Showing posts with label Everest. Show all posts
Showing posts with label Everest. Show all posts

Friday, May 24, 2013

memulihkan kewarasan di puncak dunia.. i wish!!

Lagi-lagi tentang menggunung... 
Di penghujung bulan ini setahun yang lalu, temen saya membagi link tentang 'hobby climbers' yang menyesaki Everest, artikelnya bisa dilihat di sini. Jujur, saat itu saya terperangah, betapa mudahnya seseorang diizinkan untuk mendaki Everest, bahkan tanpa pengalaman atau latihan yang cukup, asalkan mampu bayar perizinan, bisa melenggang aja gitu.
Everest climbers form a long snaking line up the mountain as they strive to reach the summit
Everest climbers form a long snaking line up the mountain as they strive to reach the summit this spring. Photograph: Ralf Dujmovits - dari www.guardian.co.uk
Bulan ini, berasa de ja vu, NGI bulan Juni yang saya terima beberapa hari lalu memasang foto cover yang senada dengan foto di atas. Edisi ini mengangkat keriuhan di Puncak Dunia ini sebagai salah satu artikel utama.
Keramaian menyumbat Hillary Step pada 19 Mei 2012. Sebagian pendaki mengantre hingga dua jam di dinding batu sejauh 12 meter di bawah puncak ini, sambil kehilangan panas tubuh. Meski demikian, 234 orang mencapai puncak pada hari itu. Empat pendaki meninggal dunia. 
Foto: Subin Thakuri, Utmost Adventure Trekking - dari National Geographic Indonesia
Menurut artikel ini, sejak 1990, tingkat keberhasilan pendaki naik menjadi tiga kali lipat. Tahun 1990 ada 72 orang yang mencapai puncak (18%), tahun 2000 ada 145 orang (24%), berikutnya, di tahun 2012, ada 547 orang yang mencapai puncak (56%). Mencengangkan! 
Mau ngga mau saya jadi berpikir, kok kayanya gampang ya? Semudah itukah mendaki Everest? Ternyata.. ada beberapa alasan, selain prakiraan cuaca yang lebih jitu, juga karena jumlah pemandu yang lebih banyak dan peralatan yang lebih baik. Konon sekarang-sekarang, sekitar 90% pendaki Everest adalah klien berpemandu, yang umumnya tidak memiliki keterampilan mendaki. Cukup bayar aja, antara Rp 300 juta hingga Rp 1,2 miliar (buat yang mampu). 
Dua jalur utama yang digunakan adalah South Col/Southeast Ridge (Nepal) dan North Col/Northeast Ridge (Cina), jalur dari Nepal adalah jalur yang lebih populer, tapi ya sama aja katanya, karena terlalu banyak pengunjung, hasilnya adalah kotor dan jorok, banyak pencemaran sampah dan sampah biologis. 

Di artikel ini, ada enam cara yang dipaparkan untuk memperbaiki Everest. Misalnya dengan mengurangi izin, membatasi total pendaki dan Sherpa, dan memperkecil tim ekspedisi, sehingga mengurangi kemacetan lalu lintas di jalur pendakian. Tapi, katanya... dengan keadaan negara Nepal yang sarat masalah, sepertinya intervensi pemerintah tidak bisa diandalkan, cara yang paling mungkin adalah koordinasi antarsesama operator ekspedisi.
Untuk menurunkan risiko kecelakaan, perlu juga sertifikasi operator untuk memastikan standar keselamatan dan pengetahuan gunung dipenuhi, kemudian memastikan pendaki dan Sherpa memiliki pengalaman dan siap menghadapi tantangan ketinggian gunung.
Selain itu, memastikan bahwa setiap perjalanan tidak meninggalkan jejak dengan menyingkirkan kotoran dan sampah manusia dari gunung, dengan sanksi bagi yang tidak patuh; dan menyingkirkan jasad, karena penghormatan tidak hanya bagi yang sudah meninggal, tapi juga bagi yang masih hidup, yaitu yang bertemu dengan jasad di jalur utama.

Oh ya, ada juga Conrad Anker disebut-sebut di sini, ternyata beliau dan istrinya memiliki pusat pelatihan untuk para Sherpa pemandu di Tibet sana. Masih inget kan?!

Aah..jadi kangen menggunung :D tapi.. sekarang-sekarang, entah kenapa, kayanya saya ngga senekat dulu dan ngga yakin masih mampu melakukan perjalanan menggunung.. 

Monday, May 21, 2012

because it's there

Gitu deh jawabannya George Mallory waktu ditanya salah satu wartawan, 'Why climb Everest?'. Habis liat film dokumenter soal beliau dan ekspedisinya ke Everest. Judul filmnya The Wildest Dream, naratornya keren-keren, ada Liam Neeson, Ralph Fiennes, dan Alan Rickman. Biar pun cuma suaranya aja, tetep aja mereka keren, suaranya aja berkarakter :D *ngomong apa ini?! ;p

Mallory mendaki Everest bersama Sandy Irvine pada tahun 1924, ini adalah kali ketiga usahanya menuju puncak Everest. Kebayang ngga sih gimana beratnya ekspedisi beliau ini? Dengan keterbatasan teknologi di masa itu? Katanya, pada masa itu seluruh dunia lagi heboh-hebohnya melakukan banyak penjelajahan, diantaranya ekspedisi ke kutub utara dan kutub selatan. Kesuksesan ekspedisi kedua kutub itulah katanya yang menginspirasi Mallory untuk menaklukkan kutub ketiga di dunia, Everest. Mallory adalah orang pertama yang menjelajah Everest, merintis jalur pendakian sendiri, dan menjadi perintis metode pendakian gunung tinggi yang sampai saat ini masih diterapkan oleh para pendaki-yaitu menerapkan pendekatan nyaris seperti penyerbuan militer (kata film ini), dimana dia mendirikan beberapa camp sepanjang jalur pendakian, kemudian bolak-balik antarcamp ini (untuk menyiapkan logistik, merintis jalur, sekaligus aklimatisasi). Keren ya?! Dia menjadi yang pertama sebelum 29 tahun kemudian ada ekspedisi Sir Edmund Hillary yang dianggap sebagai ekspedisi Everest resmi yang pertama.

Tahun 1921 ekspedisinya yang pertama dilakukan, tapi terpaksa dihentikan karena kendala cuaca-seperti ekspedisi tim seven summit sekarang. Ekspedisi kedua, gagal setelah tujuh rekan pendakinya tewas akibat longsoran salju. Peristiwa ini sebetulnya membuat dia merasa bersalah dan trauma untuk kembali ke Everest, tapi saat tau akan ada ekspedisi lagi, dia tentu saja ngga mau ketinggalan, meskipun sebetulnya dia agak galau juga sih buat meninggalkan istri dan ketiga anaknya. Toh, akhirnya ketertarikannya pada Everest menang dan sang istri tercinta pun dia tinggalkan. Soal ini, ada narasumber yang menggambarkan hubungan Mallory, istrinya (Ruth), dan Everest sebagai cinta segitiga. Saat bersama Ruth, Mallory memimpikan Everest, dan saat di Everest, Mallory memikirkan Ruth. Aaah... So sweet banget ya?! Udah gitu, romantismenya diperkental dengan kebiasaan mereka menulis surat (seperti orang-orang di masa itu pada umumnya)-yang kayanya udah hampir punah di zaman sekarang.

Film ini awalnya dibuka oleh narasi Mallory dan Irvine yang terakhir terlihat sekitar 800 kaki dari puncak dan kemudian mereka hilang. Pencarian dilakukan, mereka tidak ditemukan. Pertanyaan besarnya adalah, apakah mereka berhasil mencapai puncak sebelum hilang?

Banyak yang ngga yakin mereka hilang setelah berhasil mencapai puncak, karena katanya tampak agak sulit untuk mereka melewati satu rintangan terakhir yang namanya Second Step.

Nah, 75 tahun kemudian, pencarian jasad Mallory dan Irvine dilakukan, dan nasib mempertemukan jasad Mallory yang masih utuh dengan Conrad Anker, pendaki yang kemudian berusaha merekonstruksi metode pendakian Mallory dan mencoba menjawab apakah Mallory sampai puncak atau tidak.

Pada 2007, Pak Anker ini kemudian merekonstruksi pakaian yang digunakan Mallory, kemudian bersama partner mendakinya, mencoba pakaian tersebut di beberapa rute menuju Everest. Di akhir film, Anker juga melintasi Second Step dengan mendaki bebas (tanpa bantuan tangga yang sebetulnya dipasang disitu oleh tim dari China pada 1975 - si tangga di-remove dulu untuk merekreasi kondisi waktu Mallory mendakinya 83 tahun sebelumnya). Kesimpulannya?! Berhasil ngga ya?? Penasaran ngga?! Nonton aja sendiri, dijamin bakal ikutan menggigil dan kedinginan dan deg-degan serta terpesona kemegahan Everest ;D

Oh ya, satu lagi alasan kenapa dipercaya kalo mereka mungkin sudah mencapai puncak adalah, pada jasad Mallory, semua barang yang dia bawa ditemukan lengkap, hanya satu yang ngga ada, yaitu foto istrinya, Ruth, yang dia janjikan akan dia simpan di puncak. Waah..romantis abis ya, Pak Mallory ini. Info lainnya, sayangnya jasad Sandy Irvine masih tetap belum ditemukan.

Published with Blogger-droid v2.0.4