Monday, December 8, 2014

dystopian worlds

dystopia 

• n : state in which the condition of life is extremely bad as from deprivation or oppression or terror [ant: {utopia}]

Berkunjung ke dunia-dunia distopian agaknya menjadikan dunia nyata terasa indah, yah, lebih indah :) Segala kegilaan dan keabsurdan rasanya jadi lebih tertahankan. Lebay banget yah :D

1984-nya George Orwell yang dibuat tahun 1949, menggambarkan dunia pada tahun 1984, lihat lebih lengkap di sini. Buku ini membuat saya bergidik, mengerikan sekali dunia tempat Winston hidup. Setiap gerak-gerik diawasi dan diatur sedemikian rupa. Tidak hanya perilaku, bahkan ideologi, alam pikiran, tempat paling pribadi pun tidak luput dari pengawasan polisi pikiran. Sereeem.. 
Novel ini adalah satu diantara segelintir buku 'agak serius' yang saya baca, diterjemahkan oleh Landung Simatupang. Familiar yah namanya? Artis! Terjemahannya bagus deh, berasa sangat nyastra.

Berbeda dengan 1984 yang sangat penuh muatan politis, trilogi Hunger Games-nya Suzanne Collins terasa lebih mudah dicerna, barangkali karena target pembacanya remaja. Dunianya Katniss Aberdeen tidak bersetting waktu tertentu, hampir mirip sih dengan trilogi Divergent-nya Veronica Roth.
Tema dan tokoh utama yang sama-sama remaja muda mau ngga mau membuat saya agak membandingkan kedua seri ini. 
Inti ceritanya pun ngga jauh beda sih, dari sisi politik, salah satunya adalah pemaparan tentang sistem pemerintahan. Suatu sistem agaknya tidak akan pernah benar-benar sempurna, akan ada suatu pihak yang merasakan ketidakadilan dan diskriminasi yang di satu titik akan memaksa adanya perubahan, revolusi, pemberontakan, apa pun sebutannya. Pemerintahan digulingkan, terjadi kekosongan kekuasaan, kemunculan pemerintahan baru yang diharapkan lebih baik dan lebih adil, kemudian disadari, tirani dan ketidakadilan itu ternyata hanya berganti rupa, ibarat parasetamol yang berganti merek dari sanmol ke obat generik atau merek lain. Isinya tetap parasetamol (maaf perumpamaannya ga mutu yah :D).
Tapi, ada yang beda juga sih, misalnya, serial Divergent agak lebih jelas rasa 'remaja'nya, dan porsi cinta-cintaannya agak lebih banyak. Trus, konflik pribadi Katniss rasanya lebih berbobot ketimbang konfliknya Tris.
Secara kesan, secara pribadi, saya lebih suka Hunger Games. Divergent agak-agak antiklimaks, karena konfliknya terasa muter-muter, dan agak bikin sebel sih, tapi keren, karena berlapis-lapis kaya bawang. Satu hal terungkap, ternyata ada lagi fakta tersembunyi berikutnya, terus ada lagi, dan di akhir, penyelesaiannya kurang memuaskan buat saya. Terlalu sederhana. Sudah.. klimaksnya kurang heboh.

The Giver-nya Lois Lowry, meskipun pendek, jauh terasa lebih berkesan. Dunia sang tokoh yang bernama Jonas ini adalah dunia yang sempurna, kebayang ngga sih, terlalu sempurna hingga terasa mengerikan. Jonas ini anak laki-laki yang menjadi Dua Belas, suatu saat dimana dia terpilih mengemban peran spesifik di Komunitasnya. 
Secara pribadi, novel ini memberikan pandangan lain tentang dunia dewasa, kejujuran, kebenaran, bagaimana kadang-kadang manusia melakukan pilihan-pilihan mengerikan dan egois, kemudian melakukan rasionalisasi atas pilihan-pilihan tersebut. Hal lain yang saya suka dari novel ini adalah kebaikan penulisnya untuk membebaskan pembaca menafsirkan, menyimpulkan akhir cerita Jonas. Really love this book!! [trus, ngomong-ngomong filmnya tayang kapan yah? ;D]

Sunday, December 7, 2014

quote: Little Women

Aku ingin putri-putriku menjadi wanita-wanita yang cantik, berhasil, dan baik; dikagumi, dicintai, dan dihormati. Aku ingin mereka mendapat masa muda yang ceria, kemudian menikah dengan baik-baik dan bijaksana, menjalani hidup yang berguna dan menyenangkan, dengan sesedikit mungkin kekhawatiran dan kesedihan yang merupakan cobaan untuk mereka, cobaan yang dinilai pantas oleh Tuhan. Dicintai dan dipilih oleh seorang pria yang layak adalah hal terbaik dan terindah yang bisa didapat seorang wanita. Dengan sepenuh hati aku berdoa dan berharap putri-putriku akan mendapat pengalaman luar biasa itu. Adalah wajar untuk memikirkannya, wajar untuk mengharapkan dan menantikannya, serta bijaksana untuk menyiapkan diri menyambutnya. Jadi, saat tiba waktunya nanti, kau akan siap menghadapi tugas-tugasmu, serta layak mendapatkan kebahagiaan itu. Anak-anakku sayang, aku memang punya ambisi untuk kalian, tetapi aku tidak memimpikan kalian menjadi gadis yang memesona di pesta-pesta, atau menikah dengan pria kaya hanya karena ia berharta, atau tinggal di rumah mewah yang tidak seperti rumah karena rumah itu tidak dihangatkan dengan cinta. Uang memang diperlukan, dan berharga, -dan, jika digunakan dengan benar, uang adalah sesuatu yang mulia. Tetapi, aku tidak akan pernah menginginkan kalian melihat uang sebagai hal yang pertama, atau satu-satunya tujuan, untuk diperjuangkan. Aku lebih suka melihat kalian menjadi istri seorang pria miskin, asalkan kalian bahagia, dicintai, dan merasa nyaman, ketimbang menjadi ratu-ratu di atas singgasana, tanpa kehormatan diri dan kedamaian.
Lebih baik menjadi perawan tua yang bahagia, ketimbang istri yang menderita, atau gadis-gadis yang tidak menjaga kehormatannya dan berkeliaran mencari-cari suami. Kemiskinan tidak akan membuat kekasih yang tulus menjauh. 
Pasrahkan hal-hal ini kepada waktu, buatlah rumah ini menjadi rumah yang membuatmu bahagia, agar kau kelak pantas berada di rumahmu sendiri, jika itu ditawarkan kepadamu, dan tetap nyaman berada di sini jika tidak. Ingatlah satu hal, anak-anakku, seorang ibu selalu siap menjadi tempat kalian menceritakan apa pun, seorang ayah menjadi sahabat, dan kami berdua percaya dan berharap bahwa putri-putri kami, menikah ataupun tidak, akan menjadi kebanggaan dan sumber kenyamanan hidup kami.

-Louisa May Alcott-

Catatan: barangkali ini bisa mewakili cita-cita dan harapan setiap orang tua, termasuk bapak dan ibu saya. [meskipun barangkali beberapa hal seperti pesta-pesta agak tidak sesuai dengan konteks, tapi ya intinya tetap relevan sih], simpen ah, siapa tau, barangkali di masa depan nasihat ini bisa saya pake :D

Saturday, December 6, 2014

Hore-hore: Movie Marathon :D

Empat akhir pekan terakhir, entah Sabtu atau Minggu, saya menjalankan misi apresiasi sinema intensif :D Tampaknya akhir tahun ini banyak film yang menggugah minat. 

Akhir pekan pertama, Minggu, 16 November, nonton Interstellar. Awalnya sih berniat solo, tapi malah ngajak keponakan, dan akhirnya malah jadi nonton berlima sama kakak-kakak saya dan kakak ipar.
Filmnya? Ya gitu deh, untungnya sebelum nonton sempet ngintip-ngintip baca sinopsis dan sedikit baca juga penjelasan ilmiahnya, jadi ngga terlalu cengo pas nonton. Kakak saya, yang  ngga begitu suka nonton dan ngga ada persiapan apa-apa, ngerasa agak-agak bingung soalnya. Bulan Maret silam, di NGI ada artikel tentang lubang hitam, gara-gara film ini, saya jadi baca-ulang artikelnya, lihat di sini buat ngintip artikelnya. 
Kesan saya? Yah, diantaranya, penggambaran yang menarik ketika di masa depan ternyata manusia justru kembali menjadi masyarakat bertani. 

Akhir pekan kedua, Sabtu, 22 November, untuk pertama kalinya nonton dua film di hari yang sama, Big Hero 6 dan Hunger Games: Mockingjay Part 1. 
Big Hero 6 ini film animasi, setting tempatnya di sebuah kota bernama San Fransokyo :) Seperti film keluarga pada umumnya, ceritanya ringan, tapi bermakna ;p
Mockingjay Part 1 adalah film ketiga adaptasi buku ketiga trilogi Hunger Games, ditonton semata-mata karena penasaran :D  


Akhir pekan ketiga, Sabtu, 29 November, nonton Penguin of Madagascar. Selain karena suka filmnya, alasan lain adalah salah satu pengisi suara karakternya, yaitu Benedict Cumberbatch. Iya, tau, alasannya ngga penting ;p
Filmnya ternyata biasa aja sih, ngga jauh beda sama serialnya, cuma durasinya saja lebih lama. Alurnya standar, mudah ditebak. Menurut saya, seru sih, tapi jauh lebih seru Big Hero 6.

Akhir pekan keempat, Sabtu ini, 06 Desember, estafet lagi nonton, 7 Hari 24 Jam dan Elle l'adore. Berhubung yang ini masih segar, jadi akan dibahas sedikit lebih panjang :)
7 Hari 24 Jam ini film komedi gitu, tentang pasangan suami-istri yang sama-sama sibuk, sakit dan diopname bersama-sama. Yah, pada dasarnya, film ini menggambarkan kehidupan rumah tangga yang nyata, bukan dongeng yang selalu diakhiri 'menikah dan bahagia selamanya'.
Sayangnya, menurut saya sih, konflik yang menjadi klimaks ngga begitu masuk akal, rasanya terlalu 'cetek' buat jadi masalah besar dalam rumah tangga. [ini debatable, mengingat saya tidak berpengalaman, bisa jadi ini karena saya kurang mampu menghayati ceritanya :D]


Film kedua, Elle l'adore, adalah salah satu film yang ditayangkan dalam Festival Sinema Prancis. Film ini bergenre drama-komedi, liat trailernya di sini. Kesan saya? Filmnya bagus, ceritanya ngga biasa, tentang sejauh mana seorang fans mampu melakukan sesuatu demi idolanya.

Yah, semoga akan ada akhir pekan-akhir pekan mendatang dan film-film lainnya. Aamiin ^_^


Wednesday, November 12, 2014

Bapak: dalam ingatan

Katanya hari ini Hari Ayah, sekaligus Hari Kesehatan Nasional Emas. Sebetulnya baru ngeh sih untuk keduanya.. di Indonesia, Hari Ayah katanya mulai diperingati tahun 2006 silam, sementara Hari Kesehatan udah sampe tahun emas.. tapi saya ngga ngeh juga tuh.. kurang sosialisasi kah? Atau mungkin saya aja yang udik dan kurang gahol :D

Untuk Hari Kesehatan, ngeh-nya karena ada edaran via e-mail tentang peminjaman lapangan depan oleh Dinkes Jabar buat upacara. Kalo ngga ada itu, sampe tahun depan juga mungkin masih ga tau ada yang namanya Hari Kesehatan.

Cerita tentang hari Ayah.. udah hampir tiga tahun saya berstatus yatim. Hari ini agak-agak teringatkan dengan kenangan sama mendiang Bapak. Pertama kali masak bareng Bapak, kepepet sih, belajar masak tumis kangkung, dan diajarin goreng perkedel oncom kesukaan saya. 

Lebaran kemarin, sempet denger juga cerita-cerita soal Bapak jaman dulu waktu masih aktif kerja, kebiasaan beliau ngeberesin lembaran uang dengan rapi - uang disusun sedemikian agar satu sisi menghadap ke arah yang sama (dan ini menurun pada saya, masih dilakukan hingga saat ini, mungkin dulu waktu kecil saya sering melihat langsung), kehebohan lembur akhir bulan atau akhir tahun tiap kali mau tutup buku, kadang kakak-kakak saya diperbantukan buat nulis dan ngitung (waktu itu saya masih kecil, mungkin belum sekolah), dan cerita lain yang sudah pernah saya dengar juga sebelumnya.
Hal yang paling membekas tentang bapak saya adalah.. beliau ngga banyak ngomong (begitu pun saya), pendokumentasi yang baik (bahkan catatan pengeluaran renovasi rumah atau hasil panen padi bertahun-tahun yang lalu, bisa jadi masih tersimpan), hemat - dalam artian, karena bisa jadi ada hal tak terduga di depan sana, kita mesti pinter nabung dan ngga boleh boros, kurang lebih, harus punya rencana, bisa mikir jangka panjang. Saya agak inget sih, beliau dan ibu, sering nasihatin kakak atau saudara dengan kata-kata seperti ini: 'ulah kumaha engke, tapi engke kumaha' (artinya: ngga boleh gimana nanti, tapi nanti gimana). 

Barangkali banyak hal tentang bapak yang ngga saya tau, banyak hal tentang saya yang beliau ngga tau. 
Yang pasti, banyak hal yang belum saya lakukan buat beliau.. mudah-mudahan saja saya ngga nyusahin beliau di akhirat sana ya.. mudah-mudahan saya masih bisa menjadi perpanjangan amal baik beliau. Aamiin..

Sunday, October 26, 2014

Tjiandjoer - Soekaboemi - Buitenzorg

Edisi at the glance dulu yaah..

Buklet dan materi sejarah kereta api - seri kartu pos dari PT KAI (kebetulan menjawab pertanyaan kuis) - suasana gerbong eksekutif KA Siliwangi - Stasiun Sukabumi - Stasiun Cianjur
Beberapa bagian dari Stasiun Bogor, salah satu stasiun kereta api cagar budaya, ada tangga putar dari kayu yang terlihat menakjubkan
Hujan perdana di tahun 1436 H, dalam perjalanan pulang
Perjalanan kali ini diselenggarakan pada 25 Oktober 2014 oleh Bandung Heritage, dengan dukungan PT KAI, sampe-sampe perjalanan kami didampingi oleh dua orang personil dari Unit Konservasi, Perawatan dan Desain Arsitektur PT KAI.

Monday, October 6, 2014

insight: berhenti berharap ;p

Suatu hari, Banzan berjalan di pasar ketika mendengar seseorang meminta potongan daging terbaik pada tukang daging. Si tukang daging menjawab, "Aku hanya menjual yang terbaik. Kau tidak akan menemukan sepotong pun daging yang bukan terbaik." Setelah mendengar ini, Banzan menyadari bahwa tidak ada yang terbaik dan terburuk, bahwa penilaian itu sebenarnya tak berarti karena semua hal adalah seperti apa adanya, dan wuss, ia mencapai pencerahan.

Semua hal yang menyatu akan hancur. Semuanya. Entropi meningkat. Segalanya hancur.

Penderitaan disebabkan oleh hasrat, ketiadaan hasrat berarti ketiadaan penderitaan. Ketika kau berhenti berharap segalanya tidak akan hancur, kau tak akan menderita saat kehancuran datang.

-dikutip dari Looking for Alaska-


Sunday, September 14, 2014

awas lagi galak!

Disclaimer: (maaf) sesi curhat lagi, dimohon dengan sangat untuk diabaikan saja. Harap segera tutup dan tinggalkan halaman ini. Sekarang!!

Kalo dianalisis secara seksama, sejak kecil hingga sekarang, sepertinya galak dan judes adalah salah dua sifat dasar saya. Akhir-akhir ini intensitasnya lagi tinggi nih, dan ngga terlalu merasa bersalah juga. Oh, i'm such an evil..

Pemicunya.. kadang-kadang orang tuh suka sok tau dan nanya-nanya ngga penting, ngasi saran ini-itu tanpa diminta, komentar ini-itu tanpa tedeng aling-aling, dan seringkali tidak pada tempatnya. Astaghfirullah.. bukan alesan sih buat jadi nyebelin, tapi kalo orang lain bisa nyebelin, kenapa saya ngga bisa nyebelin juga ;p

Tuesday, September 2, 2014

what is this all about?


Yah.. bukan tentang bendanya sih..
Tapi.. kalo bukan tentang bendanya..
Trus.. tentang apa?

Monday, September 1, 2014

feelin' stupid..

Saat ini.. detik ini.. adalah satu di antara sekian kali di mana saya merasa, barangkali lebih tepatnya berpikir, alangkah lebih mudahnya jika perasaan adalah fungsi dari formulasi yang lebih sederhana seperti logika matematika.
Ketika semua faktor menuntun ke titik A, mengapa masih saja ada keinginan menuju titik selain A?

Sunday, August 10, 2014

terima kasih sudah mampir, kaka!! :D

Agak menyenangkan ya ketika membuka lagi kumpulan ceracauan ini dan menemukan tambahan tayangan laman. Kemungkinan besar sih kebanyakan ngga sengaja nyasar kayanya yah. Makasih sudah nyasar ke sini yaa! :D

Akhir-akhir ini kepikiran pengin nulis, nulis ini, nulis itu, cerita ini, cerita itu, dan ternyata berakhir dalam pikiran saja.. dan bahan tulisan yang ngga seberapa banyak itu pun beterbangan deh.. Maka kita tinjau saja apa-apa yang terjadi sejak awal bulan lalu..

Bulan puasa kemarin terasa berlalu begitu cepat, sayangnya bukan karena terlalu nikmat menjalankan ibadah, tapi gara-gara kesibukan perauditan yang bertubi-tubi itu [dan naasnya si audit itu masih harus bersambung minggu ini, doakan semoga saya ngga terdampak langsung ya! mudah-mudahan pekerjaan saya ngga terusik! aamiin!!]. Kemudian tau-tau libur lebaran.

Lebaran saya kali ini agak beda sama lebaran sebelumnya. Setelah bertahun-tahun ngga pernah foto-foto pas lebaran, tahun ini ada lumayan banyak foto pas lebaran, kaya dulu pas saya kecil, waktu orang tua saya baru punya kamera. Ada beberapa foto bersama, banyaknya sih foto keponakan-keponakan, terutama yang kecil. 

Di hari ketiga Lebaran, sempet ikut arus dengan jalan-jalan ke objek wisata. Biasanya, kami cuma mengomentari orang-orang yang rela bermacet-macet, tapi kali ini, kami ikutan bermacet-macet. Berangkat dari rumah sekitar jam delapan pagi, berbekal nasi timbel dan lauk, kami menuju area tujuan wisata paling populer di Bandung Selatan. Melewati Kawah Putih, Ranca Upas, Cimanggu, Ciwalini, trus ke Rancabali, Situ Patenggang, teruuuus lagi melewati Cibuni, tembus ke Cidaun, Cianjur, sampe akhirnya nyampe ke Pantai Jayanti sekitar jam dua siang.

Di pantai.. rameeeee!!! cuma jalan-jalan di pesisir sebentar, lebih banyak menonton orang ketimbang melihat pemandangan, trus pulang lagi deh.. Terjebak kemacetan mulai di Rancabali sejak sekitar jam enam sore, dan akhirnya sampe rumah jam setengah sebelas malam. Capek, tapi lebih banyak serunya. Alhamdulillah!

Sialnya (atau syukurnya ya?! :D), sama dengan efek jalan-jalan lainnya, perjalanan ini hanya memicu kerinduan pada perjalanan lainnya. hmpfh...

ps. ada banyak foto-foto pemandangan sepanjang jalan yang menyegarkan sih, tapi dibagi kapan-kapan lagi aja deh ya.. ^_^v

Tuesday, July 8, 2014

Caper Rinjani (bagian pertama)

Bepergian ke daerah WITA seakan-akan melakukan perjalanan ke masa depan. Saat tiba di tujuan, tau-tau kita kehilangan waktu satu jam. Ke manakah satu jam itu terbang? ;p
Berangkat dari Bandung menjelang tengah hari, satu jam empat puluh menit kemudian, kami mendarat di Denpasar, masuk ke bandara, celingak-celinguk melihat tanda atau semacamnya buat memberi petunjuk buat penumpang transit. Seorang petugas akhirnya datang dan mengarahkan kami ke pintu keluar, menunggu bus yang akan mengantarkan ke pesawat menuju Praya.

Cerita aja, kedua temen jalan saya pada punya Garuda Frequent Flyer, gaya ya? ;p Kalo saya sih jarang pergi-pergi pake pesawat, apalagi Garuda. Baru tau juga kebijakan makan, entah di maskapai penerbangan lain sama juga atau ngga. Durasi menentukan jenis makanan yang akan kita dapet, ngga tau persis hitung-hitungannya gimana, kemarin Bandung-Denpasar = makan berat dan minum, Denpasar-Praya = Fruitea, Praya-Juanda = Juanda-Bandung = kotak cemilan roti, kue, dan AMDK 120 mL.

Mengikuti tips jalan-jalan yang pernah saya baca, kan katanya pejalan-jalan yang baik pantang membanding-bandingkan apa pun antara tempat jalan-jalan dan daerah asalnya atau dengan tempat mana pun yang pernah dikunjungi. Nah, sekalinya inget dan niat untuk menerima pengalaman apa pun dengan senang hati, langsung deh diuji. Nyampe di Praya sore-sore menjelang Maghrib, setelah bertemu sopir dan mobil rental yang akan membawa kami ke Sembalun, kami langsung cari tempat sholat. Agak jauh dari bandara, tapi masih di dalam kawasan, terlihat bangunan masjid yang cukup besar, jadi kami ke sana.
Masjidnya besar, mungkin masih belum selesai, agak kumuh karena keberadaan para pedagang. Sedihnya.. orang-orang ini, yang menghabiskan banyak waktu di area masjid, tampaknya - saya duga - memanfaatkan fasilitas masjid tanpa memelihara kenyamanan dan kebersihannya. Ngga usah buat pengunjung lah, setidaknya buat mereka sendiri, yang sehari-hari ada di sana. Waktu mau numpang pipis, saya menemukan toiletnya jorok banget, airnya menggenang di lantai, trus di klosetnya, ada sisa-sisa mukus yang melekat, jadi agak mual-mual ;p Keluar dari toilet, saat hendak wudhu, terkaget dengan pemandangan ibu-ibu yang lagi jongkok di tempat wudhu, lagi bilas habis pipis. Saya baru liat loh, pantesan aja suka ada tulisan peringatan buat ngga pipis di tempat wudhu, ternyata praktiknya beneran ada..
Selesai sholat, langsung deh dianterin ke Sembalun. Kalo di peta, Praya ini lokasinya agak di Selatan barat daya (antara Selatan dan Barat Daya), sementara Sembalun ada di utara timur laut (antara Utara dan Timur Laut), kayanya ngga begitu jauh. Tapi, ternyata rutenya mesti muter ke pesisir Lombok Barat, lewat Senggigi, jauuuh, dan berkelok-kelok, kaya di Cadas Pangeran atau di Toba, sampe-sampe kedua temen saya agak mual dan terpaksa mengeluarkan minyak aromaterapi dan minum jamu orang pintar :D Saya? Agak pusing sih, curiga sedikit masuk angin juga, tapi ngga sampe butuh bantuan eksternal apa-apa.


Rute perjalanan Praya - Sembalun (dari Google Maps)
Sekitar jam sebelas malam, akhirnya kami sampe di rumah calon porter kami, sebut saja Mas U, di desa Sembalun. Di rumahnya, istri Mas U (sebut saja Ny. U) sudah menyiapkan makan malam buat kami, menunya nasi dengan lauk goreng ikan tongkol, goreng tempe, dan sayur nangka pedas. Semakin lengkap dengan minum kopi tubruk panas. Setelah kalap makan, piring-piring dibereskan, dan ngobrol sebentar soal rencana pendakian dan logistik, tanpa menyikat gigi, cuci muka, apalagi ganti baju, kami pun akhirnya tidur. Petualangan hari itu sudah selesai.

Subuh keesokan harinya, bangun tidur, mau sholat subuh, tapi takut keluar rumah buat ke WC pas masih agak gelap, soalnya di pekarangan rumah ada banyak anjing hilir-mudik. Akhirnya sholatnya pas udah agak terang ;p Kamar mandi di rumah Mas U ada di belakang rumah, topless (alias tanpa atap), tinggi dindingnya sekitar satu meter, keliatannya sih masih dalam proses pembuatan. Pagi ini juga jadi kesempatan terakhir ketemu WC yang representatif selama setidaknya empat hari berikutnya. Jadi.. Puas-puasin dulu deh unloading muatan pencernaan :) tapi ngga mandi, soalnya airnya terbatas, mesti ngambil dari sumur, dan ngga nyaman juga mandi di alam terbuka, apalagi ada anjing-anjing berkeliaran.

Menu makan malam dan sarapan 
Habis sarapan, Ny. U belanja logistik buat bekal kami, mencakup beras, daging ayam, sayur-sayuran semacam kol, kentang dan buncis, trus ada pasta, telur, tahu, tempe, dan bumbu-bumbu masak standar. Sementara itu, R berangkat ke pos ???? untuk mengurus perizinan. Tau ngga berapa biayanya? Cukup dua ribu lima ratus rupiah saja, saudara-saudara! Murah banget! Miris juga sih, gimana bisa ada dana yang cukup buat pemeliharaan Taman Nasional ini.. :(

Setelah logistik terkumpul, semuanya dikemas di keranjang yang akan dibawa oleh Mas U dan keponakannya.

Beres-beres logistik
Logistik siap angkut
Sekitar jam setengah sembilan, perjalanan pun dimulai..

Pemandangan mewah dari halaman rumah Mas U


Sunday, July 6, 2014

the beauty of life ;D

Ramadhan kali ini, baru hari ini bisa buka puasa di rumah. Kemarin-kemarin, buka puasanya di tempat kerja, tiap hari buka bareng rekan kerja, tajilnya tiada hari tanpa Cireng Cipaganti. Seru sih, tapi tiap hari pulang kerja selepas Isya agak mengkhawatirkan juga. Rasanya jadi banyak kehilangan waktu, terutama waktu buat tidur :D Pergi pagi di saat jalanan masih sepi dan orang rumah pada tidur lagi setelah sholat Subuh, trus pulang malem di saat jalanan udah sepi lagi dan orang rumah udah bersiap tidur, dengan badan yang rasanya remuk redam, ngantuk berkepanjangan dan energi yang terkuras.. rasa-rasanya lama-lama bisa bikin depresi.
Alhamdulillah sekarang sudah akan selesai, meski dua minggu lagi (dan bulan depan juga) siklus yang sama (semoga agak lebih ringan) akan terulang. Setidaknya masih ada waktu untuk refresh, mengisi energi lagi, meski mungkin ngga optimal.
Satu misi yang pasti setelah Agustus ini urusan perauditan berakhir: WAJIB liburan!! ^_^v

Tuesday, July 1, 2014

beberapa saat menuju hajatan besar!

Selamat bulan Juli!! Tinggal hitungan jam menuju D-day, H-hour, di mana jam kerja ekstra akhir-akhir ini mudah-mudahan akan membawa arti dan tidak tersia-sia.
Audit kali ini entah kenapa rasanya terlalu banyak kehebohan di saat-saat terakhir. Beberapa kali mendapati situasi yang terasa menegangkan, padahal ceritanya masih persiapan loh!
Di masa-masa kritis seperti ini, tidak jarang juga mendapati beberapa pihak yang kurang kooperatif, semoga saya ngga termasuk golongan ini ;p Ada juga tipikal yang cenderung melemparkan tanggung jawab kepada pihak lain.
Sebagai bagian dari penjaga sistem, yang berfungsi memastikan sistem mutu yang ditetapkan benar-benar diimplementasikan, kadang suka kesel sendiri saat menghadapi tipe seperti ini. Idealnya.. sistem tidak hanya dijaga oleh kami, 'sang polisi', pihak-pihak pelaku/praktisi mestinya juga bekerja menjaga kelangsungan sistem. Kenyataannya: saat terjadi sesuatu di luar normal, para pelaku cenderung berlepas tangan dan menyerahkan semua masalah untuk diselesaikan oleh kami. Bahkan untuk hal yang menurut saya ngga begitu rumit, seakan-akan tanggung jawab memelihara sistem itu adalah tugas kami saja..
Ya gitu lah.. maafkan kalo terkesan mengeluh.. sebel juga sih sering jadi 'tempat sampah' ;p
Doakan semuanya lancar ya!! :)