Wednesday, January 25, 2012

Lontong kari kebon karet

Pernah makan lontong kari kebon karet?! Cobain deh... Enaaaaak!!!!! Jumat kemaren, tanggal 20 Januari, pas istirahat, saya makan di sana, setelah beberapa kali niat makan di sana belum terlaksana.. Lokasi tempat makan ini sedikit masuk ke gang (nama gang-nya kebon karet) sekitar 15-20 meter, deket vue palace (hotel depan gedung pakuan yang asalnya mau dipugar lantai teratasnya, tapi kenyataannya ngga tuh..) dan klinik punyanya pt kai, klo ga salah namanya kahc (kereta api health centre?), gampang kok nyarinya, di depan gang ada papan nama yang cukup besar.


Menu andalannya adalah lontong kari (tentu saja ;p), boleh pilih mau kari sapi atau kari ayam, mau versi spesial atau yang biasa, harganya cuma beda seribu. Klo yang spesial harganya 13ribu, ada tambahan telur, klo yang biasa ya berarti ga pake telur (tapi ada telur puyuhnya, jadi mungkin telur di sini maksudnya telur ayam). Kuahnya enak, kental dan berasa (ngga encer, tapi ngga terlalu kental banget sih), lontongnya lembut, trus potongan dagingnya rapi, beneran daging, ngga pake lemak :D


Minumannya standar aja sih, ada es campur, aneka buah blender, es jeruk atau es kelapa jeruk. Katanya sih andalan di sini adalah es campur, tapi karena kemarin takut terlalu kenyang, saya pesen minumnya es kelapa jeruk, 9ribu. Kelapanya biasa aja, ngga begitu banyak serutan yang dimasukkin ke gelas, menurut saya, yang enak adalah jeruknya, rasanya segar, sepertinya memang berasal dari jeruk peras beneran..


Kesimpulannya, yuk ke sana lagi, nyobain es campurnya!!!! Slurp...slurp.... *langsung salivasi ;p


Published with Blogger-droid v2.0.3

Jogja oh Jogja...

Perjalanan ke jogja akhir minggu kemarin agak susah untuk dipaparkan secara netral, butuh usaha keras supaya tidak terjerumus ke jurang caci maki yang dalam.. Makanya, selain karena rutinitas kerjaan yang mulai normal dan rada males juga, ceritanya lagi diendapkan dulu, biar nanti nulisnya lebih sopan :)


Intinya sih, untuk selanjutnya saya hanya akan ikut perjalanan dengan teman yang terpercaya (seperti yang sudah-sudah sebelum saya khilaf ikut yang ini) :D


Nah, sampai nanti.. Adieuu ^_^


Published with Blogger-droid v2.0.3

Wednesday, January 18, 2012

pura-pura

Mario Teguh di salah satu episode MTGW pernah menyuruh pemirsa untuk berpura-pura. Pura-pura tidur, maka mata kita akan terpejam. Saat kita berpura-pura, kita akan berusaha untuk melakukan kepura-puraan itu dengan sebaik-baiknya, begitu katanya. Bila kita sudah sangat mahir berpura-pura, seperti yang dilakukan aktor-aktor keren, seperti misalnya Anthony Hopkins, bahkan kita bisa menipu diri sendiri. Di wawancaranya dengan Oprah, pak Hopkins ini bercerita tentang bahaya berpura-pura, di film yang sedang dibahas (lupa judulnya ;p), beliau harus berakting mengalami serangan jantung (atau stroke ya?!), waktu itu katanya adegan ini berbahaya buat dirinya, karena masalahnya adalah ketika dia sedang berakting, tubuhnya tidak tahu bahwa (stroke/serangan jantung) yang sedang terjadi hanya pura-pura.


Intinya apa?! Berpura-puralah!! Tipulah diri sendiri, sampai akhirnya kepura-puraan itu sangat meyakinkan, sampai kita sendiri tidak sadar bahwa kita sedang berpura-pura. Pura-pura pintar, pura-pura baik, pura-pura senang, suka-suka aja!!


Published with Blogger-droid v2.0.3

Tuesday, January 17, 2012

Annapurna - a woman's place is on top

Salah satu buku yang menginspirasi untuk menjelajah dan berpetualang adalah buku yang ditulis oleh Arlene Blum ini, judulnya Annapurna: Kisah Dramatis Ekspedisi Wanita Pertama ke Himalaya, bagian yang menarik dan membuat saya bangga jadi perempuan saya salin di bawah ini:

Selama ini, aku beranggapan bahwa saat kami siap untuk melakukan pendakian terakhir menuju puncak, tim yang akan mendaki puncak akan ditentukan menurut seleksi alamiah. Dalam banyak eskpedisi, setelah berbulan-bulan bekerja di tempat yang tinggi, beberapa pendaki akan terlalu lelah secara fisik maupun mental untuk mencoba mendaki ke puncak. Namun, di dalam tim ini, penurunan kondisi hampir-hampir tidak terjadi. Bahkan, kekuatan dan tekad hampir seluruh anggota tim semakin lama semakin meningkat. Salah satu penyebabnya mungkin faktor fisiologi. Rata-rata tubuh wanita mengandung 25 persen lemak sementara pria hanya mengandung 15 persen lemak. Lemak ekstra ini merupakan cadangan energi yang bisa membantu wanita agar tetap kuat dan sehat dalam kondisi-kondisi yang paling sulit; artinya, lemak memberi wanita toleransi yang lebih besar terhadap dingin, udara terbuka, dan lapar. Joan Ullyot, dalam bukunya Women's Running, mencatat, "Di antara korban-korban kecelakaan akibat kapal karam, pendakian, dan bencana serupa, jumlah wanita yang mampu bertahan hidup biasanya mengalahkan pria... sepertinya ketahanan, dan bukan kekuatan, merupakan kekuatan alamiah mereka." Wanita lebih unggul dalam kegiatan-kegiatan atletik seperti berenang jarak jauh di dalam air dingin, ketika lemak memberikan perlindungan berupa isolasi dan bisa dimobilisasi menjadi energi. Menurut dugaan, wanita lebih mampu memanfaatkan energi lemak dan karenanya relatif lebih baik dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan stamina daripada kegiatan-kegiatan yang hanya membutuhkan kekuatan. 

keren kan, perempuan?? ^_^

Monday, January 16, 2012

Caper Semeru - edisi nostalgia (bagian 4, tamat)


Sebelumnya... lihat di bagian 3

Tidak banyak yang bisa kami lakukan di puncak saat badai, tapi kami juga ngga mau cepet-cepet turun, mengingat usaha kami yang lumayan panjang untuk sampai di situ dan kalo buat saya, saya masih cape dan rasanya ngga kebayang apa masih sanggup untuk menjaga konsentrasi di perjalanan turun, apalagi dalam kondisi hujan. Jadi, kami hanya duduk berkumpul dan berusaha saling menghangatkan, entah menunggu hujan reda atau apa, ngga jelas. Sampai akhirnya seorang Ranger datang dan menyuruh kami semua untuk turun - akhirnya ada juga yang punya akal sehat ;p Mas-mas Ranger yang baik ini mengatakan bahwa tetap bertahan di puncak saat badai sangat berbahaya, kami bisa mati karena hipotermia (kayanya salah satu penyebab kami ngga turun adalah hilangnya akal sehat kala itu, bisa jadi gara-gara hipotermia ;p). Alhasil, sekitar jam setengah enam, kami memulai perjalanan turun.

Saatnya pulang..
Saat mendaki atau hiking atau sekedar jalan kaki, setelah mencapai tujuan – bisa berupa puncak, air terjun, kawah, dsb. – biasanya semangat saya untuk melanjutkan perjalanan agak berkurang – mungkin karena kelelahan juga sih – yang ada di pikiran adalah keinginan untuk segera pulang, sampe rumah, istirahat, memulihkan diri, hibernasi. Tapi perjalanan turun puncak Semeru ini beda, ngga kalah seru dengan perjalanan naik, malah justru lebih menyenangkan. Untuk turun, kita bisa meluncur – sliding, kaya main perosotan zaman TK, seru-seruan sekaligus menghemat waktu dan energi. Tapi tetep mesti hati-hati, perhatikan rute luncuran, pastikan jarak dengan orang di depan kita ngga terlalu deket, trus peringatkan orang-orang yang ada di depan kalo ada batuan (utamanya yang besar) yang ikut meluncur, supaya mereka bisa menghindar, trus harus rela juga sepatunya kemasukan pasir dan sol sepatu menipis (nasib kalo pake sepatu-bukan-standar-mendaki-gunung kaya saya ;p) Kesenangan turun ini rasanya seperti imbalan yang diberikan atas kegigihan kami tadi malam untuk terus mendaki :)

Saat turun, kami berpapasan dengan beberapa rombongan yang baru akan naik. Melihat banyaknya orang yang naik dan turun, kami tidak merasa sedang berada di gunung, kami ingat suasana pasar, rame!! Saya lupa persisnya kapan, hujan sudah berhenti, langit kembali terang, jadi kami bisa melihat pemandangan dari lereng Semeru.. puncak gunung lain, kepadatan kota di kejauhan, awan yang berarak (sejajar dengan posisi kami, ada juga yang posisinya lebih rendah ;p). Cuaca cerah ini juga menyodorkan pemandangan rute pendakian tadi malam dengan lebih jelas; celah yang cukup dalam hanya beberapa langkah dari trek yang kami tempuh, jurang menganga yang mengapit jalan setapak yang dibatasi tali, membuat saya berpikir betapa beruntungnya kami melakukan pendakian saat malam, rute-rute berbahaya yang harus dilewati jadi ngga keliatan, kalo saya tau dari awal rutenya akan seperti itu, belum tentu saya akan sanggup untuk tetap melangkah (agak) ringan untuk terus mendaki (terbukti kalo tidak tau itu terkadang justru lebih baik ;p)


Pemandangan dalam perjalanan turun

Oh ya, ada yang lupa, pendakian dilakukan malam tidak hanya demi melihat matahari terbit, tapi waktu untuk berada di puncak memang dibatasi, tidak diperbolehkan untuk berada di puncak pada siang hari, maksimal jam sepuluh atau sebelas pagi kita harus sudah meninggalkan puncak. Siang hari, biasanya berhembus gas beracun (alias Wedhus Gembel) dari kawah Jonggring Saloko.

Perjalanan kembali ke Kalimati relatif lebih singkat dari perjalanan pergi, sekitar jam delapan atau setegah sembilan kami sudah kembali ke tenda, istirahat sebentar (lupa sarapan lagi atau ngga), berkemas, dan segera meninggalkan Kalimati menuju Ranukumbolo. Perjalanan sejak dari Kalimati saya tempuh dengan menggunakan sandal gunung, soalnya sepatu-bukan-standar-mendaki-gunung-nya udah ngga nyaman buat dipake, kemasukan terlalu banyak pasir, sampe-sampe warnanya berubah jadi abu tua (dari warna semula putih), sudah dibersihkan, tapi susah, soalnya pasirnya halus.

Personil lengkap ^_^
 
Oro-Oro Ombo
Tiba di Ranukumbolo sore hari, para pria mendirikan tenda, kami memasak ransum yang masih tersisa, seingat saya kali ini kami agak bermewah-mewah. Awalnya, kami berhemat makanan karena khawatir ngga cukup. Sekarang, karena sudah mau pulang, kami berusaha sebisa mungkin untuk mengurangi beban di ransel, jadi porsi makan diperbanyak, daripada mesti berat bawa pulang lagi bahan makanan :)

Di sini, teman saya yang termuda udah mulai homesick, inget mamanya terus, dia bilang kapok naik gunung, katanya selanjutnya dia mau ke pantai aja, dia hanya mau ke gunung kalo ada akses angkotnya (kayak ke Tangkuban Parahu atau Galunggung ;p) – yang tentu saja cuma bualan sesaat.. :) Naik gunung itu kayak makan keripik setan atau main sudoku atau latian aikido (ga bisa mengibaratkan kayak candu – soalnya ngga pernah nyandu ;p), bikin ketagihan.. meskipun capek, ribet, cedera macem-macem, kulit terbakar, pada akhirnya, kita akan selalu kembali.. :D (belum tentu ke gunung yang sama sih – maksudnya, kembali naik gunung lagi ;p) 

Bermalam lagi di Ranukumbolo, keesokan harinya kami kembali merapikan tenda dan berkemas, saatnya menuju Ranupani!!! Saat ini, agak sedih juga sih, soalnya tripnya udah mau selesai, keasyikan bertualang akan berakhir, waktunya kembali ke dunia nyata – dalam artian kembali ke rutinitas. Tapi, kalo dipikir lagi, keasyikan petualangan seperti ini justru karena waktunya yang singkat, kalo terlalu lama, jadi ngga asyik lagi karena kegiatan ini nantinya akan berubah menjadi rutinitas.

Di sini, efek samping juga mulai terasa, kulit muka mulai terasa perih, bibir mulai pecah-pecah (meskipun bawa pelembap wajah dan bibir, saya ngga menyempatkan untuk menggunakannya dari awal, jadi ya gitu deh, kulitnya jadi korban ;p).

Berhubung tiga diantara kami masih akan melanjutkan petualangan ke Pulau Sempu, sementara empat lainnya akan langsung kembali ke Bandung, di sini juga kami menyelesaikan utang-piutang, menentukan siapa bayar berapa, dsb., kemudian membuat semacam ‘acara penutup’, mencantumkan tanda tangan masing-masing dan satu puisi (dari teman yang homesick itu ;p) di bendera Palestina yang dibawa teman saya (ngga tau maksudnya dia apa dengan membawa bendera itu ;p)

Seperti sebelumnya, perjalanan pulang ngga begitu terasa, tau-tau kami sudah sampai Ranupani.. (yah, ngga juga sih, tapi yang jelas perjalanannya terasa lebih mudah, meskipun sudah lelah, tapi terbantu dengan beban yang sudah agak berkurang). Siang hari, di tengah hujan yang cukup deras, kami tiba di pos Ranupani. Kami bersyukur baru bertemu hujan saat itu, ngga kebayang deh kalo ketemu hujan sejak kami baru akan mendaki. Selesai bersih-bersih, mandi, ganti baju, isi ulang baterai ponsel, bertukar nomor telpon, dsb., kami meneruskan perjalanan menuju Tumpang menggunakan Land Rover. Pemandangan yang kami lalui menuju Tumpang juga menakjubkan (sebelumnya ngga keliatan, soalnya waktu pergi kita berangkat malam kan?!), jalan yang kami lalui berada di antara dua lembah, di kejauhan (yang ngga begitu jauh – pohon di hutan terlihat cukup jelas, gerumbulnya tampak seperti brokoli) terlihat gunung-gunung (yang kami tidak tau namanya apa ;p), pohon-pohon apelnya juga terlihat jelas, ngga samar-samar seperti sebelumnya. Sekitar Maghrib, kami sampai di Tumpang, berpisah jalan dengan kelompok Sempu, lantas naik angkot menuju kota (kalo saya ngga salah, ke area sekitar kampus Universitas Brawijaya). Tujuan kami adalah rumah yang akan menampung kami malam itu. Rumah ini sebenarnya semacam asrama (terpisah antara laki-laki dan perempuan) untuk mahasiswa dan mahasiswi yang mendapatkan beasiswa dari suatu lembaga (Republika, klo ga salah).

Setelah bertemu dengan mahasiswa Unbraw temennya temen saya itu (yang lumayan lucu – tampangnya, bukan tingkahnya ;p), diantar ke rumah tujuan, nyimpen barang dan beramah-tamah sebentar dengan penghuni asrama, kami pergi makan malam di lesehan pinggir jalan deket gang, menunya nasi ayam goreng dilengkapi tahu-tempe-lalap-sambal. Kenyang makan, kami kembali ke asrama dan langsung tidur dengan pulasnya.

Keesokan harinya, setelah mengucapkan terima kasih, kami berpamitan dan segera menuju stasiun kereta. Untuk ke Bandung, saat itu, kami harus naik kereta dulu ke Kediri, maka Kediri-lah tujuan kami berikutnya. Kereta ekonomi Malang-Kediri tiketnya enam ribu, penumpangnya padat, banyak pedagang asongan yang pintar sekali membaca situasi, di siang hari yang panas, banyak penjual minuman dingin dan cemilan, ada juga yang jualan sabuk, buku menggambar dan mewarnai, buku resep, atlas, dsb., trus ada juga grup pengamen yang membawa instrumen berupa biola, perkusi, dan bass berdiri. Hebooh!!!

Menjelang tengah hari, kami tiba di Kediri. Kereta menuju Bandung berangkat sekitar jam dua atau jam tiga siang, maka setelah kami membeli tiket, kami memutuskan untuk mengisi waktu menunggu dengan sedikit menjelajah Kediri. Kesan saya tentang Kediri: panas!!! (bisa jadi diperparah dengan pakaian saya waktu itu – kaos dan celana training ;p, yang kalo dipikir sekarang, aneh banget ya keliling-keliling di kota panas siang hari dengan celana training?!). Awalnya kami bertanya pada bapak pengemudi becak soal tempat yang kira-kira bisa kami kunjungi, beliau mengarahkan kami untuk melihat mall – maka kami memutuskan buat cari makan siang saja dan kemudian cari mesjid buat sholat sekalian tidur.

Menu makan siang saya waktu itu adalah nasi soto ayam dan susu soda gembira, tempatnya di toko serba ada, pemiliknya keturunan Cina, di dinding toko banyak gambar-gambar masakan Cina yang sepertinya berkhasiat obat, mengingatkan saya dengan film seri Korea Jewel in the Palace. Nasi soto-nya enak, tapi kayanya itu karena saya lagi laper, susu sodanya juga segar :) Selepas makan, kami beranjak ke mesjid (lupa nama mesjidnya), bangunannya lumayan besar, cukup bersih dan terawat. Di samping mesjid ada area pemakaman, sepertinya ada tokoh yang cukup berpengaruh dimakamkan di sini (kyai atau imam atau sejenisnya), soalnya ada rambu-rambu soal peziarah dsb. di gerbangnya. Hal yang paling memuaskan dari mesjid ini adalah kebersihan kamar mandinya, di sini saya sempat berlama-lama di kamar mandi (berkat susu soda gembira!!), kompensasi waktu di kamar mandi yang tidak saya dapatkan selama di Semeru ;p

Pada waktunya, kami berangkat dari Kediri menuju Bandung, berhubung lelah, kami lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur. Setelah sekian jam kaki ini terjuntai-juntai, sandal saya terasa seperti mengecil, ternyata kaki saya bengkak – retensi cairan! Kereta kami tiba di Kiaracondong pagi keesokan harinya, hari pertama di tahun 2010. Turun kereta, keluar stasiun, kami saling berpamitan dan menuju ke rumah masing-masing.

Dalam perjalanan ke rumah, di angkutan kota, saya merasa penumpang lain memandangi saya, saya pikir mungkin karena saya keliatan kucel setelah perjalanan seharian, jadi saya sok cuek aja. Tiba di rumah, naik ke kamar, saat bercermin saya dikagetkan dengan kulit muka saya yang terbakar, warnanya belang, mengelupas di sana-sini, terutama di area hidung dan pipi di bawah mata, mengerikan!! Pantesan aja orang-orang ngeliatin!! Tidak hanya wajah, warna kulit punggung tangan saya juga menua, oleh-oleh perjalanan ini butuh berminggu-minggu untuk kembali seperti semula. Walaupun begitu, tetap saja saya tidak sabar menanti hingga pendakian berikutnya.. kemana yaaa???!!! Doakan semoga tahun ini bisa ke Rinjani!! Amiin!! :D

ps1. tips untuk mempercepat pengelupasan kulit wajah yang terbakar: ambil tomat yang matang, belah sesuai kehendak hati (dan tangan ;p). Gosokkan potongan tomat pada area yang terbakar, kemudian bilas dengan air – wajahnya loh yang dibilas, bukan tomatnya ;p (pps. rasanya emang perih, tapi beneran membantu kok :D)

ps2. selalu ingat prinsip utama dalam bertualang ke alam: tidak membunuh apapun kecuali waktu, tidak mengambil apapun kecuali foto, dan tidak meninggalkan apapun kecuali jejak. Ingat untuk selalu menjaga kebersihan yaa, apalagi di gunung, bawa kembali sampah-sampah anorganik untuk dibuang sepantasnya.. 

-end, at last ;p-

Friday, January 13, 2012

ke gunung lagi.. kapan ke pantai??!!

secara sadar, saya lebih suka memilih perjalanan ke gunung daripada ke pantai.. kenapa ya? sebenernya saya juga ngga tau sih, dan ngga berusaha bener-bener buat cari tau kenapa, sampe kemaren ada temen yang nanya.
setelah saya pikir-pikir, jawabannya..

pertama, karena latar belakang saya yang tinggal di bandung - yang dikelilingi gunung dan ngga ada pantainya.. maka saya lebih terpapar dan familiar dengan gunung. nah, sesuai pepatah, 'tak kenal maka tak sayang', berhubung saya lebih kenal sama gunung, saya jadi lebih sayang sama gunung :)

kedua, karena saya lebih menikmati perjalanannya, bukan tujuannya.. perjalanan ke gunung itu biasanya butuh waktu lebih lama, maksudnya kerja keras dan usahanya lebih lama, dibanding kalo kita pergi ke pantai.
gunung lebih deket ke langit dari pada pantai, jadi pasti lebih banyak nanjaknya, lebih besar usahanya untuk melawan gravitasi, ketimbang kalo ke pantai.. makanya, begitu perjalanannya berakhir, rasanya seperti melakukan pencapaian tertentu, tiba di puncak berarti waktunya istirahat.. dengan kata lain, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian :D 
beda sama kalo pergi ke pantai, biasanya kan perginya pake kendaraan, kalo ada jalan kakinya, yah, ngga akan sejauh atau seheboh perjalanan ke gunung, mungkiiin.. udah gitu, setelah sampai di pantai, trus ngapain? kalo begini, istilahnya bersenang-senang terus, ngga ada sakit-sakitnya dulu.. kalo buat saya sih, senang-senangnya jadi kurang nikmat, karena ngga ada sakit yang mendahuluinya..

itu sih yang terpikir saat ini..

Cerpen Perdana


Berikut ini adalah cerpen perdana hasil usaha 'terpaksa' waktu saya 'khilaf' ikutan klab nulis akhir tahun 2009..

PEREMPUAN BERBAJU KUNING KENARI

Aku berjuang menyeret Olin si Motor Lincah, yang entah bagaimana sepertinya berkonspirasi dengan Bapak untuk mencegahku pergi. Bapak terus saja berteriak, sementara Ibu menarik-narik tanganku. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku sudah terlambat pergi bekerja, tapi Ibu malah semakin keras menarikku, dan tiba-tiba... Byurr, guyuran segelas air membangunkan aku dari mimpi. Sudah 10 menit Ibu berusaha membangunkanku, usaha yang tampak sia-sia, hingga akhirnya segelas air turun tangan.
Aku pun bergegas sholat Subuh, sarapan, mencuci piring, mengepel, dan mandi, lalu berangkat ke halte tempat bis jemputan biasa berhenti. Olin masih di bengkel, artinya aku harus pergi dengan bis ini hingga akhir minggu.
Tiba di halte, bis belum datang, pekerja lain juga belum datang. Selain aku, hanya ada seorang perempuan muda yang duduk di ujung sana sambil memandangi setiap kendaraan yang lewat. Aku perkirakan usianya sebaya denganku, mungkin plus minus 2 tahun. Dia memakai atasan kuning kenari tanpa lengan dan rok selutut dengan warna senada. Agak tidak lazim, mengingat sekarang masih pagi, sedang musim hujan, dan kami ada di Bandung. Tapi, kupikir mungkin beberapa perempuan memang begitu, mereka rela mengorbankan kenyamanan demi penampilan yang prima. Biar menderita, yang penting gaya.
Perempuan itu, seperti sadar sedang diamati, tiba-tiba menoleh ke arahku. Aku terlambat berpaling dan tatapan kami pun bertemu. Aku tersenyum canggung, tapi dia hanya menatapku. Lantas, dia berdiri dan berjalan mendekat ke arahku. Dia terus menatapku, dan aku terpaku, terlalu terkejut untuk berpaling atau melakukan apapun. Setelah berada dihadapanku, dia membuka mulutnya dan berkata, ”Aku keliatan aneh ya, pake baju kayak gini?”
Hah?? Aku sama sekali tidak menyangka kata-katanya barusan. Aku pikir, dia akan melontarkan kata-kata bernada marah, memaki, atau semacamnya, yang jelas bukan kalimat itu. Lagi-lagi dia mengejutkanku, dan lagi-lagi aku tidak tahu bagaimana harus merespon.
Akhirnya aku hanya bergumam tidak jelas, ”Emmm...wah...yah...”
Dia tersenyum dan berkata, ”Aku tau kok, kamu pasti nyangka aku aneh, kan? Gini ya, aku jelasin deh, hari ini aku mesti pake baju kuning soalnya kata Aki hari ini aku bakal ketemu sama orang yang potensial menjadi pasangan jiwaku. Nah, bajuku yang warnanya kuning ya cuma yang ini. Ngerti?”
OK, jika sebelumnya aku hanya terkejut, sekarang aku benar-benar amat sangat bukan kepalang yakin sekali kalau dia memang tidak biasa. Sekilas aku sempat berpikir mungkin dia agak kurang waras, tapi nada bicara dan pandangan matanya tampak wajar, lagipula penampilannya terlalu terawat untuk seseorang yang kurang waras.
Halte masih sepi dan tampaknya kedatangan bis masih lama, mungkin tidak ada salahnya untuk bersikap ramah.
”Oh? Begitu, ya? Kenapa harus warna kuning?” tanyaku.
”Yah, aku juga nanya gitu waktu itu. Trus, tau nggak jawabannya apa?”
”Apa?” rasa penasaranku terpancing.
Dia pun menarik nafas dan menjawab dengan dramatis, ”Karena kuning adalah warna matahari.”
Aku menatapnya bingung, menunggu penjelasan lebih lanjut, tapi dia malah terdiam dan membalas tatapanku dengan setengah kecewa dan setengah geli.
”Hmfh... aku pikir kamu pinter, tapi kayanya nggak terlalu ya?”
Aku tersenyum, ”Wah, kenapa bisa nyangka saya pinter?”
”Yah, soalnya kamu pake kacamata.”
”Oh, sejak kapan kacamata identik dengan kepintaran?”
Dia berpikir sejenak dan menjawab sambil tersenyum, ”Sejak...mmm...yah, selama ini, semua orang berkacamata yang aku kenal pasti pinter. Kamu pasti anomali deh.”
Orang-orang mulai berdatangan, dua diantaranya adalah teman kantorku. Melihatku mengobrol dengan seorang perempuan, mereka langsung heboh mengacung-acungkan jempol mereka, satu diantara mereka berlagak seperti sedang menelpon. Aku tahu maksud mereka, tanya nomor telponnya. Mereka belum tahu, jangankan telpon, namanya saja aku belum tahu. Aku segan untuk merusak percakapan dengan hal-hal yang remeh seperti nama dan nomor telpon.
Melihat arah pandanganku, dia pun berkata kembali, ”Yah, tapi nggak juga sih, setidaknya kamu pasti lebih pinter dari dua orang itu.”
”Dari mana kamu tau? Kamu kan nggak kenal sama mereka.”
”Yah, aku tau aja. Udah ya, bis aku udah dateng tuh.” Dia bersiap begitu melihat bis Leuwipanjang-Ledeng terseok-seok menembus kepadatan lalu lintas pagi.
“Eh, kamu masih belum jawab tadi,“ ujarku mengingatkan.
“Apa? Oh, nanti lagi aja ya.” Dia melambai sekilas lalu memaksa masuk ke dalam bis yang penuh sudah sesak. Bis pun melaju, meninggalkan kepulan asap hitam knalpot di belakangnya. Dalam hati, aku hanya berharap kalau hari itu dia memakai deodoran yang bagus. Kalau tidak, kasihan sekali orang yang berdiri di sampingnya.
Dan itulah akhir pertemuanku yang pertama dengan perempuan berbaju kuning kenari.


Keesokan harinya, aku datang lebih pagi, berharap untuk bertemu lagi dengannya. Aku penasaran dengan jawabannya kemarin. Ternyata halte masih sepi, masih belum kulihat seorang pun di sana. Lima menit kemudian, datanglah sebuah becak yang mengantarkan seorang perempuan beserta sekarung sayuran dan sekeranjang kue basah. Aku membungkuk untuk melihat lebih jelas. Bukan dia. Lantas, beberapa saat kemudian, aku lihat seorang perempuan berjalan mendekat, kemudian menyeberang jalan. Jelas bukan dia juga.
Aku menunduk melihat jam tangan Casio di pergelangan tanganku. Sepuluh menit berlalu, beberapa orang mulai berdatangan. Aku mulai pesimis, sepertinya tidak akan ada pertemuan berikutnya. Dari sudut mataku, aku melihat sepasang kaki bersepatu merah mendekat. Aku menoleh, dan ternyata...itu memang dia. Kali ini berbaju merah maroon.
Tanpa sadar, aku tersenyum, sementara dia cuek saja. Tampaknya dia tidak menyadari keberadaanku, karena dia terus berjalan melewatiku. Selangkah, dua langkah, lima langkah, sampai tiba di tempat di duduk kemarin. Kemudian berbalik, menatapku, dan kembali menghampiriku.
”Hai,” katanya riang.
”Hai,” jawabku singkat, mengantisipasi kemungkinan perkataan mengejutkan yang mungkin menyusul sapaannya barusan. Tapi, kemudian dia diam, tidak berkata apa-apa lagi. Apa dia menungguku mengatakan sesuatu? Mungkin sebaiknya aku mengatakan sesuatu, tapi apa? Yah, sebenarnya aku penasaran, kenapa harus melewatiku lalu berbalik. Sepertinya dia bisa membaca pertanyaan itu dari ekspresi wajahku, karena tiba-tiba dia bicara.
”Aku cuma mau mastiin aja kalo kamu itu cowok yang kemarin. Soalnya kalo dari sebelah kanan keliatannya beda.”
”Hah? Maksudnya beda?”
”Yah, kalo dari kanan kepala kamu keliatan agak lonjong, padahal kemarin waktu aku liat dari kiri, kepala kamu keliatan lebih bundar.”
”Oh?!?” responku bingung, tidak percaya kalau bentuk kepalaku asimetris. Dalam hati, aku berjanji untuk memastikannya pada kesempatan pertama begitu bertemu dengan cermin.
Sejurus kemudian, ponselnya berdering. Sementara dia berbicara cepat di ponsel, aku berdiri diam di sampingnya, mengamati lebih seksama pakaiannya hari ini. Pagi ini dia tampak normal dalam balutan setelan jas dan celana panjang warna merah maroon, senada dengan sepatu, tas, cincin, bahkan jepit rambut di pelipis kirinya. OK, ralat, jelas tidak normal. Matching-isme yang terlalu.
Selesai berbicara di ponsel, dia memergokiku sedang mengamatinya. Dia menampakkan pandangan bertanya.
”Jadi...hari ini merah ya?” tanyaku kikuk.
”Iyaaa.. Dan kamu tau kenapa?” dia bertanya balik.
Entah bagaimana, rasanya aku sudah tahu jawabannya. Jadi, aku pun menimpali, ”Mmmmm...kenapa ya? Pasti atas petunjuk Aki lagi ya?”
”Ya, karenaaa...”, balasnya menyemangatiku.
”Pasti karena merah adalah warna darah, kan?” jawabku puas.
Dia tersenyum, lantas kembali berkata, ”Yah, nggak persis begitu siy kata Aki. Beliau cuma bilang kalo hari ini aku mesti pake baju se-matching mungkin. Nah, koleksi baju dan aksesorisku yang paling komplit ya yang warnanya merah manyun ini.”
”Merah manyun?” ulangku. Aku khawatir aku salah dengar.
”Iya, itu kalo Aki yang bilang, merah manyun. Beliau sudah ompong soalnya, jadi susah buat ngomong ’R’,” jelasnya sabar.
Jujur, penjelasannya malah membuatku heran. Maksudku, kata ’merah’ kan ada huruf ’R’-nya juga. Tapi aku tidak berani berkomentar, takut menyinggung, tampaknya Aki ini orang yang penting dan sangat dia hormati.
Kali ini bisku datang lebih dulu. Aku terpaksa beranjak pergi. Setelah di dalam bis, aku pun menoleh untuk melambai, tapi ternyata dia sudah bergegas menuju bis di belakang. Sekilas kulihat sepatu hak tingginya, mudah-mudahan dalam bis dia melangkah hati-hati. Aku tahu bagaimana sakitnya terinjak hak sepatu 5-cm runcing macam itu.
Dan itulah akhir pertemuanku yang kedua dengan perempuan berbaju kuning kenari yang kali ini berbaju merah manyun, eh, maroon.


Hari ketiga, kami, aku dan dia, datang ke halte hampir bersamaan dari masing-masing ujung. Sama-sama kesiangan. Kali ini kami sudah saling mengenali. Kami saling tersenyum, saling menghampiri, lalu duduk persis di tengah-tengah bangku semen yang dingin. Kali ini dia memakai setelan jas dan rok selutut warna biru. Aku perhatikan lebih jauh, sepertinya kali ini normal, semua tampak sewajarnya dan tidak berlebihan.
Dia diam, sibuk memainkan gantungan ponselnya.
”Biru untuk langit?” tanyaku.
Dia melirikku, lantas menggeleng cepat.
”Biru untuk laut?” tanyaku kembali, kali ini dicemari sedikit rasa penasaran.
Dia menarik nafas, lalu menjawab singkat, ”Bukan.”
Aku berpikir kemungkinan lain, sesuatu yang direpresentasikan dengan warna biru, tapi otakku macet, tak ada satu pun ide yang kudapat. Dia benar, aku tidak terlalu pintar. Akhirnya, beberapa saat kemudian, dia membuka suara.
”Mestinya sih hari ini aku pake baju warna ungu.”
”Terus, kenapa jadi biru? Oh, aku tau, baju ungu kamu lagi dicuci ya?” balasku ingin tahu, aku heran kenapa kali ini dia mengabaikan petunjuk Aki-nya itu.
”Ih, sok tau deh. Tau nggak, kombinasi sok tau dan agak pintar itu nggak bagus!” ujarnya kesal.
Mestinya aku tersinggung dengan kata-katanya barusan, tapi aku cuma nyengir. Rasanya kalimat itu lebih tepat untuk dirinya sendiri, maksudku, justru dia yang sudah sok tahu dengan mengasumsikan bahwa aku pintar hanya gara-gara aku berkacamata.
”Kamu nggak punya baju ungu?” lanjutku jahil.
”Bukan. Hari ini hari seragam. Semua orang di kantorku mesti pake baju seragam, ya baju biru ini. Tadinya aku udah mau pergi pake baju ungu, tapi dilarang sama Bapak, katanya karyawan baru pantang membangkang,” akunya.
Bisnya sudah datang. Dia berdiri, merapikan atasannya dan mengambil tasnya dari bangku semen.
“Apa kata Akimu?” tanyaku.
“Oh, beliau nggak bilang apa-apa. Waktu aku pergi, beliau lagi jalan-jalan.” ucapnya setengah menyesali.
Dia melangkah menuju bis, kali ini langkahnya lambat.
Dan itulah akhir pertemuanku yang ketiga dengan perempuan berbaju kuning kenari yang kali ini berbaju biru tapi berhati kelabu.


Hari keempat, dia sudah duduk di ujung bangku, sama seperti ketika pertama kali aku melihatnya. Aku berjalan mendekat, dia tersenyum, menunggu hingga aku sampai di sebelahnya. Semakin dekat, aku bisa melihat jelas matanya yang berbinar-binar. Kali ini dia memakai celana jeans dan blus berbahan kaos. Warnanya? Hari ini warnanya hijau.
‘Hijau?” tanyaku.
Dia menarikku duduk, lalu mulai mengoceh.
”Iya,” sahutnya. ”Tau nggak sih, kali ini aku heran sama Aki,” dia melanjutkan. Hmmm..sudah saatnya, pikirku.
”Hijau kan warna favoritku, jadinya ada macam-macam hijau di lemari bajuku.”
”Memangnya kamu punya berapa macam baju hijau?” tanyaku ingin tahu.
“Yah, aku punya warna hijau daun muda, hijau daun tua, hijau tentara, hijau stabilo, hijau botol, hijau hutan, hijau laut, hijau-kuning, hijau pucat, hijau lumut, hijau apalagi ya?”
Jawabannya sungguh membuatku menyesal telah bertanya. Aku cepat-cepat memotong.
“Terus, kenapa heran?” ujarku, berusaha mengembalikan topik pembicaraan.
”Jadi, yah..” katanya dramatis. Dia menelan ludah, lalu melanjutkan, ”Aki, secara spesifik nyuruh aku pake warna hijau lampu lalu lintas.”
”????”, untuk kesekian kalinya, aku terkejut. Mestinya sih, aku sudah terbiasa, tapi tetap saja, aku terperangah.
”Apa maksudnya kali ini? Boleh jalan?” timpalku asal. Dia menatapku seolah tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
”Yah, begitulah...” ujarnya malu-malu.

Tuesday, January 10, 2012

episode telaah hati


Bukan maksud hati tidak tau diri, saya sangat bersyukur masih punya banyak sahabat yang peduli dan mendoakan saat sedang tertimpa musibah. Rasanya ucapan simpati dan kata-kata penyemangat saja sudah lebih dari cukup, terima kasih banyak. Tapi, kadang orang-orang suka bertanya kronologis. Saya tidak ingin menjelaskan dan bercerita berulang-ulang, saya tau saat orang-orang bertanya, itu adalah usaha mereka untuk memahami, berempati.. tapi buat saya, kadang itu malah berefek seperti mengusik luka yang sedang disembuhkan. Mungkin saya hanya butuh waktu, bisa jadi lebih lama dari yang semestinya, tapi menceritakan berarti mengingat kembali – meski saya tidak bermaksud untuk melupakan, saya hanya berusaha untuk mengatasi, menerima, tanpa rasa sedih yang berlebihan. Buat saya, sekarang (entah nanti), bercerita berarti memperpanjang waktu yang diperlukan untuk memulihkan emosi. Mungkin ada baiknya saya tuangkan semua yang saya rasakan saat ini, untuk kemudian saya telaah, teliti, dan pilah untuk mendapatkan hikmah dan pendewasaan diri. Tapi.. tentu saja tidak di sini, kan saya introvert ;p (meskipun belum tentu juga akan ada yang baca, atau kalau pun ada yang baca, belum tentu juga kenal saya secara personal, tapi siapa tau kaaaan??!! ;p) 

Hafalan Shalat Delisa

Akhir minggu kemarin, 08 Januari 2012, saya khatam baca novel Hafalan Shalat Delisa, penulisnya Tere Liye, penerbitnya Republika, cetakan keenam, Januari 2008. Versi audio-visualnya sekarang-sekarang sedang beredar di bioskop-bioskop. Saya sih ngga terlalu antusias buat cari tau ceritanya, tapi berhubung ada yang minjemin bukunya, ya udah, dibaca deh. Buku ini bercerita tentang kehidupan seorang gadis 6 tahun bernama Delisa yang tinggal di Lhok Nga, Aceh, dan perjalanannya menghafal bacaan shalat dengan latar belakang tsunami tahun 2004 yang lalu. 

Secara keseluruhan, ceritanya bagus, mengharukan, sampe-sampe saya terpaksa mengusap air mata di beberapa bagian (tapi mungkin sayanya aja yang lagi sensi ;p), makanya saya berusaha menyelesaikan bukunya cepet-cepet. Menurut saya, emosi dan pikiran anak 6 tahun yang digambarkan sudah sesuai, meskipun ngga tau juga ya, di beberapa bagian kok rasanya terlalu dewasa buat anak 6 tahun (mungkin argumennya, di sini situasinya khusus, ada faktor luar biasa berupa tsunami itu). 

Beberapa hal yang membuat saya sedikit terganggu adalah penggunaan bahasa Indonesia yang kurang tepat, yaitu pemakaian kata ‘bergeming’, misalnya, ‘Aisyah tetap tak bergeming.’ Trus kenapa? Well, tau ngga, bergeming itu artinya tidak bergerak sedikit juga, atau diam saja. Jadi, kalimat contoh di atas akan bermakna ‘Aisyah tetap tak diam’, padahal kan maksudnya bukan itu, kalimat yang seharusnya adalah, ‘Aisyah tetap bergeming.’ Kesalahan ini sepertinya memang sudah telanjur meluas, sampe-sampe banyak orang yang ngga sadar bahwa ini adalah pemakaian kata yang tidak tepat (pemborosan kata, sama seperti ‘sangat senang sekali’ yang sebenarnya cukup ditulis ‘sangat senang’ atau ‘senang sekali’ ;p). Hal kedua yang mengganggu adalah salah eja untuk kata kruk (penyangga kaki untuk berjalan; terjemahan dari crutch – sepertinya), di buku itu ditulisnya, kurk, dengan cetak miring. Saya ngga tau apa buku ini ada editornya atau gimana, soalnya ngga ada keterangan yang dicantumkan. Ngga tau juga apa di cetakan yang lebih baru kesalahan ini sudah dikoreksi :) Terakhir, saya ngga ngerti maksud catatan kaki yang mengomentari cerita di beberapa bagian. Narasinya, kalo saya ngga salah, diceritakan dari sudut pandang orang ketiga (asumsi saya, biasanya penulis kan?!), nah trus dikomentarin lagi.. sama siapa??!! Ada yang tau dan bisa memberi pencerahan??!! :P [apakah itu dimaksudkan untuk mewakili pertanyaan pembaca???]

Oh ya, cerita tentang kehilangan juga membuat saya berpikir (iya, saya juga suka mikir kok kadang-kadang, ngga usah kaget ;p). Wajar kan kalo saat kita kehilangan (dalam hal ini kehilangan anggota keluarga), kita kemudian merasa sedih, tapi sebenarnya apa sih alasan kita bersedih? Saat kita menangis, apa sih sebenarnya yang kita tangisi? Apa kita menangisi almarhum atau diri sendiri? Buat saya pribadi, sepertinya, kesedihan itu lebih ditujukan buat diri sendiri, saat ditinggalkan, kita akan merasa sendirian, dan pada dasarnya kita takut sendirian, maka kita bersedih - menangisi kesendirian. Rasanya, kita bersedih murni karena alasan yang egois, mungkin kita juga takut pada kematian itu sendiri, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita setelah kita mati, atau kita takut tidak mampu untuk hidup tanpa orang yang telah meninggalkan kita.. entahlah..  

Saturday, January 7, 2012

Caper Semeru - edisi nostalgia (bagian 3)

Menyambung Caper Semeru - edisi nostalgia bagian 1 dan bagian 2...

Berjalan di tengah padang luas, diantara bukit-bukit, kesunyian alam terasa memabukkan. Kami lebih banyak berjalan dalam diam, merasakan kesunyian sekaligus menghemat energi. Setelah rute naik-turun hari sebelumnya, saya rasa perjalan menuju Kalimati ini relatif lebih ringan (entah karena sudah terbiasa ;p), lebih banyak trek datar yang cukup panjang, menyenangkan!! Kali ini juga kami tidak terlalu sering mengambil jeda, setidaknya seingat saya begitu ;p

Istirahat - sekalian berfoto dulu ;p
Setengah kilometer menuju Kalimati
Pemandangan menuju Kalimati berganti-ganti dari padang ilalang, ke hutan pinus yang semakin jarang begitu kami mendekati Kalimati. Tanah yang dipijak mulai berganti dengan pasir halus berwarna hitam, vegetasi didominasi semak-semak yang dari kejauhan tampak seperti bulatan-bulatan sempurna. Setelah sekitar lima jam, kami tiba di semacam padang luas, di ujung seberang tampak pondokan dan tenda-tenda diantara pepohonan. Kami beristirahat sejenak, mendirikan tenda, kemudian beranjak untuk mengisi persediaan air (kalo ga salah nama tempatnya Sumbermani). Perjalanan mencari mata air membawa kami ke semacam bekas aliran sungai (sepertinya jalur ini adalah bekas aliran lava), di suatu titik kami menemukan dinding sungai yang menampakkan lapisan-lapisan tanah yang sangat jelas.

Kalimati - pos terakhir sebelum pendakian ke puncak

Persediaan air kami tidak terlalu banyak (soalnya berat kalo harus bawa air banyak), sejak dari Ranukumbolo kami sudah menggunakan air danau untuk minum dan masak. Di Sumbermani ini, sumber air sangat jarang, air yang ada alirannya sangat kecil, jadi kami harus bersabar mengantri menunggu giliran, kemudian bersabar menunggu air memenuhi botol air yang kami bawa. Air di Ranukumbolo dan Sumbermani sama-sama jernih dan dingin, buat minum awalnya kami masak dulu, tapi karena ngga praktis, akhirnya kami meminumnya langsung, tanpa dimasak. Karena dingin, paling enak kalo airnya ditambahi serbuk minuman rasa buah, dijamin rasanya sama seperti kalo kita minum air rasa buah dari kulkas. Segar!!

Mengisi persediaan air - latar belakang: Lapisan pasir dan abu 
Oh ya, di Kalimati ini suasananya lumayan mencekam (buat saya), hampir sepanjang waktu kami dapat mendengar suara gemuruh angin yang sangat keras, saya merasa diperingatkan betapa kecil, tidak berarti, dan tidak berdayanya kami semua. Betapa dahsyatnya kekuatan alam.

Sore hari, selesai mendirikan tenda, teman-teman saya sempat bersantai dengan bermain kartu. Selepas makan malam, kami segera tidur. Kami bangun sekitar jam sebelas malam dan bersiap untuk memulai pendakian yang sesungguhnya. Barang-barang tidak kami bawa, semua ditinggal di tenda, kami hanya membawa air minum dan makanan secukupnya.

Istirahat sore sambil main kartu :)

Sesi 3: Kalimati – Puncak Semeru - Kalimati 


Perjalanan diawali dengan menuruni lembah, kemudian mendaki dinding bukit, karena sering dilewati, tanah di rute ini menjadi padat dan licin. Tanjakan-tanjakan kali ini lumayan curam kemiringannya, sehingga seringkali saya merasa kalau otot paha saya sungguh mengalami peregangan yang sangat maksimal. Jalan setapak di sini benar-benar setapak, butuh konsentrasi penuh di setiap langkah, salah menjejak mungkin dapat berakibat fatal - saya berusaha untuk tidak memikirkannya. Suhu udara yang dingin membantu seluruh indera tetap waspada. 

Di suatu titik, kami melewati semacam tugu peringatan, diatasnya tergeletak sepasang sepatu converse yang sudah agak lapuk dimakan cuaca, saya lupa bunyi persis tulisannya, intinya menerangkan kalau sepatu itu adalah milik pendaki yang meninggal dunia (atau hilang) di lokasi tersebut. Melihat itu, saya jadi sedikit meremang, tapi sekali lagi, saya berusaha untuk tidak memikirkannya, saya berkonsentrasi untuk melewati setiap trek yang semakin lama semakin menantang.

Terdapat trek-trek yang sebenarnya cukup berbahaya (kalo saya pikir sekarang, kok kelompok kami ini sepertinya nekat sekali ;p), ada trek seperti pematang yang hanya ditandai dan dibatasi dengan tali rafia, disertai peringatan agar jangan sekali-kali menjadikan tali itu sebagai pegangan (dalam artian, sebagai tumpuan), di beberapa bagian kadang-kadang treknya, selain sempit, juga menanjak atau menurun. Kalau saya ingat lagi, mengerikan juga, ditambah dengan kenyataan kami ini sebenarnya tidak begitu siap secara perlengkapan - tidak ada satu pun dari kami yang membawa tali, nekat kan?!

Mendaki menuju Arcopodo
Sekitar tengah malam, sampai di Arcopodo (batas vegetasi terakhir), kami memulai pendakian Semeru yang sesungguhnya. Udara malam yang dingin dan mulai menipis mulai membuat saya mengantuk. Lereng gunung makin curam begitu kami semakin mendekati puncak, saya jadi lebih sering beristirahat, saya tertelungkup di atas pasir yang dingin, rasanya sungguh nikmat. Saat itu sedang musim hujan, pasirnya jadi lebih berat dan tidak begitu longgar, sehingga lumayan membantu memudahkan kami untuk mendaki, tapi tetap saja, saat dipijak, pasir itu terburai dan kami pun meluncur turun kembali. Saat kami melangkah maju tiga langkah, maka kami mundur lagi dua langkah. Malam itu langit cerah, saat kita memandang ke bawah, kita dapat melihat cahaya lampu kota yang menakjubkan, sepertinya saya bisa saja duduk di sana berjam-jam menikmati pemandangan. Tapi, semakin sering kita berhenti, pendakian akan semakin terasa melelahkan. Makanya, sedapat mungkin saya terus melangkah, berusaha menetapkan tujuan sementara, melangkah terus sampai batu besar di depan, kemudian mendaki lagi sampai ke balik batu besar lainnya. Semakin lama, berjalan normal menjadi semakin sulit akibat kombinasi pasir pijakan yang labil dan lereng yang curam. Akhirnya, saat melangkah semakin sulit, saya menggunakan lutut dan kedua lengan untuk bertumpu, perlahan merangkak naik. Saat itu, terngiang perkataan seorang ustadzah yang kami temui dalam perjalan dari Yogya menuju Kediri, setelah mendengar tujuan perjalanan kami, beliau berkomentar - kurang lebih, begini: 'Yah, seperti perjalanan menuju surga, perjalanan mendaki gunung itu pasti tidak mudah, penuh perjuangan, tidak seperti perjalanan menuju neraka.' Maka, untuk menyemangati diri kami sendiri, kami mengulang perkataan ustadzah tersebut, 'Ini adalah perjalanan menuju surga!!'

Dan akhirnya, setelah sekitar enam jam, jam lima pagi kami sampai di surga, eh, puncak! Akhirnya, tidak ada lagi pasir di depan kaki saya yang harus saya lewati. Saat melewati batu besar yang terakhir, rasanya masih tidak percaya kalo ini adalah puncak Semeru, sebidang tanah berbatu yang cukup luas, seperti permukaan bulan yang digambarkan di film-film :)

Belum lama kami di puncak, cuaca mulai mendung, lenyap sudah kesempatan melihat matahari terbit dari puncak Semeru. Kemudian hujan pun turun, disertai angin kencang, dengan kata lain, badai. Kami menggelar ponco sebagai alas dan ponco lain digunakan sebagai atap pelindung dari hujan. Kami berjejalan berusaha menghangatkan diri karena udara dan air hujan yang dingin mulai terasa menusuk, tau kan rasanya kedinginan saat mencelupkan tangan ke dalam air es? Pertama-tama terasa kebas, kemudian perih seperti tertusuk-tusuk puluhan jarum. Sambil hujan badai begitu, kami membuka bekal roti isi meses cokelat yang kami bawa, sedapat mungkin menggigit potongan roti diantara gigilan dan gemeretuk gigi ;p

Sesaat setelah sampai di Puncak - disambut badai!!

bersambung lagi.. next: perjalanan turun yang seru!! :D
  

Friday, January 6, 2012

pertama dan terakhir

Jika seluruh sejarah alam semesta terjelaskan di dalam bingkai-waktu satu hari, maka Bumi baru terbentuk menjelang akhir senja. Dinosaurus tiba beberapa menit sebelum tengah malam. Dan manusia baru ada pada dua detik terakhirnya. - Georg Røed-

Hari pertama di tahun 2012, Gadis Jeruk adalah buku pertama yang selesai saya baca. Hari itu, banyak hal-hal pertama (di tahun 2012) yang saya alami atau kerjakan, begadang pertama, bangun pagi pertama, sholat subuh pertama, matahari terbit yang pertama, mencuci pertama, hujan deras pertama, sarapan pertama (berupa nasi kuning kiriman tetangga yang syukuran ulang tahun), baca buku pertama, dsb. Tetapi, hari itu juga ternyata menjadi hari yang terakhir.. terakhir berpamitan pada bapak.. 

Sekarang, tidak akan ada lagi yang menanyakan apakah PBB sudah dibayar, atau apakah di rumah masih ada beras, apakah akhir minggu ini saya akan pulang, bagaimanakah kabar kakak saya yang sudah lama tidak pulang. Tidak akan ada lagi yang rajin mengganti lembar kalender saat bulan dan tahun berganti, tidak ada lagi kunjungan rutin ke rumah sakit setiap bulan..

Saya tau, setiap yang bernyawa akan merasakan maut, tapi rasanya saya tidak pernah benar-benar siap ketika hal itu terjadi, maut bukanlah sesuatu yang bisa diantisipasi.. seperti halnya hidup.. 

Bayangkan kamu berada di awal dongeng ini, suatu waktu miliaran tahun yang lalu ketika segala sesuatu diciptakan. Dan kamu boleh memilih apakah kamu ingin dilahirkan untuk hidup di suatu tempat di planet ini. Kamu tidak tahu kapan kamu akan dilahirkan, tidak juga berapa lama kamu akan hidup, tapi itu takkan lebih dari beberapa tahun. Yang kamu ketahui hanyalah bahwa, jika kamu memilih untuk hadir pada tempat tertentu di dunia ini, kamu juga harus meninggalkannya lagi suatu hari dan pergi meninggalkan segalanya. - Jan Olav-

-end- 

Tuesday, January 3, 2012

Caper Semarang - Bagian Tiga


Menyambung Bagian Satu dan Dua...

Oh ya, info trivia soal Lawang Sewu, kata pemandu kami, di sini sempat dijadikan lokasi pengambilan gambar salah satu adegan film Ayat-Ayat Cinta, itu loh, adegan waktu Maria-nya di rumah sakit. 

Dari Lawang Sewu, kami menyebrang ke taman di tengah persimpangan (Jl. Pemuda – Jl. Imam Bonjol – Jl. Dr. Sutomo – Jl. Pandanaran). Di tengah taman terdapat tugu berbentuk lilin yang dikelilingi kolam air mancur, namanya Tugu Muda. Tugu ini didirikan sebagai monumen peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang, dibangun pada 10 November 1950 dan diresmikan oleh presiden Soekarno pada 20 Mei 1953. Apa sih Pertempuran Lima Hari itu? Lihat sendiri aja ya, di sini. Singkatnya, pertempuran ini adalah serangkaian pertempuran antara rakyat Indonesia di Semarang melawan tentara Jepang. Pertempuran ini berlangsung pada 15 – 20 Oktober 1945 dan merupakan perlawanan terhebat rakyat Indonesia terhadap Jepang pada masa transisi (dari penjajahan Jepang menuju kemerdekaan).

Dari taman, kita dapat melihat gedung-gedung disekeliling, selain Lawang Sewu, ada Museum Manggala Bakti dan Katedral. Taman ini tertata cukup rapi dan bersih, nyaman dan enak buat sekadar duduk-duduk menikmati suasana, pemandangan langit, dan lalu lintas. Kalo saya siy kebayangnya sore-sore ke sini bawa buku dan cemilan pasti seru. Suara air mancur dan kesibukan kendaraan yang lalu-lalang lumayan pas buat jadi suara latar. Makanya, makin sore taman ini semakin ramai didatangi oleh muda-mudi Semarang, ada yang sekadar ngumpul, ada yang pacaran, ada juga yang berfoto (seperti kami ;p).

Tugu Muda
Dari Tugu Muda, kami menuju Kampung Laut buat makan siang (yang telat), tapi sebelumnya mampir dulu di hotel yang sudah kami pesan sebelumnya, buat nyimpen barang-barang dan mandi (secara kami semua belum mandi sejak dari Bandung malem sebelumnya ;p). Kami menginap di Hotel Rahayu, Jl. Imam Bonjol 35 – 37, kalo diliat di peta sih deket kawasan kota lama, jadi lebih deket ke stasiun, lumayan jauh kalo dari Simpang Lima. Di sini, kami menempati dua kamar, satu isi dua orang, satu lagi isi tiga orang. Fasilitasnya biasa aja, ada TV, AC, dan kamar mandi dengan air hangat (tapi pintunya ngga bisa dikunci dan ngga ada gantungan di dalem buat nyimpen handuk dan baju ganti, dsb.), sarapan ngga termasuk (mungkin karena biasanya orang-orang lebih milih cari makan sendiri), jadi pagi-pagi cuma dikasi teh dan kopi (tubruk dan encer) yang disimpen di meja di luar kamar. Selesai bersih-bersih badan, langsung ke Kampung Laut di kawasan PPRP (Pusat Promosi dan Rekreasi Pembangunan). Kampung Laut ini posisinya mengapung di atas kolam, areanya luas, mejanya banyak. Sepertinya di kolamnya juga boleh mancing, trus ada panggung pertunjukan juga di tengah kolam. Makanannya ya hidangan laut, tapi ikan air tawar juga ada (sepertinya, he ;p), rasanya siy biasa aja, harganya juga wajar.

Kolam di Kampung Laut
Dari Kampung Laut, kami beranjak ke Maerokoco, masih di kawasan PPRP juga, di Jl. Yos Sudarso. Maerokoco ini semacam Taman Mini versi Jawa Tengah, di sini terdapat miniatur-miniatur rumah adat dari 35 kabupaten dan kota yang ada di Jawa Tengah, termasuk produksi industri dan kerajinan khas daerah. Buat berkeliling di sini, tiket masuknya limaribu rupiah per orang. Berhubung kami ke sini sore-sore, jadinya sepi, tapi ngga tau juga sih apa siang-siang rame atau sepi juga. Setelah keliling-keliling dan foto-foto sebentar, kami segera meninggalkan Maerokoco dan menuju Pantai Marina.

Miniatur Candi Sewu di Maerokoco

Masuk ke Pantai Marina ini juga bayar, lupa tapi harga tiketnya berapa ;p Di sini pemandangannya ya laut, kapal-kapal di kejauhan, pasangan-pasangan yang pacaran, atau keluarga yang sedang piknik. Suara ombak yang membentur batuan di tepi pantai lumayan pas banget buat mengiringi suasana hati kalo lagi galau atau merana ;p

Jalan Sore di Tepi Pantai Marina

Seusai menunggu matahari terbenam (yang ngga keliatan, soalnya pantainya kan ngga menghadap ke Barat ;p), kami beranjak menuju Mesjid Agung Provinsi Jawa Tengah untuk sholat Maghrib dan Isya sekalian jalan-jalan, biar efektif waktu kami di Semarang ini. Info lengkap tentang mesjid dan menaranya bisa diliat sendiri di sini yaa :D Berhubung kami ke sininya malam, jadi foto-foto yang diambil ngga begitu bagus (secara kameranya alakadarnya ;p). 

Mesjid tampak depan
Keistimewaaan mesjid ini diantaranya adalah keberadaan enam payung hidrolik yang mengadaptasi teknologi di Mesjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Selain itu, terdapat Menara Asmaul Husna (atau Menara Al Husna) dengan tinggi 99 meter - merepresentasikan 99 Asmaul Husna - yang merupakan menara tertinggi di Semarang, di lantai satu ada lobby dan loket pembelian tiket, di lantai dua dan tiga ada museum perkembangan Islam, di lantai 18 ada resto putar yang buka sampai jam setengah sembilan malam, sementara di lantai 19, kita bisa menikmati pemandangan kota Semarang secara langsung atau pun dengan menggunakan teropong (waktu kami ke sana teropongnya sedang dalam pemeliharaan, jadi ngga bisa dipakai ;p). Untuk naik ke lantai 19 kita mesti membayar limaribu rupiah per orang. Menara ini dibuka dari jam delapan pagi sampai jam sembilan malam dengan dua kali istirahat pada jam setengah duabelas sampai setengah satu dan jam setengah enam sampai setengah tujuh.

Kami naik sekitar jam delapan malam, dan begitu sampai di atas, rasanya tidak berlebihan kalo dibilang perjalanan kami hari itu ditutup dengan spektakuler - pemandangan lampu kota sejauh mata memandang membuat saya kehilangan kata-kata. Saran saya, supaya dapet view mesjidnya dengan pencahayaan maksimal, datanglah sekitar bada Ashar, trus tunggu sampai setelah Maghrib atau Isya buat naik ke menara, supaya dapet view kota Semarang di malam hari.

Mesjid dengan latar belakang lampu kota dilihat dari Menara Al Husna
Untuk menutup perjalanan hari pertama, dari mesjid kami berburu makan malam di sekitar kampus Undip (ga tau area persisnya, yang jelas kami melewati tugu yang bertuliskan Universitas Diponegoro). Kawasan ini  lumayan rame (mungkin karena waktu itu malem minggu), setelah kami muter-muter, kami akhirnya memutuskan untuk makan di salah satu tempat makan dan memesan pecel koyor. Saya sebenernya ngga tau koyor itu apa, tapi kata Pak Bagyo, potongan daging sapi, eh, ternyata koyor itu urat sapi. Berhubung saya ngga begitu suka makanan yang aneh dan kenyal-kenyal gitu, akhirnya koyornya ngga saya makan (cuma dicobain satu atau dua potong, dan ngga diterusin, soalnya rasanya kaya makan lilin) ;p Pas bayar, kami dikagetkan dengan harga satu porsi pecel koyor yang ajaib, duapuluh duaribu rupiah, entah harganya emang mahal karena koyornya mahal atau kami ini korban pedagang oportunis (yang pasti tau kami ini turis, soalnya saya sadar kami cukup mencolok dan memperlihatkan ke-turis-an kami ;p). Oh ya, bumbu pecelnya pedes loh, kayanya sih buat saya bakal lebih enak kalo makan nasi pecelnya aja, ngga pake koyor ;p

Pecel koyor ajaib
Habis makan, sekitar jam setengah sebelas atau jam sebelas, kami kembali ke hotel dan segera terlelap. Demikianlah petualangan hari pertama (panjang banget ya, sampe tiga bagian?! ;p). 

Berikutnya, kalo masih mau ngikutin, saya ceritain petualangan hari kedua. Sampe ketemu yaa, doakan saya konsisten buat nulis terusannya dan semoga menjadi bagian terakhir dari caper Semarang ini :D


  

Monday, January 2, 2012

Caper Semeru - edisi nostalgia (bagian 2)


Perjalanan pun dimulai! Sebelumnya, saya kasih gambaran, seperti yang bisa dilihat pada foto terakhir di bagian 1, rute pendakian Semeru sebenernya jaraknya 'cuma' 17,9 km dari Ranupani, kami membaginya menjadi tiga sesi, Ranupani-Ranukumbolo (10 km), Ranukumbolo-Kalimati (4,9 km), dan Kalimati-Semeru (3 km).

Sesi 1: Ranupani - Ranukumbolo

Awalnya kami melalui jalan beraspal, kemudian di suatu titik, kami berbelok dan beralih ke jalan setapak. Di sini, gapura di kedua jalan membuat kami bimbang, gapura jalan aspal bertuliskan ‘Selamat jalan’, sementara tulisan gapura di jalan setapak adalah ‘Selamat mendaki’ :D 

Gapura Selamat Mendaki
Meskipun kami lebih memilih berjalan daripada mendaki, tapi Semeru yang kami tuju rutenya lewat jalan mendaki, maka setelah berfoto di depan gapura, kami mulai mendaki. Jalan setapak yang kami lewati berada di pinggiran bukit, sementara pemandangan di bawahnya masih berupa tanah pertanian penduduk Ranupani, kemudian berganti dengan pemandangan bukit-bukit (yang sudah dan akan kami lewati). Rute pendakian di jalan setapak ini cukup manusiawi, tidak jauh berbeda dengan rute pendakian di gunung yang ada di Bandung, sesekali kami menemui tanjakan atau turunan, seperti di hutan pada umumnya. 

Begini nih rutenya..
Beberapa kali kami beristirahat dan membuka ransum yang dibawa, kadang-kadang berpapasan dengan rombongan lain yang turun gunung, atau tersalip oleh rombongan lain. Buat saya, pertemuan dengan rombongan lain cukup berkesan, soalnya entah bagaimana, rasanya seperti bertemu teman lama (mungkin karena merasa satu misi dan senasib dan mungkin pada dasarnya, karena kita ini makhluk sosial), entahlah. Lebih senang lagi kalo bertemu sesama perempuan, bukannya jarang, tapi memang mayoritas pendaki adalah laki-laki.

Beberapa percakapan yang terjadi, diantaranya..
Rombongan Lain (RL): Dari mana, mas/mbak?
Rombongan Kami (RK): Dari Bandung (meskipun kenyataannya kelompok kami ini campur-campur, beda asal kota – Bandung, Jakarta, beda almamater – ITB, Unpad, Unpar; tapi ribet kalo dijelasin ;p)
RL: Oh, kirain dari keluarga baik-baik :)

Atau.. kalo papasan dengan rombongan yang pulang..
RK: Habis dari puncak, mas?
RL: Iyaa… (dengan muka sumringah dan bangga penuh suka cita – dramatisasi ;p)
RK: Dari mana mas?
RL: Dari Surabaya/Jogja/Malang/ Jakarta/Makasar/ITS/UGM/Pancasila

Menurut peta rute, Ranupani – Ranubkumbolo itu bisa ditempuh dalam waktu tiga jam, mestinya.. kenyataannya, kami baru sampai ke Ranukumbolo setelah sekitar lima jam, itu sudah termasuk sekian kali istirahat di banyak titik, di pos-pos yang disediakan atau dimanapun. Hal yang lumayan lucu adalah penunjuk arah di jalan yang memuat keterangan berapa jauh jarak yang masih harus ditempuh untuk sampai di Waturejeng, misalnya tertulis: WATUREJENG 1 KM, atau WATUREJENG 500 m, tapi kami tidak pernah menemukan penunjuk lokasi WATUREJENG-nya sendiri. 

Akhirnya.... sekitar jam satu atau setengah dua, kami pun melihat pemandangan Ranukumbolo yang dari tadi kami tunggu-tunggu, karena itu berarti perjalanan kami untuk hari ini sudah selesai.

Ranukumbolo!!!!
Di tepi danau yang mulai diselimuti kabut ini, kami mulai mempersiapkan makan siang dan tenda untuk bermalam. Bersama kami, ada juga rombongan lain yang bermalam di sini, jadinya rame, berasa lagi jambore. Pemandangan di sini sudah mulai menakjubkan, bukit-bukit yang tampak mulus dari jauh membuat kita serasa berada di dunia Teletubbies atau di Middleearth, air danaunya juga sangat jernih (air di danau ini sepertinya hanya berasal dari air hujan, saya ngga tau di dalamnya ada ikan atau tidak, kelihatannya sih ngga ada). Sore hari, kabut yang tadi mulai turun semakin menebal, udara juga cukup dingin. Selepas makan, sholat, dsb., kami langsung tidur untuk memulihkan tenaga dan mempersiapkan diri untuk perjalanan keesokan harinya.
Ranukumbolo di sore hari
Besoknya, kami sempat menikmati pemandangan matahari terbit di belakang bukit di hadapan kami, tepat di seberang danau. Rasanya sungguh magis. Pagi-pagi kami mulai menyiapkan sarapan, para laki-laki membereskan tenda, dan kami pun segera memulai perjalanan sesi kedua.
Matahari terbit

Sesi 2: Ranukumbolo - Kalimati

Berhubung kelompok kami ini termasuk kelompok santai, perjalanan dimulai sekitar jam sembilan pagi dari Ranukumbolo. Untuk menuju Kalimati, kami melewati area dengan nama yang unik; Oro-Oro Ombo, Cemoro Kandang, Jambangan, dan Sumbermani. 

Perjalanan dari Ranukumbolo melewati tanjakan yang dinamakan tanjakan cinta (katanya kalo mendaki tanjakan ini tanpa berhenti, doanya akan terkabul - penjelasan logisnya, mendaki tanjakan ini butuh konsistensi dan tekad, kalo kita berhasil ya berarti kita punya cukup kemauan dan terbukti mampu untuk mewujudkan kemauan kita), di balik tanjakan ini terhampar padang luas yang menakjubkan, ada dua rute yang bisa dipilih, menyusuri pinggir bukit atau turun ke tengah padang - kami memilih rute ke dua.

Padang di balik Tanjakan Cinta - kalo ga salah inilah Oro-Oro Ombo