Absence of evidence does not equal evidence of absence - dr. David Hussong (of FDA and the USP Microbiology and Sterility Assurance Expert Committe)
Sunday, July 1, 2012
galau: fenomena tak bermakna (?)
kegalauan n sifat (keadaan hal) galau
Sekarang-sekarang, kata-kata ini lagi trend banget ya, siapa sih yang mula-mula memopulerkan kata-kata ini? Kata ini hampir selalu menjadi pilihan untuk menggambarkan keadaan bingung, labil, dsb. dalam situasi apa pun. Saking seringnya mendengar kata-kata ini dalam berbagai konteks, bahkan untuk hal-hal yang mungkin ngga begitu serius dan sangat sepele, temen saya bilang, rasanya kata ini sudah kehilangan maknanya.
Terlalu sering terpapar pada suatu hal, tampaknya menjadikan hal itu menjadi kurang bermakna, makanya mungkin itu sebabnya kita ngga boleh berlebihan. Misalnya, cowok cakep yang terlalu sering keliatan jadinya ngga cakep lagi, biasa aja ;p Atau.. makanan enak yang terlalu sering dikonsumsi lama-kelamaan akan berkurang sensasi nikmatnya. Asosiasi yang aneh.. Baiklah, sebelum bertambah aneh, sampe akhirnya keanehannya menjadi tidak bermakna, kita akhiri saja.. Adieu!! :D
ps. Jadi, intinya... jika Anda ingin kegalauan yang Anda alami tetap bermakna, gunakanlah ungkapan tersebut dengan selektif.
hati-hati: buku penyebab lakrimasi

Letters to Sam ditulis oleh Daniel Gottlieb, penerbit Gagas Media, penerjemah Windy Ariestanty. Buku ini berisi kumpulan surat Daniel Gottlieb yang ditujukan untuk cucu satu-satunya, Sam. Hal yang istimewa adalah Sam ini didiagnosis autis, dan Daniel Gottlieb adalah seorang kakek yang mengalami kelumpuhan. Surat-surat dalam buku ini isinya bercerita tentang kebijakan-kebijakan hidup, nasihat, dan pengalaman hidup yang dapat dijadikan pelajaran untuk semua individu, ngga hanya buat Sam saja.
The Boy in the Striped Pyjamas ditulis oleh John Boyne, penerbit Gramedia Pustaka Utama, penerjemah Rosemary Kesauli. Cerita dalam buku ini sederhana, alurnya sebenarnya agak mudah ditebak, tapi justru itu daya tariknya. Diceritakan dari sudut pandang seorang anak bernama Bruno dengan setting masa Perang Dunia Dua. Berikut catatan di sampul belakangnya:
Kalau Anda membaca buku ini, Anda akan mengikuti perjalanan seorang anak lelaki umur sembilan tahun bernama Bruno (Meski buku ini bukanlah buku untuk anak kecil). Dan cepat atau lambat, Anda akan tiba di sebuah pagar, bersama Bruno.
Pagar seperti ini ada di seluruh dunia. Semoga Anda tidak pernah terpaksa dihadapkan pada pagar ini dalam hidup Anda.
Ways to Live Forever ditulis oleh Sally Nicholls, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, penerjemah Tanti Lesmana. Buku ini dibuat sebagai buku harian Sam, yang berisi daftar-daftar, cerita-cerita, foto-foto, berbagai pertanyaan dan fakta yang dikumpulkannya selama minggu-minggu terakhir kehidupannya. Sam ini adalah anak lelaki berusia sebelas tahun yang mengidap leukimia. Sam menyukai fakta-fakta, penasaran dengan berbagai macam hal, diantaranya kematian. Dengan penyakit yang dideritanya, pemikiran tentang kematian menjadi suatu hal yang sangat dekat dengan dirinya. Kematian sesungguhnya adalah satu fakta kehidupan yang tak terelakkan.
Apa persamaan ketiga buku ini? Menurut saya, buku-buku ini sebaiknya ngga dibaca para perempuan saat lagi PMS (pre-menstruation syndrome, bukan penyakit menular seksual, bukan juga peggy melati sukma :p), ntar bisa mengakibatkan lakrimasi. Tau kan lakrimasi? Suatu keadaan dimana kelenjar lakrimaris menghasilkan sekresinya. Kebayang?!
Caper Lawu-Sangiran (bagian 4, tamat)
Liat dulu bagian satu, dua, dan tiga biar nyambung :)
Hari kedua, 3 Juni 2012. Kami meninggalkan penginapan sekitar jam setengah sembilan pagi menuju kawasan Situs Sangiran, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah (sekitar 17 km utara kota Solo). Sekitar dua jam kemudian, mobil kami berhenti di lokasi bangunan permanen yang digunakan sebagai gardu pandang. Di sini kami bertemu dengan rombongan mahasiswa geologi UGM. Naik ke tingkat atas, kita bisa mengamati kawasan Sangiran sejauh mata memandang. Tampak di kejauhan bangunan Museum Sangiran yang menjadi tujuan kami setelah penjelasan di sini, masih seputar kondisi geologi situs ini, penjelasan bentukan Sangiran Dome yang terlipat karena terdesak oleh batuan yang berasal dari Gunung Lawu.
Jam sebelas, kami sampai di Museum, disambut dulu oleh salah satu petugas di ruang khusus, trus dibagi buku Pengetahuan Prasejarah Sangiran: Situs Prasejarah Dunia yang ditulis oleh Harry Widianto dan Iwan Setiawan Bimas, diterbitkan oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran pada 2011. Buku ini kami dapatkan cuma-cuma, berkat kebaikan penulisnya, Dr. Harry Widianto (salah satu ahli di museum ini dengan bidang manusia purba), beliau juga yang memungkinkan kami untuk melihat secara langsung ke laboratorim dan tempat penyimpanan fosil-fosil (selain yang dipamerkan), dan bahkan mengunjungi situs ekskavasi yang terbaru.
Museum Sangiran memiliki sekitar 32.000 fosil (dan masih bertambah), tapi tentu saja tidak semua fosil dipamerkan. Museum ini baru diresmikan pertengahan Desember 2011 oleh Mendikbud, terdiri atas tiga ruang pamer. Ruang Pamer 1 - Kekayaan Sangiran; menceritakan evolusi dan fosil binatang dan tengkorak manusia purba yang ditempatkan dalam diorama. Ruang Pamer 2 - Langkah-Langkah Kemanusiaan; diawali dengan ruang audio visual, evolusi menuju manusia, sejarah dan tokoh teori evolusi, proses migrasi manusia, dsb. Ruang pamer 3 diberi judul Masa Keemasan Homo erectus 500.000 tahun yang lalu, di sini ada diorama raksasa dan manekin rekonstruksi Homo erectus S17 dan Homo floresiensis karya Elisabeth Daynes.
Saat kami ke sini, pengunjungnya lumayan rame, mungkin karena hari libur, jadinya ngga begitu nyaman untuk berlama-lama mengamati setiap display - gerah, terlalu banyak hawa manusia, selain terlalu berisik juga. Padahal banyak banget informasi yang menarik. Jadi, sepertinya, kalo mau santai dan bener-bener mendapatkan informasi yang memuaskan, butuh waktu seharian untuk berkeliling dan melihat serta membaca setiap informasi yang ditampilkan. Museum ini buka setiap Senin - Minggu dan hari libur nasional dari jam delapan pagi sampai jam empat sore. Tiket masuknya asli murah (bahkan menurut saya terlalu murah), tiga ribu rupiah untuk wisatawan domestik, dan 7.500 ribu rupiah untuk wisatawan asing. Murah kan? Kalo begini, saya suka curiga dengan keberlangsungan museum, apakah tarif ini cukup untuk memelihara museum ini agar tetap layak-kunjung? Kalo ngga salah, ternyata, status Situs Warisan Budaya Dunia tidak berarti situs ini sudah terjamin pendanaannya. UNESCO hanya memberikan sekitar 30% pendanaan, dan sisanya ya pemerintah Indonesia sendiri yang mesti mengusahakan.
Ke depan, Situs ini akan diperluas menjadi beberapa kluster. Salah satunya, katanya, akan memungkinkan pengunjung untuk melihat secara langsung lapisan batuan di dalam tanah. Jadi, nantinya, pengunjung akan menumpang elevator transparan dan masuk ke dalam tanah sedalam kurang lebih 30 meter, kemudian naik secara perlahan sambil melihat lapisan-lapisan batuan/tanah yang menunjukkan masa geologi tertentu. Keren ya? Sekarang belum jadi, masih dalam proses tender pengadaan elevator tersebut.
Dari museum, kami beranjak menuju lapangan, cuacanya asli panas. Pertama, kami menengok bekas aliran mudvolcano, di beberapa tempat, masih ada kubangan air laut purba yang dulunya adalah tempat semburan. Di tempat lain, kami dibawa melihat petak-petak ekskavasi, katanya di sini baru saja ditemukan fosil gigi dan dua jenis fosil lainnya. Lapisan tanah di sini keren sekali, banyak sekali informasi yang bisa disampaikan. Di antaranya, arah aliran sungai yang berubah, terlihat dari kemiringan sedimentasinya berubah, jalur-jalur cacing purba, dll.
Sekitar jam tiga sore, kami mulai beranjak menuju Solo. Jam tiga lewat, nyampe di Laweyan, cuci mata di toko batik, tapi ngga beli batik, soalnya masih inget di rumah juga masih ada yang belum dijahit. Lanjut ke toko makanan, trus makan malam di Gudeg Ayu lagi. Jam tujuh malem sudah nunggu kereta di stasiun. Satu jam kemudian, kami meluncur menuju Bandung dan tiba dengan selamat di Stasiun Bandung sekitar jam setengah enam pagi. Sejauh ini, Geotrek kali ini adalah geotrek dengan komposisi rute, materi, peserta, dan waktu yang paling pas. Puasss deh pokoknya!!
Sampe ketemu di Caper berikutnya! Semoga ngga bosen ya!! ^_^
Saturday, June 30, 2012
NGI Juli
Artikel ini dibuka dengan kalimat berikut:
Satu bahasa punah setiap 14 hari. Sebelum abad berganti, hampir setengah dari sekitar 7.000 bahasa yang dipakai di bumi mungkin akan punah, karena masyarakat mengganti bahasa ibunya dengan bahasa Inggris, Mandarin, atau Spanyol. Apa yang hilang ketika suatu bahasa lenyap?
Kalo mau baca lebih lengkap, liat aja di sini.
Untuk muatan lokalnya, ada artikel soal kelelawar. Kelelawar dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelelawar pemakan buah dan nektar dan kelelawar pemakan serangga. Perbedaan pakan ini juga membedakan morfologi mereka. Golongan pemakan buah dan nektar memiliki mata besar dengan fungsi normal, telinganya kecil - karena tidak digunakan untuk navigasi, giginya tidak tajam (karena hanya untuk mengunyah buah), ukuran tubuh rata-rata lebih besar (rentang sayap hingga 1.5 meter), dan mengandalkan penglihatan untuk bernavigasi.
Golongan pemakan serangga memiliki mata kecil yang tidak berfungsi maksimal, navigasinya menggunakan teknik ekolokasi, sehingga ukuran telinganya juga lebih besar, sebab berfungsi untuk menangkap suara ultrasonik yang dipantulkan, giginya tajam, dan ukuran tubuhnya lebih kecil (rentang sayap terkecil 10-15 cm).
Di satu cerita dalam artikel ini, penulisnya mengikuti perjalanan pemburu kelelawar yang menangkap kelelawar untuk dijual sebagai bahan masakan. Tega banget ya, makan kelelawar. Katanya sih, dagingnya dapat mengobati penyakit. Selain diburu, tantangan hidup para kelelawar ini juga berupa gangguan habitat akibat pertambangan fosfat. Gara-gara ini, populasi kelelawar terancam loh, padahal, sebenarnya keberadaan kelelawar membawa manfaat yang besar untuk manusia. Kelelawar berfungsi sebagai predator nyamuk-nyamuk malaria, juga membantu penyerbukan, dsb., yang ujung-ujungnya juga membantu kepentingan kehidupan manusia.
Jadi, buat pemakan daging kelelawar, carilah makanan lain, jadilah omnivora selektif, masih banyak kok makanan lain yang lebih layak-makan, demi kepentingan kita sendiri..
sarkasme
sarkastis a bersifat mengejek; mengandung sarkasme: ia bicara dengan nada --
Kata temen saya, saya orangnya sarkastis, beberapa orang temen lain juga bilang begitu. Berarti bener ya?! Aduh, maafkan ya kawans, kalo ada yang pernah jadi korban kepedasan kata-kata saya. Semoga ke depan saya bisa lebih menahan diri buat tidak berkomentar pedas.
Sebagai kata-kata penghiburan, jika mungkin, anggap saja sarkasme tersebut adalah bentuk kedekatan emosional. Kalo saya ngga merasa dekat, saya ngga akan ngejekin, kok, percayalah ^_^
Kalo boleh berargumen, sepertinya 'keahlian' ini saya dapatkan dari keluarga saya - terutama Ibu saya. Candaan kami di rumah memang gitu. Berhubung saya anak yang paling kecil, saya harus mengembangkan metode pembelaan diri sejak dini, maka begitulah, sebelum diledekin yang lain, saya harus sudah siap buat ngeledekin duluan.
Thursday, June 28, 2012
badai pasti berlalu.. (semoga :D)
Foto pertama adalah penampakan meja kerja saya kemarin, sekitar jam sepuluh lewat.
Foto kedua adalah penampakan meja saya tadi sore sebelum pulang.
Ngga ada bedanya ya?! Padahal perasaan kemaren kerjaan yang saya sudah selesaikan lumayan banyak (cuma perasaan aja berarti ya :D). Tadi sore, ditinggal training sekitar dua jam, tau-tau saya disambut setumpuk dokumen yang baru dateng lagi.
Tadinya saya panik dengan antrian kerjaan yang cukup panjang - soalnya selama ini ngga pernah segitunya, bahkan beberapa waktu yang lalu itu tumpukan kerjaan sempet kebawa mimpi - lucu juga, setelah sekian lama ngga pernah lagi mimpi soal kerjaan. Kalo banyak begini, saya juga suka bingung mesti mulai dari mana, akhirnya saya malah jadi bikin daftar pekerjaan, secara kronologis atau berdasarkan urgensinya. Setelah dibuat daftar, ternyata kerjaannya ngga sebanyak yang terlihat. Sekarang, kayanya saya menemukan optimisme baru (apa mungkin udah mulai merasa cuma bisa pasrah aja :p), ya udah, kerjain aja.
Monday, June 25, 2012
Caper Lawu-Sangiran (bagian 3 - penultimate)
Habis Maghrib, makan nasi soto dan minum kopi sambil menyimak obrolan teman-teman yang lain di teras depan rumah, seru deh, hawa di Tawangmangu tuh mirip seperti di Lembang, jadinya enak, adem. Salah satu Bapak peserta bercerita soal absennya beliau di trip Bromo, waktu itu beliau sedang ada acara lain - menikahkan anaknya. Bapak ini adalah seorang pengusaha dengan berbagai macam usaha, ngga sekadar usaha, tapi beliau ini juga membantu orang lain dengan melakukan pembinaan kepada masyarakat. Soal ini, beliau mengatakan bahwa buat beliau rasanya sudah bukan saatnya lagi untuk mencari kenyamanan diri sendiri tanpa mengajak orang-orang di sekitarnya untuk sama-sama maju. Salah satu usaha beliau adalah mengembangkan usaha keripik pisang resep ibunya. Jadi, beberapa orang binaan diberikan pelatihan dan bantuan lainnya hingga mereka mampu memproduksi keripik pisang yang sesuai dengan standar rasa dan pemerian yang telah ditetapkan. Buat yang memenuhi syarat, mereka ngga usah repot mikir mau dijual kemana, nantinya keripik pisang ini akan dibantu dipasarkan oleh beliau. Keren ya?!
Trus cerita lagi soal nikahan anaknya, waktu itu katanya dia mengundang Didi Nini Thowok untuk menari, trus cerita soal gimana susahnya untuk menghubungi sang maestro ini, perjuangan beliau untuk membujuk, dst., sampe akhirnya Mas Didi ini bersedia untuk menari. Hal lain yang unik adalah inovasi beliau dalam memberikan suvenir kepada para undangan berupa foto diri masing-masing undangan. Bukan polaroid, tapi mirip teknologi photo-box dengan resolusi yang jauh lebih tinggi. Pasti undangannya terkesan sekali ya?!
Lepas ngobrol dan sholat Isya, sekitar jam delapan malam kami mulai ngumpul di ruang depan untuk mendengarkan kuliah malam. Materinya mengulas situs-situs yang kami kunjungi seharian tadi dan tujuan besok, Sangiran. Di sini, ada peserta dari suatu kelompok minat khusus yang mengkaji soal sejarah Indonesia, dari pertanyaan-pertanyaan mereka, sepertinya mereka ini termasuk kelompok yang meyakini bahwa kebudayaan di Indonesia jauh lebih tua dari kebudayaan lain di dunia. Misalnya, saat dijelaskan pola migrasi manusia (Ini gambaran kasar aja ya. Berdasarkan penelitian mutasi pada gen, diketahui bahwa manusia dengan materi genetik yang paling bervariasi dan mutasi-mutasi awal ada di Afrika, sementara di benua lain, ternyata variasinya ngga begitu banyak. Hal ini berarti manusia menyebar ke benua lain dari Afrika), pertanyaan mereka adalah, 'Jika dilihat dari kemiripan budaya dunia dengan yang ada di dunia, apakah mungkin jika sebenarnya orang Indonesia zaman dulu yang justru menyebar ke luar?' Kalo kata narasumber sih, bukti ilmiah dari materi genetik ini sepertinya lebih dapat dipercaya daripada asumsi-asumsi (yang sepertinya ngga meyakinkan ya?!). Kalo saya sih jadi penasaran, kenapa sih orang-orang kelompok ini (termasuk yang percaya Indonesia adalah Atlantis) sangat ingin sekali percaya jika orang-orang zaman dulu yang tinggal di kepulauan ini adalah masyarakat yang berbudaya tinggi dan menguasai teknologi? Terus kenapa memangnya? Kalau pun ternyata benar, bukannya justru malah ironis kalo dibandingkan dengan kondisi aktual?
Kuliah berlanjut ke materi hominid, Homo erectus, teori evolusi, dsb. dikaitkan juga dengan geologi. Selanjutnya, kita mengutip bebas saja ya :)
Tahun 1871, Charles Darwin dalam bukunya, The Descent of Man, menguraikan alasan untuk memercayai bahwa manusia dan kera memiliki leluhur jauh yang sama dan bahwa tak peduli bagaimana pun anehnya, telah berevolusi melalui serangkaian langkah yang bertahap. Darwin meyakini bahwa manusia adalah produk evolusi. Atribut-atribut manusia yang terhebat sekalipun, kecerdasan dan ungkapan emosional kita, bisa saja dihasilkan oleh seleksi alamiah sehingga memungkinkan kita berevolusi dari leluhur-leluhur hewan. Kecerdasan manusia dipercaya Darwin muncul sehubungan dengan perubahan gaya hidup. Leluhur nenek moyang manusia dan kera awalnya penghuni pepohonan, kemudian secara bertahap mulai hidup di darat. Di darat, mereka berjalan dengan dua kaki, sehingga membebaskan kedua tangan mereka untuk memanipulasi benda-benda, dan pada akhirnya, untuk menciptakan perkakas. Hal ini menyediakan batu loncatan bagi perkembangan kecerdasan karena seleksi alamiah selanjutnya akan memelihara ukuran otak yang terus mengalami peningkatan, yang diperlukan untuk ketangkasan tangan.
Terobsesi dengan tulisan Darwin bahwa manusia purba 'missing link' antara kera dan manusia modern harus dicari di benua-benua selatan, maka Eugene Dubois - seorang dokter Belanda ahli anatomi - datang ke Indonesia untuk menemukan rantai evolusi yang hilang itu. Awalnya beliau ini menjelajah ke Sumatera (atau Sumatra? saat cari tau mana yang benar, ternyata.. kata KBBI, yang sesuai EYD adalah Sumatra, tapi di dokumen-dokumen resmi pemerintahan, justru digunakan Sumatera ;p), trus ke Jawa hingga pada 1891-1892 Dubois menemukan fosil yang dia yakini sebagai missing link di Trinil. Di sini, dia menemukan fosil batok kepala, gigi, dan tulang paha kiri - ketiganya membawa dia pada kesimpulan bahwa ketiga ex fragmen tersebut adalah milik suatu makhluk bukan kera bukan manusia (kaya tebak-tebakan ya? bukan kera bukan manusia, berarti... hominid!! :p) Kenapa bukan kera? Karena volume otaknya lebih besar dari kera. Bukan manusia karena volumenya masih lebih kecil dari volume otak manusia. Catatan: volume otak kera paling maju (simpanse) adalah 600 cc, volume otak manusia adalah 1200 cc, dan otak sang fosil volumenya diantara, yaitu 900 cc. Selain itu, tulang pahanya menunjukkan bahwa saat masih hidup, sang pemilik fosil berjalan dengan tegak. Atas dasar inilah Dubois memberi nama Phitecanthropus erectus - manusia seperti kera yang berjalan tegak (kenapa bukan kera seperti manusia ya?). Pada tahun 1980-an, genus Phitecanthropus diubah menjadi Homo, satu genus dengan manusia modern.
Bersambung ke Sangiran. Lokasi ini pertama kali diketahui pernah menjadi tempat terbaik yang dipilih para Homo erectus untuk berkembang oleh paleontolog Jerman yang bekerja untuk Belanda di Indonesia - Dr. Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald yang melakukan penelitian lapangan di Sangiran pada 1936 - 1938 (kayanya sih, sebenernya kebanyakan ahli zaman dulu 'cuma' duduk manis aja di bawah tenda, sementara yang bener-bener mencari dan menggali ya orang-orang pribumi - pekerja kasar yang dibayar murah - bahkan mungkin ngga dibayar sama sekali, dan dieksploitasi tenaga fisiknya). Tahun 1934, von Koenigswald menemukan alat-alat serpih di Desa Ngebung, dua tahun kemudian ditemukan fosil Homo erectus.
Sangiran adalah area berbukit-bukit dengan ketinggian maksimum 56 m. Kawasan ini merupakan hasil perlipatan geologi berbentuk kubah - makanya namanya Sangiran Dome. Puncak Kubah Sangiran dierosi oleh anak-anak sungai Bengawan Solo - Sungai Cemoro, Brangkal, dan Pohjajar, serta beberapa sungai kecil lainnya (yang ngga ditulis namanya di materi ;p) Akibat erosi ini, beberapa lapisan batuan Kubah Sangiran tersingkap dan diketahui mengandung fosil-fosil hominid. Fosil Homo erectus ditemukan di antara lapisan batuan lempung dan pasir vulkanik bernama Pucangan bagian atas (1,8 juta - 900 ribu tahun silam) dan lapisan Kabuh bagian bawah (700 ribu - 250 ribu tahun silam).
Sadarkah dengan skala waktu geologi? Jadi kepikiran ngga sih, betapa ngga ada artinya hidup kita yang sebentar ini? Aku... (nano)debu!!
Mengapakah Sangiran ini istimewa sekali? Sampe-sampe pada 6 Desember 1996 ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia dengan nama The Sangiran Early Man Site? Jadi.. manusia purba jenis Homo erectus yang ditemukan di Sangiran terdiri atas sekitar lebih dari 100 individu yang mengalami masa evolusi tidak kurang dari satu juta tahun. Jumlah ini mewakili 75% fosil manusia purba yang ditemukan di Indonesia atau 50% fosil sejenis yang ditemukan di dunia. Selain itu, temuan perkakas batu yang pernah digunakan oleh manusia purba ini juga sangat banyak, sehingga kehidupan dan budaya yang berkembang saat itu dapat kita ketahui dengan jelas. Tidak hanya itu, tapi kita bisa mendapatkan juga informasi lengkap mengenai habitat, pola kehidupan, binatang-binatang yang hidup saat itu, hingga proses terjadinya bentang alam dalam kurun waktu tidak kurang dari dua juta tahun yang lalu.
Lebih jauh lagi, penghunian Kawasan Sangiran dimulai dengan Homo erectus paleojavanicus (Meganthropus paleojavanicus) pada sekitar 1.6 juta tahun yang lalu, fosil subspesies ini menunjukkan bentuk tengkorak yang lebih tua (arkaik). Kemudian, pada 1 - 0.5 juta tahun yang lalu terdapat subspesies Homo erectus erectus (memang ditulis dua kali, bukan salah tulis ;p) dengan bentuk tengkorak yang khas (tipikal). Setelah 0.5 juta tahun yang lalu, Sangiran tidak lagi menjadi wilayah hunian hominid, mereka bermigrasi ke wilayah aliran hilir Bengawan Solo dan berevolusi menjadi subspesies bertengkorak progresif, Homo erectus soloensis/ngandongensis yang fosilnya ditemukan di Kedung Brubus, Ngandong, dan Sambung Macan. Kenapa? Menurut narasumber kami, Sangiran dihindari akibat terjadinya serangkaian erupsi gununglumpur (mudvolcano) di area Sangiran mulai 0.5 juta tahun lalu hingga 0.12 juta tahun silam, sehingga subspesies progresif berkembang di aliran hilir Bengawan Solo untuk menghindari bencana ini. Hipotesis ini juga diperkuat dengan bukti-bukti di lapangan yang kami temui, yaitu keberadaan kolam-kolam air asin yang berada di area Sangiran. Air asin ini merupakan air laut purba yang terperangkap dan keluar saat erupsi gununglumpur, kasus yang serupa dengan yang kami jumpai di Lumpur Sidoarjo.
Dilihat dari lokasinya, sama seperti Sidoarjo, Sangiran ini termasuk zona Depresi Kendeng. Apa itu? Depresi Kendeng merupakan sistem elisional yang ideal yang dicirikan oleh: sedimen lempungan dengan sisipan pasiran sangat tebal yang diendapkan dalam waktu singkat, sehingga tidak terkompaksi sempurna, labil, overpressured, transformasi mineral lempung smektit ke ilit yang intensif; mempunyai gradien geotermal yang tinggi akibat berbatasan dengan jalur gunungapi di sebelah selatan; dan terkompresi kuat sehingga membentuk jalur antiklinorium. Sejumlah gununglumpur yang ditemukan di sepanjang depresi Kendeng dari Purwodadi sampai Selat Madura, di bekas wilayah Majapahit dan Jenggala (misalnya: bledug Kuwu, bledug Kesongo, Gunung Anyar, Kalang Anyar, Pulungan, LUSI) membuktikan efektivitas sistem elisional depresi Kendeng yang telah aktif sejak Plio-Pleistosen.
Sunday, June 24, 2012
charles & keith vs. gorengan tempe
Jumat kemaren saya ke sini, makan nasi soto ayam Semarang. Trus, karena masih ada sisa waktu, temen-temen saya ngajak liat-liat ke Charles & Keith (C&K) - toko sepatu dan tas yang lagi ada program diskon. Sampe di lokasi, saya celingak-celinguk, berusaha untuk keliatan berniat melihat-lihat dan setidaknya terlihat tertarik. Usaha sia-sia yang bertahan sekitar tiga menit, sampe akhirnya saya duduk aja di sofa yang disediakan.
Pulang kerja, saya mampir dulu ke Terminal Leuwipanjang (ngga mampir sih, lebih tepatnya, menggunakan rute memutar) buat beli camilan. Sampe di toko gorengan, pelayan tokonya lagi sibuk sama pengunjung yang lain, jadi saya muter-muter dulu liat makanan-makanan yang dijual. Efeknya beda banget dengan efek saat saya ngeliat tas dan sepatu di C&K. Saya merasa sangat antusias dan terinspirasi buat belanja :p Alhasil, bawa pulang gorengan tempe, sale pisang, basreng, dan batagor pedas di kantong plastik yang lumayan besar.
So, C&K atau kantong plastik berisi gorengan tempe? Dengan yakin saya memilih opsi kedua :D Selamat makan!!
paketku: follow up
Terima kasih sudah peduli :)
ps. mau tau isinya? isinya drypack dengan print custom yang saya pesan dari temen saya.
ps2. Ya Allah, maafkan saya sudah berburuk sangka pada sang kurir..
Caper Lawu-Sangiran (bagian 2)
Dari Watu kandang, perjalanan dilanjutkan ke area Tawangmangu, ke air terjun Grojogan Sewu (GS), sekaligus lokasi penginapan kami. GS memiliki dua loket masuk yang terpisah sekitar 500 m, kalo ngga salah. Kami tiba di depan loket masuk satu menjelang jam empat sore, bapak petugas loket awalnya menolak untuk mengizinkan kami masuk, soalnya setengah jam lagi - setengah lima, objek wisata ini akan tutup. Bagaimana pun juga, kami sudah jauh-jauh ke sini, jadi, setelah diplomasi sedikit dan meminta salah satu petugas untuk menemani, kami diizinkan masuk. Harga tiketnya per orang enam ribu rupiah untuk wisatawan domestik dan sembilan belas ribu rupiah untuk wisatawan asing. Kalo bawa anak di bawah lima tahun, anaknya bisa masuk gratis.
Gerbang Grojogan Sewu
Nego di loket masuk
Peringatan untuk penunjung
Monyet di tangga turun
Inilah Grojogan Sewu!
Kekar kolom horizontal
Potongan kolom yang terlepas berbentuk segi empat
Di seberang pintu masuk ke GS adalah rumah penginapan kami. Setelah mengambil barang dari mobil, masuk kamar dan mandi, kami makan malam. Menunya disediakan oleh warung makan yang ada tepat di depan rumah, harganya lumayan murah dan menunya juga cukup bervariasi. Menu yang cukup unik adalah sate landak, beberapa peserta mencoba menu ini, saya sih ngga, karena saya termasuk omnivora selektif (kalo ada yang wajar, kenapa harus ekstrim?) :D Maka, saya akhirnya memilih untuk memesan semangkuk nasi soto dan segelas kopi berkrim dan bergula sebagai persiapan untuk mengikuti kuliah malam :)
Menu makan malam: nasi soto ayam
Daftar menu
Wah, masih bersambung ternyata... :D
Saturday, June 23, 2012
my weekend
Sunday, June 17, 2012
tetehku yang bijak ;p
beres-beres
Nonton acara tv yang bagus seperti kick andy atau oprah kadang membuat saya dapet 'aha-moment' atau 'ooh/wow-moment', tapi ya udah, ngga ada efek perubahan apa-apa. Tapi ada satu episode oprah yang nyambung banget dan membuat saya tergerak, yaitu episode tentang beres-beres. Di episode itu diceritakan beberapa orang yang punya masalah beres-beres, ini sih emang ekstrim, ada orang yang udah lama banget ngga pernah beresin rumahnya, ngga pernah nyuci baju dan nyuci piring, dsb., sampe-sampe ada yang di kasurnya itu ada kotoran anjing peliharaannya, atau setelah dianalisis, ternyata mikroorganisme yang ada di meja makannya lebih banyak ketimbang mikroorganisme di toilet. Wow!!
Dan orang-orang ini ngga keliatan jorok atau gimana loh, mereka sangaaat normal. Nah, trus dibahas, kebanyakan latar belakang masalah beres-beres ini ternyata masalah psikis, misalnya ada yang begitu sejak bercerai atau dipecat dari pekerjaannya atau ditinggal mati oleh kerabat dekat, dsb. Sepertinya mereka merasa kehilangan kendali atas hidup mereka, merasa tidak berdaya, dan mungkin ngga bisa move-on. Katanya sih, kalo ngga salah inget, orang-orang ini kebanyakan perfeksionis, jadi saat melakukan sesuatu (dalam hal ini, bersih-bersih), dia harus melakukannya dengan cara-cara tertentu dan menyeluruh. Jadi, setelah telanjur berantakan, mereka ngga mampu untuk beres-beres. Gitu deh pokoknya, maafkan kalo ngga jelas :D
Katanya, kecenderungan seseorang menyimpan barang-barang yang sebenernya ngga perlu bisa jadi mencerminkan kondisi psikis yang mungkin ngga beres. Oh? Gara-gara ini saya akhirnya tergerak buat beresin barang-barang yang berantakan di kamar, selain berhenti mengumpulkan bon belanjaan dan bukti-bukti transaksi lainnya ;p
Hari ini - setelah berbulan-bulan sejak beres-beres terakhir, akhirnya bisa beresin kamar yang berantakan, masih berantakan sih, tapi masih bisa diterima. Semoga setelah kamarnya agak rapi, hidup saya juga jadi agak rapi :) Beres-beres ala saya sebenernya cuma mindahin barang-barang dari satu tempat ke tempat lain, tinggal sediakan boks plastik yang besar trus masukin deh buku-buku, tas, tupperware, dll. yang asalnya disimpen secara berantakan. Selesai!! :D Tetep berantakan sih, tapi setidaknya jadi ngga keliatan ;p Sekarang ngga ada buku yang disimpen di luar - termasuk yang belum dibaca, semua masuk kotak plastik, biar ngga berdebu.


