Tadi siang nonton Oprah Show edisi Greatest Lesson, dasar lebay, meskipun ngga liat dari awal, sempet sibuk ngebasahin tisu deh di beberapa ceritanya.. :p
Episode kali ini semacam kompilasi-kumpulan cerita-cerita di episode-episode Oprah yang dianggap memberi inspirasi entah berupa penyadaran atau pelajaran hidup yang bermanfaat luas. Cerita pertama yang saya liat adalah tentang bapak-bapak yang dulunya, di acara ini, menyatakan diri sebagai 'White Supremacist', kayanya sih semacam kelompok eksklusif yang membanggakan ras gitu.. Semacam neo-nazi gitu kali ya.. Mereka ini diundang kembali di acara ini dan bercerita tentang diri mereka yang menyadari kalo ideologi mereka dulu ternyata salah. Bapak pertama insaf ketika beliau di penjara, dia ditempatkan di kelompok kulit hitam, bahkan penjaganya juga berkulit hitam. Sungguh mengejutkan bagi beliau karena ternyata mereka ini menerima dia apa adanya meskipun mereka tau siapa si bapak ini. Berikutnya, bapak yang kedua, yang dulunya aktif merekrut anggota baru, mengalami penyadaran-aha moment-setelah mendengar salah satu pemuda yang dia rekrut dipenjara setelah membunuh seorang siswa Ethiopia. Saat itu dia sadar kalo perbuatannya memiliki konsekuensi, beliau-lah yang mendorong sang pemuda melakukan pembunuhan.
Berikutnya ada tips seorang polisi di acara ini yang sudah terbukti menolong banyak penonton. Tips itu, untuk para perempuan, ketika berhadapan dengan penjahat, jangan pernah membiarkan diri kita dibawa ke lokasi kedua oleh sang penjahat, karena lokasi kedua sudah pasti akan terisolir dan akan lebih sulit untuk melarikan diri.
Berikutnya ada cerita ibu berduka karena anaknya dibunuh, beliau ini berkubang dalam duka begitu dalam hingga dia melupakan bahwa anaknya yang lain masih hidup dan butuh dia juga. Nah kalo yang ini lumayan menyentuh, ga bisa dideskripsikan sih, harus liat langsung.. :p
Berikutnya ada kalimat keren dari Maya Angelou, dia bilang, 'kalo ada orang yang bilang (tentang orang itu sendiri), 'aku egois', 'aku pemarah', dsb., percayalah, mereka lebih tau tentang dirinya sendiri.' ga keren2 amat ya? Biasa aja? Mungkin lebih mengena kalo liat langsung juga :D
Yang terakhir adalah cerita seorang kakek 100 tahun yang ternyata dulunya belum bisa baca, pada usia 98 tahun, sang kakek ditawari seorang guru untuk belajar membaca. Tiap hari sang kakek sudah bangun sejak jam tiga pagi dan menunggu sang guru menjemput beliau untuk pergi sekolah. Gitu deh, intinya, tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar, selama hayat masih dikandung badan.
Sekian. Selamat malam!!
Absence of evidence does not equal evidence of absence - dr. David Hussong (of FDA and the USP Microbiology and Sterility Assurance Expert Committe)
Sunday, April 28, 2013
pelajaran hari ini
catatan insaf: lihatlah lebih dekat
Kadang-kadang, saya suka sirik melihat kehidupan orang lain. Astaghfirullah..ngga sering-sering sih, kalo lagi ngga sadar aja. Karena Allah Mahaadil, pastinya semua orang di dunia ini sudah dianugerahi dengan kehidupan yang terbaik untuk masing-masing. Kemarin sempet ngobrol sedikit dengan teman yang berusaha di bidang geowisata (iya beneran, ngobrol!! Aneh ya, bisa-bisanya saya ngobrol ;p), beliau bercerita soal pekerjaan memandu perjalanan menjelajahi gua karst di bawah tanah. Seperti umumnya pekerjaan di bidang wisata, tentu saja hari kerja beliau adalah hari libur bagi pada umumnya pekerja terikat waktu, jadi pada akhir pekan beliau justru lagi sibuk-sibuknya.
Beliau bilang, orang-orang ada yang menganggap pekerjaannya di bidang wisata tampak menyenangkan, tampak santai karena sifatnya yang rekreatif. Padahal ya seperti semua pekerjaan di dunia ini, pasti ada masa-masa merasa jenuh dan bosan (ini juga alasan beliau ikut kami hari itu, dan bukannya bekerja seperti biasa :D). Benar adanya bila sebuah ungkapan menyatakan rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau, padahal mungkin kualitas rumput ngga cuma ditentukan oleh warnanya saja, ada juga ukuran daunnya, entah itu luas penampang atau tingginya.. :) alangkah baiknya kalo fokusnya lebih pada bagaimana memelihara rumput yang sudah ada di pekarangan sendiri..
Insya Allah dengan lebih bersyukur, kita pasti akan lebih ikhlas dan bahagia..
Karena seperti Bon Jovi bilang, ngga terlalu nyambung sih :p, 'When you wanna give up, and your hearts about to break, Remember that you're perfect, God makes no mistakes'
Sesungguhnya sayalah yang terbaik untuk menjalani kehidupan saya sendiri.. Serius ya?! :)
Saturday, April 13, 2013
life goes on: the oldest and the newest :p
Ada Waktu untuk dilahirkan, ada Waktu untuk mati.
Ada Waktu untuk menanam, ada Waktu untuk mencabut.
Ada Waktu untuk membunuh, ada Waktu untuk menyembuhkan.
Ada Waktu untuk menangis, ada Waktu untuk tertawa.
Ada Waktu untuk mencari, ada Waktu untuk melepaskan.
- Agustinus Wibowo, Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan-
Ini adalah cerita penting lainnya tentang keberadaan benda-benda di dalam keseharian..


Thursday, April 11, 2013
butuh vs. ingin
Beberapa hari ini, para ibu-ibu di kantor lagi heboh dengan diskon setengah harga sebuah produk peningkat penampilan seperti korset yang iklannya 'hanya sekian rupiah itu'. Berdua-berdua, mereka berkongsi membeli si produk ke PVJ, kalau belum dapet partner, jadi rajin ngajakin temen yang lain. Daan..tentu saja saya ngga ada yang ngajak :D (bukan berarti pengin diajak, saya cukup tau diri kok ;p).
Di unit kerja saya yang didominasi perempuan, trend seperti ini banyak terjadi, entah trend beli tas dompet bahan korduroi, trend selimut dan sprei, trend celana denim, trend manset kaos, trend Pashmina, sampai trend beli kebab. Kenapa ya? Apa karena perempuan cenderung 'panasan' atau dengan kata lain, kompetitif? Atau adanya perasaan harus mengikuti trend? Yang jelas, sepertinya perempuan selalu mampu untuk menemukan alasan berbelanja, terlepas apakah belanjaan itu memang benar-benar dibutuhkan atau sekadar diinginkan.
Apakah di dunia laki-laki juga seperti ini? Apa ini fenomena umum yang tidak dipengaruhi gender atau spesifik untuk populasi perempuan saja ya?
ketika..
kom·pul·sif a 1 bersifat mendorong: 2 bersifat memaksa
im·pul·sif a bersifat cepat bertindak secara tiba-tiba menurut gerak hati
Masalah ketika kedua sifat di atas muncul bersamaan :p Satu anjuran yang sangat baik untuk diingat dan diamalkan saat mengalami hal ini disampaikan Aa Gym sebagai berikut:
Tidak setiap ingin bicara harus langsung dikatakan. Sebaiknya periksa dulu hati, apa niatnya? apakah akan membuat suasana jadi tak nyaman? apakah akan ada hati yang terluka? apakah yakin manfaat/hanya kesenangan/kepuasan nafsu yang berbuah mudharat?
Semakin banyak bertanya ke lubuk hati niscaya akan mendapat jawabannya.
Ok yah?! Yuk ah, selamat malam dunia!! :)
Sunday, March 31, 2013
i'm an alien (?)
Saya bukan tipikal pengobrol dan bukan juga tipikal yang mudah akrab. Jangankan ketemu orang baru atau temen lama yang udah lama ngga ketemu, ketemu temen saja saya masih sering bingung apa yang harus saya bicarakan. Ujung-ujungnya, mungkin ada beberapa orang yang menganggap saya judes, atau terlalu cuek, bahkan ada juga yang menganggap saya ngga antusias (atau mengutip kata-kata seorang teman, kurang ekspresif - curcol bangeet :D).
Argumen saya? Oh, perlukah saya berargumen? Well, kalimat yang tepat, mungkin: you may think you know me, but you don't know who i am.. Even myself still struggling to figured out who am i exactly (jiaah..geje banget ya?! :D)
Dalam suatu pelatihan di tempat kerja, saya diberitahu satu bagian penting dari menjadi manusia adalah mengenal diri sendiri, knowing yourself. Ada tiga tahap mengenal diri. Pertama, self awareness, mawas diri atau sadar diri, bisa dilakukan dengan introspeksi atau kalo lebih berani, bisa nanya orang-orang di sekitar kita, hasil observasi mereka terhadap kita, tapi kalo nanya, kita harus siap dengan respon mereka, bisa jadi berupa pujian atau kritikan, apa pun itu, kita mesti berlapang dada.. (ngomong mah ya gampang ya? Dilakukan juga gampang kok! *positive-thinking ceritanya :p). Biar lebih terpercaya, akan lebih baik kalo orang yang kita tanyai cukup bijak dan bisa objektif dalam mengemukakan pendapatnya, dan yang paling penting, mau untuk jujur.
Nah, setelah mengetahui diri, tahap kedua adalah self acceptance, menerima segala kualitas positif dan negatif yang kita miliki. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, intinya sih ya lebih bersyukur dan mengembangkan sikap positif, sehingga kita akan lebih mencintai dan menghargai diri sendiri.
Sampai di situ saja? Ya ngga lah.. Langkah ketiga, self improvement. Setelah tau dan menerima, kita juga harus berusaha untuk meningkatkan kualitas positif dan meminimalkan kualitas negatif yang kita miliki. Ini sesungguhnya adalah inti dari perjalanan kita sebagai manusia. Serius banget ya? Ngga saya banget :p
Tampak ngalor ngidul, padahal maksud saya bukan mau cerita pelatihan. Tapi ya selingan aja, siapa tau bermanfaat :)
Balik lagi ke sifat saya yang ngga bisa ngobrol dan kurang ekspresif itu.. Akhir-akhir ini, saya jadi lebih ngeh dengan kecanggungan saya bersosialisasi. Damn!! Melihat orang lain yang bisa bicara panjang dengan teman seperjalanan yang baru ketemu di kereta, mendengar kakak saya yang bisa ngobrol seru dengan saudara suaminya, sementara ternyata saya ngga begitu sering ngobrol sama dia, tertegun diam seribu bahasa saat berada di hadapan orang yang saya pikir...ya gitu deh.. [sedikit penjelasan, siapa tau orang yang dimaksud nyasar kemari dan khilaf membaca postingan ngga penting ini: adalah salah bila dia menganggap saya tidak nyaman bersamanya, sesungguhnya saya tidak nyaman bercerita tentang diri saya sendiri, karena saya terlalu takut pada pandangan atau penilaian orang lain terhadap saya. Daaan..satu lagi, saya tipikal orang yang nyaman sebagai pendengar, saya sudah cukup puas mendengarkan. There..i said it :)]
Suatu ketika, selepas perjalanan melongok suatu gua karst di Pacitan sana, saya bercerita pada teman saya (perasaan sih dengan cukup antusias :p), betapa menakjubkan ornamen-ornamen gua itu.. Stalagtit panjang bermeter-meter yang pertumbuhannya maksimal 3mm per tahun. Bayangkan! Butuh berapa puluh atau ratus tahun untuk suatu stalagtit tumbuh hingga sepanjang 5 meter? Tapi, temen saya ngga merasa takjub kaya saya tuh, dia juga ngga merasa itu sesuatu yang keren.. Jadi..entah metode komunikasi saya yang bermasalah atau mungkin dalam suatu percakapan, memang butuh juga kesamaan minat pada bahan pembicaraan. Hal ini tampak saat saya dan teman-teman kuliah saya bisa ngobrol seharian tentang banyak hal yang pada umumnya ngga begitu penting, tapi kami minati :D
Soal kurang ekspresif, temen saya menggambarkan dengan ungkapan lain: lempeng. Well, it's totally my bad, saya berusaha juga sih, tapi ya mungkin masih jauh banget dan hasilnya ngga keliatan. Yang jelas, saya masih kesulitan menunjukkan perasaan atau emosi secara serta merta, rasanya kalo saya seperti itu, artinya itu bukan saya.. Bukankah Sting menganjurkan kita untuk menjadi diri sendiri apa pun yang orang lain katakan? :D
Well, cuma pembenaran saja sih :) terinspirasi dari materi pelatihan, Englishman in New York-nya Sting, dan kecanggungan saya :D
Thursday, March 14, 2013
i wont give up
When I look into your eyes
It's like watching the night sky
Or a beautiful sunrise
Well, there's so much they hold
And just like them old stars
I see that you've come so far
To be right where you are
How old is your soul?
Well, I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up
And when you're needing your space
To do some navigating
I'll be here patiently waiting
To see what you find
'Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We've got a lot to learn
God knows we're worth it
No, I won't give up
I don't wanna be someone who walks away so easily
I'm here to stay and make the difference that I can make
Our differences they do a lot to
teach us how to use the tools and gifts we got, yeah, we got a lot at stake
And in the end, you're still my friend at least we did intend
For us to work we didn't break, we didn't burn
We had to learn how to bend without the world caving in
I had to learn what I've got, and
what I'm not, and who I am
I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up, still looking up
Well, I won't give up on us (no I'm not giving up)
God knows I'm tough enough (I am
tough, I am loved)
We've got a lot to learn (we're alive, we are loved)
God knows we're worth it (and we're worth it)
I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up
Kadang-kadang, diantara sekian peristiwa hidup dan lagu-lagu yang beredar, ada satu masa di mana suatu lagu dapat mewakili suatu peristiwa hidup.
Dari wikipedia, Jason Mraz bercerita tentang lagu ini..
"'I Won't Give Up' was written selfishly. As many of my songs are, I write for the purpose of understanding what the hell's going on in my life, my position in the world, processing that lesson and that miracle that I'm learning. Seeing it on the page, proving to myself that I understand the lesson, that I'm applying it to my life, and that I can move on. Ultimately it was about, you know, regardless of what happens in this relationship, I don't have to give up on loving this person, or loving myself, or give up on whatever my dreams are.
Even though its written through the filter of relationships, it's not necessarily specific for relationships. For me, the true meaning exists in the bridge saying 'I don't want to be someone who walks away so easily, I'm here to stay and make a difference.' That is for all of us. We all have something that we're fighting for or that we're striving for.
Whether we want to coach our soccer team to victory or lose five pounds in a month, whatever it is, there's nothing too small worth fighting for and there's nothing too big worth going after.
Seperti Jason Mraz bilang: 'I don't wanna be someone who walks away so easily, I'm here to stay and make the difference that I can make', dalam beberapa hal saya seringkali keras kepala dan ngga mudah menyerah, semoga saja ini suatu sikap yang baik ya?! Aamiin..
Ngomong-ngomong, ngga nyambung sama paragraf di atas, tadi sore belajar tenkan, saya terjemahkan dalam bahasa saya: belajar tentang mempertahankan keadaan tanpa gaya tarik atau pun gaya dorong, kalo secara fisika mungkin artinya resultan F (gaya) = 0 (nol), susaaah...
Bila filosofinya diaplikasikan dalam kehidupan, kayanya bakal enteng banget perjalanan hidup ini.. Living our lives effortlessly.. Ooh..tampaknya menyenangkan sekali.. :)
Satu hal yang sering saya lupakan.
Nah, selamat menikmati hidup yaa!! Mengutip lagi Bang Jason, apa pun itu, ngga ada yang terlalu sepele untuk diperjuangkan, dan ngga ada yang terlalu besar untuk dikejar..
Monday, March 11, 2013
journey to the east, then (back) to the west
Ke timur: durasi kurang lebih 22 jam: tiga stasiun kereta, tiga kota, dan empat terminal bus. Pertama, ngacir dari kantor, ke Stasiun Bandung, naik Mutiara Selatan (pergi tepat waktu tapi dapet bonus perjalanan ekstra dua jam dari jadwal), kejutan seru di Stasiun Surabaya Gubeng (yang pertanggal 01 Maret kemarin dibagi jadi dua, Gubeng Lama - khusus kereta-kereta ekonomi - dan Gubeng Baru - khusus para penumpang kereta bisnis dan eksekutif), bonus lagi jalan kaki muter dari Gubeng Baru ke Gubeng Lama, menemukan kenyataan yang menggagalkan rencana untuk menikmati AC di Panataran. Maka, dari Gubeng Lama lanjut ke terminal Purabaya (Bungurasih), terkesan dengan pengaturan terminal yang rapi dan informasi yang cukup jelas, menumpang bus patas sampai Arjosari, ngangkot ke Landungsari, trus ngangkot lagi ke terminal batu, ngangkot lagi dan berakhir di penginapan sekitar jam tiga sore.
Dua malam kemudian...
Ke barat: bermanja-manja dengan alibi bawaan bertambah, dari penginapan menumpang taksi ke Stasiun Malang, menumpang Malabar di kelas bisnis (yang ternyata dilengkapi penyejuk udara), berangkat sesuai jadwal, jam 16.45, dan sekarang masih di Stasiun Baron. Mudah-mudahan nyampe Bandung sesuai jadwal juga. Aamiin :)
Wednesday, March 6, 2013
insight!!
Engkau yang sedang melayang gamang dalam perasaan cinta, dengarlah ini…
Dibutuhkan keberanian yang besar untuk melangkah maju dan menyampaikan keaslian perasaan cintamu kepadanya.
Dan,
Dibutuhkan keberanian yang lebih besar untuk memintanya hidup berbahagia dan menua bersamamu.
Tapi,
Dibutuhkan keberanian yang sangat mengagumkan besarnya untuk mundur dan membebaskan orang yang kau cintai, jika kebersamaan dengannya hanya akan memburukkan kehidupanmu berdua.
Cinta adalah tenaga kehidupan, yang hanya berperan baik bagi jiwa-jiwa yang saling mentautkan hati dalam persahabatan yang mesra dan penuh hormat.
Jika engkau diharuskan memilih antara cinta dan kebahagiaan, selalu pilihlah kebahagiaan.
Karena,
Di mana ada cinta, seharusnya ada kebahagiaan.
Yang selain itu, hanyalah illusi cinta.
(copas Mario Teguh, tentu saja :D)
Friday, March 1, 2013
analogi absurd :P
Berbekal rasa penasaran dan iseng, mencari entri ini di KBBI:
upil n ingus kering dl hidung;
meng·u·pil v mengorek lubang hidung
Trus, penasaran lagi, upil bahasa Inggrisnya apa ya? Di kamus saya: dried snot, dimana snot itu sama dengan nasal mucus.
Bicara soal ngupil, aktivitas ini adalah salah satu kegiatan yang menyenangkan, sebetulnya. Kepuasannya, buat saya sih-maaf klo terbaca menjijikkan- tapi rasanya gimannaaa gitu :) Kegiatan ini sebetulnya manusiawi kan? Tapi biasanya akan lebih baik dan lebih sopan kalo tidak dilakukan di muka umum.
Eniwei.. tau efek mimic atau refleksi atau apalah itu istilahnya, dimana seseorang melihat orang lain melakukan sesuatu dan orang tersebut secara tidak sadar ikut melakukan sesuatu itu? Ngupil juga jadi salah satu aktivitas yang mengundang efek ini loh.. Ini yang terjadi tadi waktu saya di angkot menuju pulang.. Berhubung angkotnya agak kosong, jadi bisa lebih leluasa ngupil (diusahakan sesopan dan setertutup mungkin kok), ngga taunya si bapak yang ada di angkot kayanya ngeliat, karena pas saya liat, dia tampak asik lagi ngupil juga.
Intinya apa ya? Ngga ada sih, cuma mau cerita aja sebenernya, entah ini analogi yang tepat atau ngga, tapi secara pribadi, ngupil tuh sensasinya agak mirip sama naksir orang, tidak untuk dipublikasikan dan kesenangannya cuma bisa dirasakan sendiri.. Jadi, pas ketauan sama orang lain, jadi memalukan.
Saturday, February 23, 2013
passion of life
Ada temen jalan saya yang kayanya udah kecanduan jalan-jalan. Setelah ngubek-ngubek Bandung lewat jalan-jalan sejarah tempo dulu, hiking ke gunung-gunung sekitar Bandung, kemudian menjelajah Jawa Barat, keluar Jabar, ke Banten, Jateng, Jatim, Jogja, trus nyebrang pulau juga.. Hebat ya..kenapa? Karena dia sangat niat, dengan pekerjaannya sebagai PNS, bisa ngumpulin ongkos dan bisa cari waktu buat jalan-jalan terus. Tapi ya mungkin kalo jadi PNS, cari waktu buat jalan ngga susah-susah amat kali ya, ngga tau juga sih, tapi kayanya kerjaan sebagai PNS itu adalah pekerjaan bebas-PHK, kayanya asalkan ga terlibat masalah atau pelanggaran berat, karirnya udah hampir pasti, per berapa taun gitu, naik golongan udah pasti, tinggal ngalir aja gitu..
Eniwei..meskipun saya seneng jalan, saya ngga segitu kecanduan kaya temen saya itu. Berhubung saya pembosan, sebisa mungkin saya ngga terlalu sering-sering jalan, selain cari waktunya agak ribet, juga karena saya harus lebih bertanggung jawab untuk mengelola cashflow, dan khawatir kalo keseringan, acara jalan-jalan akan berkurang maknanya..
Meski begitu, dibanding temen kerja saya, kayanya saya relatif lebih sering jalan-jalan, makanya pas ada liburan-liburan yang agak panjang, biasanya suka ada aja yang nanyain rencana jalan. Padahal kan ngga mesti jalan juga ya, pas libur panjang.
Cerita punya cerita, suatu hari saat makan siang, ngobrol ini-itu, temen saya bilang, kecenderungan saya berpetualang kayanya ngga pas sama profil pekerja di belakang meja, trus saya bilang, iya sih, kayanya seru banget kerja di organisasi semacam Greenpeace (kayanya ini efek baca Princess Diaries juga), naik kapal Rainbow Warrior, berunjuk rasa (kaya Lucy Lawless), menentang eksplorasi minyak di Kutub Selatan, menentang overeksploitasi hasil laut, dst. Bekerja untuk tujuan mulia, untuk kepentingan dunia, ngga sekedar kepentingan diri sendiri. Iya sih, kerjaan saya yang sekarang juga bukannya ngga bermanfaat, tapi kayanya masih ada juga aspek bisnisnya, mencari untung, dan bukan semata-mata demi kepentingan masyarakat dunia-utamanya bayi dan anak-anak.
Jadi, apa inti tulisan saya di atas? Entahlah..selang beberapa waktu, semacam siklus, saya sering mendapati keadaan yang membawa saya kembali pada suatu pertanyaan penting: apa sih yang ingin saya lakukan dalam hidup saya? Apa sih tujuan hidup ini sebenarnya? Apakah hidup ini semata-mata hanya periode antara kelahiran dan kematian?
Waktu saya bilang soal ini ke kakak saya, kayanya dia ngga bingung tuh, kayanya sih dia ngga pernah punya pertanyaan semacam itu. Menurut kakak saya, buat dia, hidup ya ngalir aja.. Iya sih, alur hidup ini linear, waktu berjalan maju menuju satu titik di ujung sana yang bernama maut. Tapi ya tetep saja, pertanyaan itu selalu ada di sudut benak saya.
Sebenernya ini wajar ngga sih, atau saya aja yang aneh?! :D
Friday, February 22, 2013
life oh life :p
Saya pikir saya cukup rasional, logis, dan mampu berpikir objektif. Masalahnya, tidak semua hal di dunia ini bisa dikaji dengan pendekatan rasio, dan dengan sebal, saya harus mengakui kalo saya sama sekali bisu-tuli-buta dalam banyak hal, terutama masalah hati.. Hmfh..
Tuesday, February 19, 2013
galauku, now and then :D
Beberapa hari ini, saya mengalami kembali siklus galau akut, parah banget..saya pikir udah ga masanya lagi galau..eh, muncul juga tuh, dan sepertinya kali ini tingkatannya agak parah :D
Jika dirunut lagi, galau semacam ini terakhir saya alami sekitar akhir 2009. Saya lupa dulu selesainya gimana, yang jelas setelahnya saya mengalami perubahan yang sangat signifikan dalam hidup. Sekarang? Apa ada yang bakal berubah juga gitu?
Mungkinkah ini semacam demam pada balita saat tumbuh gigi? Atau mungkin ini sekadar efek sinergis dari PMS, overproduksi hormon prolaktin, cuaca, dan pengalaman baru (hampir) jatuh cinta?
And yes, it's dedicated to you, a honest friend who has confirmed my flaws: sungguh, pengetahuan itu seharusnya membebaskan! Thank you! :)
