Showing posts with label NGI. Show all posts
Showing posts with label NGI. Show all posts

Thursday, April 3, 2014

menu akhir pekan (extended)


Proyek ambisius akhir pekan kemarin adalah menyelesaikan bacaan-bacaan di atas. Sebenarnya sih ada yang jauh lebih kritis dan penting, menyangkut kepentingan peningkatan kapasitas intelektual (jika masih memungkinkan :D), yaitu serial laporan teknis yang diterbitkan sebuah organisasi bernama WHO, berjudul Technical Report Series, dilengkapi nomor-nomor di belakangnya. TRS ini merupakan panduan minimum yang harus diikuti untuk mendapatkan prekualifikasi WHO, supaya produk kita dinyatakan memenuhi syarat dan bisa dijual ke WHO. 

Sayangnya.. baca panduan mah godaannya banyak, lebih mudah baca novel dan komik. Andai saja TRS itu ada edisi komiknya :D

Nah, laporan realisasi proyek: target tercapai 50% secara kuantitas, baru mampu menamatkan NGI April dan si novel fiksi False Prince itu.. lumayan lah ya.. :) tapi... secara kualitas, kayanya pencapaiannya belum setinggi itu.. artikel kelahiran alam semesta lumayan memukau dan membuat otak saya kerja ekstrakeras :D  dan membuat saya butuh asupan glukosa dosis tinggi ^_^

Perjalanan menyelesaikan si 1984 rasanya akan sangaaaat panjaaang.. nanti saya ceritakan jika mampu, tapi kalo ngga sabar, baca aja di wikipedia, kayanya novel ini termasuk karya yang lumayan berbobot (dan kemungkinan besar ngga mudah saya cerna) :)

Tuesday, January 7, 2014

sudah saatnya..

NGI 2007 - 2013 (dikurangi edisi Maret 2010 dan Juni 2012)
Bilakah tiba waktunya buat beberes?
Ketika warna permukaan bidang datar sudah mulai memudar berselimut debu..
Ketika mulai menemukan bon belanjaan, potongan aneka tiket, catatan ngga jelas, bercampur dengan buku-daftar-tunggu-akan-dibaca dan uang receh..
Ketika mulai dirasa sulit untuk menemukan benda spesifik dalam waktu singkat..
Ketika longsoran tumpukan buku mulai mengancam dan dapat terjadi sewaktu-waktu..
Ketika sadar..

Saturday, May 25, 2013

(tidak) berhenti baca NGI!!

Satu lantai di bawah mesjid kantor ada kafetaria yang dikelola koperasi, para penjaja makanan di sini adalah karyawan atau keluarga karyawan atau kenalan karyawan (kayanya) yang lagi belajar berwirausaha. Biar adil, beberapa waktu yang lalu ada semacam pergantian atau rotasi pengelola, jadi stand makanannya ada yang berganti. Sekarang jadi lebih variatif. Salah satu stand yang baru  menyajikan hidangan laut.
Suatu siang, temen saya mencoba menu Kerapu Woku dari stand ini. Saat itu saya jadi teringat kembali dengan kisah hidangan bahari di NGI. Trus, jadi cerita deh gimana susahnya kehidupan para ikan di perairan Indonesia, bagaimana kita memiliki tanggung jawab untuk ikut berperan serta dalam pelestarian spesies-spesies ikan laut yang semakin terancam keberlangsungan hidupnya.
Lebih jauh lagi.. cerita juga bagaimana dengan pola konsumsi manusia yang kurang efisien. Misalnya nih.. Kalo dihitung energinya, makan sayur lebih ramah lingkungan dan hemat energi dibandingkan dengan makan daging sapi, dihitung dari berapa banyak lahan yang diperlukan untuk memelihara sapi dibandingkan menanam sayur, jumlah air yang digunakan, dst. Yang jelas sih, semakin panjang rantai produksi bahan konsumsi, maka semakin banyak energi yang dibutuhkan, dan itu artinya efisiensi energinya menjadi semakin kecil.
Semakin jauh lagi, bahkan konsumsi sayuran pun memiliki konsekuensi bagi lingkungan. Kata kunci: pupuk. Tapi ini lain cerita sih. Konon, pemakaian pupuk yang berlebihan menyebabkan perubahan pada kesetimbangan ekologi dunia. Pupuk organik adalah yang terbaik, meskipun tetap saja, ada hitung-hitungan yang harus ditaati untuk meminimalkan dampak lingkungan.
Hmfh...semakin bercerita, semakin mengerikan dan mencemaskan saja yaa..
Lantas, teman saya kemudian bertanya: jadi makanan apa yang sebaiknya kita konsumsi? Entahlah.. Yang jelas, halal saja tidak cukup, harus baik (thoyyib) juga - bukan hanya baik untuk diri sendiri (maksudnya bermanfaat atau setidaknya tidak merugikan untuk kesehatan), tapi juga baik untuk lingkungan kita :)
Atau..mungkin, berhenti saja baca NG (yang tentu saja TIDAK akan saya lakukan ;p)

Published with Blogger-droid v2.0.10

Sunday, December 30, 2012

The Walk to Paradise Garden

Copas dari sini, gara-gara suka sekali liat foto ini di NGI Januari 2013 Edisi Spesial 125 Tahun Penjelajahan :)

W. Eugene Smith was no doubt one of the greatest war correspondents of the last century. As the photographer for Life, he followed the island-hopping American offensive against Japan, from Saipan to Guam, from Iwo Jima to Okinawa, where he was hit by mortar fire, and invalided back.
His war wounds cost him two painful years of hospitalization and plastic surgery. During those years he took no photos, and it was doubtful whether he would ever be able to return to photography.
Then one day in 1946, he took a walk with his two children, Juanita and Patrick, towards a sun-bathed clearing:

While I followed my children into the undergrowth and the group of taller trees – how they were delighted at every little discovery! – and observed them, I suddenly realized that at this moment, in spite of everything, in spite of all the wars and all I had gone through that day, I wanted to sing a sonnet to life and to the courage to go on living it….
Pat saw something in the clearing, he grasped Juanita by the hand and they hurried forward. I dropped a little farther behind the engrossed children, then stopped. Painfully I struggled — almost into panic — with the mechanical iniquities of the camera…. I tried to, and ignore the sudden violence of pain that real effort shot again and again through my hand, up my hand, and into my spine … swallowing, sucking, gagging, trying to pull the ugly tasting serum inside, into my mouth and throat, and away from dripping down on the camera….
I knew the photograph, though not perfect, and however unimportant to the world, had been held…. I was aware that mentally, spiritually, even physically, I had taken a first good stride away from those past two wasted and stifled years.

While he was right about his stride towards recovery, Smith miscalculated the photo’s importance. In 1955, a heavily-indebted Smith decided to submit the photo to Edward Steichen’s now- famous Family of Man exhibit at the MOMA. There, it became a finalist and then the closing image, thus cementing its position as the ur-icon of all family photographs.

Published with Blogger-droid v2.0.9

Wednesday, October 31, 2012

omnivora selektif: pilih-pilih seafood


Meskipun tidak dilengkapi dengan naluri berburu sehebat singa, kemampuan berlari secepat cheetah, otot tubuh sekuat dan sepanjang piton, atau bahkan geligi setajam hiu, manusia berada di puncak rantai makanan dan menjadi superpredator. Kenapa superpredator? Karena.. ngga seperti predator lainnya, yang biasanya adalah karnivora dan hanya membunuh demi kepentingan konsumsi untuk keberlangsungan hidupnya, manusia adalah omnivora yang bisa membunuh makhluk lain bukan untuk kepentingan perut saja, misalnya nih.. manusia bisa membunuh gajah demi sepasang gading – dagingnya ngga dimakan kan? atau.. membunuh badak untuk sebuah cula, atau membunuh seekor ular yang sebenernya cuma ngga sengaja numpang lewat, atau menghabisi seekor buaya demi selembar kulit bahan tas/sepatu/sabuk/dompet, atau membunuh nyamuk yang mengganggu tidur, bahkan bisa saja menembak bebek atau burung atau babi hutan semata-mata demi alasan olahraga. Ngerti kan maksud saya?

Sebenernya bukan mau ngebahas itu sih.. kenapa jadi ke sana ya? Beberapa waktu lalu, saya pernah sedikit menyinggung tentang omnivora selektif, meskipun pemakan-segala tapi ngga berarti segala dimakan :D Untuk saya pribadi, sebetulnya hal ini hanya berdasar pada keengganan saya untuk melahap beberapa pilihan makanan yang tidak saya sukai – entah itu rasa, penampakan, tekstur, atau alasan lainnya. Nah, bulan November ini, salah satu artikel NGI (ditulis oleh Siham Afatta) membahas alasan lain (yang lebih sahih dan ilmiah ;p) mengenai pentingnya kita, manusia, untuk menjadi omnivora selektif dan lebih bertanggung jawab atas segala hal yang kita lakukan (dalam hal ini – atas segala hal yang kita konsumsi, terutama hidangan bahari).

Seperti sudah kita ketahui, Indonesia ini adalah negara kepulauan, dimana sebagian besar wilayahnya berupa perairan, laut dengan beragam kedalaman dan biota khas di dalamnya. Karena wilayah perairan yang luas, maka sangat logis jika produk bahari (aneka ikan, udang, kepiting, gurita, cumi, dsb.) yang ditangkap juga cukup besar. Jika kita buat persamaannya, maka variabel yang mempengaruhi pemanfaatan hasil bahari ini diantaranya adalah luas perairan yang dimanfaatkan, jumlah konsumen (perkiraan jumlah penduduk Indonesia saja ditambah penduduk dunia yang menjadi tujuan ekspor produk bahari – baik yang legal maupun ilegal), kemudian jumlah dan kapasitas kapal penangkap ikan yang beredar, metode penangkapan (mulai dari cara tradisional seperti dengan menebar jala, menggunakan joran pancing, hingga metode massal yang tidak ramah-lingkungan seperti penggunaan pukat, peledak, dst.), trus apalagi ya?  

Pemanfaatan hasil bahari secara besar-besaran tanpa pengendalian yang baik berujung pada terancamnya keberadaan biota laut secara keseluruhan. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2010, 71 persen sumber daya ikan di barat Indonesia sudah dieksploitasi berlebih, sementara di timur 'baru ' mencapai 44 persen. Itu tahun 2010, bagaimana di tahun 2012 ya? Sepertinya sih meningkat ya. Jika praktik penangkapan ikan seperti ini tidak dihentikan, bukan mustahil jika penghabisan ikan akan terjadi. Sekarang saja, katanya ikan-ikan semakin sulit didapat dan kalau pun ada, ukurannya kecil. 

Di sini digambarkan rantai makanan di laut yang terdiri dari 4 level. Level 1 adalah produsen: fitoplankton, rumput laut, ganggang laut - berfungsi sebagai penunjang kehidupan spesies laut lainnya. Level 2 adalah hewan-hewan herbivora: zooplankton, bulu babi (satu-satunya bagian babi yang halal ;p), kepiting, kerang, udang - memakan 1 kg organisme ini setara dengan memakan 10 kg produsen. Level 3 adalah hewan karnivora/piscivora: cumi-cumi, sarden, lobster, kerapu - memakan 1 kg organisme ini setara dengan memakan 10 kg spesies herbivora. Kemudian, level 4 adalah para predator utama: hiu, tuna, kod, dan ikan-ikan besar lain. Hewan ini cenderung tidak memiliki musuh kecuali manusia - memakan 1 kg organisme ini setara dengan memakan 10 kg spesies karnivora. Artinya... saat kita memakan 1 kg tuna/hiu/kod, itu sama dengan memakan 1000 kg fitoplankton/rumput laut/ganggang laut! Bilang WOW yuk? Kalau begini caranya sih, beberapa tahun ke depan, jangan harap deh masih bisa mengonsumsi hidangan laut. 

Lantas, kalau begitu, mengapa masih menangkap ikan? Mengapa tidak dibuat kebijakan agar ikan yang dikonsumsi berasal dari budi daya? Katanya sih, bagi nelayan Indonesia, budi daya ikan laut itu mahal dan sulit - lagi-lagi alasan ekonomi :( Jadi, tinggal para konsumen yang dapat berperan, caranya ya dengan lebih sadar dan menghindari menyantap spesies yang terancam dan dilindungi. Jika permintaan turun, maka penangkapan diharapkan akan berkurang, sehingga populasi ikan akan memiliki waktu untuk pulih. Meskipun di satu sisi, sebagai masyarakat awam, masih sulit juga sih untuk membedakan produk ikan laut hasil budi daya dan hasil tangkapan. 

Yang pasti, ingatlah ini saat akan menyantap hidangan laut: IKAN-IKAN DI LEVEL TINGGI BUTUH ENERGI JAUH LEBIH BESAR UNTUK HIDUP DIBANDING IKAN YANG BERADA DI LEVEL YANG LEBIH RENDAH. JADI.. MENYANTAP IKAN LEVEL TINGGI AKAN MEMBERIKAN PENGARUH YANG LEBIH BESAR TERHADAP KEBERLANJUTAN KEHIDUPAN LAUT. 

Yuk, jadi omnivora selektif! :D

Saturday, June 30, 2012

NGI Juli

Di NGI bulan Juli 2012, ada artikel yang berjudul Suara-Suara yang Sirna. Artikel ini ditulis oleh Russ Rymer dengan disertai foto oleh Lynn Johnson. Russ Rymer adalah penulis Genie: A Scientific Tragedy, kisah anak teraniaya yang kasusnya membantu para ilmuwan meneliti proses belajar bahasa, sedangkan Lynn Johnson adalah fotografer kontributor National Geographic.

Artikel ini dibuka dengan kalimat berikut:

Satu bahasa punah setiap 14 hari. Sebelum abad berganti, hampir setengah dari sekitar 7.000 bahasa yang dipakai di bumi mungkin akan punah, karena masyarakat mengganti bahasa ibunya dengan bahasa Inggris, Mandarin, atau Spanyol. Apa yang hilang ketika suatu bahasa lenyap?

Kalo mau baca lebih lengkap, liat aja di sini.

Untuk muatan lokalnya, ada artikel soal kelelawar. Kelelawar dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelelawar pemakan buah dan nektar dan kelelawar pemakan serangga. Perbedaan pakan ini juga membedakan morfologi mereka. Golongan pemakan buah dan nektar memiliki mata besar dengan fungsi normal, telinganya kecil - karena tidak digunakan untuk navigasi, giginya tidak tajam (karena hanya untuk mengunyah buah), ukuran tubuh rata-rata lebih besar (rentang sayap hingga 1.5 meter), dan mengandalkan penglihatan untuk bernavigasi.

Golongan pemakan serangga memiliki mata kecil yang tidak berfungsi maksimal, navigasinya menggunakan teknik ekolokasi, sehingga ukuran telinganya juga lebih besar, sebab berfungsi untuk menangkap suara ultrasonik yang dipantulkan, giginya tajam, dan ukuran tubuhnya lebih kecil (rentang sayap terkecil 10-15 cm).

Di satu cerita dalam artikel ini, penulisnya mengikuti perjalanan pemburu kelelawar yang menangkap kelelawar untuk dijual sebagai bahan masakan. Tega banget ya, makan kelelawar. Katanya sih, dagingnya dapat mengobati penyakit. Selain diburu, tantangan hidup para kelelawar ini juga berupa gangguan habitat akibat pertambangan fosfat. Gara-gara ini, populasi kelelawar terancam loh, padahal, sebenarnya keberadaan kelelawar membawa manfaat yang besar untuk manusia. Kelelawar berfungsi sebagai predator nyamuk-nyamuk malaria, juga membantu penyerbukan, dsb., yang ujung-ujungnya juga membantu kepentingan kehidupan manusia.

Jadi, buat pemakan daging kelelawar, carilah makanan lain, jadilah omnivora selektif, masih banyak kok makanan lain yang lebih layak-makan, demi kepentingan kita sendiri..

Friday, December 16, 2011

The Sequel


Membuat sequel ternyata emang susah ya,, pantesan aja film-film sequel rata-rata sulit menyaingi film pendahulunya, ada ekspektasi untuk melebihi pencapaian sebelumnya. Mungkin ini juga alasan Sadeq Hedayat sang penulis The Blind Owl itu bunuh diri - kalo bukan karena depresi duluan. Lupa siy cerita inti buku ini soal apa, tapi saya inget nuansanya memang gelap dan membuat depresi (makanya saya selesaikan cepet-cepet baca buku itu ;p).

Anyway, menyambung racauan sebelumnya..... 


Energi alternatif (maksud alternatif di sini yang asalnya bukan fosil) sebetulnya sudah dimanfaatkan juga kok, tapi mungkin di negara kita masih belum optimal. Misalnya, energi panas bumi. Posisi Indonesia yang ada di antara tiga lempeng (lempeng Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia) membuatnya berada tepat di sabuk gunung berapi, ga cuma satu, tapi dua sabuk.. Keren ya, Indonesia?! Keberadaan gunung api-gunung api ini berarti potensi panas bumi yang besar. Gimana ceritanya? Kalo ga salah inget, begini.. Masih ingatkah lapisan bumi kita? Inti bumi yang amat sangat bukan main superpanas itu menyebabkan lempeng-lempeng ini bergerak, rata-rata 5-12 cm per tahun, atau setebal rambut per hari. Ketika lempeng tersebut bertabrakan, lempeng yang lebih berat, yaitu lempeng Samudra, akan menghujam ke bawah lempeng Benua - yang lebih ringan. Lempeng Samudra ini di kedalaman tertentu akan mencair (meleleh karena tercelup ke mantel bumi) menjadi apa yang kita sebut magma. Magma tersebut bersama uap air dan gas-gas panas akan naik melalui rekahan vertikal pada kerak bumi, dan menjadi lava saat keluar ke permukaan. Makanya, dengan banyaknya gunung api yang kita miliki, cadangan energi panas bumi Indonesia juga melimpah dan baru dimanfaatkan sekitar 20% (klo ga salah) dari total potensi yang ada.



Lanjut soal urbanisasi, kalo buat saya siy ini semacam kesadaran baru. Apakah urbanisasi itu? Menurut KBBI, urbanisasi adalah perpindahan secara berduyun-duyun dari desa (kota kecil, daerah) ke kota besar (pusat pemerintahan), atau perubahan sifat suatu tempat dari suasana (cara hidup, dsb.) desa ke suasana kota. Dulu, zaman sekolah, saya diajari kalo urbanisasi itu nggak bagus, program pemerintah adalah pemerataan penduduk, makanya ada yang namanya program transmigrasi. Dulu kesan yang saya tangkap adalah pemerataan penduduk artinya pemerataan pembangunan. Tapi.. sekarang pikiran saya berubah. Jadi, apakah urbanisasi itu buruk? Logikanya, saat manusia terpusat pada suatu lokasi, maka segala aktivitasnya juga terlokalisasi, kegiatan manusia yang dilakukan terpusat akan meningkatkan efisiensi. Secara mikro, yah bayangin aja, akan lebih mudah kan kalo dari rumah kita tinggal jalan kaki atau naik sepeda ke tempat kerja, ke tempat hang-out, ke tempat makan, ke tempat rekreasi, dsb. Ini juga artinya lebih hemat energi karena kita ga perlu bepergian pake kendaraan yang pastinya berbahan bakar energi fosil itu, yang artinya akan mengurangi polusi udara juga... truuus, lahan yang digunakan juga menjadi lebih minim. Dengan pertumbuhan penduduk seperti sekarang ini, sementara lahannya segitu-segitu aja, sudah saatnya kalo pembangunan kota tidak lagi berbasis mobil, tapi lift!! Selain itu, yang lebih keren lagi, adalah urbanisasi berarti lokalisasi pencemaran juga, jadi area yang terpolusi akan lebih sedikit. Bagus kan?! Ngga percaya? Nah, contoh nyata yang pernah saya baca, program transmigrasi penduduk Jawa ke Sulawesi menyebabkan danau di Sulawesi yang sebelumnya terpelihara menjadi tercemar. Jadi, sebelum ada transmigran, danau itu dikeramatkan, jadi masyarakat dilarang melakukan aktivitas MCK di danau (di sini juga udah ada kebijaksanaan masyarakat dulu, suatu area dinyatakan keramat atau semacamnya, klo dikaji secara ilmiah kan maksudnya konservasi. Tuh kan, orang zaman dulu aja udah ngerti?!). Dan kemudian, datanglah transmigran-transmigran itu – yang kurang dibekali dengan wawasan lingkungan apalagi penghayatan tradisi lokal, mereka yang jelas-jelas punya latar belakang budaya dan tradisi berbeda dengan masyarakat lokal, tentu saja ngga menganggap pelarangan itu. Transmigran taunya mereka akan mendapat rumah dan dua hektar tanah untuk dikelola sesuka hati mereka masing-masing. Alhasil, mereka gunakanlah air danau itu untuk MCK dan aktivitas sehari-hari, maka sang danau pun tercemar dengan sukses.

Nah, bagaimana dengan kenyataan kalo kota besar juga bermasalah, mulai dari pemukiman kumuh, pengangguran, kriminalitas, dsb.? Well, masalah-masalah ini sebenarnya bukan akibat dari urbanisasi, tapi tata kelola kota itu sendiri yang ngga mampu menampung penduduk di dalamnya. Jadi, saat urbanisasi menciptakan masalah, itu artinya ada yang salah dengan penyelenggaraan kota tersebut.

Dengan tantangan-tantangan di atas, buat saya, rasanya sulit untuk mencerna kalo manusia itu makhluk yang paling mulia, paling cerdas, khalifah dan pewaris utama dunia ini.. I just feel hopeless and helpless.. Akankah kita mampu menjadikan dunia ini lebih baik?!

*maaf ya kalo udah ada yang cape-cape baca dan tidak mendapatkan pencerahan apapun dari racauan di atas - i've warned you, haven't i????!!!

Wednesday, December 14, 2011

Jangan dibaca!! GTT


Sudah lebih dari 4 tahun saya langganan NGI, awalnya siy tertarik dengan diskon langganan yang cukup besar ditambah hadiah gratisannya. Dulu diskonnya sama besar, mau langganan 1 tahun, 2 tahun, atau 3 tahun, semuanya diskon 40%. Kalo sekarang siy ngga, untuk yang 3 tahun, diskonnya 33.33%. FYI aja siy, soalnya bukan itu yang mau saya ceritain.

Di awal-awal kemunculannya, artikel-artikel yang dimuat masih kental dengan nuansa terjemahan, tapi makin ke sini udah ngga, terjemahannya makin bagus, trus ada artikel-artikel dalam negeri juga, jadi isu-isu yang diangkatnya lebih Indonesia. Soal isu yang diangkat, ada beberapa tema yang lebih berkesan dan nyangkut di otak untuk beberapa lama, misalnya nih..

soal polusi cahaya,

tau kan zaman sekarang gimana hebohnya penerangan di kota, apalagi di kota besar, dengan banyaknya papan reklame raksasa, gedung pencakar langit, mall, dsb., kadang-kadang malam hari jadi ngga berasa malam, saking terang benderang!! Nah, gara-gara ini, rute migrasi ribuan burung jadi terganggu, banyak juga yang mati.. untuk mengatasi ini, mestinya kita manusia lebih bertanggung jawab dengan teknologi yang kita gunakan, idenya siy, pencahayaan yang digunakan boleh terang, tapi tidak mencemari langit.

soal kecerdasan primata,

jadi, ceritanya kan monyet itu dekat kekerabatannya dengan manusia, tapi para ahli zaman dulu berteori kalo manusia lebih unggul dari monyet karena satu ciri yang dimiliki manusia dan tidak dimiliki monyet, yaitu manusia bisa menggunakan perkakas atau alat bantu untuk mendapat makanan. Teori ini bertahan dan diyakini begitu lama sampe akhirnya ada peneliti simpanse yang membuktikan bahwa monyet juga bisa menggunakan alat bantu. Keren kan?!

soal krisis pangan, krisis air, energi alternatif, dan yang paling baru, soal urbanisasi.

Tema di atas sebenernya dibahas sendiri-sendiri, meskipun masih saling berhubungan. Semenjak angka harapan hidup manusia meningkat secara signifikan berkat berbagai kemajuan yang terjadi, diantaranya perbaikan sanitasi, penemuan obat-obatan untuk infeksi, dll., akibatnya, populasi dunia juga makin bertambah. Pertambahan populasi ini berarti peningkatan kebutuhan pangan, air, dan energi.

Soal pangan, pertambahan manusia berarti pertambahan kebutuhan pangan, artinya dunia mesti menyediakan pangan dalam jumlah yang lebih banyak, harus ada peningkatan produksi. Sementara, di sisi lain, pertambahan manusia juga berarti pertambahan pemanfaatan lahan untuk aktivitas manusia, akibatnya lahan untuk produksi pangan jadi berkurang. Paradoks ngga siih?! Jadi, mesti ada peningkatan produktivitas juga, harus dicari gimana caranya supaya luas lahan pertanian yang lebih kecil bisa menghasilkan pangan yang lebih banyak. Nah, di sini juga ada komplikasi lain, sistem pertanian yang sekarang-sekarang berlaku (klo di Indonesia siy mungkin semenjak masa Orde Baru) juga ternyata punya masalah sendiri. Kombinasi penggunaan pupuk sintetis dan kecenderungan untuk bertani sistem monokultur, trus bibit padi hasil rekayasa genetik, awalnya memang menunjukkan peningkatan produksi, tapi produktivitas ini juga ada masanya. Setelah periode waktu tertentu, tanah yang diberi pupuk sintetis akan ‘letih’ dan butuh waktu yang tidak sebentar untuk memulihkan diri. Udah gitu, penggunaan varietas unggul ini juga tidak selalu berarti sesuatu yang baik. Karena petani umumnya menggunakan varietas rekayasa ini, maka varietas asli terancam punah, bukan hanya padi, ada juga kentang, tomat, dll., alhasil, keanekaragaman hayati yang kita miliki jadi berkurang.

Jadi inget, waktu belajar konsep teknologi ada istilah dialektika teknologi, yaitu suatu teknologi akan memiliki kekurangan yang memerlukan teknologi lain untuk menyelesaikannya, dan akan selalu begitu terus-menerus, lupa kata-kata persisnya, tapi kira-kira begitu kurang-lebih.

Makanya kan sekarang mulai gencar lagi (ya ngga ya?!) promosi pertanian sesuai dengan komoditas yang sudah ada di daerah tersebut. Misalnya, kalo ternyata di suatu daerah lebih mudah menanam jagung, ya berarti makanan pokok penduduk di situ ya jagung, ngga perlu dipaksakan harus nasi. Ini juga berkaitan dengan ketahanan pangan, liat kan sekarang, gara-gara penyeragaman (mungkin salah satu faktor penyebab aja sih), Indonesia hampir selalu ketar-ketir buat memenuhi kebutuhan beras nasional, alhasil, di saat produksi dalam negeri tidak cukup, ya sibuk impor deh. Kalo misalnya makanan pokok kita lebih beragam, artinya kita lebih punya banyak pilihan, jadi ngga rentan kalo misalnya ada gagal panen atau apa.

Sama dengan pangan, air juga masalahnya kurang lebih sama, tapi klo kata saya, tampak lebih parah. Air di sini, maksudnya air konsumsi, artinya air tawar. Air yang dipakai untuk kegiatan manusia sehari-hari, buat makan-minum, MCK, dan pertanian. Kalo ga salah inget, air tawar cuma 1% dari total air di bumi, sebagian ada di kutub (yang makin hari makin berkurang). Jadi, kebayang kan betapa sedikitnya air di bumi ini untuk dimanfaatkan oleh tujuh miliar penduduk dunia? Udah gitu, masih harus dikurangi juga dengan air yang tercemar. Air tanah yang dimanfaatkan juga tampak berkurang cadangannya. Air tanah berasal dari air permukaan yang meresap ke dalam tanah. Jadinya di lapisan tanah itu ada semacam reservoir air. Air inilah yang kita manfaatkan. Nah, masalahnya adalah ketika kita memanfaatkan air itu terus-menerus tanpa memikirkan keberlangsungannya. Inilah yang mengerikan menurut saya. Reservoir itu secara alami memang terisi kembali oleh air hujan yang meresap ke dalam tanah, tapi seberapa cepat? Kenyataannya, yang terjadi adalah kecepatan penggunaan lebih besar dari kecepatan reservoir untuk terisi kembali, hal ini juga diperparah oleh kenyataan kalo manusia sendiri, pihak yang paling berkepentingan, justru tidak membantu sama sekali, di lahan yang mestinya jadi area resapan air dibangun struktur-struktur beton yang tentu saja menghalangi air meresap, atau bukit dan gunung yang hutannya mestinya membantu konservasi air, justru digunakan untuk lahan pertanian. Makanya, diprediksi, kalo pada suatu waktu di masa depan (sekarang juga indikasi ke sana sudah ada kayanya), bukan tidak mungkin, perang yang terjadi akan dipicu oleh perebutan sumber air.

Sekarang soal energi, tau kan (tau lah pasti), kalo energi fosil yang sekarang kita gunakan termasuk energi tak terbarukan, yah terbarukan siy sebenernya, tapi butuh berjuta-juta tahun, dan kalo dipikir, dengan eksploitasi alam seperti sekarang, belum tentu juga nanti, berjuta tahun dari sekarang, akan ada fosil yang bisa ditemukan, secara tumbuhan yang ada sekarang juga sepertinya masih mengkhawatirkan keberadaannya. Nah, dengan berkurangnya cadangan sumber energi fosil, sekarang sudah mulai trend pemanfaatan energi alternatif, yang paling umum siy kayanya etanol dari tumbuhan, istilahnya bioetanol. Ada yang asalnya dari jagung, kentang, ganggang, dll. Awalnya, saya pikir ini ide yang keren banget, tapi ternyata ga sesederhana itu. Kalo ga salah, efisiensi produksi etanol itu ngga terlalu baik, jadi mesti ada banyak percobaan untuk optimasi, ditambah lagi, kalo ternyata hasil pertanian digunakan sebagai sumber bioetanol, artinya lahan untuk produksi bahan pangan berkurang, sementara produksi pangan juga kan ngga berlebih!!

*bersambung.. mudah-mudahan ;p*