Showing posts with label Paulo Coelho. Show all posts
Showing posts with label Paulo Coelho. Show all posts

Monday, May 7, 2012

Pemanah dan Busurnya

Salah satu artikelnya Paulo Coelho di Seperti Sungai yang Mengalir.


Pentingnya perulangan


Tindakan adalah pikiran yang mengejawantah.
Bahkan gerakan yang paling samar bisa mengungkap diri kita, itu sebabnya semuanya mesti kita poles, kita pikirkan rincian-rinciannya, kita pelajari tekniknya sedemikian rupa sampai menjadi intuitif. Intuisi bukanlah rutinitas, melainkan suatu sikap pandang yang melampaui teknik.
Jadi, setelah banyak berlatih, kita tidak perlu berpikir dulu sewaktu membuat gerakan; sebab semuanya sudah bagian dari eksistensi kita sendiri. Tetapi untuk bisa seperti itu, kita mesti berlatih dan mengulang-ulang.
Dan kalau itu belum cukup, Anda mesti mengulang dan berlatih.
Lihatlah pandai besi yang sedang bekerja. Bagi mata orang awam, kelihatannya dia sekadar memukulkan palunya berulang-ulang; tetapi seorang pemanah tahu bahwa setiap kali si pandai besi mengangkat palunya dan memukulkannya, kekuatan pukulannya berbeda-beda. Tangannya mengulangi gerakan yang sama, tetapi sewaktu hampir mendekati logam, tangannya tahu seberapa besar daya yang mesti dikerahkan.
Lihatlah kincir angin. Kalau hanya sekilas pandang, baling-balingnya seolah berputar dengan kecepatan yang sama, mengulangi gerakan yang itu-itu saja; tetapi orang-orang yang tahu betul tentang kincir angin, paham bahwa benda itu dikendalikan oleh angin dan berubah arah bila diperlukan.
Tangan si pandai besi sudah terlatih karena mengulang-ulang gerakan memukulkan palunya ribuan kali. Baling-baling kincir angin akan berputar cepat saat angin bertiup kencang, sehingga roda-rodanya bisa bergerak dengan lancar. 
Si pemanah membiarkan banyak anak panah melesat jauh dari sasarannya, sebab dia tahu bahwa dia baru bisa belajar tentang pentingnya busur, postur, tali, dan sasaran, kalau dia mengulangi gerakan-gerakannya ribuan kali dan tidak takut membuat kesalahan.
Akhirnya suatu hari dia tak perlu memikirkan gerakannya lagi. Mulai saat itu si pemanah menjadi busur, anak panah, dan sasarannya sekaligus.


Mengamati Anak Panah yang Melesat

Anak panah adalah niat yang diproyeksikan ke sasaran.
Setelah anak panah dilepaskan, tak ada lagi yang bisa dilakukan si pemanah selain mengamatinya meluncur ke tujuannya. Mulai saat itu, tegangan yang dibutuhkan untuk menembakkan si anak panah tidak dibutuhkan lagi. Karenanya kedua mata sang pemanah tertuju pada arah terbang si anak panah, namun hatinya teduh dan dia tersenyum.
Kalau dia sudah cukup berlatih dan sudah berhasil mengembangkan instingnya, kalau dia berhasil menjaga keanggunan dan konsentrasi selama keseluruhan proses melepaskan anak panahnya, saat itu dia akan merasakan kehadiran alam semesta dan akan dilihatnya bahwa tindakannya patut dan layak.
Teknik membuat kedua tangannya siap, pernapasannya mantap, dan matanya terfokus ke sasaran. Insting membuat perhitungannya tepat sewaktu melepaskan anak panah.
Orang yang kebetulan lewat dan melihat si pemanah yang kedua lengannya terkembang, matanya mengikuti gerakan anak panah, akan mengira tidak terjadi apa-apa. Tetapi sekutu-sekutunya tahu bahwa pikiran orang yang melepaskan anak panah itu telah berpindah dimensi dan kini tengah tersambung dengan seluruh semesta. Pikirannya terus bekerja, belajar hal-hal positif tentang tembakannya tadi, mengoreksi kekeliruan-kekeliruan yang mungkin terjadi, menerima kualitas-kualitasnya yang bagus dan menunggu reaksi sasaran panahnya.
Seraya menarik tali busurnya, seluruh dunia serasa terfokus di dalamnya. Waktu matanya mengikuti gerakan anak panahnya, dunia seolah mendekat dan membelainya, hatinya puas karena telah menunaikan tugasnya.
Ksatria cahaya tak perlu mencemaskan apa-apa lagi setelah menuntaskan tugasnya dan mewujudkan niatnya ke dalam gerakan; apa yang mesti dilakukan, telah dilakukannya. Dia tidak membiarkan dirinya dilumpuhkan rasa takut. Andai pun anak panah itu meleset dari sasarannya, masih ada kesempatan lain baginya, sebab dia bukan pengecut.

Thursday, April 26, 2012

kiat bepergian paulo coelho

Menjelang bepergian, mari kita simak kiat-kiat yang diberikan Paulo Coelho di buku Seperti Sungai yang Mengalir itu. Lihat di halaman 177-180. Begini kata beliau..

1. Hindari museum-museum, dengan alasan melihat-lihat masa kini tentu saja jauh lebih menarik daripada masa lalu. Mengunjungi museum membutuhkan waktu dan objektivitas, kita mesti sudah tau apa yang diharapkan untuk dilihat, sebab kalau tidak, pada akhirnya kita tidak akan mendapatkan pengalaman yang berkesan. 
Intinya mungkin kunjungannya tidak akan membekas. Ditambah lagi, kalo kata saya sih, sepertinya jika berkunjung di museum di Indonesia, rasanya ngga terlalu menarik - berdasarkan kunjungan ke beberapa museum - atau mungkin ini adalah efek karena saya tidak tahu harus mengharapkan apa yang akan dilihat di museum, atau mungkin karena saya hanya berkunjung secara singkat dan membawa penilaian subjektif.

2. Duduklah di bar-bar yang merupakan tempat paling tepat untuk mengamati kehidupan. Maksudnya bar, yaitu tempat-tempat orang-orang lokal untuk minum, ngobrol, atau sekadar berkumpul. Filosofinya, kita tidak bisa menilai keindahan suatu jalan hanya dengan memandanginya dari luar pintu gerbang.
Kalo di negara kita, bar ini sinonim dengan warung kopi kali ya.

3. Bersikap terbuka. Pemandu tur terbaik adalah penduduk setempat yang tahu segalanya tentang daerah itu, dan merasa bangga pada tempat tinggalnya, tetapi tidak bekerja untuk agen perjalanan mana pun. Keluarlah ke jalan, pilih orang yang ingin Anda ajak bicara, dan tanyakan sesuatu padanya. Kalau tidak berhasil, coba tanya orang lain - katanya dijamin di penghujung hari, kita pasti sudah menemukan teman mengobrol yang menyenangkan.
Cobain? Sepertinya agak susah ya, bukan mustahil sih, yang penting berani. Di masa kini dengan maraknya berbagai modus kejahatan, saya jadi inget pengalaman dulu, waktu ada orang asing yang mendekat, saya sudah waspada siapa tau orang itu mau menghipnotis. Eh, ternyata cuma tanya alamat. Paranoid! Trus, dengan kecenderungan setiap orang sudah pada punya ponsel - yang smart ataupun standar, sepertinya orang-orang cenderung lebih peduli dengan teman di ujung sana, ketimbang orang yang jelas-jelas hadir secara fisik di sekitar mereka. Kalo asik sendiri begitu, bisa ditanyain ngga ya?! Apakah orang-orang ramah masih ada di luar sana?   

4. Cobalah bepergian seorang diri, atau kalau Anda sudah menikah, pergi bersama pasangan Anda. Memang akan lebih berat, sebab tidak ada orang yang mengurusi Anda, tetapi dengan cara ini Anda bisa benar-benar meninggalkan negeri Anda sendiri. Bepergian bersama sekelompok orang berarti berkunjung ke negeri asing tetapi tetap berbicara dalam bahasa kita sendiri, mengikuti arahan apa pun yang diberikan pemimpin rombongan, dan lebih menaruh perhatian pada percakapan antara sesama anggota rombongan daripada tempat-tempat yang Anda kunjungi.
Nah, yang ini mengena banget. Saya belum bisa mengamalkan nih. Terlalu banyak kecemasan - yang mungkin sebenarnya jika dipikir secara rasional, sama sekali tidak beralasan - takut nyasar, mati gaya, dsb. Jadi, selamat ya buat yang sudah bepergian seorang diri. Hebat banget!! Siriiik!! Mau nyobain!!

5. Jangan membanding-bandingkan. Jangan membandingkan apa pun - harga-harga, standar-standar kebersihan, kualitas hidup, sarana transportasi, apa pun! Anda bepergian bukan untuk membuktikan bahwa Anda memiliki kehidupan yang lebih baik dari orang-orang lainnya. Tujuan Anda bepergian adalah untuk melihat bagaimana orang-orang lain menjalani hidup mereka, apa yang bisa mereka ajarkan kepada Anda, bagaimana mereka menangani realitas serta hal-hal yang luar biasa.
Dan tentu saja tujuan bepergian bukan sekadar untuk mengambil foto diri berlatar berbagai objek yang kita kunjungi - dan ujung-ujungnya itu foto dipajang sebagai foto profil di situs jejaring sosial :D (dituliskan dengan gaya belagu dan sok tau ;p)

6. Pahamilah bahwa setiap orang bisa memahami Anda. Walaupun Anda tidak bisa bahasa setempat, jangan takut. Saya pernah berada di tempat-tempat yang tidak memungkinkan saya berkomunikasi dengan kata-kata sama sekali, dan saya menemukan dukungan, bimbingan, saran yang berguna, bahkan teman-teman wanita. Beberapa orang merasa takut bepergian seorang diri, mereka pikir mereka akan langsung tersesat begitu ke luar jalan. Yang penting, jangan lupa membawa kartu nama hotel di saku Anda dan-kalau sampai tidak ada cara lain lagi-Anda tinggal menyetop taksi dan menunjukkan kartu itu kepada sopirnya.
Iya sih, komunikasi kan tidak mesti melalui kata-kata saja. Bahasa tubuh dan ekspresi wajah sepertinya lebih universal (selain bahasa cinta? ;p). Tapi bawa kartu nama hotel dan menunjukkan ke sopir taksi juga belum tentu menjadi akhir yang bahagia, bisa aja sopirnya bukan orang baik-baik-anggota komplotan kejahatan terhadap turis, mungkin? atau seperti yang dialami teman saya, sopir taksinya tidak mengantarkan hingga ke tempat tujuan, atau malah dibawa muter-muter dulu, siapa tau kan? Yah, berpikir positif saja lah ya.. dan berdoa.. :)

7. Jangan berbelanja terlalu banyak. Belanjakan uang Anda untuk hal-hal yang tidak perlu Anda bawa-bawa: tiket-tiket untuk menonton drama yang bagus, restoran-restoran, perjalanan-perjalanan. Zaman sekarang, dengan ekonomi global serta Internet, Anda bisa membeli apa saja yang Anda inginkan tanpa perlu membayar biaya kelebihan bagasi.
Sangat setuju deh kalo yang ini. Jadi, jangan memberatkan teman atau saudara yang bepergian dengan meminta mereka membawakan buah tangan, cukup doakan saja perjalanannya menyenangkan dan berkesan! Atau ikut saja sekalian ;p

8. Jangan mencoba melihat seluruh dunia dalam sebulan. Jauh lebih baik kalau Anda tinggal di satu kota selama empat atau lima hari, daripada mengunjungi lima kota dalam seminggu. Sebuah kota bisa diibaratkan seorang wanita yang sulit didekati. Anda memerlukan waktu untuk menarik perhatiannya, sampai dia bersedia mengungkapkan dirinya sepenuhnya.
Ini juga lagi-lagi mengena, kadang-kadang karena hanya bisa bepergian dalam waktu yang terbatas, saya terlalu terfokus pada jumlah objek yang bisa dikunjungi. Btw, analoginya menarik ya?! Analogi lain, ibarat kuliah di jurusan farmasi-setidaknya di masa saya kuliah bertahun-tahun yang lalu-belajar sedikit tentang ilmu kedokteran, sedikit tentang anatomi, sedikit tentang penyakit, sedikit tentang biologi, sedikit tentang kimia, sedikit tentang teknologi, sedikit tentang kinetika obat, sedikit tentang analisis, dsb., dalam waktu yang singkat, dan akhirnya cuma tau sedikit-sedikit tentang banyak hal, ibaratnya hanya mengenali lapisan terluar dari satu siung bawang, tanpa tau lapisan-lapisan terdalamnya. Tapi yah, sesuai kata salah satu dosen kalkulus, kuliah itu intinya mengajarkan cara belajar, bukan ngasi bahan pelajarannya (kira-kira gitu deh, kata beliau-mungkin perkataan ini dilatarbelakangi rasa frustrasi beliau mengajarkan kalkulus berulang-ulang pada para mahasiswa yang tetap memasang muka bingung setelah sekian kali pengulangan penjelasan) ;p

9. Perjalanan adalah petualangan. Henry Miller pernah berkata bahwa jauh lebih penting untuk menemukan gereja yang belum pernah didengar siapa pun ketimbang pergi ke Roma dan merasa wajib mengunjungi Kapel Sistine bersama dua ratus ribu turis lainnya yang berbicara dengan suara berisik di telinga Anda. Pergilah ke Kapel Sistine, tetapi jelajahi jalanan-jalanannya, gang-gang kecilnya, nikmati kebebasan dalam mencari sesuatu-entah apa, Anda tidak tau pasti, pokoknya sesuatu yang, kalau Anda temukan, pasti akan mengubah hidup Anda.
Siapa Henry Miller? Beliau ini salah satu penulis favorit Paulo Coelho, lihat saja info tentang beliau di wiki.

Akhirnya, selamat bepergian dan mari kita amalkan kiat-kiat di atas. Bon voyage! 


Sunday, April 15, 2012

ser como o rio que flui

Artinya, like a flowing river - seperti sungai yang mengalir.

Baru nih, belum disampul tapi, karena ternyata persediaan sampul mika saya habis :(


Buku ini berisi kumpulan renungan dan cerita pendek, jadi sepertinya akan pas untuk dibaca saat senggang dan tidak harus dibaca secara 'khusyuk' :)


Jadilah seperti sungai yang mengalir,

Hening di kala malam.

Usah takut pada kegelapan.

Pantulkan bintang-bintang.

Jelmakan pula awan-awan,

Sebab awan itulah air, tiada beda dengan sungai,

Maka pantulkan juga dengan suka cita,

Di kedalamanmu sendiri yang tenteram.


-Manuel Bandiera-


Selamat membaca! :D


Published with Blogger-droid v2.0.4

Tuesday, December 27, 2011

The Alchemist - edisi geje ;p

Berikut ini adalah bagian dari The Alchemist yang sepertinya relevan dengan saya (terutama saat ini) :p, saya beli buku ini pada 6 Oktober 2007 atas rekomendasi salah satu teman yang terpercaya (selera bukunya OK, jadi kalo dia bilang bagus, biasanya bukunya memang bagus, atau bisa jadi, kadang-kadang otak saya yang terbatas ini tidak bisa menangkap esensi dari ke-bagus-an buku itu). Buku ini diterjemahkan oleh Tanti Lesmana, copy yang saya punya adalah buku cetakan keempat. 

Penggalan ini ada di bagian dua, halaman 70-72

Pedagang itu terdiam sesaat. Kemudian katanya, "Nabi telah menurunkan Quran pada kami, dan menyatakan lima kewajiban yang mesti kami penuhi dalam hidup kami. Yang paling penting adalah hanya percaya pada satu Tuhan. Lain-lainnya adalah sembahyang lima kali sehari, berpuasa selama Ramadhan, dan bermurah hati pada orang-orang miskin."

Lalu dia berhenti bicara. Matanya basah oleh air mata ketika dia bicara tentang Sang Nabi. Dia orang yang saleh, dan meski sifatnya tidak sabaran, dia ingin menjalani hidupnya sesuai dengan hukum-hukum Islam.  

"Apa kewajiban yang kelima?" tanya si anak.

"Dua hari yang lalu, kaubilang aku tidak pernah punya impian untuk berkelana," sahut si pedagang. "Kewajiban yang kelima bagi setiap orang Muslim adalah menunaikan ibadah haji. Kami diwajibkan mengunjungi kota suci Mekkah, setidaknya satu kali selama hidup.

"Mekkah jauh lebih jauh daripada Piramida-Piramida itu. Waktu masih muda, aku bercita-cita mengumpulkan uang untuk membuka toko. Kupikir suatu hari nanti aku akan kaya, dan bisa pergi ke Mekkah. Aku mulai berhasil mengumpulkan uang, tapi aku merasa tidak tenang menitipkan toko ini pada orang lain; kristal-kristal itu gampang sekali pecah. Sementara itu, banyak orang melewati tokoku sepanjang waktu, mereka menuju Mekkah. Beberapa dari mereka adalah peziarah-peziarah kaya yang bepergian dalam rombongan karavan dengan pelayan-pelayan dan unta-unta, tapi sebagian besar peziarah ini adalah orang-orang yang lebih miskin daripada aku.

"Semua orang yang pergi ke sana merasa bahagia telah melakukannya. Mereka menaruh lambang-lambang perjalanan ziarah mereka di pintu-pintu rumah mereka. Salah seorang di antaranya, tukang sepatu yang hidup dari memperbaiki sepatu-sepatu bot, berkata dia berkelana hampir setahun melintasi padang pasir, tapi dia jauh lebih capek ketika harus berjalan kaki di jalanan-jalanan Tangier untuk membeli kulit."

"Kalau begitu, mengapa Anda tidak pergi ke Mekkah saja sekarang?" tanya si anak.

"Sebab justru impian hendak pergi ke Mekkah-lah yang membuatku bertahan hidup. Impian itulah yang membantuku menjalani hari-hariku yang selalu sama ini, kristal-kristal bisu di rak-rak itu, serta makan siang dan makan malam di kedai jelek yang itu-itu juga. Aku takut kalau impianku menjadi kenyataan, aku jadi tidak punya alasan lagi untuk hidup.

"Kau punya impian tentang domba-dombamu dan Piramida-Piramida itu, tapi kau berbeda dari aku, sebab kau berniat mewujudkan impianmu. Aku cuma ingin bermimpi tentang Mekkah. Sudah ribuan kali aku membayangkan diriku melintasi padang pasir, tiba di Ka'bah, mengelilinginya tujuh kali sebelum menyentuhnya. Sudah kubayangkan orang-orang yang ada di sampingku, di depanku, dan percakapan-percakapan serta doa-doa yang akan kami panjatkan bersama-sama. Tapi aku takut semuanya mengecewakan, jadi aku memilih mengangan-angankannya saja."

Relevansinya sama saya?? Saya masih bingung, apakah saya ini si pedagang atau Santiago, si anak gembala. Saat mimpi itu rasanya sudah begitu dekat, saya takut... takut semuanya mengecewakan, bagaimana jika saat mimpi mewujud, ternyata bukan itu yang saya inginkan.. Tapi.. bagaimana saya tau? Bagaimana jika ternyata saat mimpi menjadi kenyataan adalah saat yang membuat saya merasa bahagia?!