanggung jawab, ;p Jadi bahan makanan yang baru dibeli mayoritas masuk tasnya dia, hehe – di saat seperti ini saya senang jadi perempuan, emansipasi?? apa itu ya? ;p Lagipula, menurut artikel yang pernah saya baca, beban maksimal yang dibawa seseorang sebaiknya tidak melebihi sepertiga berat tubuhnya – justifikasi kedua ;p), perjalanan dilanjutkan, kali ini naik Land Rover. 

Land Rover yang mengantarkan kami dari Tumpang ke Ranu Pani
Awalnya, kami menempuh jalan yang cukup lebar dan menanjak, di sisi kiri dan kanan jalan samar-samar kami lihat banyak pohon apel (oooh.. apel Malang!!). Jalan terus menanjak, berkelok dan menyempit, setelah sekitar satu jam lebih, kami sampai di Ranupani, bongkar-muat ransel dan menuju satu rumah yang sepertinya berfungsi sebagai penampungan para pendaki. Di rumah itu, ada banyak pendaki yang baru turun atau akan naik (seperti kami) berkumpul, kebanyakan sudah tidur, tapi ada juga yang akan berangkat mendaki saat itu juga. Berhubung kami cukup lelah, kami memutuskan pendakian dimulai besok pagi dan sebaiknya segera tidur saja. Maka, setelah membersihkan diri secukupnya, kami mencari area yang cukup luas untuk tempat tidur, buka sleeping bag, dan tidak sadarkan diri dalam sekejap.

Beginilah kami tidur :)
Keesokan paginya…. Setelah melaporkan diri akan melakukan pendakian dengan membayar biaya asuransi dan menyerahkan salinan KTP, teman saya – yang bertindak sebagai pemimpin tidak resmi, menyampaikan kalo perjalanan ini akan ditargetkan untuk sampai ke puncak. Loh?? Kok bisa, bukannya dilarang? Ternyata, memang dilarang sih, tapi kalo mau sampai di puncak dipersilakan saja sama petugasnya, dengan catatan risiko yang terjadi di luar tanggung jawab dari pengelolan Taman Nasional BTS (Bromo Tengger Semeru) begitu kata petugasnya. Jadi, kami sepakat dan setuju untuk menargetkan sampai puncak. Horeee!!! (sambil deg-degan ;p)
Rute Pendakian Semeru