Showing posts with label Semarang. Show all posts
Showing posts with label Semarang. Show all posts

Tuesday, January 3, 2012

Caper Semarang - Bagian Tiga


Menyambung Bagian Satu dan Dua...

Oh ya, info trivia soal Lawang Sewu, kata pemandu kami, di sini sempat dijadikan lokasi pengambilan gambar salah satu adegan film Ayat-Ayat Cinta, itu loh, adegan waktu Maria-nya di rumah sakit. 

Dari Lawang Sewu, kami menyebrang ke taman di tengah persimpangan (Jl. Pemuda – Jl. Imam Bonjol – Jl. Dr. Sutomo – Jl. Pandanaran). Di tengah taman terdapat tugu berbentuk lilin yang dikelilingi kolam air mancur, namanya Tugu Muda. Tugu ini didirikan sebagai monumen peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang, dibangun pada 10 November 1950 dan diresmikan oleh presiden Soekarno pada 20 Mei 1953. Apa sih Pertempuran Lima Hari itu? Lihat sendiri aja ya, di sini. Singkatnya, pertempuran ini adalah serangkaian pertempuran antara rakyat Indonesia di Semarang melawan tentara Jepang. Pertempuran ini berlangsung pada 15 – 20 Oktober 1945 dan merupakan perlawanan terhebat rakyat Indonesia terhadap Jepang pada masa transisi (dari penjajahan Jepang menuju kemerdekaan).

Dari taman, kita dapat melihat gedung-gedung disekeliling, selain Lawang Sewu, ada Museum Manggala Bakti dan Katedral. Taman ini tertata cukup rapi dan bersih, nyaman dan enak buat sekadar duduk-duduk menikmati suasana, pemandangan langit, dan lalu lintas. Kalo saya siy kebayangnya sore-sore ke sini bawa buku dan cemilan pasti seru. Suara air mancur dan kesibukan kendaraan yang lalu-lalang lumayan pas buat jadi suara latar. Makanya, makin sore taman ini semakin ramai didatangi oleh muda-mudi Semarang, ada yang sekadar ngumpul, ada yang pacaran, ada juga yang berfoto (seperti kami ;p).

Tugu Muda
Dari Tugu Muda, kami menuju Kampung Laut buat makan siang (yang telat), tapi sebelumnya mampir dulu di hotel yang sudah kami pesan sebelumnya, buat nyimpen barang-barang dan mandi (secara kami semua belum mandi sejak dari Bandung malem sebelumnya ;p). Kami menginap di Hotel Rahayu, Jl. Imam Bonjol 35 – 37, kalo diliat di peta sih deket kawasan kota lama, jadi lebih deket ke stasiun, lumayan jauh kalo dari Simpang Lima. Di sini, kami menempati dua kamar, satu isi dua orang, satu lagi isi tiga orang. Fasilitasnya biasa aja, ada TV, AC, dan kamar mandi dengan air hangat (tapi pintunya ngga bisa dikunci dan ngga ada gantungan di dalem buat nyimpen handuk dan baju ganti, dsb.), sarapan ngga termasuk (mungkin karena biasanya orang-orang lebih milih cari makan sendiri), jadi pagi-pagi cuma dikasi teh dan kopi (tubruk dan encer) yang disimpen di meja di luar kamar. Selesai bersih-bersih badan, langsung ke Kampung Laut di kawasan PPRP (Pusat Promosi dan Rekreasi Pembangunan). Kampung Laut ini posisinya mengapung di atas kolam, areanya luas, mejanya banyak. Sepertinya di kolamnya juga boleh mancing, trus ada panggung pertunjukan juga di tengah kolam. Makanannya ya hidangan laut, tapi ikan air tawar juga ada (sepertinya, he ;p), rasanya siy biasa aja, harganya juga wajar.

Kolam di Kampung Laut
Dari Kampung Laut, kami beranjak ke Maerokoco, masih di kawasan PPRP juga, di Jl. Yos Sudarso. Maerokoco ini semacam Taman Mini versi Jawa Tengah, di sini terdapat miniatur-miniatur rumah adat dari 35 kabupaten dan kota yang ada di Jawa Tengah, termasuk produksi industri dan kerajinan khas daerah. Buat berkeliling di sini, tiket masuknya limaribu rupiah per orang. Berhubung kami ke sini sore-sore, jadinya sepi, tapi ngga tau juga sih apa siang-siang rame atau sepi juga. Setelah keliling-keliling dan foto-foto sebentar, kami segera meninggalkan Maerokoco dan menuju Pantai Marina.

Miniatur Candi Sewu di Maerokoco

Masuk ke Pantai Marina ini juga bayar, lupa tapi harga tiketnya berapa ;p Di sini pemandangannya ya laut, kapal-kapal di kejauhan, pasangan-pasangan yang pacaran, atau keluarga yang sedang piknik. Suara ombak yang membentur batuan di tepi pantai lumayan pas banget buat mengiringi suasana hati kalo lagi galau atau merana ;p

Jalan Sore di Tepi Pantai Marina

Seusai menunggu matahari terbenam (yang ngga keliatan, soalnya pantainya kan ngga menghadap ke Barat ;p), kami beranjak menuju Mesjid Agung Provinsi Jawa Tengah untuk sholat Maghrib dan Isya sekalian jalan-jalan, biar efektif waktu kami di Semarang ini. Info lengkap tentang mesjid dan menaranya bisa diliat sendiri di sini yaa :D Berhubung kami ke sininya malam, jadi foto-foto yang diambil ngga begitu bagus (secara kameranya alakadarnya ;p). 

Mesjid tampak depan
Keistimewaaan mesjid ini diantaranya adalah keberadaan enam payung hidrolik yang mengadaptasi teknologi di Mesjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Selain itu, terdapat Menara Asmaul Husna (atau Menara Al Husna) dengan tinggi 99 meter - merepresentasikan 99 Asmaul Husna - yang merupakan menara tertinggi di Semarang, di lantai satu ada lobby dan loket pembelian tiket, di lantai dua dan tiga ada museum perkembangan Islam, di lantai 18 ada resto putar yang buka sampai jam setengah sembilan malam, sementara di lantai 19, kita bisa menikmati pemandangan kota Semarang secara langsung atau pun dengan menggunakan teropong (waktu kami ke sana teropongnya sedang dalam pemeliharaan, jadi ngga bisa dipakai ;p). Untuk naik ke lantai 19 kita mesti membayar limaribu rupiah per orang. Menara ini dibuka dari jam delapan pagi sampai jam sembilan malam dengan dua kali istirahat pada jam setengah duabelas sampai setengah satu dan jam setengah enam sampai setengah tujuh.

Kami naik sekitar jam delapan malam, dan begitu sampai di atas, rasanya tidak berlebihan kalo dibilang perjalanan kami hari itu ditutup dengan spektakuler - pemandangan lampu kota sejauh mata memandang membuat saya kehilangan kata-kata. Saran saya, supaya dapet view mesjidnya dengan pencahayaan maksimal, datanglah sekitar bada Ashar, trus tunggu sampai setelah Maghrib atau Isya buat naik ke menara, supaya dapet view kota Semarang di malam hari.

Mesjid dengan latar belakang lampu kota dilihat dari Menara Al Husna
Untuk menutup perjalanan hari pertama, dari mesjid kami berburu makan malam di sekitar kampus Undip (ga tau area persisnya, yang jelas kami melewati tugu yang bertuliskan Universitas Diponegoro). Kawasan ini  lumayan rame (mungkin karena waktu itu malem minggu), setelah kami muter-muter, kami akhirnya memutuskan untuk makan di salah satu tempat makan dan memesan pecel koyor. Saya sebenernya ngga tau koyor itu apa, tapi kata Pak Bagyo, potongan daging sapi, eh, ternyata koyor itu urat sapi. Berhubung saya ngga begitu suka makanan yang aneh dan kenyal-kenyal gitu, akhirnya koyornya ngga saya makan (cuma dicobain satu atau dua potong, dan ngga diterusin, soalnya rasanya kaya makan lilin) ;p Pas bayar, kami dikagetkan dengan harga satu porsi pecel koyor yang ajaib, duapuluh duaribu rupiah, entah harganya emang mahal karena koyornya mahal atau kami ini korban pedagang oportunis (yang pasti tau kami ini turis, soalnya saya sadar kami cukup mencolok dan memperlihatkan ke-turis-an kami ;p). Oh ya, bumbu pecelnya pedes loh, kayanya sih buat saya bakal lebih enak kalo makan nasi pecelnya aja, ngga pake koyor ;p

Pecel koyor ajaib
Habis makan, sekitar jam setengah sebelas atau jam sebelas, kami kembali ke hotel dan segera terlelap. Demikianlah petualangan hari pertama (panjang banget ya, sampe tiga bagian?! ;p). 

Berikutnya, kalo masih mau ngikutin, saya ceritain petualangan hari kedua. Sampe ketemu yaa, doakan saya konsisten buat nulis terusannya dan semoga menjadi bagian terakhir dari caper Semarang ini :D


  

Thursday, December 29, 2011

Caper Semarang - Bagian Dua


Sebelumnya... Dari TMM, kami menuju Lawang Sewu, gedung seribu pintu!!!

Lawang Sewu berlokasi di sisi timur Tugu Muda Semarang, di persimpangan Jalan Pandanaran dan Jalan Pemuda, dibangun di masa penjajahan Belanda, desainnya dirancang oleh Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Ouendag di Amsterdam pada 1903, pembangunannya dimulai tahun 1904 dan selesai tahun 1907 menggunakan bahan yang didatangkan dari Eropa, kecuali batu bata, batu alam, dan kayu jati. Pintu dan jendela yang banyak dan lebar (yang mengilhami sebutan Lawang Sewu) dimaksudkan oleh perancangnya untuk menyesuaikan gedung yang dibangun dengan iklim tropis di Semarang. Di masa Belanda, gedung ini digunakan sebagai Het Hoofdkantoor van de Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) atau Kantor Pusat Perusahan Kereta Api Swasta NIS, sementara di masa pendudukan Jepang digunakan sebagai benteng pertahanan. (sumber: mas Wiki dan mas pemandu – lupa ngga nanya namanya ;p)
Berpose di Depan Gedung A
Setelah kemerdekaan, gedung ini digunakan sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI), pernah juga digunakan sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah Kementerian Perhubungan Jawa Tengah. Sejarah lebih lengkapnya mendingan cari sendiri aja yah, biar cepet ;p

Semenjak kemunculannya di suatu acara televisi, Lawang Sewu mulai dikenal luas dan dijadikan tujuan wisata (meskipun mungkin awalnya buat wisata misteri-misteri begitu). Makanya, ada hikmahnya juga ternyata, untuk lebih menarik minat pengunjung, gedung ini dipugar dan diperbaiki sehingga lebih layak-kunjung dan ngga terkesan terlalu menyeramkan (seperti umumnya bangunan tua yang terbengkalai), alhasil, pemasukan juga tuh buat PT KAI (Persero) – pemilik gedung saat ini.

Untuk berkeliling di Lawang Sewu, tiket masuknya sepuluhribu rupiah per orang, nambah tigapuluhribu lagi kalo mau ditemani pemandu (yang bisa sekalian dimintain tolong buat motret ;p). Kompleks Lawang Sewu terdiri atas empat gedung. Gedung A di bagian depan berbentuk L, saat kami ke sini, sedang dalam proses perbaikan, jadi ditutup. Gedung B memanjang di hadapan Gedung A, di sinilah letak penjara bawah tanah. Seluruhnya ada empat lantai berarti, pertama ada penjara bawah tanah, trus lantai satu dan dua berupa gedung perkantoran, lantai tiganya ngga ada apa-apa siy, berupa bukaan luas di bawah atap (loteng).  Di Gedung C ada museum yang menceritakan proses pemugaran gedung, ada koleksi bagian gedung juga, seperti batu bata penyusun struktur, engsel pintu, dsb., ada yang asli, ada juga yang replika. Gedung D, ngga tau isinya apa, lupa nanya :D

Alur Kunjungan Wisata
Nah, sebenarnya ada berapa banyak pintu di Lawang Sewu? Seribu? Ngga kok, ini cuma kebiasaan orang kita aja yang suka males ngitung, sama kasusnya dengan kaki seribu. Waktu saya tanya jumlah tepatnya, pemandunya cerita, katanya dulu udah ada yang pernah menghitung, tapi hasilnya berbeda, ada yang bilang 523 pintu, ada yang bilang 532 pintu. Katanya ini padahal pintu yang udah dihitung ditandai (jadi rada-rada berbau mistis gitu deeeh ;p). Trus, saya nanya lagi, memangnya udah berapa banyak orang yang menghitung? Dia jawab, dua orang itu aja. Nah loh, kalo secara statistik kan dua data itu tidak bisa diterima.. ngga bisa diambil kesimpulan apa-apa. Bisa aja metode penghitungannya beda, trus definisi pintu yang dihitungnya juga bisa aja beda, jadi banyak faktornya kan?! Kenapa ngga dihitung ulang aja yah dengan beberapa kelompok, trus metodenya jelas, kategori pintunya jelas, pokoknya seilmiah mungkin?! Jadi kan nanti kita bisa tau pasti dan ngga mesti terus-terusan menyerah pada hal-hal ngga logis :) Mungkin orang ngga sepenasaran itu kali ya? (masih banyak hal yang lebih penting buat dipikirkan, ketimbang jumlah pintu Lawang Sewu ;p) Dan lagi, kalo ada unsur misterius kan jadi lebih menjual?! :D 

Pintunya banyak kaan?! 

Dari lantai dua, kami kembali ke lantai satu, Gedung B bagian belakang, di sini adalah pintu masuk menuju ke ruang bawah tanah, di tembok depannya ada peringatan: DILARANG KERAS! MELAKUKAN SEGALA KEGIATAN MISTIS DI GEDUNG LAWANG SEWU DAN LINGKUNGANNYA. Untuk menjelajah penjara bawah tanah (ditemenin pemandu, tentu saja :D), bayar lagi sepuluhribu, kita dipinjemin sepatu bot karet dan senter, soalnya di dalamnya tergenang air sekitar semata kaki dan gelap (meskipun ada lampu juga siy).
Berjalan di lorong bawah tanah yang tergenang air
Menurut pemandu kami, ruang bawah tanah ini fungsi aslinya di zaman Belanda adalah untuk penampungan air, sedangkan orang Jepang menggunakannya sebagai ruang tahanan. Tangga dan pegangan tangga menuju ke bawah terbuat dari kayu dan masih asli (maksudnya struktur asli, belum pernah diganti). Di bawah, kami menelusuri lorong gelap, pada jarak tertentu terdapat bukaan-bukaan semacam pintu kecil. Di dalam bukaan tersebut terdapat petak-petak seperti kolam, tingginya mungkin sekitar 50 atau 60 cm. Katanya ini awalnya untuk penampungan air, kemudian digunakan sebagai penjara jongkok, dimana 5-6 orang tahanan ditempatkan di satu petak dalam keadaan jongkok dan terendam air hingga leher, kemudian bagian atasnya ditutupi dengan jeruji besi. Di bagian lain, ada bekas-bekas kaki meja tempat eksekusi pancung tahanan, dilengkapi dengan bak pasir disebelahnya yang katanya berfungsi untuk menyerap darah yang menetes dari tubuh-tubuh dan kepala yang sudah dieksekusi, potongan tubuh disimpan di sini sebelum dipindahkan ke sejenis bak penghubung ke luar di dinding seberangnya untuk selanjutnya dibuang ke sungai. Di bagian lainnya lagi, ada deretan penjara berdiri, ukurannya mirip toilet, sekitar 1 x 1 m, tiga sisinya terbuat dari tembok dan satu sisinya berupa jeruji besi (tapi jerujinya udah ngga ada), satu petak diisi 5 orang yang berdiri berhimpitan. Terbayangkan bagaimana perlahannya kematian datang pada para tahanan di sini? Mengapa tidak ditembak saja, tanya teman saya. Entahlah, tapi secara logis mungkin pilihan ini adalah yang paling efisien untuk tentara Jepang, kalo ditembak, maka itu artinya mereka menghamburkan peluru yang berharga (buat mereka). Kejam memang. 

bersambung lagi ah... (capee ;p)

Monday, December 26, 2011

Caper Semarang - Bagian Satu

Saat bercerita tentang rencana kepergian ke Semarang, rata-rata orang (yang saya ajak cerita, tentu saja ;p) menanyakan hal yang sama. 'Ke Semarang? Memang ada apa di Semarang?' Iya ya, ada apa sih di Semarang? Yah, niat awalnya siy memang bukan sengaja mau jalan-jalan di Semarang, tadinya kami cuma mau numpang lewat aja, tujuan kami adalah Karimun Jawa (KarJaw). Tapi naasnya, kami tidak berhasil dapet tiket feri dari Semarang, sementara tiket kereta Bandung-Semarang-Bandung sudah di tangan (btw, OOT, sebenernya, klo mau cari penyebabnya, ini gara-gara provider trip KarJaw yang kurang sigap ngasi kepastian, tapi ya udah.. nasi sudah menjadi bubur, sekalian aja kita buat bubur komplit yang enak :D)

Kembali ke soal Semarang, sepertinya siy kota ini memang tidak seterkenal Jogja atau Bandung sebagai kota tujuan wisata (setidaknya buat saya ;p), jadi objek wisatanya juga ngga terlalu banyak. Kemarin, hari pertama, kami mengunjungi Klenteng Sam Poo Kong, Taman Margasatwa Mangkang, Lawang Sewu dan Tugu Muda, rehat makan di Kampung Laut, trus ke Maerokoco dan Pantai Marina, kemudian sholat Maghrib dan Isya di Mesjid Agung Jawa Tengah. Trus, hari kedua, kami mengunjungi Borobudur, aja - soalnya perjalanan Semarang-Magelang ternyata cukup makan waktu, trus belanja-belanja oleh-oleh dan langsung ke Stasiun setelah mampir sebentar ke Gereja Blenduk. Overall, saya puas jalan-jalan di Semarang :D Nah, itu overviewnya.. di bawah ini cerita lengkapnya (yah, selengkap yang ingatan saya mampu simpan ;p)

Bandung-Semarang

Kami berangkat ke Semarang menumpang kereta api Harina jam 20.30 dari Stasiun Bandung. Rute kereta cukup unik (buat saya yang jarang naik kereta), soalnya ternyata arahnya ngga langsung ke timur, tapi ke barat dulu, kaya mau ke Jakarta. Begitu sampai di Cikampek, barulah keretanya di arahkan ke timur, tapi ke utara (arah Cirebon, kayanya), bukan ke selatan kaya mau ke Yogya atau Surabaya. Di Cikampek, lokomotifnya dipindah ke ujung yang lain, jadi misalkan dari Bandung ke Cikampek kita bergerak maju, berarti dari Cikampek ke Semarang kita bergerak mundur. Perjalanannya lancar, berhubung malam, jadi ngga ada pemandangan yang bisa dinikmati dari jendela, lagian saya kebagian duduk di kursi lorong, dan mengingat tujuan kami pergi adalah buat jalan, maka perjalanan ini saya manfaatkan buat tidur sebanyak mungkin :)

Semarang, hari pertama

Sekitar jam lima lewat, kereta kami sampai di Stasiun Semarangtawang. Turun kereta, kami mengantri buat pipis di toilet gratis (asiiik!! gratis ;p) dan sholat Subuh. Jam enam, kami sudah meluncur dengan mobil yang sudah kami sewa buat jalan selama di sini. Tujuan pertama adalah mencari sarapan. Pengemudi yang menemani kami namanya Pak Bagyo (atau Bagio, ya?!), bapaknya sudah lumayan berumur, penampakannya kalem dan menurut saya, beliau ini sabar sekali (mengingat kami-kami ini yang harus beliau hadapi ;p). Nah, atas petunjuk beliau, kami sarapan di Jl. Thamrin, di Soto Ayam Pak Darno. Soto Ayam Pak Darno ini disajikan di dalam mangkuk kecil (awalnya saya pikir, kok porsinya kecil amat siy?!), trus di mejanya disediakan lauk seperti sate telur, sate kerang, sate usus, perkedel kentang, tempe goreng, tahu goreng, dan kerupuk. Setelah dimakan, ternyata porsinya memang pas (buat saya ;p), kalo rasanya siy biasa aja, enak, tapi bukan enak banget, ya biasa aja, yang jelas waktu itu cuacanya udah panas (padahal masih pagi), dikombinasi sama makan kuah soto yang panas dan teh panas, ya jadinya panas pangkat tiga.


Soto Ayam Pak Darno
Beres sarapan, sekitar jam 6.45, kami menuju Lawang Sewu, tapi ternyata belum dibuka (bukanya mulai jam 7), maka kami pun menuju Klenteng Sam Poo Kong. Untuk masuk klenteng, tiket masuknya tiga ribu rupiah per orang, itu buat keliling-keliling di lapangan depannya, kalo mau masuk ke klentengnya, mesti bayar lagi duapuluh ribu. Klenteng ini adalah salah satu tempat ibadah orang-orang Kong Hu Cu di Semarang, katanya dulu merupakan tempat persinggahan Laksamana Agung Zheng He (atau yang kita kenal dengan nama Laksamana Cheng Ho). Arsitekturnya keren, warna bangunan yang didominasi warna merah kontras banget dengan warna biru langit yang saat itu cerah ceria, puas deh foto-foto alakadarnya di sini. Saya belum pernah ke klenteng sebelumnya, apalagi ke Cina, jadi saya ngga bisa mendeskripsikan kalo kunjungan ini membuat saya merasa ada di Cina :) Sempet baca papan pengumuman yang memuat informasi jadwal acara sembahyang, trus di situ ada tulisan salah satu acara ritualnya berupa paket sesajen bersama, yang dapat dipesan seharga duaratus ribu per paket. Saya pikir, wah, mahal juga ya, buat beribadah aja mesti bayar. Puas mengambil gambar dan berkeringat sampe berasa dehidrasi (padahal masih jam delapan pagi loh!!), kami bergegas menuju lokasi berikutnya.

Klenteng Sam Poo Kong
Dari Sam Poo Kong, atas saran Pak Bagyo (lagi), kami meluncur ke Taman Margasatwa Mangkang (demi kepraktisan, kita singkat jadi TMM), perjalanan ke sini melewati terminal Mangkang (mungkin Leuwipanjang atau Cicaheum-nya Bandung). Karena cuma lewat, kami hanya bisa melihat bagian depannya saja, kesimpulan kami, terminalnya bagus deh, besar, terawat dan tampak teratur, sangat berbeda dengan terminal di Bandung (biasa lah ya, rumput tetangga selalu lebih hijau ;p). Masuk ke kawasan TMM, tempatnya ngga terlalu rame, di depannya ada keterangan kalo di situ juga ada Waterboom. Kami ngga ke waterboom, tapi ke TMM-nya aja, bayar tiket masuknya cukup limaribu rupiah per orang (tarif ini berlaku sepanjang tahun, kecuali seminggu setelah lebaran, tarifnya jadi tujuhribu limaratus). Murah ya?! Dalam hati udah waspada aja bakal melihat pemandangan mengenaskan binatang-binatang dalam kurungan yang dirawat alakadarnya, di Kebun Binatang Bandung aja, yang tarif masuknya lebih mahal, binatangnya terlihat merana begitu, kok kayanya masa depan mereka suram banget :( [ada buku yang membahas sedikit soal dunia perkebunbinatangan ini, udah baca Life of Pi? Nanti deh saya ceritain terpisah ;D]


TMM ini areanya cukup luas (persisnya? silakan cari tau sendiri ya ;p), koleksi binatangnya ngga terlalu banyak sepertinya, dan ngga banyak yang aneh sih. Jadinya, kunjungannya agak garing (ditambah kenyataan udaranya yang panas banget!!). Di sini kami sempet naik gajah (ceritanya biar berasa di Thailand), cukup bayar limaribu rupiah buat pengalaman menunggang gajah selama kurang lebih lima menit (kayanya). Oh ya, sesuai dugaan, nasib binatang-binatang di sini juga sepertinya ngga terlalu bahagia, sangkar elangnya terlihat kotor dan menurut saya kekecilan (ukurannya mungkin sekitar 5 x 5 x 5 m), kasian deh elangnya, ngga bisa memenuhi fitrahnya untuk terbang tinggi, mereka cuma bisa terbang pendek-pendek begitu, mana seru.. trus ada juga landak yang ditempatkan di semacam bak yang dasarnya berlapis acian semen, ada juga harimau dan singa yang ditempatkan di kandang individual, interior kandangnya minimalis banget, ngga ada benda apa pun yang bisa dijadikan tempat main atau apa gitu (kebayang deh bosennya mereka, hidup di kandang yang begitu). Nah, yang paling ajaib (buat saya) adalah kandang ular, berupa bangunan persegi dengan taman di tengahnya, trus di tiap sudut ada pintu, awalnya saya ngga paham maksud pintu itu, eh, ternyata itu maksudnya kandang ular. Pintu berupa kaca transparan yang agak kucel setinggi pintu normal, saat saya melongok ke dalamnya, ternyata di dalamnya ada ular (kebanyakan siy ular phyton sepertinya), ada yang sendiri, ada juga yang dua atau tiga ekor per kandang. Kandang ular juga sama minimalis dengan kandang harimau, padahal biasanya kan suka ada dahan pohon atau semacamnya buat sang ular pasang aksi, di sini ularnya teronggok begitu saja di lantai semen. Di tamannya ada juga ular atraksi buat foto bareng, bayarnya sepuluhribu. Trus, yang paling ajaib, di pinggir taman, ada semacam gua kecil dari semen yang ternyata dihuni seekor ular, ularnya melingkar begitu saja tanpa pembatas apa-apa. Tempatnya siy memang di pinggir, nggak akan terganggu oleh pengunjung yang hilir-mudik, tapi tetep aja sereem.

Kandang Elang Hitam

Dari TMM, kami menuju Lawang Sewu, gedung seribu pintu!!! 

bersambung... (sequel in process, silakan menunggu kalo penasaran, kalo ngga, ya udah ;p)