Saturday, June 16, 2012

all at sea: iron (wo)man and her thought ;p

Saat Jamie Cullum bilang kalo dia lagi sibuk sama pikirannya di laut, saya juga lagi sibuk di lautan baju kusut (terima kasih pada penemu mesin cuci dan setrika yang sudah membantu meringankan pekerjaan saya). Sementara tangan saya sibuk mondar-mandir megangin setrikaan di atas baju kusut, pikiran saya juga berkelana.

Biasanya, saya nyetrika sambil nonton, tapi ini lagi sadar, tontonan sabtu pagi banyaknya diisi acara gosip yang akan membuat saya ngomel karena beritanya ngga penting dan makin ngomel lagi karena udah tau ngga penting tapi masih aja ditonton. Jadilah, kali ini nyetrika tanpa nonton TV. Hasilnya ternyata lebih cepat selesai, karena waktu saya ngga banyak teralihkan buat mindahin saluran TV atau ngomentarin beritanya.

Jadi kepikiran soal multitasking, rasanya banyak banget ya yang bilang kalo perempuan itu juaranya multitasking - perempuan bisa melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu. Mungkin emang iya sih, tapi apa kualitas hasil kerjanya sama dengan bila pekerjaannya dilakukan satu persatu? Kalo pengalaman saya nyetrika, ternyata nyetrika tanpa nonton mengurangi waktu nyetrika satu sampe dua jam, karena saya bisa fokus. Jadi, rasanya singletasking juga OK tuh.

Setelah itu, saya kepikiran sama temen kerja saya - yang dulu dan yang sekarang. Pernah ada temen yang bilang kalo dalam hidup, kita pasti bakalan ketemu sama orang-orang yang nyebelin. Bener banget deh. Sebenernya saya ngga mau mencadangkan waktu dan energi buat mikirin mereka, tapi ya gitu deh, tau-tau pikiran tentang mereka yang muncul. Saya pikir, saya termasuk orang yang moody, tapi dibandingkan sama temen-temen saya yang ini, rasanya saya bisa dibilang stabil :)

Temen saya di tempat kerja yang dulu, mood-nya bisa berubah tiba-tiba. Kadang-kadang, Senin pagi, saat baru dateng dan baru ketemu, belum sempet ngobrol atau apa, tau-tau saya disambut dengan aura negatif. Pernah dia cerita katanya dia termasuk orang yang sensitif. Pengin banget komentar, tapi ngga berani, soalnya ngga mau ribut ;p Misalnya saya berani ngomong, saya pengin nanya: 'Sebenernya kamu sadar ngga sih kalo kamu cuma sensitif sama perasaan kamu sendiri dan justru ngga sensitif sama orang lain yang ada di sekitar kamu. Kalo kamu lagi banyak masalah, dsb., itu kan bukan gara-gara orang lain. OK-lah orang lain juga mesti berempati dan berusaha buat mengerti, tapi kamu juga jangan cuma mau dimengerti tanpa mau mengerti orang lain, di dunia ini bukan cuma ada kamu aja. Jangan selalu merasa jadi orang paling malang di dunia.' Saya ngga pernah bilang apa-apa sama dia (tentu saja).

Temen saya di tempat kerja yang sekarang juga sama, dia bisa jutek di pagi hari dan heboh ketawa-ketawa menjelang siang hari. Akhir-akhir ini dia sedang mengobarkan permusuhan sama temen saya yang lain, dia nulis-nulis status yang bernuansa permusuhan di facebook atau BB (kalo yang ini, kata temen saya yang punya BB - soalnya saya sih ngga punya BB - untunglah, dan ngga niat punya juga ;p). Temen yang jadi objek permusuhan adalah seorang teman yang awalnya deket banget sama dia. (Kalo dia baca, dia nyadar ngga ya saya lagi ngomongin dia? ;p) Kadang-kadang saya pengin ngomong sama dia, tapi lagi-lagi ngga berani dan ngapain juga ya saya ikut campur sama urusan orang lain? Kalo saya berani, saya bakal ngomong begini sama dia: 'Tau ngga sih, temenan itu ngga berarti mesti bareng-bareng terus. Mungkin ini terdengar kasar, tapi kenyataannya adalah, orang lain juga punya hidup dan masalah sendiri. Kamu ngga bisa terus-terusan mengharapkan orang lain untuk memprioritaskan kamu dalam hidup mereka. Trus, coba dong buat mikir dulu dan melihat dari sudut pandang orang lain sebelum bertindak atau mengatakan sesuatu yang mungkin akan menyakiti orang lain. Kamu ngga pernah tau apa dampak perbuatan kamu sama orang. Setelah beberapa waktu, kamu mungkin sudah lupa, mungkin aja orang  yang pernah kamu sakiti juga sudah memaafkan, tapi dia akan selalu ingat apa yang sudah kamu perbuat. (Tambah sedikit kata-kata berbunga yang diambil dari kata-kata Xena The Warrior Princess: riak air yang kamu timbulkan saat melempar batu ke danau akan hilang tak berbekas, permukaan danau akan kembali tenang, tapi kamu tau, sesuatu sudah berubah, batu itu sekarang ada di dalam dan menjadi bagian dari danau. Keliatannya sama, tapi kamu tau, danau itu sudah berubah).' Dan rasanya saya juga ngga akan bilang apa-apa sama dia (tentu saja) :D


makna diam

diam (KBBIAndroid 3.0.1): tidak bersuara (berbicara): semuanya --, tidak ada yang berani mengkritik; 2 tidak bergerak (tetap di tempat): pencuri itu -- saja ketika hendak ditangkap, tidak lari atau mengadakan perlawanan; 3 tidak berbuat (berusaha) apa-apa: ia -- saja walau dicemooh dan dihina.

Kalo ngga salah inget, rasanya saya pernah baca kalo diamnya seorang perempuan berarti 'iya'. Masa sih? Kalo saya sih, diam bisa berarti banyak, diantaranya:
  • setuju
  • ngga punya argumen lain yang lebih baik
  • ngga setuju tapi ngga enak atau ngga berani ngomong langsung
  • ngga setuju tapi males buat mendebat (mirip sama butir sebelumnya ya? ;p)
  • ngga setuju tapi males menjelaskan soalnya tau pasti penjelasannya akan tersia-sia
  • sedang mempertimbangkan respon yang paling baik
  • bingung mau jujur atau ngga
  • tau kalo respon yang jujur tidak diharapkan, jadi masih mikir respon yang aman
  • marah
  • marah tapi berusaha ngga marah (geje ;p)
  • males menanggapi ;p
  • ngga kedengeran
  • (pura-pura) ngga kedengeran 

Friday, June 15, 2012

kenapa curhat?

Sebenernya niat awalnya bukan mau curhat. Penginnya sih saya menulis sesuatu yang penting, menginspirasi, fantastis, bombastis - yang bikin orang merasa sama seperti saya saat baca tulisan-tulisan orang lain yang keren-keren, terheran-heran dan takjub, atau kalo kata Oprah, mendapatkan 'aha-moment'. Apa daya, wawasan saya masih dangkal, ntar malah jadi keliatan ngga cerdasnya :) Berhubung pengetahuannya terbatas, paling aman ya ngomongin hal yang paling saya kuasai - yaitu saya sendiri. Kalo salah juga kayanya ngga akan ada yang protes kan? Masa orang lain lebih tau saya ketimbang saya sendiri? Lagipula kalo ngomongin orang lain kan dosa. Selain itu, potensi buat menyinggung juga lebih kecil kan?! Tapi, bahayanya juga ada sih.. Mungkin saya bisa aja ngga sengaja memberi kesan belagu atau sok tau.. Yah, kalo itu sih udah di luar kuasa saya, saya ngga bisa mengendalikan pikiran orang lain. Insyaallah saya ngga niat begitu :D


Published with Blogger-droid v2.0.4

unit link


Juli 2007 adalah bulan perdana saya membayar premi investasi skala kecil (yang terintegrasi dengan asuransi jiwa dan kesehatan - istilahnya, unit link). Saya pikir, semakin muda saya mulai berinvestasi, maka investasinya akan semakin menguntungkan, karena biaya yang dikenakan lebih murah – biaya ini dihitung berdasarkan risiko yang ditanggung perusahaan asuransi-investasi untuk premi yang kita ambil, diasumsikan semakin muda usia nasabah, maka risikonya menjadi semakin kecil (biasanya kan sakit-sakitan tuh kalo udah berumur kan?!), risiko yang kecil berarti biaya lebih sedikit. Setelah pembayaran dilakukan, saat menyerahkan kuitansi, sang agen (sekaligus rekan kerja saya waktu itu), berkata seperti ini (kira-kira): “Mulai saat ini, kamu sudah ter-cover. Jadi, pait-paitnya nih, ini sih amit-amit ya, tapi kalo ada apa-apa sama kamu, misalkan ketabrak trus mati, atau kecelakaan lainnya trus mati, kamu (dalam hal ini maksudnya: ahli waris yang sudah didaftarkan ;p) berhak mendapatkan biaya pertanggungan 150 juta rupiah, sesuai yang tertera di proposal yang sudah kamu setujui.” Well, Bapak-nya vulgar banget, ya?!

Beberapa hari hingga beberapa minggu kemudian, saya jadi kepikiran terus soal ini. Saat menyebrang jalan, jadi kepikiran, kalo misalkan saya ketabrak nih, asuransi saya bakalan cair. Trus, lama-lama, setelah dapet polisnya dan baca kriteria penyakit-penyakit yang di-cover, jadi kepikiran juga, kalo saya sakit jantung bakalan di-cover juga ya?! Dst., dst. Konyol banget ya?! Trus, kadang-kadang jadi sugesti sendiri, wah, kalo saya kena serangan jantung gimana ya? Gimana kalo ternyata klaimnya ditolak karena saya dianggap menyembunyikan kondisi kesehatan saya dengan mengaku kalo saya tidak punya penyakit berat? (Catatan: saya memang ngga punya riwayat penyakit berat, tapi kan kalo liat di film-film, perusahaan asuransi biasanya sebisa mungkin menghindari pembayaran klaim – efek terlalu banyak nonton ;p) Trus, gimana kalo saya celaka waktu saya lagi hiking? Dan ‘gimana kalau’ lainnya yang masih banyak lagi :D (Salah satunya nih, kalo misalkan saya menikah, trus suaminya ditambahkan sebagai ahli waris, trus nanti saya dicelakai sama sang suami demi uang pertanggungan – lagi-lagi efek kebanyakan nonton film ;p) Ngga berasa sekarang udah hampir lima tahun tuh, Alhamdulillah, ternyata saya masih baik-baik aja (dan ngga punya suami ;p), hehe ^_^

hikmah bekerja: say no and feel good about it! :D


Peringatan: Tulisan berikut ini adalah salah satu seri inspeksi diri (baca: kontemplasi/monolog), jadi ngga usah repot-repot dibaca sampe selesai, kecuali emang lagi iseng dan kurang kerjaan.

Ibarat gen, saya ini resesif, sama dengan teman-teman kuliah saya yang sampai sekarang masih sering ngumpul (kayanya faktor kemiripan sifat inilah yang membuat pertemanan kami tetap terjaga ;p). Tapi sesama resesif berkumpul juga ternyata masalah juga, kami semua cenderung tidak bisa memutuskan, bahkan buat menentukan tempat makan kami mesti diskusi panjang dan setiap orang tampaknya lebih memilih untuk menyerahkan keputusan pada yang lain. Bukan hanya itu, selain resesif saya juga ngga asertif (rasanya sih ;p). Perpaduan kedua sifat ini kadang-kadang menjerumuskan saya ke dalam situasi yang ngga menyenangkan.

Setelah sama-sama bekerja, tampaknya seiring berjalannya waktu, kami (saya dan teman-teman saya) sama-sama mengalami suatu perubahan yang lumayan signifikan. Ternyata, bekerja membuat kami dapat lebih bersikap asertif. Awalnya sih ngga begitu nyadar, tapi setelah dipikir-pikir, iya juga sih, meskipun mungkin kadar ke-asertif-annya ngga begitu tinggi, tapi setidaknya kami jadi lebih mampu untuk bersikap tegas. Teori saya: saat berhadapan dengan berbagai macam orang dengan berbagai kepentingan yang kadang-kadang tidak sejalan (kalo bukan bertentangan) dengan kepentingan saya, saya terdesak dan tanpa disadari, menjadi lebih asertif sebagai bentuk pembelaan diri.

Contoh kasus yang masih segar adalah kejadian beberapa minggu yang lalu. Jadi, di tempat kerja saya yang banyak ekstrakurikulernya itu, ada kepanitiaan baru (lagi). Dapet undangan rapat lagi – yang sekarang-sekarang sudah mampu saya acuhkan tanpa (kalo bukan hanya sedikit) rasa bersalah :) Tidak berhenti di situ, suatu hari dapet info kalo saya ditunjuk jadi koordinator salah satu seksi. Padahal buat saya yang tipe penonton, jangankan jadi koordinator, jadi anggota panitia saja rasanya udah susah. Maka, paniklah saya, dan akhirnya, saya pun mengambil tindakan drastis (buat saya yang resesif ini): saya menolak. Mungkin buat orang lain ini ngga penting, tapi buat saya, ini suatu prestasi :D

Awalnya sih sempet juga merasa bersalah dan ngga enak hati, tapi sekarang-sekarang, udah ngga lagi, yang ada malah perasaan lega. Kalo begini, bukankah ini artinya saya sudah melakukan sesuatu yang benar untuk diri saya sendiri?!

Tuesday, June 12, 2012

terbaik

Dalam satu hari, saya paling suka waktu seperti sekarang, saat-saat menjelang tidur. Udah bersih, udah kenyang atau setidaknya ngga laper (biasanya ;p), badan udah rileks, terkapar sambil main sudoku dan ngedengerin playlist hp atau radio. Udah gitu mikir...mikirin apa yang kira-kira harus dipikirin ;p

Sekarang baiknya mikirin apa ya?! :D Sebentar saya pikir dulu :)


Published with Blogger-droid v2.0.4

Monday, June 11, 2012

bingung (lagi)

Komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami; hubungan; kontak; perhubungan. Jenis komunikasi ada yang satu arah, ada juga yang dua arah - jadinya interaktif. Trus, kalo komunikasi sama Tuhan termasuk yang mana ya? Satu arah atau dua arah? Bentuk komunikasi dari kita, manusia, berupa doa, kalo dari Tuhan, berupa tanda-tanda kekuasaanNya yang bertebaran di muka bumi ini - di sekitar kita, tinggal kitanya aja, sejauhmana kita peka untuk menangkap dan membaca pesan-pesan dan isyarat Tuhan. Masalahnya, saya sih seringnya bingung, apakah interpretasi saya sudah sesuai atau malah melenceng jauh dari maksud Tuhan yang sebenarnya.

Trus, gimana bisa tau ya?! Gimana saya bisa tau maksud Tuhan yang sebenarnya? Kan saya ngga bisa verifikasi - dalam artian mendapatkan jawaban yang definitif saat ini. Huu..gini nih kalo ngga berilmu, jadi merasa bodoh (lebih dari biasanya ;p) :(


Published with Blogger-droid v2.0.4

Friday, June 8, 2012

jane eyre

It is in vain to say human beings ought to be satisfied with tranquillity: they must have action; and they will make it if they cannot find it. Millions are condemned to a stiller doom than mine, and millions are in silent revolt against their lot. Nobody knows how many rebellions besides political rebellions ferment in the masses of life which people earth. Women are supposed to be very calm generally: but women feel just as men feel; they need exercise for their faculties, and a field for their efforts, as much as their brothers do; they suffer from too rigid a restraint, too absolute a stagnation, precisely as men would suffer; and it is narrow-minded in their more privileged fellow-creatures to say that they ought to confine themselves to making puddings and knitting stockings, to playing on the piano and embroidering bags. It is thoughtless to condemn them, or laugh at them, if they seek to do more or learn more than custom has pronounced necessary for their sex. –jane eyre

perjalanan dinas

Lagi di tol menuju jakarta nih. Klo perjalanan ini rutin, dapet giliran setiap beberapa minggu sekali. Lumayan dapet waktu ekstra buat baca atau tidur pada jam kerja. Berasa dapet jackpot! :D

Sengaja bawa buku ini, rencananya mau lanjut baca di mobil. Tapi curiga mau tidur aja nih, kelopak matanya udah berat.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Thursday, June 7, 2012

paketku!!!

Seumur-umur bertransaksi menggunakan jasa layanan kurir, baru sekarang deh ada masalah. Dari bertahun-tahun yang lalu, mau beli buku online atau langganan majalah atau pesen dvd dengan film pilihan, dst., paketnya selalu nyampe ke rumah tepat waktu, dengan aman dan lengkap. Kali ini ngga tau deh kok jadi ngeselin. Alamat yang saya cantumkan sama kok seperti biasanya. Apa karena layanan dalam kota gitu ya? Jadi emosi jiwa ini, sejak selasa lalu si kurir udah sms beberapa kali. Selasa, katanya dia ngga nemu rumah saya, trus nanya RT dan RW. Udah dijawab, dijelasin juga arah dan ciri-ciri rumah. Rabu, dia bilang udah ke rumah tapi katanya ngga ada orang, jadi paketnya dia bawa lagi. Katanya dia ngga boleh nitipin paketnya ke tetangga. Akhirnya, saya sama dia sepakat supaya paketnya dititip aja ke kantor layanan kurirnya yang ada di deket rumah, nanti saya yang ambil ke sana. Sampe di rumah, tanya orang rumah, ternyata ada orang kok, kenapa dia bilang ngga ada orang ya?! Di sini udah curiga, jangan-jangan dia salah rumah :(

Udah deal, eh tadi siang sms katanya paketnya dititip ke tetangga. Waktu tadi pulang, ternyata ngga ada juga tuh si paket. Jadi curiga lagi, soalnya orang rumah juga ada dan sempet ngobrol sama tetangga, tapi ngga bilang ada yang kirim paket tuh. Biasanya tetangga saya suka langsung ngasi barang yang dititipkan begitu ada orang di rumah. Nah loh, jadi ada di mana sih si paket!!!??


Published with Blogger-droid v2.0.4

Wednesday, June 6, 2012

Caper Lawu-Sangiran (bagian 1)

Jumat malam saya bergegas ke Stasiun Bandung buat ketemuan sama rombongan Geotrek Indonesia. Kali ini kami menumpang kereta Lodaya Malam menuju Stasiun Solo Balapan. Dari Bandung jam delapan malam, kami sampai di Solo sekitar jam lima lewat. Setelah sholat subuh, ketemu dengan anggota rombongan lain yang pergi duluan dan nunggu rombongan yang dari Jakarta, terus cari sarapan. Menu sarapan kami adalah nasi gudeg di 'Gudeg Ayu', Jalan Gajah Mada 152, ngga jauh dari stasiun. Beda dengan gudeg Jogja, gudeg yang di sini kreceknya pedas, enak deh! Selesai sarapan, kami langsung menuju destinasi pertama, Candi Sukuh.

Stasiun Solo Balapan
Menu Sarapan: Gudeg Ayu
Candi Sukuh ini merupakan tempat menyepi terbesar dan paling kompleks di lereng Gunung Lawu di ketinggian 910 mdpl. Candi Sukuh terletak di Kabupaten Karanganyar, untuk mencapainya bisa melalui jalan ke arah Tawangmangu, kemudian berbelok ke kiri/utara di area Karangpandan. Dari inskripsi yang ditemukan, diketahui bahwa candi ini dibangun antara tahun 1416 - 1459. Candi ini dikategorikan sebagai candi Hindu karena banyak ditemukan objek pujaan lingga dan yoni - simbolisasi laki-laki dan perempuan. Tapi, tidak seperti di candi Hindu pada umumnya, di sini simbolisasinya lebih vulgar, makanya candi ini cukup kontroversial. 

Beberapa relief di sini memvisualisasikan genitalia laki-laki dan perempuan secara gamblang. Selain pada relief, genitalia perempuan juga disimbolisasi dengan celah-celah yang dibuat sempit pada setiap tangga. Mungkin ini juga yang menyebabkan candi ini menjadi salah satu situs yang dipercaya dapat membawa berkah kesuburan bagi pengunjungnya. Di samping itu, konon candi ini juga dipergunakan untuk uji keperawanan. Katanya, perempuan yang menaiki tangga candi ini, jika masih perawan, maka selaput daranya akan robek dan berdarah, tapi jika sudah tidak perawan, maka kain yang dipakainya akan robek dan terlepas. Soal ini, saya beri gambaran, desain anak tangga di candi induk dibuat dengan jarak antaranak tangga cukup jauh, sehingga kita yang naik cenderung akan membuka kaki lebih lebar, di masa lalu, saat perempuan umumnya memakai kain, ya hampir pasti kainnya akan robek, jika metode menaiki tangganya biasa aja. 

Selain reliefnya yang kontroversial, bentuknya yang tidak biasa juga membuat candi ini berbeda. Candi ini bentuknya seperti piramid beratap datar, makanya ada yang menghubungkannya dengan bangunan pada masa Maya di Amerika Tengah sana (ada yang membandingkan dengan Piramida Kukulkan). Saat di sana, narasumber kami, Pak Awang, menjelaskan bahwa menurut beliau, melihat candi dan reliefnya, candi ini dibangun berdasarkan cerita Adiparwa, bagian pertama dari kisah Mahabharata. Bentuk piramida beratap datar ini merupakan penggambaran untuk Gunung Mandaragiri yang puncaknya diambil untuk mengaduk laut dalam rangka mencari Tirta Amerta. Teori ini juga didukung dengan keberadaan tiga kura-kura di depan candi. Dalam kisah Adiparwa tadi, kura-kura ini adalah para penyangga gunung tersebut. Relief lain menceritakan legenda Garudeya tentang perjalanan Garuda mencari Tirta Amerta demi membebaskan ibunya dari perbudakan.

Relief yang vulgar dan relatif kasar - berbeda dengan relief di Candi Borobudur atau Prambanan - membuat orang-orang berspekulasi tentang keberadaan candi ini. Teori yang muncul diantaranya, candi ini dibuat oleh para penganut agama Saba (pemuja matahari dan bintang). Teori lain yang lebih masuk akal adalah kemungkinan bahwa candi ini dibuat terburu-buru (secara waktu itu adalah akhir masa pemerintahan Majapahit), atau pembuatnya adalah rakyat biasa dengan kemampuan artistik yang kurang begitu baik.

Candi Sukuh

Gerbang Candi Sukuh menghadap ke barat, ke arah Gunung Lawu

Kura-kura penyangga Gunung Mandaragiri

Salah satu arca dilengkapi genitalia laki-laki

Tangga ujian

Dari Sukuh, perjalanan kami lanjutkan ke Candi Cetho (cetho = bahasa jawa untuk jelas), berada di ketinggian 1470 mdpl. Menurut penelitian, candi ini dibangun pada akhir masa pemerintahan Majapahit, usianya tidak jauh dari usia Candi Sukuh. Candi ini terdiri atas banyak teras. Saat ditemukan, ada 14 teras, saat ini ada 13 teras, tapi yang dipugar hanya 9 teras. Tidak jauh berbeda dengan Sukuh, candi ini juga banyak mereliefkan Bima. Candi ini masih digunakan sebagai tempat pemujaan oleh penduduk setempat yang beragama Hindu dan populer sebagai tempat pertapaan untuk penganut Kejawen. Sejak masa Orde Baru, bahkan hingga sekarang, katanya masih ada banyak politisi dan pejabat yang berkunjung ke sini (untuk mencari kekuatan adikodrati demi menunjang karir politik mereka). 

Sayangnya, struktur candi ini sudah tidak asli lagi. Gara-garanya, sekitar akhir 1970-an, seorang asisten pribadi (alm.) Soeharto yang bernama Humardani melakukan pemugaran berupa gapura megah di setiap teras (mirip gapura di pura), bangunan-bangunan kayu tempat pertapaan, patung Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, phallus, dan bangunan kubus pada puncak punden. Satu-satunya artefak yang asli (termasuk posisinya) adalah gambaran kompleks terbuat dari batu yang diletakkan mendatar di atas tanah. Di ujung sebelah barat terdapat sebuah phallus/lingga besar terletak mendatar dan menunjuk ke arah barat. Pada dasarnya, terdapat penggambaran seekor penyu pada punggung seekor kelelawar besar. Pada punggung penyu terdapat sejumlah hewan laut dengan orientasi menuju berbagai arah mata angin.

Karena penampakkan arca yang dianggap tidak biasa, beberapa kelompok berkeyakinan bahwa candi ini memperlihatkan superioritas orang-orang zaman dahulu, itu loh, penganut aliran yang meyakini bahwa Kepulauan Indonesia ini dulunya adalah Atlantis. Beberapa kelompok meyakini arca ini menggambarkan orang timur tengah dalam keadaan ketakutan karena ditaklukkan. Kemungkinan lain, sebetulnya arca ini menggambarkan tokoh pewayangan.

Arca yang dipercaya menggambarkan orang timur tengah
Struktur puncak punden
Peninggalan yang paling menarik, berupa phallus, hewan laut di atas kura-kura di atas kelelawar 

Di samping kiri depan Candi Cetho, kami makan siang dengan menu lontong disertai sate ayam dan atau sate kelinci berbumbu kacang. Di sini satenya enak, daging semua :D

Menu makan siang: Lontong dan sate bumbu kacang

Setelah makan siang, kami menuju ke situs Watu Kandang. Lokasinya di Dukuh Ngasinan Lor, Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Situs ini adalah peninggalan masa prasejarah berupa tatanan batu-batu alam yang teratur dan diduga merupakan tinggalan zaman megalitikum. Berdasarkan orientasinya yang menghadap ke arah barat dan timur - Gunung Lawu, Bangun, dan Ganoman - maka disimpulkan bahwa batu-batu ini dimaksudkan sebagai tempat pemujaan kepada alam semesta (dalam hal ini, gunung).

Orientasi yang lebih jelas terlihat pada batu-batu di depan pos yang berada di pinggir jalan, sementara lebih jauh ke dalam, di antara lahan pertanian ubi, ditemukan lebih banyak batu berukuran besar yang berserakan, namun orientasinya relatif jelas. Di suatu titik, terdapat bekas penggalian yang konon baru-baru ini di dalamnya telah ditemukan peninggalan berupa manik-manik.

Salah satu batu besar yang diorientasikan menghadap Gunung Lawu
Batu-batu dengan orientasi yang lebih jelas
Sementara sampai sini dulu ya laporannya, to be continued...

Next: Grojogan Sewu dan Sangiran :D 

ps. materi yang saya cantumkan di sini berasal dari materi yang dibagikan pada peserta, bukan berdasarkan ingatan saya saja :D

dua tahun empat hari

Udah dua tahun aja saya sejak saya pertama menjejakkan kaki di tempat kerja yang sekarang, lebih tepatnya dua tahun empat hari. Tanggal 2 Juni 2010 adalah tanggal saya menandatangani surat perjanjian kerja waktu tertentu dan resmi menjadi salah satu trainee. Wah, rasanya seperti baru kemarin :)

Akhir-akhir ini, entah kenapa kok rasanya peristiwa-peristiwa dalam hidup saya tampak banyak yang lucu ya?! Misalnya nih, sebetulnya saya termasuk individu yang cenderung menghindari tanggung jawab, tapi ternyata saya terjerumus pada pekerjaan yang menuntut tanggung jawab itu ;p Awalnya, saya masih berbagi tanggung jawab dengan staf lain, beliau jadi semacam penyelia atas pekerjaan saya. Saya jadi lebih tenang, karena tau pekerjaan saya akan diperiksa oleh orang lain sebelum disahkan dalam bentuk dokumen resmi. Nah, beberapa waktu lalu, kejutan!!! Perubahan konfigurasi di unit kerja saya menempatkan saya untuk bertanggung jawab penuh atas pekerjaan saya. Akhirnya, cuma bisa pasrah aja deh, sambil deg-degan. 

Waktu berlalu, saya mulai terbiasa dan akhirnya menerima kenyataan kalo seringkali ketakutan-ketakutan yang kita bayangkan lebih banyak yang ngga terjadi tuh, meskipun tetep juga sih, di sudut otak saya yang kecil ini masih ada pikiran yang menyuarakan, ‘Hey, shits (will) happen!!’ :D 

Masih dalam fase berusaha, kejutan lain pun datang. Pekerjaan saya ditambah lagi, dapet limpahan tanggung jawab dari personil lain yang mendapat tanggung jawab spesifik yang lebih besar dan membutuhkan fokus yang lebih dahsyat (lebay ;p). Dalam hati, saya pengin teriak, ‘Why me?????!!!!!’, tapi (ngga) langsung sadar, mungkin itu artinya atasan saya percaya kalo saya mampu kali ya?! (kok bisa ya? Padahal saya aja ngga yakin tuh :p) Lagian, saya ngga pernah mempertanyakan ‘kenapa saya’ saat dapet sesuatu yang menyenangkan, jadi, ya kenapa harus mempertanyakan ‘kenapa’ saat mendapat sesuatu yang ngga begitu menyenangkan, iya kan?! Ok lah, ngga apa-apa, nambah kerjaan, nambah sibuk, (semoga) semakin sedikit kesempatan buat ngantuk, semakin kecil kemungkinan untuk magabut :D (insaf mode ;p) 

Setelah dikasi tau pembagian tugas yang baru, rekan kerja saya ada yang bilang, ‘Makanya kerjanya jangan cepet-cepet, jadi kan dikiranya loading kerjaannya ngga banyak, dan bisa ditambahin.’ Aduh, kok saya jadi merasa bodoh ya?! Maksud saya kerja cepet itu karena pengin cepet-cepet santai dan ngga repot dikejar-kejar orang lain yang nungguin kerjaan saya. Saya sadar saya ngga begitu suka menunggu, jadi ya saya sebisa mungkin tidak membuat orang lain nunggu, salah ya?!

aftermath

Makin ke sini, setelah merasa sedikit lebih mampu secara ekonomi, metode jalan-jalannya jadi lebih banyak pilihan, mau lebih mengutamakan prinsip ekonomi atau lebih memilih kenyamanan, saya lebih leluasa untuk menentukan. Selain itu, kemungkinan melakukan flashpacking juga jadi lebih besar :D Saya merasa, saat ekonomis menjadi pilihan (dan bukannya tuntutan), maka semuanya jadi lebih menyenangkan, nuansa petualangannya lebih berasa!! Tapi, ke sini-sini, gara-gara ini juga, saya kok jadi merasa manja ya?! Akhir-akhir ini saya lebih sering jalan-jalan nyaman daripada jalan-jalan ekonomis.

Bagaimana pun juga, alhamdulillah yah, masih sehat, masih punya uang, masih punya waktu, masih ada tujuan jalan, masih punya temen yang mau ngajakin atau diajakin atau nemenin atau ditemenin jalan-jalan :D Cerita soal jalan-jalan, ngga selalu menyenangkan, ada juga yang ngga begitu menyenangkan - setelahnya.

Berhubung saya termasuk pekerja terikat waktu, saya cuma punya waktu jalan-jalan pas libur aja - akhir minggu atau hari libur nasional atau cuti bersama. Padahal, libur kerja juga artinya waktu untuk menyelesaikan pekerjaan rutin upik abu. Maka, komplikasinya adalah, setelah jalan-jalan (terutama yang menginap), pekerjaan upik abu ngga terselesaikan dan terbengkalai, yang ada justru ditambah sama oleh-oleh dari perjalanan.

Tau begini, kalo saya pinter, mestinya saya sudah bisa melakukan langkah antisipasi supaya hal ini ngga berulang. Tapi, hanya soal waktu aja sih, ntar juga beres, cepat atau lambat. No worry :)


Published with Blogger-droid v2.0.4