Showing posts with label Geotrek. Show all posts
Showing posts with label Geotrek. Show all posts

Friday, February 19, 2016

Caper Ciletuh: I was there and back again..


Jam segini seminggu yang lalu, saya sudah dalam posisi terlelap. Agak cemas akan bangun kesiangan, tapi seperti yang sudah-sudah, alarm internal selalu berfungsi baik. Sudah siap sejak sebelum subuh, tapi baru berangkat pas adzan subuh pake Taksi P***a, setelah batal pake g***k karena drivernya yang PHP.

Perjalanan ke Ciletuh kali ini diselenggarakan oleh Matabumi, seperti geotrek-geotrek sebelumnya, kami memulai perjalanan dari Museum Geologi. Setengah enam pagi, lima elf meluncur menuju Sukabumi. Beberapa kali berhenti, untuk memberi kesempatan ke toilet, menjemput peserta yang bergabung di tengah perjalanan, atau sekedar buat jajan. Sekitar jam dua siang, kami tiba di Curug Awang, langsung makan siang.. Menunya: nasi putih atau nasi merah, ikan goreng atau ayam goreng, tahu goreng, tempe goreng, teri-kacang, sayur lodeh, lalapan, dan sambal terasi dan sambal honje. Rasanya lezat keterlaluan, terlebih mungkin karena lapar, sampai-sampai saya lupa memotret menunya :)

Curug Awang adalah satu diantara delapan Curug besar yang ada di kawasan Geopark Ciletuh. Kawasan ini baru beberapa bulan lalu dikukuhkan sebagai Geopark. Sekilas info, cmiiw, untuk diakui sebagai geopark, suatu kawasan harus memiliki geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity.
Nah, Ciletuh ini tentu saja memiliki ketiganya, makanya jadi Geopark, kan. Keragamannya seperti apa sih? Berhubung judulnya geotrek, jadi mungkin pemaparan yang disampaikan di sini akan lebih banyak bercerita dari aspek geologinya, berdasarkan ingatan saya :p (yang sejujurnya tidak terlalu bisa dipercaya sih). 
Di Ciletuh, kita bisa menemukan batuan tertua di Pulau Jawa. Ciletuh menjadi laboratorium Geologi di mana kita bisa melihat fenomena subduksi lempeng benua. 
Pasti masih ingat kan kalo permukaan bumi ini sesungguhnya terdiri atas lempeng-lempeng yang 'terapung' di atas mantel bumi yang cair dan panas? Karena terapung, suatu ketika lempeng-lempeng tersebut bisa bergerak menjauh atau mendekat. Ketika mendekat, bertumbukan, lempeng yang lebih berat akan menghujam ke bawah lempeng yang lebih ringan (bahasa kerennya subduksi). Tumbukan ini menyebabkan berbagai macam batuan dari lempeng satu dan lempeng lainnya bercampur, berantakan, ukurannya bermacam-macam, sehingga disebutlah sebagai batuan bancuh (nama kerennya: melange). Fenomena subduksi ini sesungguhnya sedang terjadi, sekitar puluhan kilometer ke arah laut sana, terdapat palung tempat subduksi lempeng samudra ke bawah lempeng benua. 
Ciletuh, dahulu kala, sekitar 60 juta tahun yang lalu, adalah palung subduksi itu, kemudian terangkat ke permukaan dan berada di lokasinya saat ini, sehingga memungkinkan kita untuk mengamati fenomena subduksi. Hal ini yang menjadikan Ciletuh istimewa. Konon, di pulau Jawa ada tiga lokasi fosil subduksi, dua lokasi lainnya adalah Karangsambung, Kebumen dan Pegunungan Jiwo Bayat Yogyakarta.

Tahun 2014, kunjungan pertama saya ke Ciletuh, diselenggarakan oleh Geotrek Indonesia, jalur yang ditempuh adalah jalur darat hingga Pelabuhan Ratu, kemudian menuju Ciletuh melalui laut. Di pantainya, kita seakan mengikuti kronologis fenomena subduksi. Berjalan menyusuri pantai, berawal dari batuan dengan sedimentasi yang normal, terlihat dari lapisannya yang jelas, kemudian ada perubahan kemiringan sedimen, hingga di suatu titik, tampak batuan-batuan berbagai jenis dan ukuran bercampur tidak karuan.

Perjalanan yang sekarang, ditempuh seluruhnya lewat darat, jalur dan pemandangannya ekstrim, berkelok-kelok dan menakjubkan. Jalur darat melengkapi pengalaman jalur laut sebelumnya. Kali ini, tidak melihat fosil palung subduksi, tapi bisa menyaksikan megaamfiteater Ciletuh.
Nah, megaamfiteater ini akan diceritakan kemudian.. Bye!


Thursday, December 31, 2015

2015: where have I been


Sebelum tahun berganti, review dulu perjalanan-perjalanan di 2015 ini.
Tak terasa ya, seperti baru kemarin saya ikut perjalanan ke Bali lewat jalur darat itu.. Awal 2015 ini, pas tahun baru saya lagi tidur dan kepanasan di penginapan, mendengar hujan besar yang seperti ditumpahkan dari langit. Tampaknya, selain diawali hujan, tahun ini juga akan diakhiri hujan. 
Bulan Februari diisi dengan perjalanan ke Tanjung Layar, Sawarna, Banten bareng sama Matabumi. Makan ikan bakar yang enak sekali, selain menikmati pemandangan Karang Hawu dari Bukit Habibie (cmiiw, nama pantainya mungkin salah ;p)
Maret, ngetrip sama teman-teman dari kantor lama ke Solo dan sekitarnya, ke Grojogan Sewu (lagi), tapi kali ini makan sate ayam dan kelinci, mampir juga ke Kraton Solo.
April kayanya ga ada perjalanan ke luar kota, cuma kongkow manis kayanya.
Awal bulan Mei, mampir ke Gunung Prau, Dieng. Ramee... Semenjak kejayaan media sosial, tampaknya kesunyian gunung menjadi suatu kelangkaan. Oh, akibat perjalanan ini, salah satu Tupperware saya kelunturan pewarna dari sosis (penting yah). Pertengahan menjelang akhir bulan, ada trip berbudget serius ke Hong Kong dan Macau, ala-ala jalan-jalan cantik, melihat kota dari puncak bukit Victoria, trus ketemu tokoh-tokoh dunia di Madame Tussaud's Museum, selain mengunjungi museum 3D yang kalah keren banget sama museum 3D di Jogja (zonk ini mah), dan tentunya nyobain wahana-wahana di Disneyland. Oh, sama naik cable car yang lumayan wow ke Lantau Island (cmiiw lagi), yang sebetulnya akan sangat seru buat dijelajahi kalo punya banyak waktu.. Ada patung Giant Buddha, tapi cuma liat dari kejauhan -_-.
Bulan Juni jalannya cukup ke Batu, Malang, pertama kali paragliding di Gunung Banyak. Asik, bikin ketagihan :D Setelahnya, ke Anakkrakatau, Lampung. Pertama kali nyebrang ke Sumatra pake kapal feri. Trus nyebrang lagi dari Kalianda, Lampung, ke pulau-pulau sekitar Anakkrakatau, dan ke Anakkrakatau-nya. Menguji stamina!
Juli lebaran ya.. Sempet ikut trip ke Pantai Jayanti di Cidaun, Cianjur Selatan, lanjut ke Rancabuaya, Garut Selatan. Perjalanan via Rancabali, Patenggang, dst. Pemandangannya wow deh, menyenangkan, kecuali bagian ramenya.
Agustus ada kemping cantik di Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi dalam rangka 5 tahun Matabumi. Di akhir bulan, balik lagi ke Bali buat rafting di sungai Ayung dan ikut day cruise ke Lembongan.
Nah, di bulan September, ada trip of the year, berbudget besar, termasuk konsekuensi menunggak jatah cuti, ke Alor, Nusa Tenggara Timur, buat hiking ke Gunung Sirung di Pulau Pantar. Gunung ini 'hanya' +800-an mdpl, dideskripsikan sebagai Gunung dengan jalur yang ringan, pas buat pemula. Mungkin ngga salah sih, kontur tanahnya mirip dengan kawah Tangkuban Parahu atau Papandayan, tapi vegetasinya ngga begitu rimbun, dan cuacanya tentu saja beda sekali. Panaaas!! Perjalanan Alor ini juga kali pertama saya bepergian sendirian pake pesawat, pesawatnya juga istimewa, dari Kupang ke Alor menggunakan pesawat baling-baling yang guncangannya tak terlupakan.
Oktober, selain nimbrung jalan-jalan ala lansia ke Lembang, ada trip wisata dari kantor ke Pangandaran. Kayanya ini pertama kali saya ke Pangandaran sejak dari SMP.
November kok ngga ada acara ya? Bulan ini masa-masa kritis tagihan kerjaan, karena biasanya di bulan ini tenggat kontrak dengan pemerintah. Bulan ini rasanya agak sering uring-uringan semprot sana-sini ke orang-orang yang kurang beruntung (astaghfirullah aja pokoknya ;p)
Desember, ada hiking ke Gunung Lembu di Purwakarta, dan diakhiri dengan perjalanan ke Jogja, wisata lengkap ke Gunung, sungai, Pantai, museum, Taman Sari, bahkan paragliding lagi di Paris (Parangtritis), sensasinya beda dengan yang di Batu, di sini pemandangannya Pantai, laut dan tebing, durasinya lebih lama, tapi sayang ngga ada sertifikat yang bisa dipake buat pamer :D
Overall, this year was awesome!! Alhamdulillah..

Friday, November 16, 2012

Geotrek Toba: At the Glance (2) ;p

Mau cerita.. tapi masih males nulisnya... 

Boneka Sigale-Gale di depan rumah adat di Tomok - Boneka ini katanya dibuat untuk raja yang kehilangan anak semata wayangnya dalam peperangan. Konon, setelah boneka ini selesai dibuat, arwah sang anak sengaja dipanggil dan menempati boneka ini, kemudian boneka ini menari selama 7 hari 7 malam. 

Menari bersama Sigale-Gale yang digerakkan oleh dalang di belakang

Kubur Batu Raja Sidabutar yang ketiga (?) - ukiran pada tutupnya melukiskan penampakan fisik sang Raja, di bawahnya, sang Panglima perang yang konon berasal dari Aceh - dilukiskan menutupi kemaluannya terkait dengan jasanya membantu memenangkan perang menggunakan strategi unik

Katanya cicak dan empat payudara adalah simbol (?) orang Batak; cicak berarti orang Batak yang dapat hidup di mana saja - seperti cicak, sedangkan payudara melambangkan kemakmuran (?), soal jumlahnya yang empat, rasanya ngga diceritain ;p

Geotrek Toba: At the Glance ;p


Istana Maimun

Menara Masjid Raya Al-Mashun

Mesjid Raya Al-Mashun

Salah satu menu es krim di Resto Tip-Top

Kuliah Pagi dilatarbelakangi Gunung Sinabung

Gunung Sibayak

Air Terjun Sipiso-piso

Danau Toba dilihat dari Tongging

Danau Toba dari Menara Pandang Tele

Pusuk Buhit dari Menara Pandang Tele

Menyeberang Danau - dari Samosir menuju Tomok

Sunday, July 1, 2012

Caper Lawu-Sangiran (bagian 4, tamat)

Manusia modern adalah spesies yang langka kalau bukan satu-satunya. Hanya manusia yang dapat berbahasa, menciptakan teknologi, berkarya seni, memiliki ilmu pengetahuan, dan belajar dari masa lampau. Dengan kata lain, spesies satu-satunya yang menghasilkan budaya. Sejarah evolusi manusia mengajarkan pada kita, bahwa semua keunggulan itu adalah hasil suatu proses panjang yang terjalin oleh keberuntungan, kecerdasan, dan keberhasilan manusia menjalin hubungan sosial. Karena itu, hakekat manusia tidak terletak pada keberhasilannya memenuhi kebutuhan ragawi, tetapi justru pada kemampuan manusia untuk terus memelihara kepedulian sosial, saling menghormati, tenggang rasa, dan memiliki cinta kasih. Itulah yang membedakan manusia dari makhluk lain. - Salah Satu Plakat di Museum Sangiran

Liat dulu bagian satu, dua, dan tiga biar nyambung :)

Hari kedua, 3 Juni 2012. Kami meninggalkan penginapan sekitar jam setengah sembilan pagi menuju kawasan Situs Sangiran, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah (sekitar 17 km utara kota Solo). Sekitar dua jam kemudian, mobil kami berhenti di lokasi bangunan permanen yang digunakan sebagai gardu pandang. Di sini kami bertemu dengan rombongan mahasiswa geologi UGM. Naik ke tingkat atas, kita bisa mengamati kawasan Sangiran sejauh mata memandang. Tampak di kejauhan bangunan Museum Sangiran yang menjadi tujuan kami setelah penjelasan di sini, masih seputar kondisi geologi situs ini, penjelasan bentukan Sangiran Dome yang terlipat karena terdesak oleh batuan yang berasal dari Gunung Lawu.






Jam sebelas, kami sampai di Museum, disambut dulu oleh salah satu petugas di ruang khusus, trus dibagi buku Pengetahuan Prasejarah Sangiran: Situs Prasejarah Dunia yang ditulis oleh Harry Widianto dan Iwan Setiawan Bimas, diterbitkan oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran pada 2011. Buku ini kami dapatkan cuma-cuma, berkat kebaikan penulisnya, Dr. Harry Widianto (salah satu ahli di museum ini dengan bidang manusia purba), beliau juga yang memungkinkan kami untuk melihat secara langsung ke laboratorim dan tempat penyimpanan fosil-fosil (selain yang dipamerkan), dan bahkan mengunjungi situs ekskavasi yang terbaru.

Museum Sangiran memiliki sekitar 32.000 fosil (dan masih bertambah), tapi tentu saja tidak semua fosil dipamerkan. Museum ini baru diresmikan pertengahan Desember 2011 oleh Mendikbud, terdiri atas tiga ruang pamer. Ruang Pamer 1 - Kekayaan Sangiran; menceritakan evolusi dan fosil binatang dan tengkorak manusia purba yang ditempatkan dalam diorama. Ruang Pamer 2 - Langkah-Langkah Kemanusiaan; diawali dengan ruang audio visual, evolusi menuju manusia, sejarah dan tokoh teori evolusi, proses migrasi manusia, dsb. Ruang pamer 3 diberi judul Masa Keemasan Homo erectus 500.000 tahun yang lalu, di sini ada diorama raksasa dan manekin rekonstruksi Homo erectus S17 dan Homo floresiensis karya Elisabeth Daynes.


















Saat kami ke sini, pengunjungnya lumayan rame, mungkin karena hari libur, jadinya ngga begitu nyaman untuk berlama-lama mengamati setiap display - gerah, terlalu banyak hawa manusia, selain terlalu berisik juga. Padahal banyak banget informasi yang menarik. Jadi, sepertinya, kalo mau santai dan bener-bener mendapatkan informasi yang memuaskan, butuh waktu seharian untuk berkeliling dan melihat serta membaca setiap informasi yang ditampilkan. Museum ini buka setiap Senin - Minggu dan hari libur nasional dari jam delapan pagi sampai jam empat sore. Tiket masuknya asli murah (bahkan menurut saya terlalu murah), tiga ribu rupiah untuk wisatawan domestik, dan 7.500 ribu rupiah untuk wisatawan asing. Murah kan? Kalo begini, saya suka curiga dengan keberlangsungan museum, apakah tarif ini cukup untuk memelihara museum ini agar tetap layak-kunjung? Kalo ngga salah, ternyata, status Situs Warisan Budaya Dunia tidak berarti situs ini sudah terjamin pendanaannya. UNESCO hanya memberikan sekitar 30% pendanaan, dan sisanya ya pemerintah Indonesia sendiri yang mesti mengusahakan.

Ke depan, Situs ini akan diperluas menjadi beberapa kluster. Salah satunya, katanya, akan memungkinkan pengunjung untuk melihat secara langsung lapisan batuan di dalam tanah. Jadi, nantinya, pengunjung akan menumpang elevator transparan dan masuk ke dalam tanah sedalam kurang lebih 30 meter, kemudian naik secara perlahan sambil melihat lapisan-lapisan batuan/tanah yang menunjukkan masa geologi tertentu. Keren ya? Sekarang belum jadi, masih dalam proses tender pengadaan elevator tersebut.

Dari museum, kami beranjak menuju lapangan, cuacanya asli panas. Pertama, kami menengok bekas aliran mudvolcano, di beberapa tempat, masih ada kubangan air laut purba yang dulunya adalah tempat semburan. Di tempat lain, kami dibawa melihat petak-petak ekskavasi, katanya di sini baru saja ditemukan fosil gigi dan dua jenis fosil lainnya. Lapisan tanah di sini keren sekali, banyak sekali informasi yang bisa disampaikan. Di antaranya, arah aliran sungai yang berubah, terlihat dari kemiringan sedimentasinya berubah, jalur-jalur cacing purba, dll.









Sekitar jam tiga sore, kami mulai beranjak menuju Solo. Jam tiga lewat, nyampe di Laweyan, cuci mata di toko batik, tapi ngga beli batik, soalnya masih inget di rumah juga masih ada yang belum dijahit. Lanjut ke toko makanan, trus makan malam di Gudeg Ayu lagi. Jam tujuh malem sudah nunggu kereta di stasiun. Satu jam kemudian, kami meluncur menuju Bandung dan tiba dengan selamat di Stasiun Bandung sekitar jam setengah enam pagi. Sejauh ini, Geotrek kali ini adalah geotrek dengan komposisi rute, materi, peserta, dan waktu yang paling pas. Puasss deh pokoknya!!

Sampe ketemu di Caper berikutnya! Semoga ngga bosen ya!! ^_^

Monday, June 25, 2012

Caper Lawu-Sangiran (bagian 3 - penultimate)

Lanjut lagi!! Sampe di mana ya? Liat dulu awalnya di sini dan tengahnya di sono :)

Habis Maghrib, makan nasi soto dan minum kopi sambil menyimak obrolan teman-teman yang lain di teras depan rumah, seru deh, hawa di Tawangmangu tuh mirip seperti di Lembang, jadinya enak, adem. Salah satu Bapak peserta bercerita soal absennya beliau di trip Bromo, waktu itu beliau sedang ada acara lain - menikahkan anaknya. Bapak ini adalah seorang pengusaha dengan berbagai macam usaha, ngga sekadar usaha, tapi beliau ini juga membantu orang lain dengan melakukan pembinaan kepada masyarakat. Soal ini, beliau mengatakan bahwa buat beliau rasanya sudah bukan saatnya lagi untuk mencari kenyamanan diri sendiri tanpa mengajak orang-orang di sekitarnya untuk sama-sama maju. Salah satu usaha beliau adalah mengembangkan usaha keripik pisang resep ibunya. Jadi, beberapa orang binaan diberikan pelatihan dan bantuan lainnya hingga mereka mampu memproduksi keripik pisang yang sesuai dengan standar rasa dan pemerian yang telah ditetapkan. Buat yang memenuhi syarat, mereka ngga usah repot mikir mau dijual kemana, nantinya keripik pisang ini akan dibantu dipasarkan oleh beliau. Keren ya?!

Trus cerita lagi soal nikahan anaknya, waktu itu katanya dia mengundang Didi Nini Thowok untuk menari, trus cerita soal gimana susahnya untuk menghubungi sang maestro ini, perjuangan beliau untuk membujuk, dst., sampe akhirnya Mas Didi ini bersedia untuk menari. Hal lain yang unik adalah inovasi beliau dalam memberikan suvenir kepada para undangan berupa foto diri masing-masing undangan. Bukan polaroid, tapi mirip teknologi photo-box dengan resolusi yang jauh lebih tinggi. Pasti undangannya terkesan sekali ya?!

Lepas ngobrol dan sholat Isya, sekitar jam delapan malam kami mulai ngumpul di ruang depan untuk mendengarkan kuliah malam. Materinya mengulas situs-situs yang kami kunjungi seharian tadi dan tujuan besok, Sangiran. Di sini, ada peserta dari suatu kelompok minat khusus yang mengkaji soal sejarah Indonesia, dari pertanyaan-pertanyaan mereka, sepertinya mereka ini termasuk kelompok yang meyakini bahwa kebudayaan di Indonesia jauh lebih tua dari kebudayaan lain di dunia. Misalnya, saat dijelaskan pola migrasi manusia (Ini gambaran kasar aja ya. Berdasarkan penelitian mutasi pada gen, diketahui bahwa manusia dengan materi genetik yang paling bervariasi dan mutasi-mutasi awal ada di Afrika, sementara di benua lain, ternyata variasinya ngga begitu banyak. Hal ini berarti manusia menyebar ke benua lain dari Afrika), pertanyaan mereka adalah, 'Jika dilihat dari kemiripan budaya dunia dengan yang ada di dunia, apakah mungkin jika sebenarnya orang Indonesia zaman dulu yang justru menyebar ke luar?' Kalo kata narasumber sih, bukti ilmiah dari materi genetik ini sepertinya lebih dapat dipercaya daripada asumsi-asumsi (yang sepertinya ngga meyakinkan ya?!). Kalo saya sih jadi penasaran, kenapa sih orang-orang kelompok ini (termasuk yang percaya Indonesia adalah Atlantis) sangat ingin sekali percaya jika orang-orang zaman dulu yang tinggal di kepulauan ini adalah masyarakat yang berbudaya tinggi dan menguasai teknologi? Terus kenapa memangnya? Kalau pun ternyata benar, bukannya justru malah ironis kalo dibandingkan dengan kondisi aktual?

Kuliah berlanjut ke materi hominid, Homo erectus, teori evolusi, dsb. dikaitkan juga dengan geologi. Selanjutnya, kita mengutip bebas saja ya :)

Tahun 1871, Charles Darwin dalam bukunya, The Descent of Man, menguraikan alasan untuk memercayai bahwa manusia dan kera memiliki leluhur jauh yang sama dan bahwa tak peduli bagaimana pun anehnya, telah berevolusi melalui serangkaian langkah yang bertahap. Darwin meyakini bahwa manusia adalah produk evolusi. Atribut-atribut manusia yang terhebat sekalipun, kecerdasan dan ungkapan emosional kita, bisa saja dihasilkan oleh seleksi alamiah sehingga memungkinkan kita berevolusi dari leluhur-leluhur hewan. Kecerdasan manusia dipercaya Darwin muncul sehubungan dengan perubahan gaya hidup. Leluhur nenek moyang manusia dan kera awalnya penghuni pepohonan, kemudian secara bertahap mulai hidup di darat. Di darat, mereka berjalan dengan dua kaki, sehingga membebaskan kedua tangan mereka untuk memanipulasi benda-benda, dan pada akhirnya, untuk menciptakan perkakas. Hal ini menyediakan batu loncatan bagi perkembangan kecerdasan karena seleksi alamiah selanjutnya akan memelihara ukuran otak yang terus mengalami peningkatan, yang diperlukan untuk ketangkasan tangan.

Terobsesi dengan tulisan Darwin bahwa manusia purba 'missing link' antara kera dan manusia modern harus dicari di benua-benua selatan, maka Eugene Dubois - seorang dokter Belanda ahli anatomi - datang ke Indonesia untuk menemukan rantai evolusi yang hilang itu. Awalnya beliau ini menjelajah ke Sumatera (atau Sumatra? saat cari tau mana yang benar, ternyata.. kata KBBI, yang sesuai EYD adalah Sumatra, tapi di dokumen-dokumen resmi pemerintahan, justru digunakan Sumatera ;p), trus ke Jawa hingga pada 1891-1892 Dubois menemukan fosil yang dia yakini sebagai missing link di Trinil. Di sini, dia menemukan fosil batok kepala, gigi, dan tulang paha kiri - ketiganya membawa dia pada kesimpulan bahwa ketiga ex fragmen tersebut adalah milik suatu makhluk bukan kera bukan manusia (kaya tebak-tebakan ya? bukan kera bukan manusia, berarti... hominid!! :p) Kenapa bukan kera? Karena volume otaknya lebih besar dari kera. Bukan manusia karena volumenya masih lebih kecil dari volume otak manusia. Catatan: volume otak kera paling maju (simpanse) adalah 600 cc, volume otak manusia adalah 1200 cc, dan otak sang fosil volumenya diantara, yaitu 900 cc. Selain itu, tulang pahanya menunjukkan bahwa saat masih hidup, sang pemilik fosil berjalan dengan tegak. Atas dasar inilah Dubois memberi nama Phitecanthropus erectus - manusia seperti kera yang berjalan tegak (kenapa bukan kera seperti manusia ya?). Pada tahun 1980-an, genus Phitecanthropus diubah menjadi Homo, satu genus dengan manusia modern.

Bersambung ke Sangiran. Lokasi ini pertama kali diketahui pernah menjadi tempat terbaik yang dipilih para Homo erectus untuk berkembang oleh paleontolog Jerman yang bekerja untuk Belanda di Indonesia - Dr. Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald yang melakukan penelitian lapangan di Sangiran pada 1936 - 1938 (kayanya sih, sebenernya kebanyakan ahli zaman dulu 'cuma' duduk manis aja di bawah tenda, sementara yang bener-bener mencari dan menggali ya orang-orang pribumi - pekerja kasar yang dibayar murah - bahkan mungkin ngga dibayar sama sekali, dan dieksploitasi tenaga fisiknya). Tahun 1934, von Koenigswald menemukan alat-alat serpih di Desa Ngebung, dua tahun kemudian ditemukan fosil Homo erectus.

Sangiran adalah area berbukit-bukit dengan ketinggian maksimum 56 m. Kawasan ini merupakan hasil perlipatan geologi berbentuk kubah - makanya namanya Sangiran Dome. Puncak Kubah Sangiran dierosi oleh anak-anak sungai Bengawan Solo - Sungai Cemoro, Brangkal, dan Pohjajar, serta beberapa sungai kecil lainnya (yang ngga ditulis namanya di materi ;p) Akibat erosi ini, beberapa lapisan batuan Kubah Sangiran tersingkap dan diketahui mengandung fosil-fosil hominid. Fosil Homo erectus ditemukan di antara lapisan batuan lempung dan pasir vulkanik bernama Pucangan bagian atas (1,8 juta - 900 ribu tahun silam) dan lapisan Kabuh bagian bawah (700 ribu - 250 ribu tahun silam).

Sadarkah dengan skala waktu geologi? Jadi kepikiran ngga sih, betapa ngga ada artinya hidup kita yang sebentar ini? Aku... (nano)debu!!

Mengapakah Sangiran ini istimewa sekali? Sampe-sampe pada 6 Desember 1996 ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia dengan nama The Sangiran Early Man Site? Jadi.. manusia purba jenis Homo erectus yang ditemukan di Sangiran terdiri atas sekitar lebih dari 100 individu yang mengalami masa evolusi tidak kurang dari satu juta tahun. Jumlah ini mewakili 75% fosil manusia purba yang ditemukan di Indonesia atau 50% fosil sejenis yang ditemukan di dunia. Selain itu, temuan perkakas batu yang pernah digunakan oleh manusia purba ini juga sangat banyak, sehingga kehidupan dan budaya yang berkembang saat itu dapat kita ketahui dengan jelas. Tidak hanya itu, tapi kita bisa mendapatkan juga informasi lengkap mengenai habitat, pola kehidupan, binatang-binatang yang hidup saat itu, hingga proses terjadinya bentang alam dalam kurun waktu tidak kurang dari dua juta tahun yang lalu.

Lebih jauh lagi, penghunian Kawasan Sangiran dimulai dengan Homo erectus paleojavanicus (Meganthropus paleojavanicus) pada sekitar 1.6 juta tahun yang lalu, fosil subspesies ini menunjukkan bentuk tengkorak yang lebih tua (arkaik). Kemudian, pada 1 - 0.5 juta tahun yang lalu terdapat subspesies Homo erectus erectus (memang ditulis dua kali, bukan salah tulis ;p) dengan bentuk tengkorak yang khas (tipikal). Setelah 0.5 juta tahun yang lalu, Sangiran tidak lagi menjadi wilayah hunian hominid, mereka bermigrasi ke wilayah aliran hilir Bengawan Solo dan berevolusi menjadi subspesies bertengkorak progresif, Homo erectus soloensis/ngandongensis yang fosilnya ditemukan di Kedung Brubus, Ngandong, dan Sambung Macan. Kenapa? Menurut narasumber kami, Sangiran dihindari akibat terjadinya serangkaian erupsi gununglumpur (mudvolcano) di area Sangiran mulai 0.5 juta tahun lalu hingga 0.12 juta tahun silam, sehingga subspesies progresif berkembang di aliran hilir Bengawan Solo untuk menghindari bencana ini. Hipotesis ini juga diperkuat dengan bukti-bukti di lapangan yang kami temui, yaitu keberadaan kolam-kolam air asin yang berada di area Sangiran. Air asin ini merupakan air laut purba yang terperangkap dan keluar saat erupsi gununglumpur, kasus yang serupa dengan yang kami jumpai di Lumpur Sidoarjo.

Dilihat dari lokasinya, sama seperti Sidoarjo, Sangiran ini termasuk zona Depresi Kendeng. Apa itu? Depresi Kendeng merupakan sistem elisional yang ideal yang dicirikan oleh: sedimen lempungan dengan sisipan pasiran sangat tebal yang diendapkan dalam waktu singkat, sehingga tidak terkompaksi sempurna, labil, overpressured, transformasi mineral lempung smektit ke ilit yang intensif; mempunyai gradien geotermal yang tinggi akibat berbatasan dengan jalur gunungapi di sebelah selatan; dan terkompresi kuat sehingga membentuk jalur antiklinorium. Sejumlah gununglumpur yang ditemukan di sepanjang depresi Kendeng dari Purwodadi sampai Selat Madura, di bekas wilayah Majapahit dan Jenggala (misalnya: bledug Kuwu, bledug Kesongo, Gunung Anyar, Kalang Anyar, Pulungan, LUSI) membuktikan efektivitas sistem elisional depresi Kendeng yang telah aktif sejak Plio-Pleistosen.

Pusing? Sama :D Berhenti dulu deh ya..

Sunday, June 24, 2012

Caper Lawu-Sangiran (bagian 2)

Supaya begadang malam ini produktif, kita lanjutin catatan perjalanan Lawu-Sangiran bagian pertama ya.

Dari Watu kandang, perjalanan dilanjutkan ke area Tawangmangu, ke air terjun Grojogan Sewu (GS), sekaligus lokasi penginapan kami. GS memiliki dua loket masuk yang terpisah sekitar 500 m, kalo ngga salah. Kami tiba di depan loket masuk satu menjelang jam empat sore, bapak petugas loket awalnya menolak untuk mengizinkan kami masuk, soalnya setengah jam lagi - setengah lima, objek wisata ini akan tutup. Bagaimana pun juga, kami sudah jauh-jauh ke sini, jadi, setelah diplomasi sedikit dan meminta salah satu petugas untuk menemani, kami diizinkan masuk. Harga tiketnya per orang enam ribu rupiah untuk wisatawan domestik dan sembilan belas ribu rupiah untuk wisatawan asing. Kalo bawa anak di bawah lima tahun, anaknya bisa masuk gratis. 


Gerbang Grojogan Sewu


Nego di loket masuk
 
Melewati loket, kami mulai menuruni tangga menuju lokasi air terjun. Anak tangganya lumayan nyaman, jaraknya pas dan tidak begitu curam, meskipun setelah beberapa lama, saya mulai bertanya-tanya kapan tangga ini akan berakhir, karena setelah setiap belokan, saya hanya akan menemukan anak tangga lagi, dst. Di sini juga ada monyet-monyet liar, ukurannya tidak terlalu besar, jadi tidak terlalu menakutkan. Mereka tidak begitu mengganggu dan tampak tidak terganggu juga dengan keberadaan pengunjung.


Peringatan untuk penunjung


Monyet di tangga turun 

Setelah sekitar sepuluh menit (yang terasa lama), akhirnya tanda-tanda visual air terjun mulai muncul. Air terjun ini tingginya sekitar 81 meter, ngga jelas juga kenapa namanya GS, mungkin orang kita memang senang melebih-lebihkan untuk mengundang rasa ingin tau (tampaknya budaya lebay sudah ada sejak zaman dahulu :D). Hal yang istimewa dari air terjun ini adalah tebingnya. Seperti kita tau, pada umumnya air terjun merupakan ujung dari aliran lava gunung berapi. Nah, begitu pula dengan GS, kemungkinan GS ini merupakan ujung dari aliran lava Gunung Lawu Purba (maaf kalo salah ;p). Kebayang ngga sih? Tinggi air terjun 81 meter sama dengan ketebalan lava? Tebingnya ini terdiri atas kekar kolom (kalo ngga salah lagi :p), yaitu aliran lava yang membeku pada waktu yang berbeda dan kemudian membentuk semacam kolom raksasa, bisa segi empat, segi lima atau segi enam. Kalo di sini, kolomnya horizontal, jadi di tebingnya akan terlihat segi empat atau segi lima yang bertumpukan. Antara kolom-kolom ini terdapat celah yang memungkinkan kolom-kolom ini mengalami pelapukan - karena kontak dengan udara, dsb. Dalam jangka waktu lama, bisa saja pelapukan yang terjadi menyebabkan batuan ini tidak mampu mempertahankan keutuhan strukturnya dan kemudian terkikis, menjatuhkan bongkahan batuan ke dasar air terjun. Bukti nyata, kami melihat batuan berbentuk persegi di aliran sungai. Demi alasan inilah, pengunjung tidak diperbolehkan mendekati dasar air terjun dan area tebing di sekitarnya. Lagi pula, karena cukup tinggi, dari jauh pun percikan airnya sudah dapat kita rasakan tanpa perlu repot-repot mendekat.


Inilah Grojogan Sewu!


Kekar kolom horizontal


Potongan kolom yang terlepas berbentuk segi empat

Menjelang setengah lima, kami pun memulai perjalanan keluar, perjalanan menuruni ratusan anak tangga tadi akan dilengkapi oleh perjalanan menaiki ratusan anak tangga lainnya. Pas setengah lima, ada sirene dan peringatan lewat pengeras suara dari petugas supaya pengunjung segera meninggalkan lokasi. Tangga turun dan tangga naik berbeda, jadi di saat rame, ngga akan ada kemacetan pengunjung. Pinter juga ya pengelolanya? Durasi naik tangga hampir sama dengan turun, sekitar sepuluh menit. Menjelang akhir, kita akan disambut tulisan yang menerangkan kalo tangga turun dan naik jumlahnya ada 1.250 anak tangga. Percaya saja lah, ngga usah diverifikasi dengan ngitung ulang. Tepat di depan saya, ada bapak penjual minuman yang akan keluar juga, bapaknya berkaki satu, beliau memegang tongkat di tangan kanan dan tangan kirinya memegang boks tempat jualannya yang dia letakkan di atas kepala, malu rasanya untuk berbangga karena naik-turun 1.250 anak tangga.



Di seberang pintu masuk ke GS adalah rumah penginapan kami. Setelah mengambil barang dari mobil, masuk kamar dan mandi, kami makan malam. Menunya disediakan oleh warung makan yang ada tepat di depan rumah, harganya lumayan murah dan menunya juga cukup bervariasi. Menu yang cukup unik adalah sate landak, beberapa peserta mencoba menu ini, saya sih ngga, karena saya termasuk omnivora selektif (kalo ada yang wajar, kenapa harus ekstrim?) :D Maka, saya akhirnya memilih untuk memesan semangkuk nasi soto dan segelas kopi berkrim dan bergula sebagai persiapan untuk mengikuti kuliah malam :)


Menu makan malam: nasi soto ayam


Daftar menu 

Wah, masih bersambung ternyata... :D

Wednesday, June 6, 2012

Caper Lawu-Sangiran (bagian 1)

Jumat malam saya bergegas ke Stasiun Bandung buat ketemuan sama rombongan Geotrek Indonesia. Kali ini kami menumpang kereta Lodaya Malam menuju Stasiun Solo Balapan. Dari Bandung jam delapan malam, kami sampai di Solo sekitar jam lima lewat. Setelah sholat subuh, ketemu dengan anggota rombongan lain yang pergi duluan dan nunggu rombongan yang dari Jakarta, terus cari sarapan. Menu sarapan kami adalah nasi gudeg di 'Gudeg Ayu', Jalan Gajah Mada 152, ngga jauh dari stasiun. Beda dengan gudeg Jogja, gudeg yang di sini kreceknya pedas, enak deh! Selesai sarapan, kami langsung menuju destinasi pertama, Candi Sukuh.

Stasiun Solo Balapan
Menu Sarapan: Gudeg Ayu
Candi Sukuh ini merupakan tempat menyepi terbesar dan paling kompleks di lereng Gunung Lawu di ketinggian 910 mdpl. Candi Sukuh terletak di Kabupaten Karanganyar, untuk mencapainya bisa melalui jalan ke arah Tawangmangu, kemudian berbelok ke kiri/utara di area Karangpandan. Dari inskripsi yang ditemukan, diketahui bahwa candi ini dibangun antara tahun 1416 - 1459. Candi ini dikategorikan sebagai candi Hindu karena banyak ditemukan objek pujaan lingga dan yoni - simbolisasi laki-laki dan perempuan. Tapi, tidak seperti di candi Hindu pada umumnya, di sini simbolisasinya lebih vulgar, makanya candi ini cukup kontroversial. 

Beberapa relief di sini memvisualisasikan genitalia laki-laki dan perempuan secara gamblang. Selain pada relief, genitalia perempuan juga disimbolisasi dengan celah-celah yang dibuat sempit pada setiap tangga. Mungkin ini juga yang menyebabkan candi ini menjadi salah satu situs yang dipercaya dapat membawa berkah kesuburan bagi pengunjungnya. Di samping itu, konon candi ini juga dipergunakan untuk uji keperawanan. Katanya, perempuan yang menaiki tangga candi ini, jika masih perawan, maka selaput daranya akan robek dan berdarah, tapi jika sudah tidak perawan, maka kain yang dipakainya akan robek dan terlepas. Soal ini, saya beri gambaran, desain anak tangga di candi induk dibuat dengan jarak antaranak tangga cukup jauh, sehingga kita yang naik cenderung akan membuka kaki lebih lebar, di masa lalu, saat perempuan umumnya memakai kain, ya hampir pasti kainnya akan robek, jika metode menaiki tangganya biasa aja. 

Selain reliefnya yang kontroversial, bentuknya yang tidak biasa juga membuat candi ini berbeda. Candi ini bentuknya seperti piramid beratap datar, makanya ada yang menghubungkannya dengan bangunan pada masa Maya di Amerika Tengah sana (ada yang membandingkan dengan Piramida Kukulkan). Saat di sana, narasumber kami, Pak Awang, menjelaskan bahwa menurut beliau, melihat candi dan reliefnya, candi ini dibangun berdasarkan cerita Adiparwa, bagian pertama dari kisah Mahabharata. Bentuk piramida beratap datar ini merupakan penggambaran untuk Gunung Mandaragiri yang puncaknya diambil untuk mengaduk laut dalam rangka mencari Tirta Amerta. Teori ini juga didukung dengan keberadaan tiga kura-kura di depan candi. Dalam kisah Adiparwa tadi, kura-kura ini adalah para penyangga gunung tersebut. Relief lain menceritakan legenda Garudeya tentang perjalanan Garuda mencari Tirta Amerta demi membebaskan ibunya dari perbudakan.

Relief yang vulgar dan relatif kasar - berbeda dengan relief di Candi Borobudur atau Prambanan - membuat orang-orang berspekulasi tentang keberadaan candi ini. Teori yang muncul diantaranya, candi ini dibuat oleh para penganut agama Saba (pemuja matahari dan bintang). Teori lain yang lebih masuk akal adalah kemungkinan bahwa candi ini dibuat terburu-buru (secara waktu itu adalah akhir masa pemerintahan Majapahit), atau pembuatnya adalah rakyat biasa dengan kemampuan artistik yang kurang begitu baik.

Candi Sukuh

Gerbang Candi Sukuh menghadap ke barat, ke arah Gunung Lawu

Kura-kura penyangga Gunung Mandaragiri

Salah satu arca dilengkapi genitalia laki-laki

Tangga ujian

Dari Sukuh, perjalanan kami lanjutkan ke Candi Cetho (cetho = bahasa jawa untuk jelas), berada di ketinggian 1470 mdpl. Menurut penelitian, candi ini dibangun pada akhir masa pemerintahan Majapahit, usianya tidak jauh dari usia Candi Sukuh. Candi ini terdiri atas banyak teras. Saat ditemukan, ada 14 teras, saat ini ada 13 teras, tapi yang dipugar hanya 9 teras. Tidak jauh berbeda dengan Sukuh, candi ini juga banyak mereliefkan Bima. Candi ini masih digunakan sebagai tempat pemujaan oleh penduduk setempat yang beragama Hindu dan populer sebagai tempat pertapaan untuk penganut Kejawen. Sejak masa Orde Baru, bahkan hingga sekarang, katanya masih ada banyak politisi dan pejabat yang berkunjung ke sini (untuk mencari kekuatan adikodrati demi menunjang karir politik mereka). 

Sayangnya, struktur candi ini sudah tidak asli lagi. Gara-garanya, sekitar akhir 1970-an, seorang asisten pribadi (alm.) Soeharto yang bernama Humardani melakukan pemugaran berupa gapura megah di setiap teras (mirip gapura di pura), bangunan-bangunan kayu tempat pertapaan, patung Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, phallus, dan bangunan kubus pada puncak punden. Satu-satunya artefak yang asli (termasuk posisinya) adalah gambaran kompleks terbuat dari batu yang diletakkan mendatar di atas tanah. Di ujung sebelah barat terdapat sebuah phallus/lingga besar terletak mendatar dan menunjuk ke arah barat. Pada dasarnya, terdapat penggambaran seekor penyu pada punggung seekor kelelawar besar. Pada punggung penyu terdapat sejumlah hewan laut dengan orientasi menuju berbagai arah mata angin.

Karena penampakkan arca yang dianggap tidak biasa, beberapa kelompok berkeyakinan bahwa candi ini memperlihatkan superioritas orang-orang zaman dahulu, itu loh, penganut aliran yang meyakini bahwa Kepulauan Indonesia ini dulunya adalah Atlantis. Beberapa kelompok meyakini arca ini menggambarkan orang timur tengah dalam keadaan ketakutan karena ditaklukkan. Kemungkinan lain, sebetulnya arca ini menggambarkan tokoh pewayangan.

Arca yang dipercaya menggambarkan orang timur tengah
Struktur puncak punden
Peninggalan yang paling menarik, berupa phallus, hewan laut di atas kura-kura di atas kelelawar 

Di samping kiri depan Candi Cetho, kami makan siang dengan menu lontong disertai sate ayam dan atau sate kelinci berbumbu kacang. Di sini satenya enak, daging semua :D

Menu makan siang: Lontong dan sate bumbu kacang

Setelah makan siang, kami menuju ke situs Watu Kandang. Lokasinya di Dukuh Ngasinan Lor, Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Situs ini adalah peninggalan masa prasejarah berupa tatanan batu-batu alam yang teratur dan diduga merupakan tinggalan zaman megalitikum. Berdasarkan orientasinya yang menghadap ke arah barat dan timur - Gunung Lawu, Bangun, dan Ganoman - maka disimpulkan bahwa batu-batu ini dimaksudkan sebagai tempat pemujaan kepada alam semesta (dalam hal ini, gunung).

Orientasi yang lebih jelas terlihat pada batu-batu di depan pos yang berada di pinggir jalan, sementara lebih jauh ke dalam, di antara lahan pertanian ubi, ditemukan lebih banyak batu berukuran besar yang berserakan, namun orientasinya relatif jelas. Di suatu titik, terdapat bekas penggalian yang konon baru-baru ini di dalamnya telah ditemukan peninggalan berupa manik-manik.

Salah satu batu besar yang diorientasikan menghadap Gunung Lawu
Batu-batu dengan orientasi yang lebih jelas
Sementara sampai sini dulu ya laporannya, to be continued...

Next: Grojogan Sewu dan Sangiran :D 

ps. materi yang saya cantumkan di sini berasal dari materi yang dibagikan pada peserta, bukan berdasarkan ingatan saya saja :D