Tuesday, February 14, 2012

anak-anak - sang guru kehidupan

Ini cerita tentang keponakan saya yang pertama..jadi inget gara-gara pembicaraan akhir minggu kemarin soal hari valentine..

Berhubung udah lama meninggalkan dunia akademis dan ngga pernah lagi mentoring, saya udah lupa sejarah hari valentine, trus gimana biasanya anak-anak rohis atau DKM atau sejenisnya akan heboh untuk menyebarluaskan segala hal tentang hari valentine yang ngga sesuai dengan ajaran Islam. Informasi bisa diberikan lewat buletin kecil bahkan bisa juga ada semacam ta'lim atau pengajian pada hari-H, 14 februari..

Setelah bercerita, keponakan saya bilang begini.. 'aneh juga ya memperingatkan supaya ngga memperingati hari valentine di hari valentine, berarti kan sama aja memperingati juga, memperingati dengan cara mengingatkan supaya tidak merayakan?!?!'

Iya kan?! Klo ga salah ini namanya psikologi terbalik (?), sama kasusnya kaya kita disuruh supaya jangan ingat gajah, maka yang kita ingat justru gajah, atau sama kaya kasus rhoma irama yang menghujat goyangan inul yang justru malah membuat inul makin merajalela, atau sama kaya MUI yang memboikot atau melarang peredaran film-film kontroversial, yang ada justru orang-orang malah jadi pengin nonton karena penasaran. (jadi penasaran, apakah yang terlihat memang yang sebenarnya?! Mungkin ngga sih MUI justru bekerjasama dengan produser film untuk mendongkrak penjualan tiket?!) :p

Oh ya, soal keponakan saya, ngga hanya dia sih, tapi secara umum saya sering terkagum-kagum dan terheran-heran dengan anak-anak. Dulu, waktu dia masih sd, pernah nanya begini: 'kata guru agama, miskin itu ujian, kaya juga ujian, musibah itu ujian, rezeki juga ujian.. Jadi, kapan dong kita ngga diuji?!' Nah lo?! Pertanyaannya berat sih klo kata saya, tapi mesti dijawab. Saya percaya, menjawab pertanyaan anak-anak ngga boleh sembarangan, mereka bertanya karena pengin tau dan percaya kalo kita bisa ngasi jawaban. Klo ngga tau, ya bilang aja ngga tau, jangan ngarang... Karena jawaban kita mungkin akan berpengaruh besar pada kehidupannya.. (lebay ;p)

Kadang-kadang, pertanyaan mereka justru pertanyaan kita juga, tapi kita ngga pernah terpikir untuk mempertanyakan atau ya gitu deh.. Kadang-kadang kita udah ngga punya atau ngga sempet memelihara rasa ingin tau..

Makanya, klo nonton Oprah, saya suka deh klo dia udah nanya sama tamunya soal anak sang tamu, biasanya dia nanya: 'Jadi, pelajaran apa yang kamu dapat dari anakmu?' dan bukannya pertanyaan umum soal kebisaan anak, misalnya udah bisa ngomong, baca, dsb. :)


Published with Blogger-droid v2.0.4

Sunday, February 12, 2012

STIFF - Kehidupan Ganjil Mayat Manusia

Buku yang ditulis Mary Roach ini diterbitkan tahun 2003 dengan judul Stiff: The Curious Lives of Human Cadavers. Mengutip deskripsi di sampul belakangnya, buku ini 'adalah eksplorasi mengagumkan sekaligus menggelikan tentang kehidupan aneh yang dialami tubuh pascakematian'. Mary Roach ini memang jurnalis keren dengan tulisan khas yang informatif sekaligus jenaka, beliau inilah yang menulis soal simpanse di National Geographic yang pernah saya ceritain.

Buku ini terdiri atas dua belas bab yang membahas mulai dari praktik bedah pada mayat, kisah awal pembedahan manusia, proses pembusukan, uji-hantam manusia tentang toleransi tabrakan, cerita mayat tentang kecelakaan pesawat, studi tentang peluru dan bom, eksperimen penyaliban, definisi kematian, pencarian jiwa, cangkok kepala, kanibalisme, dan pilihan-pilihan yang dapat kita ambil saat kita menjadi mayat.

Buku ini juga lumayan provokatif, kalo kata saya. Saya lumayan terpengaruh dengan bagaimana kita dapat memberikan kontribusi ilmiah setelah mati. Seperti kata-kata penulis, '.. ada banyak cara lain untuk menghabiskan waktu Anda sebagai mayat. Terlibatlah dalam ilmu pengetahuan. Ikutlah ambil bagian dalam pameran seni. Jadilah bagian dari pohon. Itu beberapa pilihan untuk Anda pertimbangkan. Kematian tidak harus membosankan.'

Friday, February 10, 2012

Kisah Pi

Judul asli buku yang ditulis Yann Martel ini adalah Life of Pi, versi bahasa Indonesia-nya diterjemahkan oleh Tanti Lesmana dan diterbitkan oleh Gramedia di bulan November 2004, salah satu cetakannya saya jadikan hak milik tanggal 11 Desember 2004 (keterangan terakhir sebenernya fakta yang ngga penting ;p). Alasan saya beli buku ini karena saya suka melihat gambar sampulnya - perahu putih berisi seorang manusia yang meringkuk  di ujung perahu dan seekor harimau besar di ujung lainnya, berlatar laut biru dengan ikan berbagai ukuran dan penyu. Alasan lainnya, tulisan di sampul belakangnya yang berbunyi begini:

Pada tanggal 21 Juni 1977, kapal barang Tsimtsum berlayar dari Madras menuju Canada. Pada tanggal 2 Juli, kapal itu tenggelam di Samudra Pasifik. Hanya satu sekoci berhasil diturunkan, membawa seekor hyena, seekor zebra yang kakinya patah, seekor orang-utan betina, seekor harimau Royal Bengal seberat 225 kg, dan Pi - anak lelaki India berusia 16 tahun. Selama lebih dari tujuh bulan sekoci itu terombang-ambing di Samudra Pasifik yang biru dan ganas. Di Samudra inilah sebagian Kisah Pi berlangsung. Kisah yang luar biasa, penuh keajaiban, dan seperti ucapan salah satu tokoh di dalamnya, kisah ini akan membuat orang percaya pada Tuhan. 

Buku ini terdiri dari tiga bagian yang didasarkan pada lokasi kejadiannya. Bagian satu - Toronto dan Pondicherry, bagian kedua - Samudra Pasifik, dan bagian ketiga - Rumah Sakit Benito Juárez, Tomatlán, Meksiko. Rasanya mesti baca lagi nih buat lebih menghayati makna ceritanya :D

Waa.. baru liat ternyata udah ada versi filmnya juga!!! Tapi baru akan rilis akhir taun ini!! Liat aja di sini! :) 

Seriously, i’m (not) having fun!!

Kemarin pagi jadi juga mengurus perpanjangan KTP. Biar ngga bolak-balik, sebelumnya saya cari dulu info soal prosedurnya, ke mana? Ke mbah google, tentu saja :) Ternyata info soal hal-hal begini ngga banyak tersedia. Beberapa sumber yang menurut saya lumayan informatif ada di website kota Bandung dan satu blog milik RT. Jadi mikir, keren ih, ada RT yang mau buat blog sendiri!! Seandainya semua RT kreatif begini :D 

Sebetulnya jam kerja kelurahan mulai jam berapa sih?! Saya awalnya datang sekitar jam 7.40, pintunya masih tertutup, jadi aja saya mesti pulang lagi. Percobaan kedua, saya datang jam 8.15-an, udah buka, tapi petugasnya lagi keluar (beli rokok ;p). Ngga berapa lama, petugasnya datang, trus ya gitu deh, petualangan dimulai. 

Jadi, buat perpanjangan KTP, pertama kita pergi ke kelurahan dengan membawa KTP terakhir (yang ngga diliat sama sekali ;p), pengantar RT dan atau RW, fotokopi Kartu Keluarga, dan dua lembar pas foto (2 x 3) cm. Trus di kelurahan ngisi formulir permohonan pembuatan KTP, di-registrasi (baca: disalin ke semacam buku besar dan dinomori) sama petugasnya, selesai! (di kelurahan). Kemudian, berkas yang diatas kita bawa ke kecamatan, di sana disalin lagi ke buku besar yang lain, diberi nomor registrasi lagi, trus kita dikasi resi (semacam pengganti) untuk pengambilan KTP nanti. Resinya berlaku 14 hari sejak penerbitan, jadi mestinya KTP itu harus sudah selesai setelah 14 hari. 

Sederhana kan?! Iya sih, tapi.. gimana yaaa?! Mungkin karena dasarnya saya ngga sabaran, saya jadi sering sebel dan kesel dengan pelayanan petugas kelurahan dan kecamatan yang lambat. Udah lambat, masih juga minta biaya administrasi di akhir. Yang lebih ganggu lagi, waktu ditanya, berapa, jawabnya terserah. Maksud saya, ya berarti kalo saya ngga ngasi juga boleh dong?! Bukan masalah jumlah rupiah, hanya saja, please deeeh.. dia cuma nyalin data ke buku, trus ngasi cap dan tanda tangan, dalam waktu yang relatif lama (kata saya). Parahnya, pelayanan yang lambat ini dianggap biasa dan waktu saya nanya, kesannya malah saya yang ngga sabaran (yang bisa jadi emang bener juga sih ;p). 

Hal yang lucu buat saya adalah keterangan yang ditempel di front desk-nya yang berbunyi: HARAP MENUNGGU DENGAN TENANG. Sepertinya, mereka udah tau, kalo pelayanan yang diberikan akan cenderung mengusik ketenangan, makanya kami yang datang untuk mendapatkan pelayanan ini butuh untuk diingatkan :D 

Cerita soal pelayanan publik oleh kantor pemerintah, kayanya saya punya banyak komentar soal ini. Salah satu komentar, menurut saya, mestinya kantor pemerintah itu pengelolaannya udah harus menerapkan sistem manajemen tertentu, misalnya ISO 9001 dsb., seperti di perusahaan-perusahaan. Tiap kantor mesti ada sertifikasinya, keren kan?! Sekolahan aja udah banyak yang tersertifikasi ISO, padahal urusannya mungkin ‘hanya’ terkait seribu orang murid, jauh lebih sedikit kalo dibandingkan dengan kantor kelurahan. Hasil kunjungan kemarin, di kelurahan tempat tinggal saya, ada 13.890 penduduk; 7.042 laki-laki dan 6.748 perempuan. Jumlah yang jauh lebih besar dari pada jumlah siswa di satu sekolah, kan?! Berkali-kali lipat dari jumlah karyawan suatu perusahaan, kan?! Jadi, kalo perusahaan dan sekolah yang urusannya ngga sebanyak kelurahan aja mesti menerapkan sistem manajemen mutu, apalagi kelurahan kan?! Ribet?! Ngga juga ah, jumlah penduduk bisa jadi banyak, tapi ngga akan semuanya serentak butuh KTP, Kartu Keluarga, dll. dalam waktu yang sama, kan?! Dan kayanya urusan kelurahan kan udah jelas jenisnya, ngga kaya perusahaan yang mungkin melakukan diversifikasi usaha, kalo kelurahan kan urusannya gitu-gitu aja, jadi mestinya lebih gampang untuk menerapkan sistem manajemen mutu yang berkualitas. 

Wah, jadi kepikiran ide buat mengurus kelurahan, nih, mari berkhayal!! :D

Wednesday, February 8, 2012

having a serious fun and having fun seriously

Kalimat di atas adalah salah satu kata mutiara yang saya dengar dari Mario Teguh, ngga begitu nyambung dengan yang saya ceritain di bawah, ngga apa-apa kan??!!

Skenario indah tahun ini, katanya sih tahun ini ngga akan ada kunjungan audit dari WHO, jadi, kemungkinan tahun ini akan ada kesempatan buat menambah kompetensi melalui pelatihan eksternal, yang bisa jadi, akan berlangsung di luar negeri. Asiiik!! Jadi?? Ya, biar ngga ribet, mesti siap ke luar negeri dari sekarang (Ge-eR mode :D), biar nanti pas ada kesempatan, udah tinggal berangkat, ngga banyak yang mesti diurus. Jadi, gimana kalo bikin paspor dari sekarang?! Yah, mesti ngurus perpanjangan KTP dulu berarti!! Sudah sebulan lebih KTP saya kadaluarsa, inget sih, tapi males buat ngurus perpanjangannya. Udah kebayang aja birokrasi ala pemerintahan yang ribet dan membuat frustrasi. Jadi, kayanya kalo ngga kepepet, saya ngga mau berurusan sama kantor pemerintahan, apa pun fungsi dan tingkatannya. Nah, sekarang kayanya sudah akan kepepet nih. Tadinya sih saya mau nungguin program e-KTP yang katanya bakal diselenggarakan di bulan Maret, tapi jadi was-was juga kalo menunda lebih lama. Dalam waktu dekat, kalo jadi, saya mau ke luar kota, ngga lucu yah kalo ntar terjaring operasi gara-gara ngga punya KTP yang masih berlaku (baru sadar sekarang, padahal dari kemaren ke Jogja cuek aja ;p).

Masalahnya, saya ngga percaya sama pemerintah!! Perasaan ngga ada manfaatnya deh (*ssst!! jangan bilang-bilang ya?! ^_^v) Terakhir kali saya berurusan (langsung) dengan pemerintahan, di pertengahan 2010 ke kelurahan, waktu mau minta surat pengantar untuk pembuatan SKCK (terakhir saya buat SKCK tahun 2001, waktu mau kuliah, back-up plan siapa tau ngga lulus UMPTN, bakal masuk STAN – untung juga ngga jadi sekolah di STAN, ntar ketularan jadi kaya Gayus, iiih!! OOT ;p). Saya datang sekitar jam delapan (atau jam sembilan ya?!), trus bingung, ada beberapa orang pegawai, tapi pada asik sendiri, yang satu lagi baca tabloid (atau koran – lupa ;p), lainnya ngobrol, ada juga yang ngerokok, yang jelas, semuanya tampak santai dan ngga ada kerjaan. Waktu saya menjelaskan maksud kedatangan saya, saya disuruh bawa dulu surat pengantar dari RT, jadi aja mesti balik lagi ke pak RT (ngga pengalaman, soalnya dulu waktu pertama buat SKCK dianter kakak, langsung ke kepolisian). Setelah dapet surat pengantar RT, ngantri sama Bapak yang ngurusin surat-menyurat, beliau lagi buat surat keterangan buat seorang ibu yang suaminya sedang dirawat di rumah sakit. Ngetiknya pake mesin tik, lamaaaa banget, udah gitu nanya-nanya dulu sama si Ibu, nama dan usia anaknya (yang dibawa sama si Ibu), saya pikir, kok si Bapak sempet-sempetnya nanya-nanya soal anaknya sih, kan ngga relevan. Setelah lama, suratnya selesai, giliran saya dibuatkan surat. Sekejap kemudian, waktu si Bapak baru mau ngisi nomor surat, si Ibu yang tadi kembali, ternyata surat keterangan yang dibuat sekian lama itu salah isi, mestinya buat suaminya, tapi si Bapak nulis buat anaknya! (pantesan tadi nanya soal anaknya..:P) Nah, ntar kalo saya ngurus perpanjangan KTP bakal ribet lagi ngga ya?!! 

Meskipun saya males berurusan sama birokrasi pemerintah, tapi bukan berarti saya lebih suka untuk memanfaatkan ‘jalur-cepat-berbayar-lebih’ atau mendelegasikan urusan ini sama oknum yang namanya calo. Ngga gimana-gimana sih, tapi rasanya curang dan jadinya saya seakan-akan menyetujui, bahkan membenarkan praktik ini, yang artinya secara tidak langsung (atau langsung?!) saya mendorong keberadaannya. Selama ada penggunanya, ntar ujung-ujungnya ngga akan ada perubahan, praktik semacam ini akan menjadi sesuatu yang diterima sebagai hal yang wajar, padahal tetep aja ngga bener, kan?! Jadi??? Ngga tau deh, tapi rasanya lebih nyaman kalo mengikuti jalan yang benar dan berliku dari pada mengikuti jalan cepat yang tidak benar. Masalahnya, kadang-kadang (bahkan seringkali), waktu adalah kemewahan :D  

Tuesday, January 31, 2012

last post @januari

Sekarang lagi banyak bacaan yang terbengkalai.. Midnight's Children-nya baru nyampe halaman 44, berhubung bukunya agak besar, jadi ribet kalo mesti dibawa-bawa, makanya jadi bahan bacaan buat di rumah aja. Tapi, antara nonton tv, buka internet, makan, tidur, nyuci, nyetrika, dsb., baca buku jadi aktivitas terakhir yang dilakukan di rumah akhir-akhir ini :)

Bacaan di tempat kerja, buat obat ngantuk atau menghalau bosan, setelah tamat Suzumiya Haruhi, dua minggu terakhir ini lagi baca Jane Eyre, baru sampe bab 17, dari keseluruhan 39 bab (kalo ngga salah).  Awalnya baca novel ini agak melelahkan, mungkin karena belum terbiasa, sekarang-sekarang sih agak mudah, meskipun tetep aja banyak kosakata yang saya ngga tau artinya.. untuk kata-kata tertentu, kadang buka kamus buat cari artinya, tapi lama-lama kata-kata yang ngga dikenal tambah banyak, jadi ya dicuekin aja, cape kalo harus sering buka kamus, yang penting kan intinya dapet - meskipun ngga yakin juga sih. Ceritanya udah tau, liat di wikipedia juga ada, udah liat filmnya juga (versi yang ada Michael Fassbender-nya). Gara-gara liat versi film duluan, jadinya tokoh-tokoh yang digambarkan kebayangnya ya aktor dan aktris di film itu.. 

Wah, jadi pengin liat Micahel Fassbender lagi.. ngga sabar pengin nonton A Dangerous Method, di film ini beliau berperan sebagai Carl Jung bareng sama Viggo Mortensen yang jadi Sigmund Freud, ada Kiera Knightley-nya juga.

pesta buku bandung

Mulai besok sampe 7 februari ada pesta buku bandung di landmark, jalan braga 129. Penyelenggaranya ikapi dan pemkot bandung. Di spanduknya sih diskon sampe 70%, lumayan klo mau nambah antrian bahan bacaan dan menuhin lemari buku.


Soal diskon, mesti hati-hati juga, jangan kalap, dulu saya pernah beli buku di pameran buku seperti ini dengan diskon yang lumayan besar, eh, ternyata pas liat di toko buku online, harga setelah diskon masih lebih mahal dari harga aslinya, rugi deh. Jadi, pastikan tau harga aslinya dulu biar ngga rugi kaya saya..


Yuk kita kunjungi!! Sampe ketemu yaa :) selamat ngeborong juga!!!


Published with Blogger-droid v2.0.4

luntang lantung (lagi)

Alhamdulillah sepi kerjaan lagi.. Waktunya meningkatkan kompetensi!!!! Belajar bahasa inggris lewat novel jane eyre, lumayan dapet bab 17. Trus belajar statistik, soal moving range chart. Biar lebih nempel, sambil ditulis juga..metode ini cukup efektif klo buat saya. Selamat belajaaar!!!! :D


Published with Blogger-droid v2.0.4

Monday, January 30, 2012

tas manis dan sepatu cantik

Jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, masuklah ke bagian sepatu dan tas wanita… Waaaah!!! Heboh yaaa?! Coba lihat ratusan model sepatu yang berkilauan dan warna-warni, ada yang tanpa hak, ada yang pake hak – dengan berbagai ketinggian, ada yang pake tali, dll. Namanya juga macem-macem, ada high heels, wedges, stiletto, pump shoes, dll. (taunya itu aja ;p). Liat juga tas yang dipajang, model dan warnanya macem-macem, ukurannya juga, tapi kebanyakan modelnya berupa tas yang dikempit di ketiak (apa sih namanya??). Hal yang ajaib adalah ukurannya yang besar-besar, pasti bisa muat banyak. Saya pernah nyobain tas semacam ini punya kakak saya, ampun deh beratnya, ngga tau isinya apa aja. 

Kebayang ngga sih potensi cidera dari tas manis dan sepatu cantik seperti itu? Sepatu high heels – meskipun mungkin memang membuat bentuk betis perempuan terlihat lebih menakjubkan, kenyataannya menyimpan bahaya kesehatan yang besar, misalnya varises, potensi keseleo (buat yang ngga biasa pake), dan kerusakan lantai (tau kan, pelajaran fisika di SMA dulu, tekanan yang berasal dari penampang sepatu high heels - yang biasanya runcing - lebih besar dari pada tekanan yang berasal dari kaki seekor gajah) – lantai yang bolong-bolong gara-gara sepatu high heels sama kaya jalanan Bandung yang bolong-bolong, berpotensi menyebabkan kecelakaan :D Sementara, tas manis yang besar itu biasanya disampirkan di salah satu bahu, maka beban yang dibawa tidak akan terdistribusi dengan baik, kalo dipakai sebentar mungkin efeknya hanya pegal, tapi kalo digunakan dalam jangka waktu lama kayanya sih bisa menyebabkan deformasi atau perubahan postur, mungkin berupa skoliosis atau semacamnya. 

Terlepas dari bahaya kesehatannya, saya sih emang ngga begitu suka dengan tas manis dan sepatu cantik. Kalo liat sih OK, tapi saya ngga minat pake. Soal sepatu, selain ukurannya yang biasanya ngga ada, modelnya yang cantik juga bukan selera saya. Saya lebih suka model sepatu yang konvensional dan mungkin agak maskulin. Akhir-akhir ini, saya baru sadar, saat melihat-lihat sepatu, saya lebih berminat melihat model sepatu pria yang pada umumnya sederhana. Tas manis juga bukan selera saya. Kalo cari tas, saya lebih suka cari backpack. Kebanyakan tas yang saya punya (yang jumlahnya ngga begitu banyak) adalah backpack, kalo pun ada yang bukan backpack, kategorinya lebih ke tas selempang (yang bisa dipake silang – strap di bahu kiri dan tas di pinggang kanan, atau sebaliknya), bukan tas manis yang dikempit di ketiak. Ini sih hanya masalah preferensi, saya ngga maksud untuk mendiskreditkan tas manis dan sepatu cantik. Kalo emang suka, ya pake aja, pilihan ada di tangan kita masing-masing!! ^_^v

I wanted to hear his voice again, yet feared to meet his eye –jane eyre


Itu kutipan dari Jane Eyre, di bab 14 atau 15, yang tadi siang baru dibaca. Ini ungkapan Jane tentang Mr. Rochester, setelah insiden kebakaran itu. Sama sekali ngga nyambung sama yang saya ceritain di bawah :)

Salah satu bentuk pengejewantahan klaim seseorang sebagai individu yang dewasa dan bertanggung jawab adalah perencanaan masa depan. Diantaranya, dalam arti sempit, perencanaan finansial. Kata Safir Senduk, idealnya, kita mesti punya tabungan paling tidak sejumlah perkiraan biaya hidup untuk enam bulan ke depan. Asumsinya, kalo terjadi situasi tak terduga, misalnya sakit, PHK, dsb., kita masih bisa hidup normal dan diharapkan dalam jangka enam bulan itu kita sudah mampu mengembalikan keadaan finansial. Ini sepertinya termasuk definisi menabung jangka pendek, menurut saya sifatnya wajib – meskipun rasanya saya sendiri masih belum bisa mencapai, apalagi melampaui, kondisi ideal yang dimaksud :)

Bagaimana dengan menabung jangka menengah dan jangka panjang? Misalnya buat dana pensiun, investasi, dsb. Saya menabung sebagian dari pendapatan bulanan saya, tapi suka kepikiran, sebenernya menabung buat masa depan itu bisa jadi semacam ‘pertaruhan’ ngga sih?! Anggaplah saya menabung (seperti pada umumnya orang-orang di luar sana – mungkin ;p) untuk saya pergunakan di masa pensiun. Padahal, kan ngga tau juga apa saya akan diberi cukup umur untuk mencapai masa pensiun. Misalkan kita menabung dengan maksud untuk menikmati hasilnya di usia tua, saya ngga yakin kalo di usia tua saya akan mampu untuk memperoleh kesenangan yang sama dengan kesenangan di usia muda. Kalo udah tua kan pasti lebih terbatas, misalkan ngga boleh bungee jumping karena risiko jantung, hipertensi, dsb. (meskipun risiko penyakit dapat direduksi dengan gaya hidup yang sehat, tapi secara alamiah tubuh kita pasti mengalami degenerasi). Yang menyebalkan adalah, kebayang ngga sih, setelah kita hidup hemat bertahun-tahun, menabung dengan penuh dedikasi, trus pada akhirnya hasil kerja keras kita itu dinikmati oleh orang lain (bisa suami/istri/kakak/adik/anak/cucu, dst. – pokoknya bukan diri kita sendiri)?!

Jadi??!! Ya, ambil jalan tengahnya aja kali yaaa... menabung (jangka menengah dan jangka panjang) jalan terus, tapi bukan berarti mengorbankan kemungkinan untuk mendapatkan kesenangan saat ini. Deal!! ^_^

*ps: kesenangan di sini maksudnya kesenangan tangible with price, bukan kesenangan intangible and priceless – if you know what I meant :p

Friday, January 27, 2012

Jogja Trip: Sebuah Ujian Kesabaran :)

Perjalanan Jogja akhir minggu kemarin adalah perjalanan perdana saya (dan dua teman) bersama komunitas backpacker (BPC) Bandung, ceritanya. Tujuan kali ini, awalnya ada tiga tempat, Kalisuci, Gunung Api Purba (GAP) Nglanggeran, dan Gua Pindul, tapi berhubung Kalisuci ditutup karena debit air yang meningkat di musim hujan, jadi tujuannya hanya GAP dan Pindul. 

Percayakah dengan pertanda? Tau kan, misalnya ada seseorang yang pamitan, trus besoknya ternyata meninggal, berikutnya hampir pasti bakal ada yang komentar, pantesan kemarin dia pamit sama saya, dst., macem-macem lah. Kalo pengalaman saya (ngga nyambung sebenernya, tapi pengin aja cerita ;p), misalnya jalan-jalan cari baju atasan, trus nemu model yang saya suka, tapi ternyata pas mau dibeli, ngga ada ukurannya, artinya apa? Apakah itu pertanda saya memang tidak ditakdirkan beli baju itu? Atau… pertanda supaya saya lebih niat lagi dan cari baju model itu yang ukuran saya di toko lain, karena ini maksudnya pasti ujian – sejauh mana saya mau berusaha? Atau… pertanda supaya saya mencari baju model lain? Apa hubungannya sama trip Jogja? Kalo percaya dengan pertanda kurang baik, mungkin dari awal perjalanan ini sudah bertaburan dengan bad omens.. :D 

Itinerary awal tampaknya sangat rapi, lagipula karena saya ngga familiar dengan lokasinya, saya ngga punya bayangan apa rutenya masuk akal atau ngga. Pergi ke dan pulang dari Jogja rencananya pake kereta ekonomi Kahuripan, biaya sudah dihitung dengan rinci, ngga lebih dari duaratus ribu rupiah.. WOW!!!! Awalnya, kami akan berangkat jumat malam dan pulang ke Bandung senin malam, jadi nyampe di Bandung selasa pagi, berarti langsung kerja! Kebayang pasti bakal heboh dan khawatir keretanya telat dan ngga ada waktu istirahat sama sekali, akhirnya kami memutuskan buat pulang duluan, hari minggu malem, jadi senin pagi udah ada di Bandung. Maka, pesen tiket Malabar buat minggu malem, selesai!! Udah pasti pulang Minggu, 22 Januari 2012, jam 11.05 dari Stasiun Jogjakarta :D 

Kemudian... beberapa hari menjelang hari-H, rencananya berubah, Kalisuci dicoret dari itinerary (soalnya ditutup), minggu sore jadi ke Prambanan dan Ratu Boko, dan pulang dari Jogja jadi minggu malem. Trus, ternyata rombongan ngga cuma dari Bandung, ada juga dari BPC Jabodetabek, ternyata acaranya jadi acara peringatan ulang tahun BPC Jabodetabek yang pertama. Nah, mereka ini katanya ngga dapet tiket kereta buat pergi, jadi mereka mengusulkan buat patungan bis pergi-pulang, istilah mereka, sharing cost. Sebenernya sih ngga masalah kalo mau sharing cost (bukannya kalo pergi bareng emang berarti sharing cost ya?!), yang jadi masalah adalah berhubung saya sudah punya tiket kereta buat pulang, saya cuma butuh kendaraan buat pergi aja, tapi... sharing cost ala mereka ternyata kita tetep mesti bayar biaya bis pergi dan pulang, meskipun saya hanya ikut perginya aja. Emang kalo sharing cost gitu ya?! Kok ngga adil ya?! Kalo kata saya siy, sharing cost itu baru adil kalo cost yang di-share itu dikeluarkan untuk membayar aktivitas yang memang dilakukan bersama. Kalo saya mesti bayar ongkos bis pulang, padahal saya pulang pake kereta, kan saya jadi mengeluarkan biaya dua kali??!! Tapi daripada ribut menggugat sharing cost ini sama orang-orang yang baru kenal, saya memutuskan untuk tidak pergi bersama rombongan, saya akan ikut rombongan dari Jogja aja. Maka… hebohlah kami cari tiket kereta ke Jogja buat jumat malem, dan tentu saja ngga dapet. Akhirnya, setelah telpon dan tanya sana-sini, kami jadinya pergi pake bis Kramat Djati, berangkat dari Jl. Ir. H. Djuanda 105 jam 5.15 sore.

Hari-H... kami tiba tepat waktu di pool bis, habis jam kantor langsung ganti kostum dan meluncur ke Dago. Sampai di sana, bisnya ngga dateng-dateng.. sambil nunggu, kami makan sore dengan menu Martabak San Fransisco Rasa Tuna biasa, 38 ribu. Setelah satu jam menanti penuh kesabaran, bis pun datang dan perjalanan menuju Jogja pun dimulai. Ngga ada cerita menarik sih selama di perjalanan, ya gitu deh.. Mungkin yang rada unik adalah keahlian tingkat tinggi sang pengemudi bis yang beliau perlihatkan saat mengeluarkan bis dari area parkir di tempat istirahat di daerah Tasik, beliau ini membuat bis bermanuver dengan indahnya di area parkir yang sempit tanpa bantuan satu orang pun tukang parkir atau asisten, hanya dibantu oleh kaca spion aja.. Kereeeen!!!

Sekitar jam setengah tujuh pagi, kami tiba di Jogja, tepatnya di Gombor (?), sampai saat itu, masih belum jelas meeting point dan meeting time sama rombongan, taunya di Malioboro, tapi ngga jelas lokasi tepatnya. Dari sini, kami naik bis ke Malioboro. Di Malioboro, kami berjodoh dengan toilet umum 24 jam dengan fasilitas isi ulang baterai ponsel, lokasinya di depan Mesjid Malioboro di kompleks kantor DPRD. Awalnya siy mau ke mesjid, tapi katanya karena masih pagi, toilet mesjid belum dibuka - meskipun mesjidnya udah buka (pasti ini konspirasi antara pengusaha toilet umum dan pengelola mesjid :D). Sambil nunggu baterai ponsel terisi, kami mandi dan sarapan. Menunya bihun-baso (saya ;p), nasi+burung dara bakar (apa goreng ya?!), dan nasi goreng spesial (spesialnya: pake ayam goreng) dan es durian. Es duriannya beda sama yang di Bandung, di sini ada kuahnya dan ditambahin gula. Oh ya, tarif toilet: pipis - seribu, buang air besar - dua ribu, mandi - tiga ribu, sewa handuk - seribu, shampoo - lima ratus, charge baterai - dua ribu.

Rencana awal, rombongan dari Bandung diperkirakan tiba sekitar tengah hari. Maka, kami menghabiskan waktu dengan jalan-jalan di Malioboro, tapi berhubung barang bawaan lumayan berat ditambah cuaca panas, kayanya kalo jalan terus bakalan cape.. Maka, untuk mengisi waktu nunggu, kami memutuskan untuk nyobain TransJogja aja, keliling Jogja sekalian ngadem, cukup bayar tiga ribu rupiah, efisien kan?! :) Rute yang kami ambil adalah yang terpanjang, yaitu Jalur 1, satu trip menghabiskan waktu dua jam. Perjalanan bis melewati diantaranya taman makam pahlawan, Prambanan, Reptile and Amphibian Park, dan Bandara.

Tamat 1 trip TransJogja, sekitar jam satu atau setengah dua, kami ngaso lagi di mesjid, kali ini di Mesjid Sulthony di kawasan Kegubernuran, Jalan Kepatihan. Kabar dari rombongan, mereka baru nyampe Banjar!! Sore-sore kami ketemu dengan H (anak BPC Jogja), dari beliau-lah kami tau kalo ternyata kami akan menginap di (Pantai) Krakal. Saat ini, udah tau kalo ternyata....bis yang mereka tumpangi mogok beberapa kali, no wonder!! Jadwal memang sudah molor dari awal, bis baru berangkat dari Bandung jam tiga pagi. Nah, karena rombongan udah pasti nyampe malem, jadi kami memanfaatkan waktu buat belanja dulu deh.. 

Sekitar maghrib, kami balik lagi ke Mesjid Malioboro, nunggu kabar. Sekitar jam delapan, dapet kabar buat nunggu bis di Wiro Brajan, trus dapet info juga kalo ada teman lain yang terlunta seperti kami juga sedang menuju ke sana. Tiba di perempatan Wiro Brajan dengan pertolongan temannya teman, kami diuji lagi dengan dibiarkan menunggu hingga sekitar jam sepuluh malam. Rombongan pun datang (pake tiga bis lokal yang kaya metromini). Di tengah perjalanan, salah satu bis bermasalah, jadilah pake dua bis. Menjelang jam tiga pagi, akhirnya kami tiba di Krakal. Di sini udah disiapin tenda-tenda sama anak-anak BPC Jogja, kami melakukan kejahatan dengan menginvasi salah satu tenda yang jelas-jelas udah ditandai oleh calon penghuninya dengan bacpack mereka (sungguh kami tidak peduli!! ;p), kami menggelar sleeping bag dan (hampir) langsung terlelap.

Keesokan harinya, foto-foto sebentar di pantai trus meluncur ke Pindul. Ternyata jauuuuh.... udah gitu di jalan, bisnya sempet berhenti lagi karena bannya gembos. Tiba di Pindul sekitar tengah hari, udah rame!!! Ngantri lama, dan akhirnya giliran mengarungi gua karst pun tiba. Kami diberi pelampung dan ban dalam untuk dinaiki. Awalnya, saya pikir tubing itu bakal kaya arung jeram tapi pake ban, ternyata di sini ngga ada arusnya, maka yang terjadi adalah kami naik ke atas ban masing-masing, berpegangan tangan, trus ditarik masuk sama pemandunya. Overall, kaya masuk ke istana boneka di dunia fantasi, tapi pemandangannya bukan boneka, melainkan stalagtit dan stalagmit.

Penjelasan dari pemandu ngga begitu banyak, standar aja, malah menurut saya, lebih banyak unsur mistik-mistiknya, misalnya penjelasan tentang lokasi-lokasi yang digunakan untuk semedhi, stalagmit yang konon dapat memberikan keperkasaan bagi para laki-laki yang menyentuhnya (mungkin karena bentuknya mirip kelamin laki-laki), trus area yang konon (lagi) akan memberikan kelanggengan hubungan bagi pasangan kekasih atau individu yang menyatakan cinta di sini (dilengkapi referensi bahwa anak Sultan yang menikah baru-baru ini juga 'berdoa' di sini - katanya ;p). Guanya ngga begitu panjang, mungkin sekitar 300 meter, jadi dalam 20 menit juga tubingnya udah beres. Rasanya ngga sebanding dengan perjalanan panjang yang telah kami tempuh :( Lagipula, kalo udah ke Buniayu yang di Sukabumi, tubing di Gua Pindul tampak hambar..      

Dari Pindul, kami kembali ke Jogja, sampai saat itu, masih belum pasti tuh rombongan bakal pulang gimana, maksudnya apa masalah bis mogok sudah selesai atau belum. Kami memisahkan diri dari rombongan di depan Stasiun Tugu sekitar jam lima sore. Setelah menitipkan barang di stasiun, kami menjelajah lagi Malioboro, sampai sekitar jam sepuluh malam. Kembali ke stasiun, kereta Malabar yang akan kami tumpangi terlambat satu jam, jadwal jam 11.05, kereta baru datang jam 12.00. Perjalanan ke Bandung rasanya lamaaaaa banget, kereta sepertinya sering berhenti. Sekitar jam sembilan akhirnya kereta memasuki stasiun Bandung. Alhamdulillah, kembali ke Bandung dengan selamat :)

Hikmah perjalanan kali ini buat saya adalah.. kalo jalan mendingan ikut yang sudah jelas EO-nya atau bikin itinerary sendiri aja, ribet kalo ngikut orang lain, apalagi orang lainnya itu kebanyakan anak-anak kuliahan atau yang baru selesai kuliah.. rasanya kulturnya beda banget, ngga terorganisir, terlalu banyak ngabisin waktu buat ketawa-ketawa ngga jelas di saat yang ngga tepat, lamban, intinya, benar-benar menguji kesabaran!! Mudah-mudahan aja selanjutnya (kalo ada lagi), mereka bisa lebih bertanggung jawab dan lebih bisa menyusun rencana dengan baik. Improvisasi sih OK, tapi kan mestinya kita udah harus bisa mengantisipasi, punya rencana A dengan back-up rencana B, dst. Lagian, kalo acaranya berubah drastis, itu kan udah ngga masuk itungan improvisasi namanya..      

Jadi... akan adakah perjalanan berikutnya bersama BPC??? Wallahu alam :) 

  

5 cm, menurutku ;p

Baca juga deh itu '5 cm', setelah banyak orang menghebohkan dan merekomendasikannya. Kebiasaan saya, semakin heboh orang-orang, semakin males saya ikutan heboh. Alhasil, setelah lama, barulah saya baca buku itu. 

Kesan orang-orang yang cerita, katanya siy mereka merasa terinspirasi atau apa lah, keren pokoknya. Baca testimoni di back covernya juga tampak dahsyat efeknya, sang pembaca mendadak nangis setelah baca buku ini. Well, kesan saya? Yah, ini siy subjektif, tapi kata saya siy bukunya biasa aja ah, ga seheboh itu, ga tau juga siy, mungkin karena banyak yang bilang bagus atau bagus banget, saya jadi over-ekspektasi. 

Substansinya bagus, keren deh, terutama referensi-referensi yang diselipkan di dalamnya, keliatan banget penulisnya punya wawasan musik, filsafat, dsb. Tapi… Tanpa mengurangi rasa hormat dan apresiasi kepada penulis yang pasti udah kerja keras untuk nulis buku ini, menurut saya, kok penyampaiannya vulgar banget, berasa banget gitu pesannya, sepertinya pembaca tidak diberikan ruang untuk menginterpretasikan pesan-pesan yang ingin disampaikan penulis. Yah, saya merasa tidak ada kenikmatan proses pemahaman yang terbangun saat saya membaca. Well, sekali lagi, itu siy kesan pribadi saya. Lagipula, itu buku yang saya beli udah cetakan ke sepuluh, so, what do I know anyway, right? 

Soal perjalanan mendaki Gunung Semeru (btw, saya lebih suka menyebutnya Semeru, soalnya namanya kan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, bukan Taman Nasional Bromo Tengger Mahameru, hehe ;p), berhubung saya pernah ke sana, meskipun baru sekali, jadi yah, lumayan masih inget lah pengalamannya, saya juga merasa penggambarannya agak berlebihan. Bukan soal pemandangannya, klo soal itu siy emang ga ada kata-kata yang bisa mengungkapkan sebaik penglihatan sendiri, tapi lebih ke perjalanan mereka yang saya pikir lebay, klo buat saya siy.

please ignore, seriously!!!


In my social culture, girls my age are considered mature enough and supposedly very eligible to be married. It is just natural that after graduated college, having a decent job and income, etc., people expect us to have a family. 

Despite of that, all these years, I never thought myself in a picture of a family of my own, even the least of it, having a spouse or a partner – a boyfriend. I honestly think that having that kind of situation would complicate things. There would be more to think about, to worry about, more responsibility, and it seems that I could never think otherwise. Though that I never exactly talk about it with my family, since I am not good at argument and talking, I reckon them, above all other people in the world, would be understand. 

Lately, when my school friends are already married, then naturally having their children, my mother became very agitated, she kept asking when will I have the same thing as them, do I have a boyfriend, when will I get married, etc., and making me very much annoyed. I know it is natural to be that way, but I expect my family would know better than just other people, and not asking that kind of question. 

The arguments that had been used by my mother were; what am I waiting for, I am getting older, and the older I got, the odds for it would be less; my parents aren’t getting younger, they want to see me married before they passed away; and it is their obligation to find me a husband. 

Well, though there is nothing wrong about their worries, I still find it hard to cope. What about me? It’s my life they talking about, had it never occur to them what exactly I want for my life? A friend of me once said that he used to think just like me (he just get married few months ago), he said that we just got to find the perfect reason for each one of us to do so. Well, I just happened not there yet, I haven’t found my reason. So, since my whole future is at stake here, doing it just to give a relief for my mother is not good enough for a reason, right? I just wish she would understand and see the things as I see it.