Wednesday, July 3, 2013

Self-reminder: sholat!! yuk? :)


Kadang-kadang, saat sedang tidak bugar secara mental ;p, suka bertanya-tanya sendiri dan bingung, kenapa sih harus sholat.. Karena kadang ngga relevan juga gitu, sholat rajin, tapi ya maksiat juga bisa dilakoni.. Padahal kan katanya sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar..harusnya.. 
Ternyata, bukan saya aja yang berpikir begitu, pernah ada yang mempertanyakan hal yang sama di suatu majelis, dan kemudian sang ustadz menjawab, kurang-lebih begini intinya: sholat itu tidak menjamin seseorang menjadi baik, tapi ya kalo melakukan sholat aja masih kurang baik, apalagi kalo ngga sholat.. 
Sebagai pengingat buat diri sendiri, berikut cuplikan dari Sudah Benarkah Shalatku? mengenai kedudukan sholat. 
Shalat diwajibkan saat Nabi saw. Isra mi'raj. Ibadah shalat diperintahkan langsung oleh Allah swt., ini berarti shalat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam, sehingga setiap Muslim seharusnya memiliki perhatian besar dan kesadaran yang sangat tinggi terhadap shalat. Arti penting shalat yaitu: 

1. Shalat sebagai Tiang Agama 
Tiang merupakan penyangga utama sebuah bangunan. Tanpa tiang, tidaklah akan berarti seluruh bagian bangunan, sehebat dan semewah apa pun. 
Begitu pula dengan agama, bagian-bagian dari bangunan agama adalah segala bentuk amal ibadah lainnya yang disyariatkan oleh agama. Untuk menjadikan bangunan agama itu tegak dan menjulang megah, diperlukan tiang yang kokoh. Tiang itu adalah shalat. 
Sabda Rasulullah: '…pokok segala urusan adalah Islam. Barangsiapa yang masuk Islam, dia akan selamat; tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad…' [H.R. Tirmidzi] 

2. Shalat sebagai Benteng Terakhir 
Benteng adalah alat pertahanan dan simbol dari sebuah kekuatan. Dengan demikian, jika shalat sebagai benteng terakhir telah diabaikan, kaum Muslimin akan terpuruk dan hancur berkeping tak bersisa. 
Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Khalifah Umar bin Khattab ra. mengirim surat kepada seluruh gubernur. Surat itu berisi pesan agar senantiasa memerhatikan shalat, karena bila salah seorang di antara mereka telah mengabaikan shalat, mereka dipastikan akan mengabaikan urusan-urusan yang lain. 
Rasulullah saw. bersabda: 'Sesungguhnya akan terlepas ikatan-ikatan Islam satu per satu. Setiap kali ikatan lepas, manusia akan bergantung pada ikatan berikutnya; ikatan yang paling awal terlepas adalah hukum, dan yang terakhir adalah shalat.' [H.R. Imam Ahmad dan Ibnu Hibban] 

3. Shalat sebagai Identitas Keislaman 
Identitas sangat penting bagi semua orang karena identitas akan menjadi bukti atas pengakuan resmi seseorang. Jika ada seseorang mengaku beragama Islam, apa buktinya? Buktinya adalah dengan melaksanakan shalat. 
Jadi, seseorang mengaku Islam tetapi tidak shalat, wajar bila diragukan keislamannya. Bahkan, Rasulullah saw. menilai garis pemisah Muslim dan kafir adalah meninggalkan shalat. 'Ciri yang membedakan seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat.' [H.R. Muslim] 

4. Shalat sebagai Amalan Pertama yang akan Dihisab 
Sabda Rasulullah saw.: 'Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya beres, dia akan bahagia dan selamat, dan jika shalatnya rusak, dia akan celaka dan rugi.' [H.R. Tirmidzi] 
Riwayat lain menyebutkan, 'Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya beres, akan beres juga seluruh perilakunya, dan apabila shalatnya rusak, akan rusak pula segala perilakunya.' [H.R. Thabrani] 
Keterangan tsb. menegaskan peranan penting shalat yang berfungsi sebagai katalisator yang menentukan apakah amalan seorang hamba beres atau rusak. 

5. Shalat sebagai Sarana untuk Merawat Fitrah 
Manusia lahir dalam keadaan fitrah, artinya berkecenderungan baik dan beragama Islam [Q.S. Al A'raaf (7):172, Dan (ingatlah), ketika Tuhan-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), 'Bukankan Aku ini Tuhan-mu?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.' (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhan).'] 
Diakui dengan proses waktu dan sosialisasi dalam kehidupan, fitrah tsb. sangat mungkin ternodai dosa dan kemaksiatan sehingga kualitas fitrah akan mengalami penurunan, bahkan menjadi rusak. Karena itu, perlu suatu fasilitas untuk menjaga kesucian fitrah, yaitu dengan ibadah shalat. 
Ciri fitrah berkualitas prima adalah keyakinan akan menemui Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. 
Firman Allah: 'Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.' [Q.S. Al Baqarah (2):45-46] 

6. Shalat sebagai Obat Penyakit Hati 
Manusia memiliki sejumlah sifat mulia, diantaranya jujur, syukur, dan pemaaf. Namun, di samping itu, manusia juga memiliki sejumlah sifat buruk, seperti putus asa, kikir, dan sombong. Shalat bisa menjadi sarana mengobati sifat-sifat buruk manusia. 
Firman Allah: 'Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, dia berkeluh-kesah, dan apabila mendapat kebaikan, dia amat kikir; kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.' [Q.S. Al Ma'aarij (70):19-23] 

7. Shalat sebagai Sarana Pencuci Dosa 
Tidak ada manusia yang steril dari dosa. Setiap hari, pasti ada dosa yang dilakukan, disadari ataupun tidak disadari; dosa kecil maupun dosa besar. Shalat bisa menjadi alat pembersih untuk dosa-dosa kita. 
Sabda Rasulullah saw.: 'Bagaimana pendapat kalian, andaikata sebuah sungai berada di rumah salah seorang di antaramu dan kamu mandi di sana lima kali dalam sehari, apakah masih tertinggal kotoran pada badannya?' Mereka berkata, 'Tidak ada kotoran yang tertinggal pada badannya.' Beliau bersabda, 'Maka demikianlah perumpamaan shalat lima kali, Allah menghapus kesalahan-kesalahan.' [H.R. Muttafaq'alaih] 

8. Shalat sebagai Pencegah Maksiat 
Semua manusia berkecenderungan untuk berbuat baik dan berbuat salah. Apabila dorongan baik mendominasi, maka muncul perilaku mulia. Namun, bila dorongan buruk yang dominan, maka muncul perilaku nista. Shalat dapat menjadi energi untuk mencegah seseorang terjerumus pada perbuatan nista. 
'Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan, sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.' [Q.S. Al 'Ankabuut (29):45] 
Melihat kedudukan shalat yang begitu agung dan urgen, maka siapa pun yang menyia-nyiakan shalat, berarti dia sudah siap berhadapan dengan sanksi yang cukup berat," 'Apa yang menyebabkan kamu masuk Neraka Saqr?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat dan tidak pula memberi makan fakir miskin.'" [Q.S. Al Muddatstsir (74):42-44] 
Selanjutnya, Allah memberikan predikat munafik bagi mereka yang melalaikan dan riya (pamer) dalam shalatnya. 'Sesungguhnya orang-orang munafik itu … apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah, kecuali sedikit sekali.' [Q.S. An-Nisaa' (4):142]

Pengingat aja.. dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan ^_^

Tuesday, June 18, 2013

:p

malam
langit
bintang
crux

Published with Blogger-droid v2.0.10

sejenak di tukang baso

Meskipun abu-abu itu keren, kayanya dalam hal-hal tertentu akan lebih mudah jika hanya ada hitam dan putih, ngga usah ada abu-abu muda, abu-abu tua, dst.
Akan lebih sederhana jika hanya ada 'ya' dan 'tidak', tanpa 'mungkin', 'agak', 'sedikit', dan kawan-kawannya. Mungkiiin...
Tapi ya gitu kali ya, variasi.. Biar hidup ini dinamis :p

Btw, cerita soal baso, ternyata Baso adalah nama suatu tempat di Sumbar, tau ya?! :D Apakah tempat ini asal mula makanan bernama sama? Tau ga? ^_^

Published with Blogger-droid v2.0.10

Wednesday, June 12, 2013

hujan bulan juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

1989

( Hujan Bulan Juni – hal. 90)

Liat di sini buat salah satu penafsiran puisi di Pak Sapardi di atas.
Dulu.. nyaris ngga mungkin kayanya ada hujan di bulan Juni.
Sekarang.. sepertinya bahkan hujan pun tak setabah, tak sebijak, dan tak searif dulu.. ;p

Published with Blogger-droid v2.0.10

Monday, June 10, 2013

efek dua cangkir kopi kental ~_~

Tadi siang ikut pelatihan dari HRD, kali ini judulnya 'Leadership for the next leaders' >.<
Di salah satu sesi, saat membahas pentingnya seorang pemimpin untuk memiliki visi dan misi, beliau mengambil contoh pembangunan jalan tol. Ceritanya..awalnya dia merasa bangga atas dibangunnya Tol Cipularang, yang memungkinkan perjalanan Bandung-Jakarta atau sebaliknya jadi lebih singkat. Bangga, titik.
Hingga suatu hari, teman beliau yang konon baru berkunjung ke Malaysia, memunahkan kebanggaan beliau dengan cerita jalan tol di Malaysia sana, yang menghubungkan Johor dan Kualalumpur (katanya berjarak sekitar 400 km, cmiiw), punya masing-masing lima lajur jalan, jadi totalnya 10 lajur. Jalannya lebar banget ya?
Kesimpulan beliau: dalam konteks kepemimpinan, katanya orang-orang yang bikin jalan tol di sana sudah memiliki visi, mereka membangun jalan tol yang dapat digunakan hingga beberapa generasi ke depan [maksudnya bisa mengimbangi pertumbuhan kendaraan]. Bandingkan dengan jalan tol Indonesia, jangankan untuk beberapa generasi, sekarang aja udah macet, katanya...
Dan saya pun jadi tergoda buat ngga setuju.. Entah kenapa bayangan pemanfaatan lahan untuk memuaskan ambisi membuat jalan raya yang lebih lebar tampak mengerikan!! Apa kabar lahan hijau? Pasti makin sulit ditemui! Padahal, kalo jalan diperlebar supaya bisa memuat lebih banyak kendaraan, artinya akan semakin banyak kendaraan yang beroperasi, akan makin banyak bahan bakar yang dikonsumsi, akan makin tinggi kadar polutan yang mengudara, maka semakin kritis juga kebutuhan akan lahan hijau..
Jadi, visi apa yang ingin dicapai dari pelebaran jalan?!
Pembangunan macam apa yang ingin diwujudkan? Kecuali jika di saat yang bersamaan ada juga kampanye untuk penggunaan kendaraan berbahan bakar ramah lingkungan.
Bisa juga kan visi para pembuat jalan tol di Indonesia justru lebih menitikberatkan pada pembangunan yang berwawasan lingkungan [meskipun kayanya kemungkinannya kecil yah?! :p]
Bagaimana pun, intinya.. ya saya cuma merasa sepertinya pembangunan jalan tol ngga tepat deh buat dijadikan contoh, imho ;p

Published with Blogger-droid v2.0.10

have you ever...

Kata Mario Teguh tadi malem (kurang lebih): cinta yang terkuat adalah cinta yang tidak beralasan. Hmmm.. Masa sih? :)
Bukan mau ngebahas itu sih, tapi ini.. ;p
Pernah ngga sih bertanya-tanya tentang motivasi atau alasan di balik perasaan kita terhadap orang lain? Saya sih sering.. Soalnya, seringkali saya tau perasaan saya terhadap seseorang mestinya ngga begitu. Bingung?
Misalnya nih..kadang ada orang yang sebisa mungkin saya usahakan supaya ngga terlalu sering berinteraksi, kenapa? Kok saya jahat banget ya?! Kalo saya telaah, ternyata alasannya sama sekali ngga masuk akal, misalnya aja karena orang itu bau badan, atau suara ketawanya membuat saya merasa terganggu, atau karena dia perokok (jadinya bau tembakau ;p), atau karena saya suka ngerasa terintimidasi kalo deket dia.. Aneh ya?! Gimana ya caranya biar ngga begitu?!
Tapi dalam beberapa kesempatan langka, bisa juga saya merasa sebaliknya, ada banyak alasan yang mestinya membuat saya ngga suka sama seseorang, tapi kok saya ngga merasa ngga suka ya?! Hmfh...
Perasaan itu aneh banget ya?!! Kenapa sih saya ngga bisa sebel aja?!!! :p

Published with Blogger-droid v2.0.10

Sunday, June 9, 2013

my first love letter ;p

Baca-baca lagi beberapa catatan di ponsel, sempet ngintip surat cinta serius saya yang pertama [yang sepertinya sih lebih banyak unsur curhatnya, hihi]. Butuh beberapa hari buat mikir dan ngedit, berusaha supaya isinya terasa lebih bermakna dan logis tanpa terkesan gombal dan cengeng. Hasilnya? Ngga tau deh, menurut saya sih ngga terlalu jijay, tapi ya ngga tau juga ya, itu kan penilaian subjektif :D
Baca lagi sekarang, untunglah common sense saya masih bisa bekerja, sang surat tidak pernah sampai pada yang dituju. Cukuplah saya dan Tuhan yang tau isinya.. Saya ngga yakin masih bisa bersikap biasa aja seandainya sang surat memenuhi takdirnya untuk sampai di tangan si objek.. Alhamdulillah atas perangkat akal yang telah dianugerahkan kepada saya :D
Sedikit cuplikan adalah kutipan berikut: 'So, i love you because the entire universe conspired to help me find you - Paulo Coelho, The Alchemist', dan yang pasti, saat tulisan itu dibuat, tentu saja bukan bermaksud gombal, hehe >_<

Published with Blogger-droid v2.0.10

Tuesday, June 4, 2013

belajar

Bahkan untuk pekerjaan rutin yang sederhana dengan prosedur baku tertentu, setiap beberapa waktu mesti ada yang namanya refreshment training. Ini bertujuan untuk memastikan seseorang tetap melakukan pekerjaannya dengan benar, tidak menyimpang, sesuai dengan prosedur yang seharusnya. Apalagi untuk hal yang lebih besar dan jauh lebih rumit yang bernama menjalani hidup, tentu saja butuh pelatihan fisik, psikis, dan jiwa yang lebih kompleks dan menyeluruh.
Atas dasar itulah, dua akhir pekan terakhir ini saya mengiyakan ajakan salah seorang teman untuk menghadiri pengajian. Sesuatu bangeeet yaa!!! :)
Pekan pertama masih penyesuaian, jadi masih aklimatisasi untuk menyimak. Alhasil, penyerapan ilmunya agak terbatas ;p Minggu kedua, sudah lumayan punya gambaran dan sedikit lebih pintar, ikut-ikutan para ibu-ibu mencatat materi.. Berikut ini catatannya..

Hikmah husnudzon
1. Melahirkan optimisme
Dalilnya.. Sabda rasulullah: Sifat yang paling buruk pada seseorang adalah kikir yang berkeluh kesah serta takut yang berlebihan. - HR Bukhari
Adapun jenis takut itu ada tiga, yaitu; (1) takut yang manusiawi; (2) takut yang berasal dari setan (saat mau beribadah/berbuat baik); (3) takut yang berasal dari Allah (mencegah perbuatan dosa/maksiat).

2. Melahirkan pengendalian emosi yang baik.
Hadistnya: Sungguh aku melarang dua macam ucapan bodoh dan tercela, yaitu; keluhan tatkala mendapat nikmat dan umpatan tatkala mendapat ujian/musibah. - HR Abu Daud

3. Mendatangkan cinta Allah
Dalilnya: Sabda Rasulullah, Allah berfirman: Aku menurut prasangka hambaKu dan Aku bersamanya apabila dia mengingat diriKu. Jika ia mengingatKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang, maka Aku mengingatnya dalam kelompok malaikat. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta, jika ia datang kepadaKu dengan berjalan kaki, maka Aku datang kepadanya dengan berlari. - HR Bukhari

4. Mendatangkan kebahagiaan
Imam Syafiie: Berbahagialah orang yang sibuk dengan urusan kekurangan dirinya ketimbang mengurusi kelemahan dan kesalahan orang lain. - HR Al-Bazzar

Demikianlah..semoga bisa diamalkan dengan baik yaa.. Doakan tetap istiqomah :D

Published with Blogger-droid v2.0.10

Saturday, May 25, 2013

(tidak) berhenti baca NGI!!

Satu lantai di bawah mesjid kantor ada kafetaria yang dikelola koperasi, para penjaja makanan di sini adalah karyawan atau keluarga karyawan atau kenalan karyawan (kayanya) yang lagi belajar berwirausaha. Biar adil, beberapa waktu yang lalu ada semacam pergantian atau rotasi pengelola, jadi stand makanannya ada yang berganti. Sekarang jadi lebih variatif. Salah satu stand yang baru  menyajikan hidangan laut.
Suatu siang, temen saya mencoba menu Kerapu Woku dari stand ini. Saat itu saya jadi teringat kembali dengan kisah hidangan bahari di NGI. Trus, jadi cerita deh gimana susahnya kehidupan para ikan di perairan Indonesia, bagaimana kita memiliki tanggung jawab untuk ikut berperan serta dalam pelestarian spesies-spesies ikan laut yang semakin terancam keberlangsungan hidupnya.
Lebih jauh lagi.. cerita juga bagaimana dengan pola konsumsi manusia yang kurang efisien. Misalnya nih.. Kalo dihitung energinya, makan sayur lebih ramah lingkungan dan hemat energi dibandingkan dengan makan daging sapi, dihitung dari berapa banyak lahan yang diperlukan untuk memelihara sapi dibandingkan menanam sayur, jumlah air yang digunakan, dst. Yang jelas sih, semakin panjang rantai produksi bahan konsumsi, maka semakin banyak energi yang dibutuhkan, dan itu artinya efisiensi energinya menjadi semakin kecil.
Semakin jauh lagi, bahkan konsumsi sayuran pun memiliki konsekuensi bagi lingkungan. Kata kunci: pupuk. Tapi ini lain cerita sih. Konon, pemakaian pupuk yang berlebihan menyebabkan perubahan pada kesetimbangan ekologi dunia. Pupuk organik adalah yang terbaik, meskipun tetap saja, ada hitung-hitungan yang harus ditaati untuk meminimalkan dampak lingkungan.
Hmfh...semakin bercerita, semakin mengerikan dan mencemaskan saja yaa..
Lantas, teman saya kemudian bertanya: jadi makanan apa yang sebaiknya kita konsumsi? Entahlah.. Yang jelas, halal saja tidak cukup, harus baik (thoyyib) juga - bukan hanya baik untuk diri sendiri (maksudnya bermanfaat atau setidaknya tidak merugikan untuk kesehatan), tapi juga baik untuk lingkungan kita :)
Atau..mungkin, berhenti saja baca NG (yang tentu saja TIDAK akan saya lakukan ;p)

Published with Blogger-droid v2.0.10

Friday, May 24, 2013

memulihkan kewarasan di puncak dunia.. i wish!!

Lagi-lagi tentang menggunung... 
Di penghujung bulan ini setahun yang lalu, temen saya membagi link tentang 'hobby climbers' yang menyesaki Everest, artikelnya bisa dilihat di sini. Jujur, saat itu saya terperangah, betapa mudahnya seseorang diizinkan untuk mendaki Everest, bahkan tanpa pengalaman atau latihan yang cukup, asalkan mampu bayar perizinan, bisa melenggang aja gitu.
Everest climbers form a long snaking line up the mountain as they strive to reach the summit
Everest climbers form a long snaking line up the mountain as they strive to reach the summit this spring. Photograph: Ralf Dujmovits - dari www.guardian.co.uk
Bulan ini, berasa de ja vu, NGI bulan Juni yang saya terima beberapa hari lalu memasang foto cover yang senada dengan foto di atas. Edisi ini mengangkat keriuhan di Puncak Dunia ini sebagai salah satu artikel utama.
Keramaian menyumbat Hillary Step pada 19 Mei 2012. Sebagian pendaki mengantre hingga dua jam di dinding batu sejauh 12 meter di bawah puncak ini, sambil kehilangan panas tubuh. Meski demikian, 234 orang mencapai puncak pada hari itu. Empat pendaki meninggal dunia. 
Foto: Subin Thakuri, Utmost Adventure Trekking - dari National Geographic Indonesia
Menurut artikel ini, sejak 1990, tingkat keberhasilan pendaki naik menjadi tiga kali lipat. Tahun 1990 ada 72 orang yang mencapai puncak (18%), tahun 2000 ada 145 orang (24%), berikutnya, di tahun 2012, ada 547 orang yang mencapai puncak (56%). Mencengangkan! 
Mau ngga mau saya jadi berpikir, kok kayanya gampang ya? Semudah itukah mendaki Everest? Ternyata.. ada beberapa alasan, selain prakiraan cuaca yang lebih jitu, juga karena jumlah pemandu yang lebih banyak dan peralatan yang lebih baik. Konon sekarang-sekarang, sekitar 90% pendaki Everest adalah klien berpemandu, yang umumnya tidak memiliki keterampilan mendaki. Cukup bayar aja, antara Rp 300 juta hingga Rp 1,2 miliar (buat yang mampu). 
Dua jalur utama yang digunakan adalah South Col/Southeast Ridge (Nepal) dan North Col/Northeast Ridge (Cina), jalur dari Nepal adalah jalur yang lebih populer, tapi ya sama aja katanya, karena terlalu banyak pengunjung, hasilnya adalah kotor dan jorok, banyak pencemaran sampah dan sampah biologis. 

Di artikel ini, ada enam cara yang dipaparkan untuk memperbaiki Everest. Misalnya dengan mengurangi izin, membatasi total pendaki dan Sherpa, dan memperkecil tim ekspedisi, sehingga mengurangi kemacetan lalu lintas di jalur pendakian. Tapi, katanya... dengan keadaan negara Nepal yang sarat masalah, sepertinya intervensi pemerintah tidak bisa diandalkan, cara yang paling mungkin adalah koordinasi antarsesama operator ekspedisi.
Untuk menurunkan risiko kecelakaan, perlu juga sertifikasi operator untuk memastikan standar keselamatan dan pengetahuan gunung dipenuhi, kemudian memastikan pendaki dan Sherpa memiliki pengalaman dan siap menghadapi tantangan ketinggian gunung.
Selain itu, memastikan bahwa setiap perjalanan tidak meninggalkan jejak dengan menyingkirkan kotoran dan sampah manusia dari gunung, dengan sanksi bagi yang tidak patuh; dan menyingkirkan jasad, karena penghormatan tidak hanya bagi yang sudah meninggal, tapi juga bagi yang masih hidup, yaitu yang bertemu dengan jasad di jalur utama.

Oh ya, ada juga Conrad Anker disebut-sebut di sini, ternyata beliau dan istrinya memiliki pusat pelatihan untuk para Sherpa pemandu di Tibet sana. Masih inget kan?!

Aah..jadi kangen menggunung :D tapi.. sekarang-sekarang, entah kenapa, kayanya saya ngga senekat dulu dan ngga yakin masih mampu melakukan perjalanan menggunung.. 

Monday, May 20, 2013

SJSN dan BPJS - seriusan niih ;p

Beberapa hari yang lalu, dalam salah satu peristiwa langka membaca surat kabar, saya membaca satu artikel tentang Jawa Barat yang menjadi salah satu provinsi (selain DKI Jakarta dan NAD) yang menjadi tempat uji coba atau semacam percontohan penerapan SJSN. Jadi inget deh, hutang saya cerita soal SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional) dan BPJS (Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial). 

Landasan yuridis dari SJSN adalah UU No. 40 tahun 2004, sementara landasan filosofisnya adalah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur. Semangatnya berasal dari ideologi bahwa jaminan sosial adalah hak konstitusional setiap orang dan wujud tanggung jawab negara. Lihat deh di UUD 1945 pasal 34 ayat 2: 'Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.'; dan pasal 28H ayat 3: 'Setiap orang berhak atas Jaminan Sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermanfaat.' [OOT, beneran deh, bahasa undang-undang tuh ngga jelas banget ;p]. 
Menurut Konvensi ILO 102 Tahun 1952, standar minimal Jaminan Sosial meliputi tunjangan kesehatan, tunjangan sakit, tunjangan pengangguran, tunjangan hari tua, tunjangan kecelakaan kerja, tunjangan keluarga, tunjangan persalinan, tunjangan kecacatan, dan tunjangan ahli waris. 

SJSN terdiri atas lima program. Program jaminan kesehatan saat ini dikelola oleh PT Askes, sementara empat program lainnya (program jaminan kecelakaan kerja, program jaminan kematian, program jaminan hari tua, dan program jaminan pensiun) dikelola oleh PT Jamsostek. Paling lambat 01 Januari 2014 nanti, PT Askes akan bertransformasi sebagai BPJS I, dan PT Jamsostek menjadi BPJS II. 
Ide besarnya adalah azas kemanusiaan, keadilan sosial, dan manfaat untuk SELURUH rakyat Indonesia. 

Kemarin sih bahasannya lebih spesifik ke BPJS I, tapi sepertinya prinsip-prinsip dasarnya sama saja, antara BPJS I dan II, yaitu keanggotaannya wajib untuk semua anggota masyarakat, dan portabilitas (=pelayanan dapat dilakukan di mana saja). 
Apa sih perbedaannya dengan saat ini? Saat ini, ada yang namanya asuransi sosial (Askes) dan komersial. Metode pembiayaannya sendiri berasal dari dana pribadi (untuk yang mampu, bisa ikutan asuransi kesehatan) atau berdasarkan pajak. 
Konon, saat ini, sistem Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) hanya mencakup masyarakat miskin/tidak mampu, yang jumlahnya tampak bertambah banyak. Puluhan juta masyarakat ini ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah (cerita idealnya). Dari mana pemerintah mendapat dana? Dari pendapatan pajak itu tadi, di APBN, cmiiw :). 

Di 2014 nanti, asuransi kesehatan sosial menerapkan prinsip gotong royong/subsidi silang, kepesertaan yang wajib, pengelolaan nirlaba, dan iuran sesuai persentase penghasilan. 
Pada pelaksanaannya, ada tiga pihak yang terlibat; BPJS Kesehatan, Fasilitas Kesehatan, dan Peserta. 
Interaksinya berbentuk segitiga: 
Fasilitas Kesehatan (Faskes) adalah rumah sakit, dokter praktek, klinik, laboratorium, apotek, dan lainnya (ngga disebutkan apa lagi). 
Jadi, di masa yang akan datang, kita-masyarakat-tidak akan melakukan pembayaran langsung untuk pelayanan kesehatan Faskes, tagihan disampaikan ke BPJS. 


Pada dasarnya, kalo boleh disampaikan dengan sederhana, SJSN adalah perluasan dari Jamkesmas, di mana keanggotaannya tidak hanya mencakup masyarakat tidak mampu, melainkan seluruh masyarakat Indonesia. 

Pelayanan kesehatan yang diprioritaskan adalah pelayanan primer, dimana kuantitasnya paling besar dan biayanya terjangkau. Tampak njelimet ya? Intinya sih, mungkin, revitalisasi pelayanan kesehatan di Puskesmas, ada yang namanya penapisan atau bahasa kerennya screening. Suatu kasus ditangani di penyelenggara pelayanan kesehatan (PPK) primer terlebih dahulu, kemudian dirujuk ke PPK sekunder bahkan ke PPK tersier, bila diperlukan. Jadi, diharapkan tidak akan terjadi penumpukan pasien di rumah sakit, yang mungkin sebetulnya bisa atau cukup ditangani di PPK Primer. 

Bersambung yaaa… (semoga :D)

Saturday, May 18, 2013

Caper Bukittinggi: Random Things


Ada banyak hal yang saya lihat atau amati atau temui di perjalanan Bukittinggi kemarin. Ada beberapa hal yang menurut saya menarik.. Menurut saya loh ya, ngga tau kalo menurut kamu ;p

Pertama.. Kami (saya dan teman-teman seperjalanan) menyadari ketiadaan minimarket waralaba yang merajalela itu loh.. Entah Alfamart atau Indomaret, keduanya tidak kami temukan di sepanjang perjalanan dari bandara, di jalan menuju Painan di Pesisir Selatan, hingga Bukittinggi, Payakumbuh, Padangpanjang, dsb.
Minimarket yang ada adalah minimarket bermerek personal, toko-toko kelontong dengan keunikan masing-masing. Senang rasanya menemukan variasi dan terbebas dari kesan uniformitas tampilan waralaba ;p
Menurut teman saya, di Sumbar sepertinya memang tidak ada waralaba minimarket, mungkin saja memang tidak diperbolehkan atau mungkin penduduknya yang menentang. Dan kemudian, saya jadi inget, rasanya waktu ke Medan dsk. saya juga ngga menemukan keberadaan minimarket, ngga yakin juga sih, soalnya waktu itu saya ngga begitu memperhatikan.

Kedua.. Di sekitar Bukittinggi, seperti di kota-kota lain, selain ada SPBU besar, ada juga kios-kios pengisian BBM untuk sepeda motor. Yang menarik, formatnya seragam, BBM-nya ditampung di dalam suatu tabung transparan berbentuk seperti syringe besar berskala, nama generik kios-kios ini adalah Pertamini. Ini khas Sumbar atau di daerah lain di Sumatra juga begini ya? Tadinya sih saya sudah niat mau memotret salah satu Pertamini ini, tapi kelupaan sampe pulang. 

Ketiga.. Saya mendapati nilai-nilai kekeluargaan orang Minang yang sangat erat, ngga tau ya, tapi rasanya saya ngga mendapati  hal-hal seperti ini di keluarga Sunda, yah setidaknya di keluarga saya (atau mungkin keluarga saya aja yang anomali ;p).

Keempat.. Di suatu persimpangan yang kami lewati, saya melihat sebuah reklame raksasa produk rokok. Berhubung iklan produk ini tidak diperbolehkan menampilkan gambar produknya, biasanya gambar atau tulisannya ya ngga begitu nyambung sama produknya. Di reklame yang ini, tulisannya keren deh, saya sih baru liat versi ini, tulisannya.. TERIKAT KEBEBASAN. Dalem banget ya?! Ya mungkin frekuensinya lagi sama dengan gelombang otak saya, jadinya tulisan itu terasa mengena, hehe.. Jadi mikir deh :)
Apa sih kebebasan itu? Menurut KBBI, kebebasan artinya keadaan bebas; kemerdekaan. Sementara, bebas berarti, (1) lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, dsb., sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dsb., dengan leluasa; (2) lepas dari (kewajiban, tuntutan, perasaan takut., dsb.); (3) tidak dikenakan (pajak, hukuman, dsb.); (4) tidak terikat atau terbatas oleh aturan, dsb.; (5) merdeka (tidak dijajah, diperintah, atau tidak dipengaruhi oleh negara lain atau kekuasaan asing).
Melihat definisi keempat, maka 'terikat kebebasan' berarti terikat oleh ketidakterikatan :D Keren ya taglinenya? Gimana ya ngejelasinnya.. Hal ini membuat saya berpikir, kadang-kadang saya merasa ingin bebas dan akan merasa bahagia dengan kebebasan tersebut. Kemudian, setelah terbiasa bebas, suatu batasan yang ditemui akan membuat saya merasa terikat, padahal seharusnya, inti dari kebebasan itu adalah keterlepasan dari ketergantungan pada kondisi bebas atau tidak bebas. Maka, saat kita merasa suatu batasan mengganggu kebebasan kita, itu sesungguhnya berarti kita tidak bebas lagi, karena kita sudah terikat dengan kebebasan ;p
Mestinya… bebas ya bebas, bebas terikat ataupun tidak. Saat kita terikat kebebasan, maka sesungguhnya kebebasan itu sudah lenyap, kata saya sih :D


Sunday, May 12, 2013

oleh-oleh dari ranah minang ^_^

Menjelajah Bukittinggi dan sekitarnya... (semoga cerita lengkapnya segera menyusul :D)
Pemandangan dari Puncak Bukit Langkisau di Pesisir Selatan
Pantai Carocok - Pesisir Selatan 
Di Puncak Lawang
Danau Maninjau dari Puncak Lawang
Jam Gadang
Jembatan Limpapeh (menghubungkan Fort de Kock dan Kebun Binatang Bukittinggi)
Air Terjun Sarasah Murai di Lembah Harau
Salah satu tebing granit di Lembah Harau
Istana Pagaruyung
Rangkiang (lumbung padi) di Istana Pagaruyung
Air Terjun Lembah Anai