Absence of evidence does not equal evidence of absence - dr. David Hussong (of FDA and the USP Microbiology and Sterility Assurance Expert Committe)
Friday, May 1, 2015
Wednesday, March 18, 2015
kiss me under the light of a thousand stars
Lihat ini.. bagus ya klipnya, sederhana, menyenangkan..
lagunya juga bagus, gombal sih.. tapi kalo beneran mah kayanya ga masuk kategori gombal yah :D
When your legs don't work like they used to before
And I can't sweep you off of your feet
Will your mouth still remember the taste of my love?
Will your eyes still smile from your cheeks?
And, darling, I will be loving you 'til we're 70
And, baby, my heart could still fall as hard at 23
And I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways
Maybe just the touch of a hand
Well, me—I fall in love with you every single day
And I just wanna tell you I am
So honey now
Take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars
Place your head on my beating heart
I'm thinking out loud
That maybe we found love right where we are
When my hair's all but gone and my memory fades
And the crowds don't remember my name
When my hands don't play the strings the same way
I know you will still love me the same
'Cause honey your soul could never grow old, it's evergreen
And, baby, your smile's forever in my mind and memory
I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways
Maybe it's all part of a plan
Well, I'll just keep on making the same mistakes
Hoping that you'll understand
But, baby, now
Take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars
Place your head on my beating heart
Thinking out loud
That maybe we found love right where we are
So, baby, now
Take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars
Oh, darling, place your head on my beating heart
I'm thinking out loud
That maybe we found love right where we are
Oh, baby, we found love right where we are
And we found love right where we are
Saturday, March 14, 2015
menuju resolusi [revisi satu]
Tepat seminggu yang lalu saya berkesempatan menghadiri penampilan perdana Kelas 101. Materinya tentang travel blogging. Menulis catatan perjalanan, dalam sebuah blog, entah untuk berbagi informasi, untuk berbagi cerita dan pengalaman, atau bisa juga demi bikin sirik yang baca, atau sekedar pamer :D
Pematerinya dari indohoy.com, dua orang perempuan masa kini yang keren-keren sekali. Ternyata, belakangan diketahui mereka temen angkatannya seorang teteh temen kantor. Mereka ini membuat indohoy.com dengan target pembaca para turis asing, maka blognya dibuat dalam Bahasa Inggris.
Inti dari pemaparan mereka, hal yang terpenting dalam membuat travel blog adalah.. konsep dan konsistensi. Titik.
Daan.. hal yang paling penting adalah.. segera mulai. Sebanyak apa pun tips dan trik menulis yang kita kumpulkan dari membaca, mendengar, melihat di sana-sini, ngga akan ada artinya kalo kita ngga mengamalkannya dengan menulis.
Jadi.. bisa jadi resolusi baru nih.. ke depan, sebisa mungkin saya mengurangi sesi curhat tak penting di sini. Selanjutnya, mesti mulai memaksa diri buat berkomitmen mengumpulkan dan merapikan catatan perjalanan (barangkali dalam suatu blog khusus), mudah-mudahan dalam waktu dekat.
Monday, February 2, 2015
before bed-time
Merenungkankanmu kini...*
*efek nonton sekilas perjalanan Kla Project di KompasTV ;)
[adakah engkau merenungkanku juga? ;p]
*efek nonton sekilas perjalanan Kla Project di KompasTV ;)
Tuesday, January 27, 2015
sabtu sinema
Sebulan terakhir ini, rasanya saya berjalan di jalur cepat. Rasanya ngga ada, well, sedikit, waktu buat leyeh-leyeh di jalur lambat, menikmati pemandangan hidup berupa kegiatan-kegiatan menyenangkan semacam leyeh-leyeh berkepanjangan atau sekadar hibernasi.
Ilusi jalur lambat yang termudah dilakukan adalah menikmati waktu luang hedon-hedon sendiri (dalam tulisan ini, maksudnya nonton film). Karena kalo ngajak-ngajak teman kadang-kadang ribet, entah menentukan film yang mau ditonton, atau waktu pelaksanaannya. Sendiri is simple. Kalo lagi pengin ya tinggal capcus, dan kalo mendadak males, ngga mesti ngerasa bersalah karena membatalkan janji tiba-tiba.
Dua sabtu terakhir, apresiasi sinema lagi.. Sabtu pertama nonton Woman in Black 2, Sabtu berikutnya nonton The Imitation Game. Dua-duanya seru secara berbeda :D
Woman in Black 2 ditonton karena saya nonton film yang pertamanya, yang dibintangi sama Daniel Radcliffe. Sebetulnya.. agak segan nonton film horor di bioskop, karena efek seramnya bisa jadi berlipat-lipat, trus kok kayanya agak rugi yah kalo kita bayar buat ditakut-takuti.
Daaan.. benar saja, setelah agak lama ga nonton film horor, nonton film ini membuat saya merasa lelah secara emosional :D Filmnya ngga seseram film horor Asia sih, tapi ya gitu.. nyebelin, karena bikin capek (in a good way), saya mesti menyiapkan mental buat menghadapi kejutan adegan horornya.
Alur ceritanya ngga begitu mengejutkan sih, agak-agak predictable, tapi lumayan laah..
Film kedua, The Imitation Game, ditonton karena beberapa alasan, diantaranya.. (1) saya suka film-film bertema Perang Dunia 2 - entah kenapa; (2) filmnya diangkat dari kisah nyata; (3) yang main Benedict Cumberbatch - iya, ngga penting :D; dan last but not least, (4) butuh hiburan -_-
Film ini bercerita tentang seorang matematikawan Inggris bernama Alan Turing, yang bekerja sama dengan teman-teman timnya memecahkan sandi dalam komunikasi radio yang digunakan oleh tentara Jerman. Sandi ini dibuat menggunakan alat yang disebut Enigma.
Konon, kontribusi Pak Alan memecahkan Enigma telah membantu Sekutu memenangkan dan mempersingkat perang. Gimana caranya? Beliau ini membuat sebuah mesin (yang bisa dibilang asal mula komputer masa kini) yang memungkinkan pesan komunikasi Jerman yang terinkripsi bisa didekripsi. Tapi.. biar Jerman ngga curiga kalo Sekutu sudah berhasil memecahkan Enigma, informasi yang diperoleh dipilah lagi dan dianalisis secara statistik untuk menentukan mana yang bisa diabaikan dan mana yang ditindaklanjuti supaya Sekutu bisa memenangkan perang.
Hal yang menarik dan mungkin bisa jadi bahan kontroversi adalah kenyataan kalo Pak Turing ini seorang homoseksual. Di Inggris tahun 50-an, homoseksual dianggap sebagai tindakan kriminal. Jadi.. beliau sempat disidang, dan untuk menghindari hukuman penjara, beliau memilih untuk menjalani terapi hormon. Agak seram yah, katanya metode ini semacam pengebirian secara kimia, menekan libido gitu.. trus, setelah setahun menjalani terapi, beliau ditemukan tewas karena menghirup sianida. Disebutkan kalo ini adalah peristiwa bunuh diri, tapi ada juga yang menganggap kalo itu kecelakaan.
Nah, kenapa kontroversi? Karena kesan yang saya tangkap, terutama setelah ada dialog ketika Pak Alan seakan menyesali ketidaknormalannya, teman perempuannya, Joan (yang diperankan Kiera Knightley), mengatakan, justru ketidaknormalannya yang telah memberi dia kejeniusan, menyelamatkan banyak nyawa, dst. dst., secara tidak langsung terasa seperti justifikasi atas homoseksualitas beliau.
Yah, soal homoseksualitas, saya masih agak terbelah sih, kok rasanya ngga berhak juga gitu ya buat 'menghakimi' preferensi seksual seseorang. Di akhir, justifikasi ini juga diperjelas dengan argumen Pak Turing, bagaimana setiap orang memiliki otak dengan cara berpikir yang berbeda, dan adalah hal yang keliru jika menganggap perbedaan itu sebagai sebuah kesalahan. Ya gitu lah, kurang lebih.. akan jauh lebih mengena kalo nonton dan mendengar dialognya ^_^
Sunday, January 25, 2015
coffee story: icip-icip tempat happening :D
Perjalanan pulang saya tiap hari kerja biasanya melewati perempatan Jalan Braga, Lembong, dan Suniaraja. Tepat di belokan menuju Jalan Lembong, ada semacam tempat ngopi yang tiap kali saya lewat, mesti terlihat penuh, namanya Wiki Koffie. Tau?
Suatu sore.. takdir membawa saya buat mampir. Pas dateng, tempatnya ga terlalu penuh sih, ada beberapa meja yang kosong, tapi karena saya dateng berdua, sementara meja yang kosong kapasitasnya banyak, jadinya kami disuruh nunggu meja kapasitas lebih sedikit.
Kesan pertama: agak merasa out of place karena kebanyakan pengunjung adalah kalangan anak muda (meski terlihat juga sih beberapa kelompok abg senior) ;p
Interiornya agak membingungkan, nyampur-nyampur gitu.. industrialis tapi ngga juga, yaa.. lucu-lucu gitu lah..
Setelah nunggu meja beberapa menit, trus nunggu dibawain menu beberapa menit lagi, trus nunggu beberapa menit lagi buat nanya-nanya isi menunya sama adek-adek yang bertugas melayani pesanan.
Akhirnya.. temen saya pesen potato wedges dan sosis sama green tea latte trus saya pesen chocolava cake sama kopi apa pun yang paling banyak dipesen (geje ya? :D). Setelah nunggu lagi sekitar 10-15 menit, datanglah si potato wedges itu.. trus si green tea latte.. trus kopi pesenan saya.. yang ternyata bernama tiramisu kana coffee gitu ya (kalo ga salah ingat :D)
Kopinya dibawain di atas baki, dalam french press, dilengkapi satu mug kosong dan sendok kecil, sama dua bungkus gula pasir dan sepotong biskuit.
Setelah sekian lama nunggu si chocolava yang tak kunjung diantar, akhirnya nanya si adek pelayan, trus dia jawab: 'adonannya gagal, belum dikasi tau gitu?' Dan lengkap sudah.. bakal susah kayanya balik lagi ke sini.
Oh iya.. kopinya enak sih sebetulnya.. aromanya aroma tiramisu (sesuai namanya - agak aneh juga sih, kan tiramisu itu kue beraroma kopi yah.. jadi kopinya beraroma kopi [mungkin tambah aroma vanila kali yah], jadinya khas aroma tiramisu) tapi atmosfirnya kurang nyaman kalo buat saya, jadi ngga betah buat berlama-lama.
Oh, harga.. faktor ini barangkali menjadi salah satu alasan kenapa tempat ini selalu penuh. Harga yang dipatok cukup terjangkau, si tiramisu coffee itu secangkirnya 18ribu. Si chocolava itu kalo jadi, harganya 22ribu. Green tea latte 20 atau 22ribu gitu ya. Yah, kisaran harganya segituan deh, cukup rasional kalo kata saya sih.
Suatu sore.. takdir membawa saya buat mampir. Pas dateng, tempatnya ga terlalu penuh sih, ada beberapa meja yang kosong, tapi karena saya dateng berdua, sementara meja yang kosong kapasitasnya banyak, jadinya kami disuruh nunggu meja kapasitas lebih sedikit.
Kesan pertama: agak merasa out of place karena kebanyakan pengunjung adalah kalangan anak muda (meski terlihat juga sih beberapa kelompok abg senior) ;p
Interiornya agak membingungkan, nyampur-nyampur gitu.. industrialis tapi ngga juga, yaa.. lucu-lucu gitu lah..
Setelah nunggu meja beberapa menit, trus nunggu dibawain menu beberapa menit lagi, trus nunggu beberapa menit lagi buat nanya-nanya isi menunya sama adek-adek yang bertugas melayani pesanan.
Akhirnya.. temen saya pesen potato wedges dan sosis sama green tea latte trus saya pesen chocolava cake sama kopi apa pun yang paling banyak dipesen (geje ya? :D). Setelah nunggu lagi sekitar 10-15 menit, datanglah si potato wedges itu.. trus si green tea latte.. trus kopi pesenan saya.. yang ternyata bernama tiramisu kana coffee gitu ya (kalo ga salah ingat :D)
Kopinya dibawain di atas baki, dalam french press, dilengkapi satu mug kosong dan sendok kecil, sama dua bungkus gula pasir dan sepotong biskuit.
![]() |
| Begini penampakan si tiramisu kana coffee ituu |
Oh iya.. kopinya enak sih sebetulnya.. aromanya aroma tiramisu (sesuai namanya - agak aneh juga sih, kan tiramisu itu kue beraroma kopi yah.. jadi kopinya beraroma kopi [mungkin tambah aroma vanila kali yah], jadinya khas aroma tiramisu) tapi atmosfirnya kurang nyaman kalo buat saya, jadi ngga betah buat berlama-lama.
Oh, harga.. faktor ini barangkali menjadi salah satu alasan kenapa tempat ini selalu penuh. Harga yang dipatok cukup terjangkau, si tiramisu coffee itu secangkirnya 18ribu. Si chocolava itu kalo jadi, harganya 22ribu. Green tea latte 20 atau 22ribu gitu ya. Yah, kisaran harganya segituan deh, cukup rasional kalo kata saya sih.
Sunday, January 4, 2015
at the glance: Bali Overland [kalo bisa diklaim demikian ;p]
Jikalau tujuan dari suatu perjalanan adalah pengalaman baru, maka perjalanan saya yang teranyar dapat dikatakan berhasil. Dengan sekian banyak catatan kaki melebihi catatan induknya :D
Sementara cuma bisa berbagi beberapa kilasan visual yang berhasil terekam.
![]() |
| Pasca-sunrise di Pelabuhan Ketapang [mohon maafkan penggunaan bahasa yang tidak benar ini ;p] |
![]() |
| Pemandangan ujung Timur Pulau Jawa: jika melihat peta [mungkin] itu yang paling depan adalah Gunung Raung, di belakangnya Gunung Agrapura, di belakangnya lagi barangkali Gunung Bromo, cmiiw |
![]() |
| Last day on 2014: Madness at Krishna! and, sadly, i volunteered to be part of it |
Friday, December 26, 2014
Caper: Kulinertrek Cirebon (bagian 1)
Sakau jalan-jalan itu biasanya terjadi ketika melihat akhir pekan agak panjang dan ngga punya rencana pergi sama sekali atau karena satu dan lain hal, ngga bisa pergi. *bahasa berantakan barangkali bisa mewakili betapa berantakannya pikiran saya ;p
Dua minggu lalu, saya pergi ke Cirebon. Sendiri. Lagi :D Niatnya mau uji nyali lagi, kayak di Solo. Tapi, sama kayak di Solo juga, saya curang lagi. Di Solo, sempet ditemenin sama keponakan yang lagi kuliah di sana. Di Cirebon, dianter-anter sama temen kuliah.
Seperti perjalanan-rencana-sendiri lainnya, persiapannya singkat, pemesanan tiket dan akomodasi dilakukan beberapa hari sebelumnya, karena masih yakin-ngga-yakin mau pergi atau ngga. Trus, ke-geje-an saya diperparah dengan ke-geje-an beberapa orang temen yang katanya pengin ikutan.
Mengapa Cirebon? Karena.. (1) pengin naik kereta, tapi lagi males naik kereta berdurasi lama, maka dipilihlah kota ini, durasi perjalanan dengan kereta butuh sekitar 4 jam saja, cukup lah, ngga terlalu lama, dan ngga terlalu singkat; (2) pengin wisata kuliner, konon makanan khas kota ini enyak-enyak :D; (3) kotanya ngga terlalu besar, jadi ngga butuh waktu lama buat keliling, durasi akhir pekan normal rasanya cukup buat menjelajah.
Jadi.. transportasinya pake kereta (tentu saja ;p), naik Ciremai Ekspres eksekutif, lebih karena ingin memanjakan diri dan kemungkinan diajakin ngobrol diharapkan lebih kecil. Berangkat jam 05.30, bikin senewen, karena saat itu trend bangun tidur saya lagi mendekati jam-jam mepet kesiangan. Pulangnya juga pake kereta yang sama, jam 14.55, tapi terlambat dateng, jadi saya juga terlambat berangkat. Meninggalkan Cirebon jam lima kurang dan sampe Bandung sekitar jam setengah sepuluh. Agak sebel sih, tapi jadi sempet motret-motret stasiunnya dengan lebih santai.
Penginapan: di Amaris Hotel, sekitar 3-5 menit jalan kaki dari Stasiun. Dipilih karena lagi-lagi manja :D karena udah kebayang di Cirebon akan kepanasan, kali ini agak rewel dengan menetapkan kamar AC. Padahal cuma semalam ya.. tapi kan.. tapi kan..
Misi utama: nyobain semua kuliner khas yang bisa dicobain. Karena niat awalnya mau uji nyali, kecurangan menghubungi teman kuliah (sebut saja P) baru dilakukan malam sebelum berangkat, kepikirnya sih cuma mau ketemuan sebentar aja, ngga minta dipandu selama di sana. Tapi, ya dasar temen saya orang baik, biar pun kemudian dia bilang, 'apa saya mabok, mau berkunjung kok ngasi taunya mendadak', saya dapet kemewahan lain berupa pemandu full dari stasiun ke stasiun, sejak datang sampe pulang lagi. Jadi, misi sampingan jalan kaki menelusuri trotoar Cirebon pun kandas :D dan ngga apa-apa banget, soalnya meski musim hujan, di sana tetep aja panash!!
Hari pertama: nyobain nasi lengko di Jalan Gunungsari, dimakan bareng sate kambing. Karena kalap, menu yang ini kelewat difoto, hehe.
Dari sini, trus ke Museum Linggarjati, di Kabupaten Kuningan, trus kehujanan, trus sepatu saya basah, untungnya bawa sendal sih, jadi jalan-jalan malem dan seterusnya dilakukan dengan bersandal. *penting yaa cerita sandal ;p
Pulang dari Linggarjati, balik ke hotel, mengeringkan diri dan mandi, sementara P balik ke rumahnya dulu, dan jemput saya buat makan malam setelah maghrib. Rencananya, saya mau memanfaatkan waktu buat jalan kaki ke Balai kota dan Masjid Agung, tapi ngga jadi, berakhir dengan tidur sebentar dan nonton film bagus di TV kabel.
Makan malam dengan Mi Koclok di Lawanggada, porsinya nanggung banget, ngga bikin kenyang, jadi ada alesan deh buat meneruskan makan empal gentong Krucuk di Jalan Slamet Riyadi (meski porsi nasinya jadi setengah saja, biar tetap nikmat). Sebelumnya (atau setelahnya ya?) sempet mampir dulu ke gedung BAT (British American Tobacco), daerah depan gedung ini agaknya jadi pusat keramaian malam minggu di Cirebon, tapi pas saya ke sana ngga begitu rame sih, mungkin karena hujan. Gedungnya bertahun 1924. Kondisinya masih bagus dan masih digunakan. Pengin banget masuk liat-liat, mudah-mudahan pengelolanya terpikir untuk menjadikan gedung ini sebagai objek atraksi wisata kota Cirebon. Pasti seru deh.
Beberapa gambar gedung BAT, pascahujan dan sebelum hujan turun lagi..
Makan malam dengan Mi Koclok di Lawanggada, porsinya nanggung banget, ngga bikin kenyang, jadi ada alesan deh buat meneruskan makan empal gentong Krucuk di Jalan Slamet Riyadi (meski porsi nasinya jadi setengah saja, biar tetap nikmat). Sebelumnya (atau setelahnya ya?) sempet mampir dulu ke gedung BAT (British American Tobacco), daerah depan gedung ini agaknya jadi pusat keramaian malam minggu di Cirebon, tapi pas saya ke sana ngga begitu rame sih, mungkin karena hujan. Gedungnya bertahun 1924. Kondisinya masih bagus dan masih digunakan. Pengin banget masuk liat-liat, mudah-mudahan pengelolanya terpikir untuk menjadikan gedung ini sebagai objek atraksi wisata kota Cirebon. Pasti seru deh.
![]() |
| Mi Koclok |
![]() |
| Empal Gentong (pilih daging saja, tanpa jeroan) |
Thursday, December 25, 2014
kaleidoskop-tidak-jelas-tentang-apa :D
Di era ponsel pintar saat ini, dengan berat hati saya harus mengakui saya telah mengikuti arus-utama, menggunakan ponsel pintar tanpa benar-benar memerlukan atau menggunakan setiap fitur yang tersedia. Yah, tapi ngga bisa dibilang demi gengsi juga sih.. atau biar keren gitu, ngga juga.. dulu sih pertimbangannya mencari ponsel bermemori besar, bisa nyimpen lebih banyak lagu, foto, pesan singkat, dll., jadi ngga mesti sering-sering menghapus dan atau mengganti data-data di ponsel.
Dan, karena akhir taun ini biasanya musim kaleidoskop, kali ini saya mau cerita tentang ponsel yang pernah saya pake. *bridging yang payah, tapi ya sudahlah ya..
Ponsel pertama saya adalah Siemens M35i lungsuran dari kakak saya yang nomor tiga. Diserahterimakan sekitar tahun ketiga saya kuliah, layarnya masih monokrom, satu SMS memuat maksimal 140 karakter. Satu hal yang saya suka dari ponsel ini, meskipun nada deringnya masih monofonik, entah bagaimana, teteh saya berhasil membuat nada dering dari lagu tema Aladin, ituu loh, lagunya Peabo Bryson, A Whole New World.
Hingga suatu ketika, saya sudah bekerja dan agak mampu, trus kinerja si M35i ini sudah menurun [sering lemot dan baterainya cepet habis], jadilah beli ponsel pengganti. Cari sana-sini, dapetlah ponsel pintar saya yang pertama, Nokia Sport N5500. Pencarian ponsel ini cukup ribet, karena sepertinya si ponsel ngga terlalu populer. Cari di toko-toko konvensional, cuma ada barang tangan kedua, ngga ada yang baru. Akhirnya nemu di Okeshop, pertama kali belanja daring barang elektronik, lumayan deg-degan, sampe-sampe sempet kebawa mimpi :D
Keistimewaan N5500 ini adalah fitur-fitur pendukung kegiatan olahraga, secara serinya diberi label Sport, diantaranya ada pedometer dan video fitness. Trus gamenya juga pake sensor gerak, jadi cara mainnya dengan memiringkan posisi si ponsel. Selain itu, ponsel ini juga tahan air dan debu, jadi bisa diajak kemana-mana tanpa khawatir rusak karena kemasukan air.
Setelah sekian taun, beberapa bagian casing-nya yang terbuat dari bahan karet lama-lama kehilangan sifat plastisnya, jadi patah-patah gitu, trus lem di tombol-tombolnya juga mulai ngga nempel, hingga dengan sangat berat hati, saya cari ponsel pengganti, dapetlah si Samsung Galaxy Gio GT-S5660, dipilih berdasarkan berbagai pertimbangan ;p
Gio ini, selain android saya yang perdana, juga menjadi ponsel layar-sentuh saya yang pertama. Awalnya agak aneh ya, tapi lama-lama ya terbiasa, meskipun tetap sih, agak susah mengoperasikan keyboard dengan satu-tangan. Ngga ada masalah dengan si Gio, tapi karena memori internalnya kecil, saya ngga bisa instal banyak program di ponsel ini. Kebanyakan program, jadinya lemot.
Jadilah.. untuk pertama kalinya, saya ganti ponsel bukan karena ponsel yang lama udah ngga bisa dipake.
Penggantinya masih Samsung, dipilih berdasarkan kapasitas memori internal, kecepatan prosesor, dan kapasitas baterai. Sekarang saya pake Samsung Galaxy Note II GT-N7100. Androidnya udah naik kelas, dari Jellybean ke Kitkat. Jangan tanya bedanya, yang saya tau cuma yang terliat di tampilan layarnya aja, ngga tau kalo perbedaannya dari aspek pemrogramannya.
Hal yang paling terasa manfaatnya dari ponsel ini adalah, sekian banyak aplikasi yang bisa saya pasang, kebanyakan berupa games dan editor foto ;p
Tapi.. Aplikasi yang bisa dibilang benar-benar bermanfaat, baru-baru ini adalah, aplikasi buat pesen tiket pesawat atau kereta dan buking hotel, trus e-cash buat isi pulsa dan bayar toko atau beli voucher makan di Groupon (dahulu Disdus).
Buat tiket kereta, saya punya aplikasi Paditrain, Naik Kereta, Tiket Kereta Api, dan terakhir ada KAI Access. Nah, yang bener-bener dicobain baru yang KAI Access, lainnya cuma diliat-liat, pernah mesen, tapi ngga sampe bayar :D Rata-rata, pesanan tiket kereta dari aplikasi ini dikenakan biaya administrasi Rp 7500.
Tiket ke Cirebon beberapa minggu yang lalu saya pesan lewat KAI Access, waktu itu ada promo (entah sampe kapan), potongan harga tiket Rp 7500, jadi keitungnya saya bayar harga tiketnya saja, tanpa biaya administrasi. Itu aja rasanya udah beruntung :D
Paling baru, nyobain promo nonton di XXI, bayar pake mandiri e-cash, harga tiket diskon setengah harga. Asik bangeett!! Meskipun cuma berlaku tiap Senin sampe Kamis aja dan kalo di Bandung cuma di Ciwalk aja, tetep menyenangkan karena masih berlaku sampe November tahun depan. Yeay!! Alhamdulillah..
Untuk pesan hotel atau penginapan, ada aplikasi Traveloka, tanggal 22 dan 23 kemarin ada promo bayar mulai Rp 12000 saja, jadi dapet potongan Rp 500000, tapi kalo yang ini ngga nyobain, karena agak bingung juga ya kalo emang lagi ngga butuh.
Akhirul kalam, terima kasih untuk semua ponsel-ponsel yang pernah bermanfaat dalam kehidupan saya, mendekatkan silaturahmi dan berbagi informasi dengan orang-orang di ujung sana. Semoga saya bisa tambah bijak memanfaatkan segala kemudahan dan kemewahan dari sebuah ponsel pintar. Aamiin..
Keistimewaan N5500 ini adalah fitur-fitur pendukung kegiatan olahraga, secara serinya diberi label Sport, diantaranya ada pedometer dan video fitness. Trus gamenya juga pake sensor gerak, jadi cara mainnya dengan memiringkan posisi si ponsel. Selain itu, ponsel ini juga tahan air dan debu, jadi bisa diajak kemana-mana tanpa khawatir rusak karena kemasukan air.
![]() |
| Nokia Sport N5500, my first love, dengan OS Symbian S60 ^_^ |
![]() |
| Samsung Galaxy Gio, android perdanaku :D |
Jadilah.. untuk pertama kalinya, saya ganti ponsel bukan karena ponsel yang lama udah ngga bisa dipake.
Penggantinya masih Samsung, dipilih berdasarkan kapasitas memori internal, kecepatan prosesor, dan kapasitas baterai. Sekarang saya pake Samsung Galaxy Note II GT-N7100. Androidnya udah naik kelas, dari Jellybean ke Kitkat. Jangan tanya bedanya, yang saya tau cuma yang terliat di tampilan layarnya aja, ngga tau kalo perbedaannya dari aspek pemrogramannya.
![]() |
| Ini si Note II |
Tapi.. Aplikasi yang bisa dibilang benar-benar bermanfaat, baru-baru ini adalah, aplikasi buat pesen tiket pesawat atau kereta dan buking hotel, trus e-cash buat isi pulsa dan bayar toko atau beli voucher makan di Groupon (dahulu Disdus).
Buat tiket kereta, saya punya aplikasi Paditrain, Naik Kereta, Tiket Kereta Api, dan terakhir ada KAI Access. Nah, yang bener-bener dicobain baru yang KAI Access, lainnya cuma diliat-liat, pernah mesen, tapi ngga sampe bayar :D Rata-rata, pesanan tiket kereta dari aplikasi ini dikenakan biaya administrasi Rp 7500.
Tiket ke Cirebon beberapa minggu yang lalu saya pesan lewat KAI Access, waktu itu ada promo (entah sampe kapan), potongan harga tiket Rp 7500, jadi keitungnya saya bayar harga tiketnya saja, tanpa biaya administrasi. Itu aja rasanya udah beruntung :D
Paling baru, nyobain promo nonton di XXI, bayar pake mandiri e-cash, harga tiket diskon setengah harga. Asik bangeett!! Meskipun cuma berlaku tiap Senin sampe Kamis aja dan kalo di Bandung cuma di Ciwalk aja, tetep menyenangkan karena masih berlaku sampe November tahun depan. Yeay!! Alhamdulillah..
Untuk pesan hotel atau penginapan, ada aplikasi Traveloka, tanggal 22 dan 23 kemarin ada promo bayar mulai Rp 12000 saja, jadi dapet potongan Rp 500000, tapi kalo yang ini ngga nyobain, karena agak bingung juga ya kalo emang lagi ngga butuh.
Akhirul kalam, terima kasih untuk semua ponsel-ponsel yang pernah bermanfaat dalam kehidupan saya, mendekatkan silaturahmi dan berbagi informasi dengan orang-orang di ujung sana. Semoga saya bisa tambah bijak memanfaatkan segala kemudahan dan kemewahan dari sebuah ponsel pintar. Aamiin..
Monday, December 8, 2014
dystopian worlds
dystopia
• n : state in which the condition of life is extremely bad as from deprivation or oppression or terror [ant: {utopia}]
Berkunjung ke dunia-dunia distopian agaknya menjadikan dunia nyata terasa indah, yah, lebih indah :) Segala kegilaan dan keabsurdan rasanya jadi lebih tertahankan. Lebay banget yah :D
1984-nya George Orwell yang dibuat tahun 1949, menggambarkan dunia pada tahun 1984, lihat lebih lengkap di sini. Buku ini membuat saya bergidik, mengerikan sekali dunia tempat Winston hidup. Setiap gerak-gerik diawasi dan diatur sedemikian rupa. Tidak hanya perilaku, bahkan ideologi, alam pikiran, tempat paling pribadi pun tidak luput dari pengawasan polisi pikiran. Sereeem..
Novel ini adalah satu diantara segelintir buku 'agak serius' yang saya baca, diterjemahkan oleh Landung Simatupang. Familiar yah namanya? Artis! Terjemahannya bagus deh, berasa sangat nyastra.
Berbeda dengan 1984 yang sangat penuh muatan politis, trilogi Hunger Games-nya Suzanne Collins terasa lebih mudah dicerna, barangkali karena target pembacanya remaja. Dunianya Katniss Aberdeen tidak bersetting waktu tertentu, hampir mirip sih dengan trilogi Divergent-nya Veronica Roth.
Tema dan tokoh utama yang sama-sama remaja muda mau ngga mau membuat saya agak membandingkan kedua seri ini.
Inti ceritanya pun ngga jauh beda sih, dari sisi politik, salah satunya adalah pemaparan tentang sistem pemerintahan. Suatu sistem agaknya tidak akan pernah benar-benar sempurna, akan ada suatu pihak yang merasakan ketidakadilan dan diskriminasi yang di satu titik akan memaksa adanya perubahan, revolusi, pemberontakan, apa pun sebutannya. Pemerintahan digulingkan, terjadi kekosongan kekuasaan, kemunculan pemerintahan baru yang diharapkan lebih baik dan lebih adil, kemudian disadari, tirani dan ketidakadilan itu ternyata hanya berganti rupa, ibarat parasetamol yang berganti merek dari sanmol ke obat generik atau merek lain. Isinya tetap parasetamol (maaf perumpamaannya ga mutu yah :D).
Tapi, ada yang beda juga sih, misalnya, serial Divergent agak lebih jelas rasa 'remaja'nya, dan porsi cinta-cintaannya agak lebih banyak. Trus, konflik pribadi Katniss rasanya lebih berbobot ketimbang konfliknya Tris.
Secara kesan, secara pribadi, saya lebih suka Hunger Games. Divergent agak-agak antiklimaks, karena konfliknya terasa muter-muter, dan agak bikin sebel sih, tapi keren, karena berlapis-lapis kaya bawang. Satu hal terungkap, ternyata ada lagi fakta tersembunyi berikutnya, terus ada lagi, dan di akhir, penyelesaiannya kurang memuaskan buat saya. Terlalu sederhana. Sudah.. klimaksnya kurang heboh.
The Giver-nya Lois Lowry, meskipun pendek, jauh terasa lebih berkesan. Dunia sang tokoh yang bernama Jonas ini adalah dunia yang sempurna, kebayang ngga sih, terlalu sempurna hingga terasa mengerikan. Jonas ini anak laki-laki yang menjadi Dua Belas, suatu saat dimana dia terpilih mengemban peran spesifik di Komunitasnya.
Secara pribadi, novel ini memberikan pandangan lain tentang dunia dewasa, kejujuran, kebenaran, bagaimana kadang-kadang manusia melakukan pilihan-pilihan mengerikan dan egois, kemudian melakukan rasionalisasi atas pilihan-pilihan tersebut. Hal lain yang saya suka dari novel ini adalah kebaikan penulisnya untuk membebaskan pembaca menafsirkan, menyimpulkan akhir cerita Jonas. Really love this book!! [trus, ngomong-ngomong filmnya tayang kapan yah? ;D]
Sunday, December 7, 2014
quote: Little Women
Aku ingin putri-putriku menjadi wanita-wanita yang cantik, berhasil, dan baik; dikagumi, dicintai, dan dihormati. Aku ingin mereka mendapat masa muda yang ceria, kemudian menikah dengan baik-baik dan bijaksana, menjalani hidup yang berguna dan menyenangkan, dengan sesedikit mungkin kekhawatiran dan kesedihan yang merupakan cobaan untuk mereka, cobaan yang dinilai pantas oleh Tuhan. Dicintai dan dipilih oleh seorang pria yang layak adalah hal terbaik dan terindah yang bisa didapat seorang wanita. Dengan sepenuh hati aku berdoa dan berharap putri-putriku akan mendapat pengalaman luar biasa itu. Adalah wajar untuk memikirkannya, wajar untuk mengharapkan dan menantikannya, serta bijaksana untuk menyiapkan diri menyambutnya. Jadi, saat tiba waktunya nanti, kau akan siap menghadapi tugas-tugasmu, serta layak mendapatkan kebahagiaan itu. Anak-anakku sayang, aku memang punya ambisi untuk kalian, tetapi aku tidak memimpikan kalian menjadi gadis yang memesona di pesta-pesta, atau menikah dengan pria kaya hanya karena ia berharta, atau tinggal di rumah mewah yang tidak seperti rumah karena rumah itu tidak dihangatkan dengan cinta. Uang memang diperlukan, dan berharga, -dan, jika digunakan dengan benar, uang adalah sesuatu yang mulia. Tetapi, aku tidak akan pernah menginginkan kalian melihat uang sebagai hal yang pertama, atau satu-satunya tujuan, untuk diperjuangkan. Aku lebih suka melihat kalian menjadi istri seorang pria miskin, asalkan kalian bahagia, dicintai, dan merasa nyaman, ketimbang menjadi ratu-ratu di atas singgasana, tanpa kehormatan diri dan kedamaian.
Lebih baik menjadi perawan tua yang bahagia, ketimbang istri yang menderita, atau gadis-gadis yang tidak menjaga kehormatannya dan berkeliaran mencari-cari suami. Kemiskinan tidak akan membuat kekasih yang tulus menjauh.
Pasrahkan hal-hal ini kepada waktu, buatlah rumah ini menjadi rumah yang membuatmu bahagia, agar kau kelak pantas berada di rumahmu sendiri, jika itu ditawarkan kepadamu, dan tetap nyaman berada di sini jika tidak. Ingatlah satu hal, anak-anakku, seorang ibu selalu siap menjadi tempat kalian menceritakan apa pun, seorang ayah menjadi sahabat, dan kami berdua percaya dan berharap bahwa putri-putri kami, menikah ataupun tidak, akan menjadi kebanggaan dan sumber kenyamanan hidup kami.
-Louisa May Alcott-
Catatan: barangkali ini bisa mewakili cita-cita dan harapan setiap orang tua, termasuk bapak dan ibu saya. [meskipun barangkali beberapa hal seperti pesta-pesta agak tidak sesuai dengan konteks, tapi ya intinya tetap relevan sih], simpen ah, siapa tau, barangkali di masa depan nasihat ini bisa saya pake :D
Saturday, December 6, 2014
Hore-hore: Movie Marathon :D
Empat akhir pekan terakhir, entah Sabtu atau Minggu, saya menjalankan misi apresiasi sinema intensif :D Tampaknya akhir tahun ini banyak film yang menggugah minat.
Akhir pekan pertama, Minggu, 16 November, nonton Interstellar. Awalnya sih berniat solo, tapi malah ngajak keponakan, dan akhirnya malah jadi nonton berlima sama kakak-kakak saya dan kakak ipar.
Filmnya? Ya gitu deh, untungnya sebelum nonton sempet ngintip-ngintip baca sinopsis dan sedikit baca juga penjelasan ilmiahnya, jadi ngga terlalu cengo pas nonton. Kakak saya, yang ngga begitu suka nonton dan ngga ada persiapan apa-apa, ngerasa agak-agak bingung soalnya. Bulan Maret silam, di NGI ada artikel tentang lubang hitam, gara-gara film ini, saya jadi baca-ulang artikelnya, lihat di sini buat ngintip artikelnya.
Kesan saya? Yah, diantaranya, penggambaran yang menarik ketika di masa depan ternyata manusia justru kembali menjadi masyarakat bertani.
Akhir pekan kedua, Sabtu, 22 November, untuk pertama kalinya nonton dua film di hari yang sama, Big Hero 6 dan Hunger Games: Mockingjay Part 1.
Big Hero 6 ini film animasi, setting tempatnya di sebuah kota bernama San Fransokyo :) Seperti film keluarga pada umumnya, ceritanya ringan, tapi bermakna ;p
Mockingjay Part 1 adalah film ketiga adaptasi buku ketiga trilogi Hunger Games, ditonton semata-mata karena penasaran :D
Akhir pekan ketiga, Sabtu, 29 November, nonton Penguin of Madagascar. Selain karena suka filmnya, alasan lain adalah salah satu pengisi suara karakternya, yaitu Benedict Cumberbatch. Iya, tau, alasannya ngga penting ;p
Filmnya ternyata biasa aja sih, ngga jauh beda sama serialnya, cuma durasinya saja lebih lama. Alurnya standar, mudah ditebak. Menurut saya, seru sih, tapi jauh lebih seru Big Hero 6.
Akhir pekan keempat, Sabtu ini, 06 Desember, estafet lagi nonton, 7 Hari 24 Jam dan Elle l'adore. Berhubung yang ini masih segar, jadi akan dibahas sedikit lebih panjang :)
7 Hari 24 Jam ini film komedi gitu, tentang pasangan suami-istri yang sama-sama sibuk, sakit dan diopname bersama-sama. Yah, pada dasarnya, film ini menggambarkan kehidupan rumah tangga yang nyata, bukan dongeng yang selalu diakhiri 'menikah dan bahagia selamanya'.
Sayangnya, menurut saya sih, konflik yang menjadi klimaks ngga begitu masuk akal, rasanya terlalu 'cetek' buat jadi masalah besar dalam rumah tangga. [ini debatable, mengingat saya tidak berpengalaman, bisa jadi ini karena saya kurang mampu menghayati ceritanya :D]
Film kedua, Elle l'adore, adalah salah satu film yang ditayangkan dalam Festival Sinema Prancis. Film ini bergenre drama-komedi, liat trailernya di sini. Kesan saya? Filmnya bagus, ceritanya ngga biasa, tentang sejauh mana seorang fans mampu melakukan sesuatu demi idolanya.
Yah, semoga akan ada akhir pekan-akhir pekan mendatang dan film-film lainnya. Aamiin ^_^
Wednesday, November 12, 2014
Bapak: dalam ingatan
Katanya hari ini Hari Ayah, sekaligus Hari Kesehatan Nasional Emas. Sebetulnya baru ngeh sih untuk keduanya.. di Indonesia, Hari Ayah katanya mulai diperingati tahun 2006 silam, sementara Hari Kesehatan udah sampe tahun emas.. tapi saya ngga ngeh juga tuh.. kurang sosialisasi kah? Atau mungkin saya aja yang udik dan kurang gahol :D
Untuk Hari Kesehatan, ngeh-nya karena ada edaran via e-mail tentang peminjaman lapangan depan oleh Dinkes Jabar buat upacara. Kalo ngga ada itu, sampe tahun depan juga mungkin masih ga tau ada yang namanya Hari Kesehatan.
Cerita tentang hari Ayah.. udah hampir tiga tahun saya berstatus yatim. Hari ini agak-agak teringatkan dengan kenangan sama mendiang Bapak. Pertama kali masak bareng Bapak, kepepet sih, belajar masak tumis kangkung, dan diajarin goreng perkedel oncom kesukaan saya.
Lebaran kemarin, sempet denger juga cerita-cerita soal Bapak jaman dulu waktu masih aktif kerja, kebiasaan beliau ngeberesin lembaran uang dengan rapi - uang disusun sedemikian agar satu sisi menghadap ke arah yang sama (dan ini menurun pada saya, masih dilakukan hingga saat ini, mungkin dulu waktu kecil saya sering melihat langsung), kehebohan lembur akhir bulan atau akhir tahun tiap kali mau tutup buku, kadang kakak-kakak saya diperbantukan buat nulis dan ngitung (waktu itu saya masih kecil, mungkin belum sekolah), dan cerita lain yang sudah pernah saya dengar juga sebelumnya.
Hal yang paling membekas tentang bapak saya adalah.. beliau ngga banyak ngomong (begitu pun saya), pendokumentasi yang baik (bahkan catatan pengeluaran renovasi rumah atau hasil panen padi bertahun-tahun yang lalu, bisa jadi masih tersimpan), hemat - dalam artian, karena bisa jadi ada hal tak terduga di depan sana, kita mesti pinter nabung dan ngga boleh boros, kurang lebih, harus punya rencana, bisa mikir jangka panjang. Saya agak inget sih, beliau dan ibu, sering nasihatin kakak atau saudara dengan kata-kata seperti ini: 'ulah kumaha engke, tapi engke kumaha' (artinya: ngga boleh gimana nanti, tapi nanti gimana).
Barangkali banyak hal tentang bapak yang ngga saya tau, banyak hal tentang saya yang beliau ngga tau.
Yang pasti, banyak hal yang belum saya lakukan buat beliau.. mudah-mudahan saja saya ngga nyusahin beliau di akhirat sana ya.. mudah-mudahan saya masih bisa menjadi perpanjangan amal baik beliau. Aamiin..
Subscribe to:
Posts (Atom)


















