Tuesday, April 24, 2012

hmmm...tentang apa ya?!

Wah, belum hilang benar cedera pergelangan tangan kiri, sekarang ditambahin nyeri otot lengan kanan atas, hmm..mesti lebih hati-hati nih :D

Akhir-akhir ini aktivitas fisik yang dilakukan lebih banyak melibatkan ekstrimitas atas ketimbang ekstrimitas bawah, jadi ya wajar juga sih kalo kecenderungan cederanya pindah ke daerah lengan.

Dulu, karena seringnya jalan kaki, yang sering jadi korban adalah jari kaki, utamanya jari yang deket jempol, beberapa kali mengalami masa peralihan kuku menjijikkan, kukunya terangkat tapi ngga lepas, tapi ngga nempel juga ke ujung jari, jadi ada semacam celah - yang biasanya diisi bekuan darah yang nantinya hilang sendiri klo sudah terbilas air. Lumayan lama loh waktu mengganti kuku ini jadi terlihat normal kembali. Yah, sebenernya kondisinya ngga balik lagi seperti sediakala sih, tapi setidaknya terlihat normal dan ngga menjijikkan. Maaf ya, tulisannya ngga penting (lagi) ;p, ngga membuat jijik kan?!

Sebenernya pengin cerita soal kumpulan tulisan Paulo Coelho itu, tapi gimana ya, bingung ceritanya. Maksudnya, ada beberapa artikel yang relevan dan mengena, tapi biasanya kalo saya cerita, efeknya jadinya biasa aja.. Nanti aja lah ya, dikutip aja, biar maksudnya tersampaikan dengan baik.

Good night, don't let the bed bugs bite.. Adieu.. ^_^


ps. kok berasa kaya nulis diary, ya?! ;p


Published with Blogger-droid v2.0.4

Sunday, April 15, 2012

ser como o rio que flui

Artinya, like a flowing river - seperti sungai yang mengalir.

Baru nih, belum disampul tapi, karena ternyata persediaan sampul mika saya habis :(


Buku ini berisi kumpulan renungan dan cerita pendek, jadi sepertinya akan pas untuk dibaca saat senggang dan tidak harus dibaca secara 'khusyuk' :)


Jadilah seperti sungai yang mengalir,

Hening di kala malam.

Usah takut pada kegelapan.

Pantulkan bintang-bintang.

Jelmakan pula awan-awan,

Sebab awan itulah air, tiada beda dengan sungai,

Maka pantulkan juga dengan suka cita,

Di kedalamanmu sendiri yang tenteram.


-Manuel Bandiera-


Selamat membaca! :D


Published with Blogger-droid v2.0.4

Friday, April 13, 2012

Ceracau jelang siang


Salah satu cara untuk mendapatkan pekerjaan atau profesi yang menyenangkan dan membahagiakan adalah dengan memilih profesi atau pekerjaan sesuai dengan minat dan bakat kita. Teorinya, kalo kita udah punya dasar ‘ketertarikan’ dan keahlian untuk melakukan suatu pekerjaan, maka kerjaan itu akan terasa lebih menyenangkan, malah mungkin ngga akan kita anggap sebagai pekerjaan lagi, tapi lebih ke panggilan hidup, mungkin.

Pertama, tentang bakat. Sampe sekarang, saya masih bertanya-tanya, bakat saya apa sih? Pertama, mari kita intip KBBI, pengertian bakat (yang relevan dengan tulisan ini) adalah dasar (kepandaian, sifat, dan pembawaan) yang dibawa sejak lahir. Kalo berdasarkan definisi tersebut, maka bakat saya adalah tidur. Tapi bakat yang dimaksud kayanya bukan itu deh ;p

Setiap orang dilahirkan dengan membawa potensi masing-masing, semua orang punya bakat. Iya, kan?! Kalo ternyata kita ngga pinter matematika, ngga pinter ngomong, ngga pinter bohong, ngga pinter memengaruhi orang lain, ngga pinter nyanyi, ngga pinter nabung, ngga pinter berkelit, dsb., mungkin bakat kita memang bukan itu. Tapi gimana saya tau? Gimana saya tau kalo saya berbakat di satu hal dan tidak di hal yang lain? Kalo gitu, berarti saya harus mencoba dulu ya? Berarti kemauan untuk mencoba juga jadi semacam ‘filter’ untuk menemukan bakat. Kalo udah ngga mau mencoba, gimana kita bisa punya bakat? Ya ngga sih? Nah, berarti di sinilah peran dari minat. 

Kedua, tentang minat. Minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, gairah, keinginan. Karena ternyata bakat aja ngga cukup. Harus ada minat juga, minat untuk mengembangkan bakat, minat untuk bekerja keras meskipun tau ngga berbakat-berbakat amat. Kalo udah berminat, rasanya meskipun ngga berbakat juga pasti jadinya menyenangkan ya?

Eh, kalo gitu, mana yang penting? Minat atau bakat? Kayanya sih, kata saya, minat dan bakat yang bersinergi efeknya akan optimal, minat tanpa bakat bakalan maksimal, tapi ngga optimal, artinya bakal membutuhkan banyak kerja keras. Sementara bakat tanpa minat ya tampaknya ngga akan membawa kita kemana-mana. Menurutmu?! :D    

Ceracau pagi ini

Banyak hal mengejutkan yang saya temui dalam perjalanan kehidupan saya sejauh ini. Dilahirkan tanpa pengalaman atau pengetahuan apa pun (setidaknya yang disadari dan bisa diingat) – ngga seperti beberapa spesies binatang yang mendapatkan ‘warisan’ pengetahuan dari induknya, sejak kemunculan saya di dunia, semua hal yang saya tau sekarang adalah hasil dari pembelajaran sepanjang hidup – sejauh ini. Ngomong apa sih, kok jadi berasa serius ya?! 

Maksud saya sih, saat belajar dan menemukan pengetahuan baru, seringkali saya terkejut dengan penemuan itu. Misalnya, semester satu di TPB belajar Fisika Dasar, salah satu materi pembahasan adalah ketidakpastian. Dulu saya merasa takjub dengan kenyataan kalo setiap pengukuran memiliki ketidakpastian. Pensil sepanjang sepuluh sentimeter ternyata tidak memiliki panjang tepat sepuluh sentimeter, satu Liter air ngga pasti satu Liter, berat badan empatpuluh kilogram juga ngga pasti segitu nilai benarnya. Jika diperluas, semua hal di dunia kayanya serba nggak pasti! Hal yang pasti adalah ketidakpastian, mirip dengan semua hal berubah kecuali perubahan itu sendiri. Hal keren lainnya yang pernah saya baca adalah penemuan kode biner, meskipun saya ngga begitu ngerti juga sih. Gimana ngga keren, kombinasi dua angka (satu dan nol) memungkinkan penyimpanan data dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan dengan metode analog – gitu deh intinya, kurang-lebih ;p 

Waktu ngobrol dengan temen saya beberapa hari yang lalu, hal yang mengejutkan justru sering datang dari kita sendiri dan sesama manusia. Temen saya cerita, dulu dia pikir semua hal di dunia ini hitam dan putih, kalo ngga jelek ya bagus, kalo ngga jahat ya baik, kalo ngga salah ya benar, dst. Ternyata?! Ya, seiring waktu berjalan, bertambah usia, pengalaman, dll., dunia ini ngga terdiri atas hitam dan putih, ada jutaan ‘warna’ didalamnya. Hal yang mungkin kita anggap salah bisa aja ngga salah, atau salah sekaligus benar. Orang baik ada kalanya berbuat salah, keluarga – yang mestinya jadi orang yang bisa kita percaya – bisa aja berkhianat, temen yang kita anggap sahabat baik bisa aja khilaf dan melukai kita, orang yang nyebelin bisa aja ternyata baik banget dan peduli. 

Tapi, kadang saya merasa pertambahan masa hidup malah membuat saya kebas. Maksudnya, karena merasa sudah lebih banyak tau, rasanya hidup ya mengalir aja, berasa monoton, ngga ada antusiasme, ngga ada lagi unsur mengejutkan. Mungkin inilah yang menjadi penyebab kebutuhan akan pengalaman baru, petualangan, liburan, perjalanan. Kita – well, saya – butuh variasi.

Tuesday, April 10, 2012

monolog hari ini :)

musuh terbesar seseorang adalah dirinya sendiri, iya kan?! iya sih, bener, seringkali tantangan atau faktor penghalang yang terbesar untuk seseorang mencapai harapan dan cita-cita justru adalah dirinya sendiri. ada yang pernah bilang ngga ya kalo selain bisa jadi musuh terbesar, diri sendiri juga bisa menjadi sahabat terbaik seseorang? bisa juga kan, mengingat siapa lagi yang lebih kenal dengan diri kita selain kita sendiri (dan Tuhan)?!  

sekarang-sekarang, saya lagi seneng ngobrol sendiri - di dalam pikiran, bukan ngomong sendiri (meskipun kadang sering juga sih ngomong sendiri, kalo lagi sendiri ;p) - hitung tuh ada berapa kata 'sendiri' di kalimat barusan :D

tadi waktu lagi makan siang, dapet telpon dari nomor tak dikenal, pas diangkat ternyata dari salah satu NGO (Non Government Organization) yang saya dukung. mengingat tempat makannya rame, jadi omongan sang petugas ngga begitu jelas terdengar, tapi intinya sih awalnya menjelaskan program-program mereka yang sudah berhasil, dst., nanya lagi soal alamat pos dan elektronik, dan terutama tawaran untuk meningkatkan donasi. terakhir, dia tanya apakah saya ingin menyampaikan sesuatu. ya udah, teringat pertanyaan si bapak trainer dulu, saya tanya soal apakah NGO ini selain menyelenggarakan aksi dan program-program yang udah dijelasin, memiliki juga program yang bersifat pemberdayaan masyarakat? berhubung rame, jawabannya ngga begitu jelas sih, tapi kayanya sih ngga ada tuh :) 

gara-gara ini, saya jadi kepikiran, kayanya bosen banget ya kerja seperti si penelpon saya itu. kebayang ngga sih, tugas dia nelponin sekian banyak pendukung untuk menyampaikan hal yang sama berulang-ulang, dan saya yakin, kebanyakan penerima telpon responnya ngga akan terlalu antusias. wajar sih, mengingat si penelpon juga pastinya udah ngga begitu antusias juga untuk menyampaikan informasi yang sudah disediakan untuk dia - yang bentuknya saya bayangkan seperti naskah. mending kalo cuma ngga antusias, kalo responnya ngga ramah atau malah jutek, pasti sebel banget deh. secara umum, saya jadi merasa kasian sama orang yang kerja jadi telemarketer - apalagi yang tugasnya nawarin kartu kredit atau produk perbankan lainnya - meskipun ngga tau juga sih, mungkin para telemarketer itu bahagia-bahagia aja, semoga saja begitu :D

tadi dalam perjalanan pulang, di angkot ada sepasang kakek dan nenek yang membawa cucu perempuannya. si cucu dan nenek duduk di bangku belakang supir, dan sang kakek duduk di depan, samping supir. si cucu berteriak (dalam basa Sunda), "nini..nini.." beberapa kali, tapi dicuekin sama neneknya, sampe si kakek ngomong, "eta atuh budak tong ditonggongan", akhirnya sang nenek merespon panggilan sang cucu dengan membalikkan tubuhnya, akhirnya si cucu bilang, "nini.. tingali, korong" (sambil menunjuk ke kaca jendela angkot), ehehe.. gubrak ;p melihat pasangan kakek dan nenek itu, saya jadi inget sama orang tua saya, jadi inget juga sama keponakan-keponakan saya - yang sebentar lagi bakal nambah lagi.. 

akhir-akhir ini juga lagi kepikiran, mengingat kecenderungan saya untuk cepat merasa bosan, apakah suatu saat nanti (halah ;p) suatu aktivitas menyenangkan mungkin akan berubah menjadi membosankan? saat aktivitas menyenangkan itu berubah menjadi rutinitas dan kemudian ngga menyenangkan lagi? eh, memangnya kalo rutin pasti membosankan ya?! ngga ah, banyak kok rutinitas yang menyenangkan, misalnya tidur, gajian, makan, dst. jadi kayanya meskipun jadi rutinitas, ngga mesti membosankan, kan?! artinya.. rutinitas dan membosankan tidak berkorelasi. baiklah.. sepertinya ntar malem ngga akan kepikiran lagi untuk khawatir menerjunkan diri ke dalam suatu rutinitas. case closed :)

Saturday, April 7, 2012

cheese cake dan tiramisu

Saya pernah belajar buat cheese cake dan tiramisu - ngga beneran praktek sendiri sih, tapi lebih pas disebut ngerecokin, kalo ngga dibilang bantuin :D Ternyata, bikin cheese cake dan tiramisu itu ngga susah - keliatannya sih gitu. Ngga tau juga sih, sampe sekarang belum ada kesadaran buat cobain praktek sendiri. 

Cheese cake bisa dibuat dengan dua cara, dipanggang trus dibekukan atau bisa juga langsung dibekukan aja, kaya tiramisu. Kalo mau yang gampang sih pilih yang langsung beku aja, soalnya kalo yang dipanggang rada ribet, cara panggangnya ngga kaya cake biasa, tapi loyangnya mesti direndam di dalam air gitu (istilah kerennya au bain marie), biar panasnya perlahan dan cheese cakenya ngga gosong - kayanya sih gitu ;p Tapi, kalo dari segi rasa, yang dipanggang dulu memang lebih enak dari pada yang langsung beku. 

Nah, ini dia nih resep cheese cake dan tiramisu yang saya dapet waktu ikutan belajar..

BLUEBERRY CHEESE CAKE
Bahan:

Untuk Alas/crust:
250 g biskuit gandum/biscuit jahe/oreo….sesuai selera
100 g mentega tawar lelehkan
1/2 sdt vanili bubuk

Bahan: 
150 gr gula pasir
2 butir telur
250 g cheese cream
250 g ricotta cheese
1 sm kulit jeruk lemon parut/ 1 st pasta lemon
150 g whipped cream bubuk, kocok dengan 300 mL air es
250 g selai blueberry

Cara membuat:
  1. siapkan loyang ring/bongkar pasang 20 cm olesi mentega, sisihkan.
  2. hancurkan biskuit hingga halus, lalu tuang margarine leleh dan vanili bubuk, aduk rata.
  3. kocok gula dan telur hingga kental, masukkan cheese cream dan ricotta cheese bergantian sambil dikocok terus.
  4. tuangkan adonan ini ke dalam loyang tadi, di atas adonan biskuit, lalu oven dengan cara au bain marie [diletakkan di atas loyang yang sudah diisi air] selama 60 menit.
  5. angkat, dinginkan di suhu kamar, hingga benar-benar dingin.
  6. kocok whipped cream hingga kental, oleskan di atas cheese cake, lalu bekukan dalam kulkas selama 4 jam.
  7. keluarkan, ratakan selai blueberry di atasnya, hias sesuai selera.
  8. potong2, sajikan.

TIRAMISU

Bahan:
250 g keju mascarpone
400 mL whipped cream
4 btr kuning telur
100 g gula kastor
100 mL whipped cream untuk topping (bisa diganti whipped cream bubuk 50 gram yang dikocok dengan 100 mL air)
Coklat bubuk untuk taburan

Bahan lain:
2 sdm kopi instant
150 mL air hangat
1 sdm gula pasir
20 bh lady finger atau sponge cake coklat 3 lembar ukuran 22x22x3cm

Cara membuat:
  1. kocok kuning telur dan gula hingga kental sambil ditim di atas api kecil, sisihkan.
  2. kocok keju mascarpone, sisihkan
  3. kocok whipped krim hingga kental dan kaku, lalu masukkan keju mascarpone yg sudah dikocok, aduk rata (atau kocok dengan mixer speed 1), tuangkan pula kocokan kuning telur, aduk hingga rata benar.
  4. Ditempat lain, campur gula, kopi, dan air panas aduk rata, sisihkan.
Penyelesaian:
  1. siapkan loyang bongkar pasang atau gelas saji, susun lady finger (atau cake coklat sesuai selera) di bagian dasar hingga rata, perciki dengan cairan kopi hingga lembab. tuangkan adonan mascarpone, ratakan.
  2. susun lagi lady finger, seperti paling bawah tuang lagi dengan adonan mascarpone
  3. buat dua atau tiga susun paling atas, hias dengan whipped krim, lalu ayakkan coklat bubuk.
  4. bekukan dalam kulkas selama 4 jam, potong-potong, sajikan 
Selamat mencoba!! Bilang-bilang ya kalo bikin, sekalian testernya!! :D



Friday, April 6, 2012

the art of doing nothing :p

Awal bulan sudah ada libur tambahan, tapi ngga kemana-mana, soalnya sudah ada agenda kemana-mana di akhir bulan. Ada kalanya saat liburan penginnya jalan-jalan - jika memungkinkan, tapi terlalu sering jalan-jalan juga kayanya bisa jadi bosen juga, ditambah pastinya ngga terlalu bagus buat kesehatan finansial. Kali lain, bisa juga ngga pengin ngapa-ngapain sama sekali. Emang bisa ya ngga ngapa-ngapain?! Kalo saya sih bisa aja, banget!! Contohnya hari ini, sambil mengerjakan proyek upik-abu-rutin (baca: nyetrika dan nyuci ;p), hari ini saya berhasil menonton film-film romantis tipikal yang ditayangkan di hampir semua stasiun TV. Produktif sekali ya?! Meskipun sebenernya ceritanya udah ketebak sih, ditambah seringkali norak juga, tapi tetep aja ditonton ;p 

Malam ini sedang sendirian, ngga pulang (dua minggu kemarin udah pulang), tapi orang rumah yang pulang. Kalo lagi sendirian, entah kenapa justru saya merasa bisa lebih produktif. Misalnya, kemungkinan saya bangun pagi besok akan lebih besar dibandingkan kalo ada orang di rumah. Kemungkinan besar besok saya akan beres-beres kamar juga, karena saya bisa bangun pagi.

Malam ini juga lebih mungkin untuk menyelesaikan memoar Eric Weiner yang lagi saya baca, judulnya The Geography of Bliss - Kisah Seorang Penggerutu yang Berkeliling Dunia Mencari Negara Paling Membahagiakan, terjemahannya diterbitkan oleh Penerbit Qanita dari PT Mizan Pustaka. Oh ya, dulu ada juga yang namanya Penerbit Kaifa (masih grup Mizan juga), buku-buku yang diterbitkan bagus-bagus, novel-novel remaja peraih berbagai penghargaan literatur, sekarang kemana ya?! 

ps. judulnya terilhami judul buku keren ENZO: the art of racing in the rain - novel tentang seekor filsuf :D
  

Sunday, March 25, 2012

percakapan lainnya hari ini ;p

Hari ini ada ngobrol juga soal Lumpur Sidoarjo (LUSI) a.k.a Lumpur Lapindo, gara-gara memperlihatkan foto-foto di kamera waktu berkunjung ke lokasi LUSI akhir minggu lalu. Berdasarkan cerita narasumber waktu itu, saya mendapatkan informasi tentang fakta-fakta soal LUSI dan penyebabnya yang masih diperdebatkan sampai saat ini. Panjang sih ceritanya, dan banyak data-data teknis yang ngga semuanya bisa saya mengerti. Pemaparan narasumber diantaranya menjelaskan bahwa LUSI ini merupakan fenomena alam yang disebut dengan gunung lumpur (mud volcano), dari zaman dulu juga sudah ada, misalnya ada Ciuyah di Kuningan, atau Bledug Kuwu di Purwodadi, dsb., terus dibahas juga setiap penyebab-penyebab yang diajukan dan analisisnya. 

Mengutip dari materi yang dibagikan saat kunjungan, penyebab yang pernah diajukan diantaranya:

  1. kelalaian/kesalahan teknik pengeboran sumur Banjirpanji-1 yang dibor sekitar 200 meter dari pusat semburan,
  2. aktivitas tektonik yang berhubungan dengan kegiatan gempa yang berpusat di Yogyakarta yang terjadi dua hari (27 Mei 2006) sebelum semburan lumpur panas terjadi,
  3. aktivitas geothermal/panasbumi dari kompleks gunungapi Anjasmoro-Welirang-Arjuno di sebelah selatan semburan,
  4. kombinasi ketiga efek tersebut.
Opini-opini di atas dibahas dan data-data pendukungnya dipaparkan. Kesimpulan akhirnya sih, menurut beliau, dari data-data tersebut, pemicu yang paling mungkin adalah Gempa Yogya, LUSI tidak ada hubungannya dengan aktivitas pengeboran, tanpa pengeboran pun, fenomena LUSI tetap akan terjadi. Mereka (Lapindo) hanya sial melakukan pengeboran di tempat dan waktu yang salah.

Nah, temen saya berpikir kalo ini pasti politisasi, ditutupi dan dimanipulasi, karena menyangkut grup Bakrie. Jujur, awalnya saya juga cenderung berpikir begitu, saya pikir informasi-informasi yang selama ini ada di media (yang memang cenderung mengarahkan opini publik dan bukannya menyajikan data secara objektif) memang disajikan untuk mendukung kepentingan tertentu. Mungkin hal ini juga memang benar terjadi, tapi faktanya kan ngga mesti salah satunya, maksud saya, bisa aja apa yang diberitakan memang yang sebenarnya. Trus, gimana kita tau apa yang sebenarnya terjadi?? 

Ada kutipan yang bagus soal ini, masih dari materi kemarin (kutipan juga ;p):

Lihatlah di balik berita. Letakkan segala sesuatu dalam perspektif. Carilah korelasi-korelasi, enyahkan prasangka. Telitilah melalui opini untuk mencari dasar faktual. Ujilah asumsi-asumsi. Lontarkan pertanyaan. Dan tuntut jawaban. -Patrick Lindsay,"Now is the Time", 2009-

Buat melihat kenyataan, kita mesti terbuka dan menghilangkan prasangka. Pengalaman saya, saat kita sudah berprasangka, kita sudah menentukan apa yang kita percaya, dan informasi setelahnya menjadi ngga penting. Kita percaya apa yang mau kita percaya.

PS. Soal LUSI, terlepas apa penyebab dan pemicu yang sebenarnya, saya tau, hal itu ngga penting buat para korban. Kenyataannya, LUSI sudah terjadi, banyak orang kehilangan harta, tempat tinggal dan pekerjaan. Tapi.. mengetahuinya menjadi penting untuk pembelajaran kita di masa mendatang. BTW, LUSI ini ternyata menarik juga loh, banyak hal baru yang saya pelajari, tapi sebelum diceritain di sini, mesti dibaca lagi.. :)
  

    

percakapan hari ini

Obrolan ngga penting sama temen kerja saya hari ini adalah tentang perempuan dan kecenderungannya untuk merasa senang saat diperhatikan oleh orang lain. 

Begini ceritanya.. Temen saya ini laki-laki, trus dia cerita soal senam pagi yang diselenggarakan di tempat kerja saya tiap hari Jumat. Di bagian saya ada karyawan baru, gadis-gadis berwajah segar dan menyejukkan pandangan, mereka ini suka ikutan senam pagi. Nah, katanya, semenjak ada mereka, peserta senam pagi mengalami peningkatan yang cukup bermakna. Tentu saja, peningkatan ini kebanyakan berasal dari kaum adam.

Dari sini, ngga begitu jelas hubungannya apa sih, tapi dia jadi nanya, katanya.. 'Emang kalo perempuan gitu ya? Senang diperhatikan?' Jawaban saya saat itu.. 'Ya, kalo saya sih tergantung, kalo perhatian itu datang dari orang yang saya suka, ya seneng, tapi kalo sebaliknya, ya biasa aja.' Sekarang, jadi kepikiran, emang kalo laki-laki ngga seneng diperhatikan gitu? Kalo dipikir-pikir, kayanya sih kesenangan mendapatkan perhatian ngga ada hubungannya sama jenis kelamin. 

Berdasarkan analisis tak berdasar ala saya, seorang individu - tanpa mempedulikan jenis kelaminnya, saat mendapatkan perhatian dari individu lain (bisa positif atau negatif), berarti mendapatkan pengakuan akan keberadaannya. Apa lagi ya? Tadi sih rasanya banyak yang pengin dibahas soal ini, tapi kok sekarang ngga kepikiran lagi ya?! ;p

Wednesday, March 21, 2012

if it isn’t documented it didn’t happen


Menurut KBBI, perjalanan memiliki empat arti; perihal (cara, gerakan, dsb.) berjalan; kepergian (perihal bepergian) dari suatu tempat dsb. ke tempat dsb. yang lain; jarak (jauh) yang dicapai dengan berjalan dalam waktu tertentu; perbuatan, kelakuan, tingkah laku. Kalo menurut saya, hampir sama dengan pengertian yang kedua, perjalanan merupakan proses perpindahan dari satu titik ke titik lain, bisa lokasi, kondisi, dst., mungkin bisa disebut juga sebagai proses perubahan. Selanjutnya, perjalanan yang saya maksud di sini adalah proses perpindahan dari satu lokasi ke lokasi lain.

Pada dasarnya, saya senang jalan-jalan, tapi dulu ngga punya sumber daya (baca: dana, waktu, teman jalan) yang memadai. Baru beberapa tahun terakhir ini (setelah punya penghasilan sendiri ;p), saya agak sering melakukan perjalanan, terutama yang bernuansa petualangan di alam. Saya masih ingat, perjalanan pertama saya adalah arung jeram bersama Mahanagari di Sungai Cimanuk, Garut. Berikutnya (tidak tersusun secara kronologis), ada perjalanan ke Gua Pawon, keliling museum di Bandung, berkunjung ke perkebunan dan pabrik teh serta rumah dan makam Bosscha di Pangalengan, mendaki Gunung Manglayang, mendaki Gunung Puntang dan menelusuri sepenggal Sungai Cigeureuh, mengarungi jeram Sungai Palayangan dan Cicatih, mengunjungi Gedung Merdeka, bermain air di Curug Siliwangi, Curug Bubrug (atau Bugbrug?), dan Curug Malela, berkemah di tepi Kawah Ratu – Tangkuban Parahu, bermalam di tepi Ranukumbolo, trus mendaki Gunung Semeru, melongok situs megalitikum di Gunung Padang – Cianjur, menelusuri gua karst dan sungai bawah tanah di Buni Ayu – Sukabumi, merasakan dinginnya hujan di pelataran Candi Arjuna dan melihat bias mentari di Telaga Warna – Dieng, menjelajah tempat ibadah, pantai, kebun binatang dan Lawang Sewu di kota Semarang, menghabiskan waktu (dan kesabaran serta uang ;p) di Malioboro, menelusuri Pantai Krakal  dan Sungai Karst di Gunung Kidul – Jogja, dan yang terbaru, mengamati ekskavasi situs arkeologi Majapahait di Trowulan – Mojokerto, menyaksikan hamparan lumpur Sidoarjo sejauh mata memandang, dan terakhir, di Bromo, menanti fajar di antara kabut dan gemeletuk gigi, berkuda di hamparan pasir, dan menyaksikan Gunung Batok dan kawah Bromo di antara hembusan angin.

Mengapa melakukan perjalanan? Untuk apa? Iya, buat apa ya? Buat saya, tujuan perjalanan bukan satu-satunya hal yang penting, perjalanannya sendiri juga penting. Misalkan tujuannya adalah Semeru, maka pengalaman menumpang kereta Bandung-Kediri-Malang, naik Land Rover Tumpang-Ranupani, melangkah dari Ranupani-Puncak adalah hal yang sama penting, bahkan lebih penting dibandingkan pada saat saya akhirnya menjejakkan kaki di Puncak Semeru. Sederhananya, orientasi saya adalah proses, bukan hasil. Trus, apa sih yang didapat setelah melakukan perjalanan? Mestinya sih, bukan sekadar kelelahan dan tambahan tumpukan cucian kotor. Pasti ada hal-hal baru yang meninggalkan kesan mendalam, belajar tentang alam, tentang diri sendiri dan orang lain, interaksi antarpersonal, mengenal budaya dan kuliner, mengasah kepekaan dan kesabaran, menguji kemampuan diri, belajar mengamati, berusaha menjadi pendengar yang baik, dan mendapat pengalaman baru yang bisa diceritakan.

Nah, sebenarnya perlu ngga sih perjalanan diceritakan? Kayanya perlu deh, bukan buat orang lain (yang mungkin berminat baca), tapi demi kepentingan pribadi ;p Menurut Cara Dokumentasi yang Baik, if it isn’t documented, it didn’t happen. Jadi, untuk membuktikan suatu peristiwa sungguh-sungguh terjadi, kita mesti mendokumentasikannya. Apakah bercerita sama dengan mendokumentasikan? Kalo kata saya sih, beda. Cerita bisa jadi dokumentasi jika didukung oleh bukti visual. Ibarat hadits, mungkin kalo cerita aja tanpa ada dukungan bukti visual, statusnya dhaif (lemah) ;p Buat saya, bercerita (melalui tulisan) adalah metode untuk memelihara detail suatu peristiwa. Biasanya, kalo udah lama, saya akan lupa detail suatu kejadian, makanya selagi masih ingat, harus ditulis. Selain itu, tulisan juga membantu memahami hal-hal yang mungkin sebelumnya luput dari pengamatan kita, mungkin.. ;p Kalo gitu, mari kita tuliskan perjalanan yang kita alami.. untuk mengawetkan ingatan, atau sekadar membuktikan kalo kita pernah ada, menambah populasi, dan berpetualang singkat di dunia ini. b^_^d

Tuesday, March 13, 2012

gapenting of the day :D

Ini fotonya Sinead O'Connor yang saya perlihatkan ke teteh pemilik salon wanita yang saya datangi akhir minggu kemaren.. Udah lama saya pengin punya model rambut begini, tapi belum nemu keberanian buat ngomong minta dipotongin begini, ditambah dulu kan belum pake kerudung, jadi ngga berani juga, ntar jadi mencolok dong.. atau yang lebih parah, dikira stress. Btw, emang orang stress biasanya potong rambut ya?! Kenapa analoginya begitu ya?!

Kembali ke topik soal potong rambut, akhir minggu kemaren nekat juga deh, minta rambutnya dipptong kaya foto di atas.. Eh, tetehnya ngga mau, katanya kasian klo plontos begitu ntar masuk angin (pengalaman pribadi beliau). Alhasil, saya mendapat potongan rambut lain, cukup mendekati sih dengan keinginan semula..cukup ekstrim, tapi ngga terlalu.. Bayangkan model rambut seperti di foto setelah beberapa minggu, tumbuh sekitar satu sentimeter. Nah, begitulah rambut saya sekarang.. :D

Gimana rasanya? Menyenangkan!! Kepala terasa lebih enteng, ngga perlu ribet buat nyisir, lebih irit shampoo dan air, waktu mandi juga bisa dipersingkat.. Efisien deh pokoknya!! Keringetan juga jadi lebih nyaman, meskipun karena rambutnya berkurang, keringat yang terserap di kerudung jadi lebih banyak..ngga terlalu mengganggu kok. :D

Klo begini, jadi kepikiran, sederhana banget ya buat saya untuk merasa bahagia?! Alhamdulillah :)


Published with Blogger-droid v2.0.4

pagi tadi..

Tadi pagi menyimak siaran percikan iman pak aam amiruddin sambil siap-siap mau berangkat.. Tadi ada yang nanya soal baca tahlil keras-keras setelah solat.. Jawabannya, praktek seperti itu ngga pernah dicontohkan Rasulullah, ada referensinya juga sih, lupa ayatnya, yang jelas, Allah berfirman kepada Rasulullah bahwa Allah itu dekat. Jadi, mestinya ngga perlu wirid keras-keras apalagi sampe pake loudspeaker dan kedengeran sekelurahan.. Nah, jadi nyambung deh ke anjuran untuk pengurus mesjid supaya ngga usah pake loudspeaker saat wirid, ceramah, belajar ngaji, dsb. Loudspeaker itu fungsinya buat mengeraskan suara adzan dan iqomah, dan pengumuman2 menyangkut hal-hal kemasyarakatan, misal buat berita duka cita, jadwal kerja bakti, dst.

Saya sepakat banget deh soal ini, klo udah begini kan jadinya malah ganggu, kasian kan buat yang lagi sakit atau misalkan ada yang lagi butuh konsentrasi belajar buat ujian.. Yang ada, biasanya (seperti yang saya sendiri alami), klo mesjidnya berisik gini, jadinya malah menggerutu.. Nah loh, jadinya yang dikeluhkan jadi mesjidnya, padahal kan yang salah pengurus mesjidnya... ;p

Ngomong soal loudspeaker mesjid yang terlanjur populer dengan sebutan toa (padahal kyanya toa itu nama merek ya?!), jadi inget guyonan sindiran alm. Gusdur.. Cerita soal pemeluk berbagai agama, begini nih... Orang beragama Budha mengaku sangat dekat dengan Tuhan, sampe-sampe panggilannya aja Oom.. Trus orang Kristen lebih dekat lagi dong, manggilnya aja Bapa.. Nah, klo muslim? Kata gusdur, klo muslim sih boro-boro deket, manggilnya aja pake toa :D


Published with Blogger-droid v2.0.4

Thursday, March 8, 2012

macaca nigra

National Geographic Indonesia (NGI) bulan maret menjadikan Macaca nigra (kera hitam Sulawesi) sebagai salah satu sajian utama, sampul depannya menampilkan wajah seekor yaki pemimpin kelompok. Selain bercerita tentang habitat dan populasinya yang semakin mengkhawatirkan, ada satu cerita lain yang menarik. Jadi, sama seperti kawanan hewan pada umumnya, yaki yang hidup berkelompok ini juga memiliki struktur sosial yang rumit, ada peringkat status yang dimiliki oleh setiap individu. Biasa lah, ada jantan alfa, beta, gamma, dst., betina juga sama, ada yang alfa, beta, dst. Posisi alfa berarti posisi yang paling tinggi, pemimpin kelompok. Trus ada juga drama perebutan kekuasaan yang katanya mirip dengan yang terjadi di dunia manusia..ada kolaborasi antaryaki, perhitungan untung-rugi, dsb. Selain itu, ternyata - saya baru ngeh - di dunia primata juga ada yang gay.. Ini nih kutipan artikelnya (dari hal. 26):


Yaki jantan yang tertekan karena tak pernah bisa memenangkan persaingan dengan jantan lain bisa mengubah perilaku seksualnya. "Daripada dikalahkan terus oleh jantan lain, perilakunya jadi seperti betina. Itu disebut dengan gay, dan memang ada dalam dunia primata," ungkapnya (Jatna Supriatna, ahli primata Indonesia). Ia akan berbaur dengan para betina dan ikut mengasuh anak-anak.


Jadi penasaran, apakah gay pada manusia juga terjadi karena alasan yang sama?! Tapi kok cuma diceritain yang jantannya ya, klo betina yang jadi berperilaku jantan ada ngga ya?!


Published with Blogger-droid v2.0.4