Wednesday, June 6, 2012

Caper Lawu-Sangiran (bagian 1)

Jumat malam saya bergegas ke Stasiun Bandung buat ketemuan sama rombongan Geotrek Indonesia. Kali ini kami menumpang kereta Lodaya Malam menuju Stasiun Solo Balapan. Dari Bandung jam delapan malam, kami sampai di Solo sekitar jam lima lewat. Setelah sholat subuh, ketemu dengan anggota rombongan lain yang pergi duluan dan nunggu rombongan yang dari Jakarta, terus cari sarapan. Menu sarapan kami adalah nasi gudeg di 'Gudeg Ayu', Jalan Gajah Mada 152, ngga jauh dari stasiun. Beda dengan gudeg Jogja, gudeg yang di sini kreceknya pedas, enak deh! Selesai sarapan, kami langsung menuju destinasi pertama, Candi Sukuh.

Stasiun Solo Balapan
Menu Sarapan: Gudeg Ayu
Candi Sukuh ini merupakan tempat menyepi terbesar dan paling kompleks di lereng Gunung Lawu di ketinggian 910 mdpl. Candi Sukuh terletak di Kabupaten Karanganyar, untuk mencapainya bisa melalui jalan ke arah Tawangmangu, kemudian berbelok ke kiri/utara di area Karangpandan. Dari inskripsi yang ditemukan, diketahui bahwa candi ini dibangun antara tahun 1416 - 1459. Candi ini dikategorikan sebagai candi Hindu karena banyak ditemukan objek pujaan lingga dan yoni - simbolisasi laki-laki dan perempuan. Tapi, tidak seperti di candi Hindu pada umumnya, di sini simbolisasinya lebih vulgar, makanya candi ini cukup kontroversial. 

Beberapa relief di sini memvisualisasikan genitalia laki-laki dan perempuan secara gamblang. Selain pada relief, genitalia perempuan juga disimbolisasi dengan celah-celah yang dibuat sempit pada setiap tangga. Mungkin ini juga yang menyebabkan candi ini menjadi salah satu situs yang dipercaya dapat membawa berkah kesuburan bagi pengunjungnya. Di samping itu, konon candi ini juga dipergunakan untuk uji keperawanan. Katanya, perempuan yang menaiki tangga candi ini, jika masih perawan, maka selaput daranya akan robek dan berdarah, tapi jika sudah tidak perawan, maka kain yang dipakainya akan robek dan terlepas. Soal ini, saya beri gambaran, desain anak tangga di candi induk dibuat dengan jarak antaranak tangga cukup jauh, sehingga kita yang naik cenderung akan membuka kaki lebih lebar, di masa lalu, saat perempuan umumnya memakai kain, ya hampir pasti kainnya akan robek, jika metode menaiki tangganya biasa aja. 

Selain reliefnya yang kontroversial, bentuknya yang tidak biasa juga membuat candi ini berbeda. Candi ini bentuknya seperti piramid beratap datar, makanya ada yang menghubungkannya dengan bangunan pada masa Maya di Amerika Tengah sana (ada yang membandingkan dengan Piramida Kukulkan). Saat di sana, narasumber kami, Pak Awang, menjelaskan bahwa menurut beliau, melihat candi dan reliefnya, candi ini dibangun berdasarkan cerita Adiparwa, bagian pertama dari kisah Mahabharata. Bentuk piramida beratap datar ini merupakan penggambaran untuk Gunung Mandaragiri yang puncaknya diambil untuk mengaduk laut dalam rangka mencari Tirta Amerta. Teori ini juga didukung dengan keberadaan tiga kura-kura di depan candi. Dalam kisah Adiparwa tadi, kura-kura ini adalah para penyangga gunung tersebut. Relief lain menceritakan legenda Garudeya tentang perjalanan Garuda mencari Tirta Amerta demi membebaskan ibunya dari perbudakan.

Relief yang vulgar dan relatif kasar - berbeda dengan relief di Candi Borobudur atau Prambanan - membuat orang-orang berspekulasi tentang keberadaan candi ini. Teori yang muncul diantaranya, candi ini dibuat oleh para penganut agama Saba (pemuja matahari dan bintang). Teori lain yang lebih masuk akal adalah kemungkinan bahwa candi ini dibuat terburu-buru (secara waktu itu adalah akhir masa pemerintahan Majapahit), atau pembuatnya adalah rakyat biasa dengan kemampuan artistik yang kurang begitu baik.

Candi Sukuh

Gerbang Candi Sukuh menghadap ke barat, ke arah Gunung Lawu

Kura-kura penyangga Gunung Mandaragiri

Salah satu arca dilengkapi genitalia laki-laki

Tangga ujian

Dari Sukuh, perjalanan kami lanjutkan ke Candi Cetho (cetho = bahasa jawa untuk jelas), berada di ketinggian 1470 mdpl. Menurut penelitian, candi ini dibangun pada akhir masa pemerintahan Majapahit, usianya tidak jauh dari usia Candi Sukuh. Candi ini terdiri atas banyak teras. Saat ditemukan, ada 14 teras, saat ini ada 13 teras, tapi yang dipugar hanya 9 teras. Tidak jauh berbeda dengan Sukuh, candi ini juga banyak mereliefkan Bima. Candi ini masih digunakan sebagai tempat pemujaan oleh penduduk setempat yang beragama Hindu dan populer sebagai tempat pertapaan untuk penganut Kejawen. Sejak masa Orde Baru, bahkan hingga sekarang, katanya masih ada banyak politisi dan pejabat yang berkunjung ke sini (untuk mencari kekuatan adikodrati demi menunjang karir politik mereka). 

Sayangnya, struktur candi ini sudah tidak asli lagi. Gara-garanya, sekitar akhir 1970-an, seorang asisten pribadi (alm.) Soeharto yang bernama Humardani melakukan pemugaran berupa gapura megah di setiap teras (mirip gapura di pura), bangunan-bangunan kayu tempat pertapaan, patung Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, phallus, dan bangunan kubus pada puncak punden. Satu-satunya artefak yang asli (termasuk posisinya) adalah gambaran kompleks terbuat dari batu yang diletakkan mendatar di atas tanah. Di ujung sebelah barat terdapat sebuah phallus/lingga besar terletak mendatar dan menunjuk ke arah barat. Pada dasarnya, terdapat penggambaran seekor penyu pada punggung seekor kelelawar besar. Pada punggung penyu terdapat sejumlah hewan laut dengan orientasi menuju berbagai arah mata angin.

Karena penampakkan arca yang dianggap tidak biasa, beberapa kelompok berkeyakinan bahwa candi ini memperlihatkan superioritas orang-orang zaman dahulu, itu loh, penganut aliran yang meyakini bahwa Kepulauan Indonesia ini dulunya adalah Atlantis. Beberapa kelompok meyakini arca ini menggambarkan orang timur tengah dalam keadaan ketakutan karena ditaklukkan. Kemungkinan lain, sebetulnya arca ini menggambarkan tokoh pewayangan.

Arca yang dipercaya menggambarkan orang timur tengah
Struktur puncak punden
Peninggalan yang paling menarik, berupa phallus, hewan laut di atas kura-kura di atas kelelawar 

Di samping kiri depan Candi Cetho, kami makan siang dengan menu lontong disertai sate ayam dan atau sate kelinci berbumbu kacang. Di sini satenya enak, daging semua :D

Menu makan siang: Lontong dan sate bumbu kacang

Setelah makan siang, kami menuju ke situs Watu Kandang. Lokasinya di Dukuh Ngasinan Lor, Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Situs ini adalah peninggalan masa prasejarah berupa tatanan batu-batu alam yang teratur dan diduga merupakan tinggalan zaman megalitikum. Berdasarkan orientasinya yang menghadap ke arah barat dan timur - Gunung Lawu, Bangun, dan Ganoman - maka disimpulkan bahwa batu-batu ini dimaksudkan sebagai tempat pemujaan kepada alam semesta (dalam hal ini, gunung).

Orientasi yang lebih jelas terlihat pada batu-batu di depan pos yang berada di pinggir jalan, sementara lebih jauh ke dalam, di antara lahan pertanian ubi, ditemukan lebih banyak batu berukuran besar yang berserakan, namun orientasinya relatif jelas. Di suatu titik, terdapat bekas penggalian yang konon baru-baru ini di dalamnya telah ditemukan peninggalan berupa manik-manik.

Salah satu batu besar yang diorientasikan menghadap Gunung Lawu
Batu-batu dengan orientasi yang lebih jelas
Sementara sampai sini dulu ya laporannya, to be continued...

Next: Grojogan Sewu dan Sangiran :D 

ps. materi yang saya cantumkan di sini berasal dari materi yang dibagikan pada peserta, bukan berdasarkan ingatan saya saja :D

dua tahun empat hari

Udah dua tahun aja saya sejak saya pertama menjejakkan kaki di tempat kerja yang sekarang, lebih tepatnya dua tahun empat hari. Tanggal 2 Juni 2010 adalah tanggal saya menandatangani surat perjanjian kerja waktu tertentu dan resmi menjadi salah satu trainee. Wah, rasanya seperti baru kemarin :)

Akhir-akhir ini, entah kenapa kok rasanya peristiwa-peristiwa dalam hidup saya tampak banyak yang lucu ya?! Misalnya nih, sebetulnya saya termasuk individu yang cenderung menghindari tanggung jawab, tapi ternyata saya terjerumus pada pekerjaan yang menuntut tanggung jawab itu ;p Awalnya, saya masih berbagi tanggung jawab dengan staf lain, beliau jadi semacam penyelia atas pekerjaan saya. Saya jadi lebih tenang, karena tau pekerjaan saya akan diperiksa oleh orang lain sebelum disahkan dalam bentuk dokumen resmi. Nah, beberapa waktu lalu, kejutan!!! Perubahan konfigurasi di unit kerja saya menempatkan saya untuk bertanggung jawab penuh atas pekerjaan saya. Akhirnya, cuma bisa pasrah aja deh, sambil deg-degan. 

Waktu berlalu, saya mulai terbiasa dan akhirnya menerima kenyataan kalo seringkali ketakutan-ketakutan yang kita bayangkan lebih banyak yang ngga terjadi tuh, meskipun tetep juga sih, di sudut otak saya yang kecil ini masih ada pikiran yang menyuarakan, ‘Hey, shits (will) happen!!’ :D 

Masih dalam fase berusaha, kejutan lain pun datang. Pekerjaan saya ditambah lagi, dapet limpahan tanggung jawab dari personil lain yang mendapat tanggung jawab spesifik yang lebih besar dan membutuhkan fokus yang lebih dahsyat (lebay ;p). Dalam hati, saya pengin teriak, ‘Why me?????!!!!!’, tapi (ngga) langsung sadar, mungkin itu artinya atasan saya percaya kalo saya mampu kali ya?! (kok bisa ya? Padahal saya aja ngga yakin tuh :p) Lagian, saya ngga pernah mempertanyakan ‘kenapa saya’ saat dapet sesuatu yang menyenangkan, jadi, ya kenapa harus mempertanyakan ‘kenapa’ saat mendapat sesuatu yang ngga begitu menyenangkan, iya kan?! Ok lah, ngga apa-apa, nambah kerjaan, nambah sibuk, (semoga) semakin sedikit kesempatan buat ngantuk, semakin kecil kemungkinan untuk magabut :D (insaf mode ;p) 

Setelah dikasi tau pembagian tugas yang baru, rekan kerja saya ada yang bilang, ‘Makanya kerjanya jangan cepet-cepet, jadi kan dikiranya loading kerjaannya ngga banyak, dan bisa ditambahin.’ Aduh, kok saya jadi merasa bodoh ya?! Maksud saya kerja cepet itu karena pengin cepet-cepet santai dan ngga repot dikejar-kejar orang lain yang nungguin kerjaan saya. Saya sadar saya ngga begitu suka menunggu, jadi ya saya sebisa mungkin tidak membuat orang lain nunggu, salah ya?!

aftermath

Makin ke sini, setelah merasa sedikit lebih mampu secara ekonomi, metode jalan-jalannya jadi lebih banyak pilihan, mau lebih mengutamakan prinsip ekonomi atau lebih memilih kenyamanan, saya lebih leluasa untuk menentukan. Selain itu, kemungkinan melakukan flashpacking juga jadi lebih besar :D Saya merasa, saat ekonomis menjadi pilihan (dan bukannya tuntutan), maka semuanya jadi lebih menyenangkan, nuansa petualangannya lebih berasa!! Tapi, ke sini-sini, gara-gara ini juga, saya kok jadi merasa manja ya?! Akhir-akhir ini saya lebih sering jalan-jalan nyaman daripada jalan-jalan ekonomis.

Bagaimana pun juga, alhamdulillah yah, masih sehat, masih punya uang, masih punya waktu, masih ada tujuan jalan, masih punya temen yang mau ngajakin atau diajakin atau nemenin atau ditemenin jalan-jalan :D Cerita soal jalan-jalan, ngga selalu menyenangkan, ada juga yang ngga begitu menyenangkan - setelahnya.

Berhubung saya termasuk pekerja terikat waktu, saya cuma punya waktu jalan-jalan pas libur aja - akhir minggu atau hari libur nasional atau cuti bersama. Padahal, libur kerja juga artinya waktu untuk menyelesaikan pekerjaan rutin upik abu. Maka, komplikasinya adalah, setelah jalan-jalan (terutama yang menginap), pekerjaan upik abu ngga terselesaikan dan terbengkalai, yang ada justru ditambah sama oleh-oleh dari perjalanan.

Tau begini, kalo saya pinter, mestinya saya sudah bisa melakukan langkah antisipasi supaya hal ini ngga berulang. Tapi, hanya soal waktu aja sih, ntar juga beres, cepat atau lambat. No worry :)


Published with Blogger-droid v2.0.4

Sunday, June 3, 2012

solobalapan

Lagi nunggu kereta melaju dari solo ke bandung nih. Semoga tiba di bandung tepat waktu yaa :D Akhir minggu ini jalan-jalannya asik banget deh, padat dan kaya materi, sekaligus santai. Banyak cerita dan ilmu yang didapet, ketawa-ketawa, bahkan kali ini meskipun padat, tapi sempet belanja-belanja. Rute kali ini adalah candi sukuh, candi cetho, situs megalitik watukandang, dan grojogan sewu di hari pertama. Hari kedua ke sangiran dome dan museum sangiran, trus ke lapangan juga, nengokin situs ekskavasi. Cerita lengkapnya nanti yaa, semoga diberi kekuatan untuk bercerita.. *halah ;p


Published with Blogger-droid v2.0.4

Friday, June 1, 2012

racauan jelang lelap :)

Biar pun sudah hampir setengah usia hidup saya sejauh ini saya tinggal di bandung, kayanya saya ngga kenal-kenal banget tuh sama bandung, masih banyak banget bagian kota ini yang saya ngga tau dan belum terjelajahi.

Diantaranya soal angkot, saya kayanya belum pernah pake semua rute angkot yang ada. Cita-cita saya mendatang (ngga tau kapan ;p), saya mau cobain semua rute angkot dari terminal ke terminal. Sepertinya bakalan seru :D

Ngomong soal angkot, ada beberapa rute yang sudah familiar, ada juga beberapa hal menarik seputar angkot. Misalnya, angkot cibaduyut-karangsetra itu ada tiga segmen, ngga ada tuh angkot dari cibaduyut sampe karangsetra, yang ada, karangsetra-ciateul (depan toko tas elizabeth), kebon kalapa-leuwipanjang, sama kebon kalapa-cibaduyut. Rute lain yang kasusnya mirip, sederhana-cipagalo, rute sebenarnya adalah sederhana (sukajadi)-kebon kalapa, sama kebon kalapa-buah batu.

Satu lagi yang baru saya tau kemaren, rute stasiun hall-ciumbuleuit. Angkot ini ada dua jenis, yang ada tulisan 'lurus' sama 'belok'. Dari zaman sma saya ngga tau apa bedanya, ternyata, perbedaannya teletak pada rute yang diambil saat dari ciumbuleuit menuju stasiun. Kalo yang lurus, dia beneran lewat jalan cihampelas sampe ke stasiun. Nah, kalo yang belok, di sekitar cihampelas (lupa nama jalannya ;p), dia akan berbelok, lewat jalan-jalan kecil sampe akhirnya di sekitar belakang hasan sadikin angkotnya balik lagi menuju ciumbuleuit. Dan akhirnya saya tau arti lurus dan belok itu. Eureka!!! :D

Published with Blogger-droid v2.0.4

Wednesday, May 30, 2012

kangen (repost ;p)

Akhir minggu kemarin sedikit mengingatkan saya sama masa-masa kuliah dulu. Jadi kangen!! Tulisan di bawah ini juga ngga jauh beda nuansanya.. 


I just finished watching the first third episodes of Japanese drama, Proposal Daisakusen. The story is about a man who attended his girlfriend’s wedding, they have been friends since elementary school and always in the same class and sitting next to each other. Anyway, he actually had some feelings for her, so he felt regretful for the past and he wished that he could return to the past, so that he can tell her how he feels for her.

Speaking of this, sometimes I feel that things that had happened to me just gone away and forgotten, and this movie kind of reminds me the old memories, all out of sudden, everything just passes my mind, everything that I used to take it for granted, and how ignorance I have been.

Maybe it’s just another melancholic episode of my life, but I recall things, little things such as the excitement of attending classes in high school and college, the time of struggling not to fall asleep during lectures, passing lists, announcements, listing forms; doing reports until late; studying for tests but end up with just eating snacks and junk foods (with lots of MSG ;p) and watching another Japanese or Korean drama.

For me, it is the little things that counts, big things are actually made from lots of little things, the insignificant chat, the laughter, the bitterness, stupid comments, oh, how I miss them so much….


-October 26, 2008-

saya bukan panitia!!


Di tempat kerja saya banyak banget acara-acara ekstrakurikuler, hampir mirip sama sekolahan. Udah gitu, sering juga ada acara-acara seremonial, misalnya ulang tahun perusahaan, ulang tahun serikat pekerja, dsb. Gara-gara saya termasuk kategori karyawan baru, saya jadi sering dilibatkan dalam kepanitiaan. Berdasarkan pengamatan saya dalam kepanitiaan ini (yang belum tentu bisa dipercaya ;p), kalo diklasifikasikan berdasarkan kecenderungan dalam kepanitiaan, kayanya manusia itu bisa dibagi ke dalam tiga kelompok; tipe panitia, tipe peserta, dan tipe penonton. 

Tipe panitia dihuni oleh orang-orang dominan yang senang mengatur dan mengurus, tidak hanya diri sendiri, tapi juga orang lain. Orang-orang tipe ini cenderung heboh dan rame, pokoknya hampir ngga mungkin deh keberadaan mereka tidak terdeteksi. Mereka senang mengatur dan mengendalikan, jadi terbiasa memimpin, makanya pasti bakal menderita kalo mereka terlibat pada suatu acara ‘hanya’ sebagai peserta, dan bukannya panitia. Seringnya, saat mereka ‘terpaksa’ berada di posisi peserta atau penonton, mereka akan banyak berkomentar.

Nah, kalo tipe penonton, kebalikan dengan tipe panitia, tipe ini lebih senang menempatkan diri di tepi keramaian dan mengamati. Orang-orang ini cenderung tak kasat mata, sering asik sendiri, dan ngga akan terlihat mencolok, sehingga mungkin keberadaannya ngga akan begitu disadari oleh orang lain. Karena lebih senang sendiri, saat ditempatkan pada posisi panitia, maka itu akan menjadi sebuah siksaan terbesar untuk tipe ini. (saya banget deh!! :D)

Bagaimana dengan tipe peserta? Tipe peserta ini berada di tengah-tengah antara dua ekstrim tipe panitia dan penonton. Kayanya sih tipe ini adalah tipe yang paling umum ditemui, mereka lebih fleksibel, bisa bergerak leluasa di antara peran panitia dan penonton. Mereka ini terlibat, tapi ngga mendominasi. Ya gitu deh, kira-kira. 

Sunday, May 27, 2012

La dolce vita – Caper Papandayan

Kalo ngga salah, la dolce vita artinya hidup yang manis atau manisnya hidup. Kalo buat saya, hidup pas-pasan bisa jadi salah satu hal yang manis dalam hidup. Pas-pasan dalam artian kaya iklan itu loh, pas lagi butuh uang pas dapet arisan, pas libur panjang pas ada agenda jalan, pas laper pas waktunya makan dan ditraktir, dan peristiwa-peristiwa pas-pasan lainnya :D Libur panjang kemarin, pas banget temen saya ngajak bertualang lagi, di saat saya sudah mulai merindu udara bersih dan kesenyapan di ketinggian, ditambah butuh pelarian dari kepadatan dan kemacetan Bandung. 

Jumat pagi (ngga pagi-pagi banget sih, sekitar jam setengah sembilan), saya dan kelima rekan petualang meluncur dari Mesjid Salman ke Cicaheum untuk menuju Garut, tepatnya Cisurupan. Dari Cicaheum kami menggunakan elf Bandung – Garut yang ke Cikajang, bayarnya 17ribu sampe Cisurupan. Kalo mau pake bis bisa juga sih, nanti dari terminal Guntur ya nyambung lagi pake angkot yang ke Cisurupan. Durasi perjalanan Cicaheum – Garut menurut saya lebih lama dari pada Leuwipanjang – Garut, jadi kalo pengin cepet sebenernya mendingan pergi dari Leuwipanjang. 

Lewat tengah hari, sekitar jam satu atau setengah satu, setelah satu kali transfer elf di daerah kota, kami sampai di Cisurupan, langsung cari tempat makan dan sholat. Beres makan, kami meneruskan perjalanan menuju Papandayan, kali ini kami menggunakan mobil pick-up, ongkosnya 12.500 rupiah per orang, tarif yang wajar, soalnya rutenya lumayan jauh sih (kata temen saya, jauhnya kaya dari Cikole ke Tangkuban Parahu), menanjak dan berkelok-kelok, agak mengingatkan dengan perjalanan Tumpang – Ranupani sebetulnya, tapi minus jurang di kanan-kiri. Pemandangan selama perjalanan juga keren, kalo kita melihat ke belakang, Gunung Cikuray yang mistis itu tampak mengesankan, megah, seram sekaligus mengundang :D Bentuknya cantik banget, puncaknya terlihat kerucut, simetris seperti gambar gunung yang dulu biasa dibuat waktu SD. 

Gunung Cikuray terlihat dari jalan menuju Papandayan

Sekitar jam dua atau setengah tiga, kami tiba di parkiran, lapor ke petugas dan relawan di sana (ngga pake bayar sepeser pun), trus langsung trekking menuju Pondok Saladah. Rute trekkingnya mirip rute di Tangkuban Parahu, ya iyalah, kan sama-sama kawah, tapi di sini kawahnya lebih besar (kata artikel yang saya baca, Papandayan ini adalah salah satu kawah terluas di Asia Tenggara loh!), asapnya heboh, apalagi aroma belerangnya, bikin mata perih dan berair. Tambahan, kalo mau ke sini, perhiasan perak sebaiknya disimpan, soalnya nanti bisa menghitam teroksidasi kalo kena asapnya. Melintasi kawah yang luas mengingatkan kami pada perjalanan Frodo ke Mordor. Di sini, berhubung treknya relatif berbatu, mendingan pake sepatu, bisa aja sih pake sandal gunung, tapi menurut saya, risiko cederanya bakal lebih besar, lumayan sakit loh kesandung batu, yah paling ringan, lecet-lecet.

Pemandangan kawah yang kami lewati (jadi berasa Hobbits ;p)

Lepas dari kawah yang tandus, perjalanan kemudian melewati jalan berbatu dengan lembah hijau di sisi kanannya. Jalan ini memutar sisi gunung, kemudian terputus longsor di satu titik (sejak 2010), sehingga kita terpaksa harus mengambil jalur menuruni lembah, melintasi sebuah sungai kecil, kemudian menanjak lagi memasuki hutan cantigi, melandai, menanjak, menurun sedikit, menanjak sedikit, hingga sampai ke suatu bukaan dengan padang rumput dan beberapa semak Edelweis, dengan pemandangan punggung gunung di sekelilingnya – Pondok Saladah. Saya ngga tau kenapa namanya Pondok Saladah, mungkin dulu di sini banyak Saladah (Bahasa Indonesia: selada) yang tumbuh. Senangnya sampe di sini, meskipun treknya ngga terlalu berat, tapi lumayan cape juga, terutama bahu yang udah lumayan ngga terlatih membawa beban – meskipun sebenernya ngga berat-berat amat sih, kan cuma bawa perbekalan pribadi. 

Pondok Saladah ini merupakan area perkemahan yang cukup ramai, apalagi di musim liburan. Saat kami tiba, sudah ada banyak tenda didirikan, teman-teman saya yang cowok berkeliling sebentar untuk memilih area buat mendirikan tenda kami. Area yang kami pilih berada di dekat pepohonan, maksudnya biar tenda kami cukup terlindung dari terpaan angin, ditambah kami butuh dahan pohon untuk mendirikan bivak buat para cowok tidur. 

Setelah bivak dan tenda rapi, kami makan sore, kabut mulai turun, dan malam pun datang berselimut gelap. Selepas sholat, meskipun ngga begitu ngantuk, saya bergegas tidur – soalnya udara sudah mulai dingin (padahal baru jam 7 malam). Meskipun di dalam kantong tidur, kerasnya tanah alas tidur kami lumayan berasa, alhasil, setiap beberapa waktu, saya terbangun dan mengubah posisi tidur. 

Pagi pun datang, selesai sholat, makan pagi, dan akhirnya merasa ngga begitu kedinginan, sekitar jam delapan kami bersiap menuju Tegal Alun. Barang-barang kami tinggal di tenda, kami hanya membekal beberapa botol minum dan camilan. Seperti rute ke Pondok Saladah, ada banyak trek yang bisa diambil untuk menuju Tegal Alun. Jalur kali ini lumayan menanjak, kemiringannya mungkin sampe 60 derajat, tapi secara umum ngga begitu sulit sih, soalnya di jalur ini terdapat batu-batu besar yang dapat membantu kita mendaki, sepertinya jalur ini juga jalur air, di beberapa tempat batunya berlumut, jadi mesti hati-hati juga. Untuk trek seperti ini, rasanya ngga begitu susah buat naik, yang jadi masalah (buat saya), biasanya justru waktu turun. Kombinasi kekhawatiran jatuh dan lelah biasanya membuat saya jadi lebih lambat dan ragu-ragu mengambil langkah, makanya metode turun yang paling aman buat saya biasanya ngesot – posisikan titik berat tubuh sedekat mungkin dengan permukaan tanah, biar ngga jatuh dan kalau pun harus jatuh, rasanya ngga akan terlalu sakit :D 

Pemandangan dari lereng menuju Tegal Alun: trek menuju Pondok Saladah
Rumpun Edelweis (Anaphalis javanica) di Tegal Alun
(masih) Edelweis, bunganya kebanyakan masih kuncup
Awalnya kami hendak menuju puncak tertinggi di Papandayan ini, tapi di sini ada banyak puncak, dan ngga begitu jelas juga mana yang paling tinggi. Cerita orang yang pernah ke sini juga rasanya ngga ada yang menyinggung soal puncak sih, yang ada pasti cerita soal padang Edelweis - Tegal Alun. Sekitar jam sembilan kami tiba di Tegal Alun, bunga Edelweisnya ada banyak, tapi rata-rata masih kuncup. Kombinasi kabut dan warna daun Edelweis yang berkilauan membuat suasananya keren banget, saya ngga tau kata-kata yang tepat buat menggambarkannya, breathtaking mungkin?! Oh ya, kata bapak yang nganter kami pulang, Edelweis ini musim berbunganya sekitar Mei-Juni sampe Agustus, jadi kalo mau liat Edelweis pas lagi mekar, datengnya sekitar bulan itu.

Di sini, kami beristirahat dan membuka bekal kami. Cokelat panas yang kami bawa rasanya mantap sangat deh diminum di sini, di tengah kabut yang kian menipis, di antara kumpulan Edelweis. Setelah ngobrol soal ini-itu, foto-foto, berkeliling, kami memutuskan untuk segera kembali ke Pondok Saladah, supaya perjalanan pulang bisa segera dimulai dan kami secepatnya tiba di Bandung demi Final Liga Champion. 

Pemandangan saat pulang menuju Pondok Saladah
The Fellowship of Edelweis :D
Perjalanan pulang

Di perjalanan turun, kami sempat bertemu dengan rombongan lain yang menuju Tegal Alun, sepertinya mereka akan menginap di sana. Seperti biasa, perjalanan pulang terasa lebih cepat dari perjalanan pergi. Tiba di tenda, kami langsung beres-beres dan segera melewati kawah Mordor lagi menuju parkiran. Di tempat parkir, kami bersih-bersih dan sholat, lapor ke petugas, kemudian menumpang pick-up menuju Cisurupan, kali ini tarifnya sepuluhribu rupiah. Dari Cisurupan kami menumpang angkot hingga ke terminal Guntur, ongkosnya limaribu rupiah. Dari terminal, kami menumpang bis Mios menuju Cicaheum dengan membayar sepuluhribu rupiah. Perjalanan dari Garut ke Rancaekek relatif cepat, yang lama itu justru dari Rancaekek ke Cicaheum, jalanannya rame. Tapi cukup menyenangkan juga sih, soalnya dikompensasi  dengan pemandangan istimewa: Gunung Manglayang. Menjelang Maghrib kami tiba di Cicaheum, saling mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal, kemudian meneruskan perjalanan menuju rumah masing-masing – buat saya, pake Damri menuju Leuwipanjang. Saya naik bis yang ber-AC, bayarnya tigaribu. Berhubung sudah lama ngga naik Damri, kali ini entah kenapa perjalanannya berasa lebih menyenangkan :D Nah, gitu deh, overall, trip kali ini hemat banget dan sejalan dengan prinsip ekonomi ^_^

ps. Edelweis itu tumbuhan langka, bahkan katanya di Bromo sekarang sudah punah, makanya jangan dipetik yaa, cukup dinikmati secara visual saja, ambil foto sepuas-puasnya. Temen saya bilang, Edelweis itu berarti karena perjalanan panjang yang harus kita tempuh untuk menjumpainya, dan saat kita bawa turun, maka bunga itu jadi ngga ada artinya lagi, gitu deh kira-kira. Papandayan ini adalah salah satu tempat yang direkomendasikan selain Alun-alun Surya Kencana dan Mandalawangi (di TN. Gede-Pangrango) dan Rinjani untuk menikmati padang Edelweis.

Monday, May 21, 2012

because it's there

Gitu deh jawabannya George Mallory waktu ditanya salah satu wartawan, 'Why climb Everest?'. Habis liat film dokumenter soal beliau dan ekspedisinya ke Everest. Judul filmnya The Wildest Dream, naratornya keren-keren, ada Liam Neeson, Ralph Fiennes, dan Alan Rickman. Biar pun cuma suaranya aja, tetep aja mereka keren, suaranya aja berkarakter :D *ngomong apa ini?! ;p

Mallory mendaki Everest bersama Sandy Irvine pada tahun 1924, ini adalah kali ketiga usahanya menuju puncak Everest. Kebayang ngga sih gimana beratnya ekspedisi beliau ini? Dengan keterbatasan teknologi di masa itu? Katanya, pada masa itu seluruh dunia lagi heboh-hebohnya melakukan banyak penjelajahan, diantaranya ekspedisi ke kutub utara dan kutub selatan. Kesuksesan ekspedisi kedua kutub itulah katanya yang menginspirasi Mallory untuk menaklukkan kutub ketiga di dunia, Everest. Mallory adalah orang pertama yang menjelajah Everest, merintis jalur pendakian sendiri, dan menjadi perintis metode pendakian gunung tinggi yang sampai saat ini masih diterapkan oleh para pendaki-yaitu menerapkan pendekatan nyaris seperti penyerbuan militer (kata film ini), dimana dia mendirikan beberapa camp sepanjang jalur pendakian, kemudian bolak-balik antarcamp ini (untuk menyiapkan logistik, merintis jalur, sekaligus aklimatisasi). Keren ya?! Dia menjadi yang pertama sebelum 29 tahun kemudian ada ekspedisi Sir Edmund Hillary yang dianggap sebagai ekspedisi Everest resmi yang pertama.

Tahun 1921 ekspedisinya yang pertama dilakukan, tapi terpaksa dihentikan karena kendala cuaca-seperti ekspedisi tim seven summit sekarang. Ekspedisi kedua, gagal setelah tujuh rekan pendakinya tewas akibat longsoran salju. Peristiwa ini sebetulnya membuat dia merasa bersalah dan trauma untuk kembali ke Everest, tapi saat tau akan ada ekspedisi lagi, dia tentu saja ngga mau ketinggalan, meskipun sebetulnya dia agak galau juga sih buat meninggalkan istri dan ketiga anaknya. Toh, akhirnya ketertarikannya pada Everest menang dan sang istri tercinta pun dia tinggalkan. Soal ini, ada narasumber yang menggambarkan hubungan Mallory, istrinya (Ruth), dan Everest sebagai cinta segitiga. Saat bersama Ruth, Mallory memimpikan Everest, dan saat di Everest, Mallory memikirkan Ruth. Aaah... So sweet banget ya?! Udah gitu, romantismenya diperkental dengan kebiasaan mereka menulis surat (seperti orang-orang di masa itu pada umumnya)-yang kayanya udah hampir punah di zaman sekarang.

Film ini awalnya dibuka oleh narasi Mallory dan Irvine yang terakhir terlihat sekitar 800 kaki dari puncak dan kemudian mereka hilang. Pencarian dilakukan, mereka tidak ditemukan. Pertanyaan besarnya adalah, apakah mereka berhasil mencapai puncak sebelum hilang?

Banyak yang ngga yakin mereka hilang setelah berhasil mencapai puncak, karena katanya tampak agak sulit untuk mereka melewati satu rintangan terakhir yang namanya Second Step.

Nah, 75 tahun kemudian, pencarian jasad Mallory dan Irvine dilakukan, dan nasib mempertemukan jasad Mallory yang masih utuh dengan Conrad Anker, pendaki yang kemudian berusaha merekonstruksi metode pendakian Mallory dan mencoba menjawab apakah Mallory sampai puncak atau tidak.

Pada 2007, Pak Anker ini kemudian merekonstruksi pakaian yang digunakan Mallory, kemudian bersama partner mendakinya, mencoba pakaian tersebut di beberapa rute menuju Everest. Di akhir film, Anker juga melintasi Second Step dengan mendaki bebas (tanpa bantuan tangga yang sebetulnya dipasang disitu oleh tim dari China pada 1975 - si tangga di-remove dulu untuk merekreasi kondisi waktu Mallory mendakinya 83 tahun sebelumnya). Kesimpulannya?! Berhasil ngga ya?? Penasaran ngga?! Nonton aja sendiri, dijamin bakal ikutan menggigil dan kedinginan dan deg-degan serta terpesona kemegahan Everest ;D

Oh ya, satu lagi alasan kenapa dipercaya kalo mereka mungkin sudah mencapai puncak adalah, pada jasad Mallory, semua barang yang dia bawa ditemukan lengkap, hanya satu yang ngga ada, yaitu foto istrinya, Ruth, yang dia janjikan akan dia simpan di puncak. Waah..romantis abis ya, Pak Mallory ini. Info lainnya, sayangnya jasad Sandy Irvine masih tetap belum ditemukan.

Published with Blogger-droid v2.0.4

Friday, May 18, 2012

lagi di salman niih :D

Hari ini libur, tapi dari setengah tujuh udah beredar aja. Jalanan belum terlalu rame, jadi jam 7.15-an (lebih awal 15 menit) saya udah nyampe di lokasi janjian-mesjid salman. Masih pagi, mesjid lagi dibersihkan, bangku-bangku tempat duduk di selasarnya lagi dirapikan, trus lantainya disapu dan dipel.

Udah lama ngga ke sini, sekarang tempat wudhunya udah berubah, ngga tau sejak kapan, terakhir saya ke sini, jumlah toiletnya belum nambah, sekarang udah nambah banyak. Itu aja siy yang baru, sejak terakhir saya ke sini (awal januari, kalo ga salah).

Kalo ke sini, pastinya bakal ketemu sama akhi dan ukhti saudara seagama :) Tipikalnya ngga banyak berubah rasanya, akhwat-akhwat biasanya bergamis dan berjilbab lebar, yang ikhwan tampilannya juga khas, biasanya pake celana ngatung (memperlihatkan mata kaki) dan kadang berjenggot (bisa banyak atau sedikit, alakadarnya ;p). Ketemu para akhwat kadang bikin saya jadi minder deh, rasanya saya ngga cukup akhwat untuk dibilang akhwat, ngerti kan?! Rasanya kerudung saya ngga cukup syar'i, saya masih ngga bisa lepas dari celana panjang dan kaos-jadi berasa preman :p Udah gitu bacaan Quran saya masih ngga tartil, hapalannya juga ngga nambah-nambah, tilawah seingetnya, jangankan mau Qiyamul lail.. Huu..pokoknya jadi merembet kemana-mana deh. Dan ironisnya, sepertinya hal ini juga ngga nambah motivasi buat saya untuk menjadi lebih 'akhwat'.

Jadi inget dulu pernah ikutan rapat apa gitu di sini, ikhwan dan akhwatnya duduk jauh-jauhan, waktu ada yang ngomong jadinya ngga terlalu kedengeran, udah gitu ngga keliatan juga siapa yang ngomong. Berhubung saya merasa kalo memandang bisa membantu mendengar (apalagi kalo jauh), alhasil saya malah sibuk cari posisi buat bisa melihat pembicara dengan jelas :D


Published with Blogger-droid v2.0.4

Thursday, May 17, 2012

packing

Beres-beres barang yang akan dibawa bepergian adalah salah satu persiapan bepergian yang agak ribet dan bikin males sebetulnya. Tapi, mau ngga mau ya mesti dilakukan-demi perjalanan yang berkualitas dalam segala aspek; kenyamanan fisik dan psikis, visual, finansial, dll. Tentu saja saya akan sangat menyesal jika perjalanan yang mestinya menyenangkan harus dirusak ketidaknyamanan gara-gara saya ngga packing dengan rapi.

Untuk memastikan semua barang yang diperlukan (dan hanya yang perlu saja) dikemas dan dibawa pergi, biasanya saya buat dulu daftarnya. Buat menulis daftar tsb., saya harus memastikan dulu itinerary-nya, pergi ke mana aja, berapa lama, akan ngapain aja, gimana kira-kira cuacanya di tempat tujuan, apa saya bakal nemu tempat buat mandi, perlu buat ganti baju atau ngga, bakal nemu tempat makan atau ngga, berapa kali kira-kira saya bakal makan (ini utamanya kalo pergi camping atau hiking-harus dipastikan berapa jumlah ransum yang harus dibawa-termasuk berapa Liter kira-kira air yang mesti dibekal, jangan sampe kelaparan dan dehidrasi, ngga keren dong ;p). Dan ingat juga untuk memikirkan worst case, misalnya dengan kondisi cuaca yang ngga jelas seperti sekarang, kita mesti siap dengan kemungkinan ketemu hujan (biarpun kecenderungannya panas)-jadi mesti prepare juga jaket dan atau payung dan atau jas hujan. Biar tidur malem ngga kedinginan, pastikan pake baju yang cukup hangat, kaos kaki dan cadangannya, dll. Tambahan, misalkan bakal ada acara basah-basahan, ya berarti mesti bawa baju ganti dan drybag atau kantong plastik. Nah, gitu deh kira-kira persiapan untuk kenyamanan fisik.

Untuk lebih tentram lagi menghadapi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi, kita juga mesti menyiapkan bekal finansial yang cukup dan pastikan juga ngga berlebihan, ntar tekor!! ;p

Terakhir, untuk kepentingan dokumentasi dan komunikasi, pastikan juga kameranya dibawa dan baterainya full (klo perginya lama, ya berarti mesti bawa chargernya juga atau baterai cadangan), trus baterai ponsel juga penuh (bisa bawa charger dan atau baterai cadangan juga).

Begitulah, selamat packing dan berjalan-jalan!! :D


Published with Blogger-droid v2.0.4

Saturday, May 12, 2012

mari kembali menggunung!!

mendaki gunung, lewati lembah
sungai mengalir indah ke samudra
bersama teman, bertualang


Sudah kangen menggunakan ekstrimitas bawah, menghirup udara bersih, mendinginkan hati, menyejukkan jiwa, mengambil jarak dengan keriuhan dunia, meresapi keindahan alam, mengenali kembali kejernihan pikiran dan pandangan, mendekatkan diri dengan Sang Pencipta dan ciptaanNya.

Yuk kita liat dulu Pedoman Mendaki Gunung versi Paulo Coelho, lagi-lagi dari Seperti Sungai yang Mengalir, lihat di halaman 15-19 :)

  1. Pilihlah gunung yang hendak didaki
  2. Pelajari cara mencapai gunung tersebut
  3. Belajarlah dari orang yang sudah pernah sampai ke sana
  4. Bahaya-bahaya, setelah dilihat dari dekat, bisa dikendalikan
  5. Lanskapnya berubah-ubah, jadi manfaatkanlah sebaik-baiknya
  6. Hormati tubuh Anda
  7. Hormati jiwa Anda
  8. Bersiaplah untuk berjalan lebih jauh
  9. Bersukacitalah sesampainya di puncak
  10. Ikrarkan
  11. Ceritakan kisah Anda   

Friday, May 11, 2012

konflik internal – edisi curhat superlebay (versi saya ;p)

Saya tidak suka dicereweti. (apakah kalimat ini benar secara bahasa?) Maka, mengikuti kaidah ‘perlakukan orang lain sebagaimana Anda sendiri ingin diperlakukan’, saya sedapat mungkin menghindar dari kondisi dimana saya menjadi subjek – mencereweti. 

Sebagai individu yang cenderung keras kepala, saat saya menjadi objek kecerewetan seseorang, biasanya yang terjadi justru pemberontakan, resistensi. Misalnya, dulu ibu saya terus-terusan cerewet soal penggunaan kerudung. Sebenarnya, saya tahu bahwa salah satu kewajiban seorang muslimah adalah memakai jilbab, saya juga sudah mulai memikirkan untuk mematuhi kewajiban tersebut. Tapi, berhubung ibu saya cerewet duluan soal ini, saya jadi males, soalnya saya tidak mau dianggap memakai kerudung atas dasar menuruti kata-kata ibu saya. 

Nah, belajar dari pengalaman sendiri, saya pikir cerewet justru akan memperlambat pencapaian suatu tujuan. Semakin sering kita mengulang permintaan/perintah, maka semakin tidak efektif permintaan/perintah tersebut. Itulah sebabnya saya tidak mau cerewet. 

Tapi, berhubung dunia ini sangat luas dan penghuninya banyak – lebih dari tujuh miliar, maka variasi individu di dalamnya juga sangat besar. Pengalaman saya tidak sama dengan orang lain, kecenderungan saya berbeda dengan orang yang duduk di meja sebelah saya, apalagi dengan orang yang mejanya di ujung sana :D 

Saya tidak tahu apa sebabnya, tapi ternyata beberapa orang butuh untuk dimotivasi dengan kecerewetan orang lain untuk mengingatkan tugasnya. Tampaknya, menjelaskan secara baik-baik tidak membawa pengaruh apa-apa – setidaknya pengaruh yang saya harapkan. Kadang-kadang, yah, seringkali, saya frustrasi, karena saya harus cerewet, sementara, saya sama sekali tidak mau cerewet. Hadeuuh... lebay nih. Tapi sungguh, pertentangan ini melelahkan jiwa.